Bryan (Cinta Lama)

Bryan (Cinta Lama)
Tawaran Bryan


__ADS_3

Zira terkejut dengan perkataan Bryan yang mengatakan kalau dirinya akan tinggal selamanya dengan Bryan.


"Om... tunggu om... om nggak bisa begitu dong om... meski aku akan menjadi anak angkat om nantinya om nggak bisa,maksud aku kita nggak bisa tinggal serumah om, kita ini lawan jenis"jelas Zira.


" Aku tidak tinggal sendiri dirumah, ada ayah ku dan juga para asisten rumah tangga dan kadang adik-adik angkat ku juga suka berkunjung ke rumah dengan anaknya jadi kita nggak tinggal serumah, dan lagi pula kamu tenang saja aku tidak akan ngapa-ngapain kamu sebab hati ku sudah milik orang lain"jelas Bryan.


Mendengar penjelasan Bryan,Zira nampak lega karena dirinya hanya takut bila Bryan tiba-tiba hilaf dan di luar kendalinya.


Tak lama Sang mamih dan agen suruhan Bryan pun tiba di restoran mereka berjalan mendekat meja yang telah di tempati oleh Bryan dan Zira sejak tadi.


"Tuan selamat malam ini orangnya" ucap agen tersebut.


"Mamih.... sini mih... duduk di samping Zira" Zira menarik tangan mamihnya.


Dan sang mamih pun duduk di sisi Zira, mamih melihat isi piring Zira yang terlihat sangat menggoda hingga dia pun mengecap bibirnya karena air lirunya hampir keluar.


Bryan melihat itu hanya menatap malas.


"Anda bisa pesan itu dan bawa pulang, tapi sebelum itu saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk anda" ucap Bryan dingin.


si om kenapa nada bicaranya lain ke mamih ya...


"Iya tuan muda" jawab Mamih malu-malu.


Bryan pun akhirnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada mamih, mulai dari bagaimana dia menemukan Zira, dimana dia menemukan Zira dan apakah ada jejak orang tua yang meninggalkan Zira saat Zira masih bayi.


Mamih pun bercerita kalau waktu dia pulang bekerja saat 16 tahun yang lalu, saat tengah malam waktu itu dirinya mendengar tangisan bayi di dekat pembuangan sampah dekat daerah tempat tinggalnya, dan saat itu dia menemukan Zira yang sudah terbungkus oleh selimut tebal, ada sepucuk surat yang mengatakan untuk menjaga bayi itu dan memberikan nama Zira untuk bayi tersebut dan juga ada sebuah kalung yang ditinggalkan di dalam selimut bayi tersebut, tapi Zira tak pernah mau memakainya karena Zira membenci orang tuanya, Zira tak ingin orang tuanya menemukannya karena mereka sudah membuangnya saat itu.


Setelah mendengar cerita mamih,Bryan dapat menyimpulkan bahwa Zira sangat kecewa dan sakit hati dengan orang tuanya kandungnya sendiri sehingga tak ingin bertemu dengan orang tuanya sampai seperti itu.


"Aku ingin mengambil Zira, berapa uang yang kau inginkan untuk aku membawanya sekarang dan untuk selamanya" ucap Bryan dingin pada mamih.


Bagai di sambar petir di siang bolong mamih sangat terkejut mendengar perkataan Bryan.


"Apa maksud anda apa anda menginginkan Zira hah? saya tidak menjual Zira meski dia bukan anak kandung ku aku tidak akan tega menjualnya" ucap Mamih sinis.

__ADS_1


"Aku akan sekolahkan dia, memberikan pendidikan yang layak juga tempat tinggal yang layak agar dia bisa sukses di masa depan" jelas Bryan.


"Maksud anda? " Mamih bingung.


"Maksud om ini, om ini mau angkat Zira jadi anak angkatnya Mih... " jelas Zira.


"Elu mau ninggalin gue gitu Zira... " ucap Mamih sewot.


"Kalo mamih nggak ngijinin aku nggak akan ikut om ini aku tetap ikut mamih" jelas Zira.


"Ya jelas ajah gue nggak ngijinin elu sama dia gila ajah kali"masih sewot.


"Oh begitu, baiklah saya akan memberikan anda rumah dan juga modal usaha untuk anda agar hidup anda tidak telantar setelah Zira hidup dengan saya, berapa uang yang anda mau" ucap Bryan memberikan penawaran.


"Anda memaksa?! " mamih kesal.


"1M? 2M? atau 5M? Hem... itu belum termasuk rumah dan fasilitas yang lainnya" Bryan memberikan penawaran lagi.


orang ini sekaya apa sih... sampai MM begitu nawarin nya kan jadi galau nih mikir nya.


Mamih lalu menatap wajah Zira.


"Zira... apa kau benar-benar mau sekolah dan ninggalin Mamih? hiks" Mamih lirih.


"Kan Zira tadi bilang kalau mamih nggak ijinin aku, aku nggak akan ikut om ini" jelas Zira lembut.


Mamih membelai rambut dan wajah gadis itu dan memeluknya.


"Bila kau tidak memberikan Zira kesempatan untuk meraih masa depan yang baik, disaat itu juga kesempatan anda untuk keluar dari jurang kemiskinan akan terlewat begitu saja" Bryan berusaha meyakinkan sang Mamih.


Mamih melepaskan pelukannya dari Zira.


Brugh.


Sebuah amplop di letakan di depan tangan mamih amplop coklat yang berisi tebal.

__ADS_1


"Itu uang Depenya selebihnya nanti akan diberikan oleh asisten saya dengan membuka kartu debit untuk anda" ucap Bryan dengan santainya.


Mamih benar-benar galau tingkat nirwana saat melihat dan mendengar perkataan dari Bryan, sebuah penawaran yang memang tak akan dia bisa dapatkan dilain waktu.


"Apa bila Zira tidak betah dengan anda dia boleh kembali pada ku lagi? " tanya Mamih ragu.


"Dia tidak mungkin tidak betah tinggal di rumah ku" dengan percaya diri yang sudah kelewat batas Bryan mengatakan hal itu.


"Kalian masih bisa bertemu kok, bukan berarti kalian pisah selamanya hanya saja tempat tinggal kalian saja yang berbeda" jelas Bryan yang seolah membawa angin segar untuk keduanya.


Mamih dan Zira tersenyum saat mendengar hal itu dari Bryan.


"Zira tuan muda memang ada benarnya kau harus mendapatkan pendidikan yang layak, tapi jangan lupain mamih ya... kalau kamu sudah sukes" pinta Mamih dia sebenarnya sedih untuk berpisah dengan Zira meski Zira bukan anak kandungnya dan dia suka menghukum Zira bila Zira tidak membawa uang pulang tapi dirinya akan merasa kesepian karena selama ini Zira lah yang menemani kesehariannya.


"Pasti Mamih... Zira nggak akan lupain mamih karena mamih sudha seperti ibu bagi Zira, Terima kasih karena mamih sudah kasih kesempatan untuk Zira agar Zira bisa meraih masa depan Zira dengan baik" ucap Zira dengan mata yang berkaca-kaca.


Mereka berdua pun akhirnya berpelukan seolah tak dapat bertemu lagi.


"Oke... ayo kita pulang, besok asisten saya akan mengantarkan sisa uangnya dan juga surat perjanjian pada anda bila anda melanggar pasal-pasal yang ada di surat perjanjian tersebut maka siap-siaplah masuk penjara seumur hidup anda" ancam Bryan.


"Ayo Zira aku akan mengenalkan mu dengan ayah ku" ajak Bryan.


"Apa harus malam ini juga Zira anda bawa tuan? " tanya mamih.


"Ya lebih cepat lebih baik" jawab Bryan tegas.


"Tapi dia belum membawa pakaian dan perlengkapannya tuan"


"Ck... tidak perlu di rumah ku sudah tersedia apa saja yang dia butuhkan" Bryan langsung menarik tangan Zira dan membawanya keluar dari restoran tersebut.


Mamih hanya bisa bengong saja melihat kepergian Zira dan Bryan.


Bryan melangkah menuju pintu keluar Restoran tapi saat Bryan dan Zira telah sampai di depan pintu restoran, ada yang menegurnya.


"Bryan... " sapa seorang wanita yang sangat tidak asing bagi Bryan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2