
Saat melihat reaksi Zira,Bryan langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Zira dirinya tersenyum saat melihat wajah Zira yang berubah menjadi pucat.
"Aaaaaa om... om... " Zira menjerit di dalam mobil dia gugup dan ketakutan.
"Kenapa om... om... hem? " tanya Bryan meledek.
"Om.... bener deh waktu itu aku nggak sengaja aku butuh buat ongkos pulang mangkanya aku ambil dompet om" jelas Zira galagaban.
"Dasar nakal seharusnya kau bangunkan aku waktu itu bila kamu minta juga akan aku berikan, aku menolong mu malam itu karena anak laki-laki itu hampir melecehkan mu saat kami sedang tidak sadar, tapi kamu malah mencuri dari ku" ucapa Bryan kesal.
"Hiks... maaf om... dan Terima kasih karena om sudah menolong ku malam itu, aku ingin mengembalikan dompet om tapi aku tidak tahu bagaimana caranya hiks"
"Bohong... kau bisa menguras isi ATM ku tapi kau tidak bisa mengembalikan dompet ku, Jangan-jangan kau ini berpura-pura bodoh ya... agar bisa dapat lebih banyak dari ku? " Bryan malah menyudutkan Zira.
"Nggak om beneran deh, aku memang nggak bisa baca tapi aku punya teman yang pandai memainkan komputer jadi dia bisa membobol pin ATM yang ada di kartu om itu" jelas Zira polos.
"Dasar benar-benar kamu itu ya... mulai saat ini kau tidak boleh mencuri lagi dan aku akan bawa kamu berobat agar kebiasaan mu mencuri itu bisa hilang"
"Aku nggak sakit om kenapa di bawa berobat?"
"Dasar bodoh yang harus di obati itu fikiran mu dan naluri mu yang selalu ingin mencuri mengerti, akan aku buat kau menjadi wanita yang berkelas"
Zira menatap bingung pada Bryan.
"Kenapa menatap ku begitu?! " tanya Bryan ketus.
"Kenapa om baik sama aku? padahal aku sudah mencuri dari om tapi om masih baik sama aku? " tanyanya polos.
"Karena jiwa kemanusiaan ku yang menginginkan itu"
"Benarkah? bukan karena ada sesuatu dibalik semua ini? " tanyanya lagi.
"Hei... kau meragukan kebaikan ku hah?! " bentak Bryan.
"Aaaa iya... iya... maaf aku bukan mau nuduh Om macem-macem kok cuma takut saja" Zira menciut.
"Yang penjahat siapa yang ketakutan di jahatin siapa dasar aneh" gerutu Bryan.
"Ya... maaf om... sebab orang seperti om ini sudah jarang om"
"Oleh karena itu seharusnya kamu bersyukur karena bertemu dengan aku bila bertemu dengan orang lain mungkin kau sudah masuk penjara saat ini" Bryan sewot.
Zira menunduk dia menyadari kalau yang di katakan Bryan semuanya benar bila bertemu dengan orang lain mungkin dirinya tidak berada disini saat ini melainkan di balik jeruji besi.
"Om.... " panggil Zira.
"Hem..." jawab Bryan dia tidak menoleh kearah Zira, dia mulai menyalakan mesin mobil yang tadi dia matikan.
Cup.
Mata Bryan langsung terbelalak karena tiba-tiba Zira mengecup pipinya.
"Apa-apa kau ini hah?! " Bryan marah.
"Terima kasih karena om sudah menolong aku, dan mau mengangkat aku sebagai adik angkat om aku nggak tahu caranya berterimakasih seperti apa tapi mamih selalu mengecup pipi ku saat mamih berterimakasih"
__ADS_1
Bryan langsung menjatuhkan kepalanya di atas stir mobilnya.
astaga dasar bodoh kau Bryan kenapa fikiran mu jadi kotor dia hanya mengecup pipi mu hanya ingin berterima kasih pada mu, tapi kau berfikir aku dasar bodoh, tapi ini sungguh diluar dugaan dasar bodoh... bodoh... bodoh...
Bryan meruntuki kebodohannya sendiri.
"Om... om kenapa sakit? " tanya Zira.
"Eh... tidak sudah sebaiknya kita pulang saja hari sebentar lagi sore" Bryan berkata tanpa melihat ke arah Zira.
Zira melihat wajah Bryan memerah.
"Apa om baru pertama kali di kecup oleh wanita? " tanya Zira tiba-tiba.
"Diam kau jangan banyak tanya?! " Bryan kesal.
"Apa kau sering mencium pria atau di cium oleh pacar mu itu hah?! " bentak Bryan.
"Tidak ini yang pertama kalinya aku mencium cowo dan itu adalah om" jawabnya polos.
Bryan mencengkram stir mobil karena kesal dia tak percaya dengan yang di katakan Zira.
"Bohong" Bryan tetap berusaha fokus mengemudi.
"Benar om... aku berani melakukan itu karena om sudah menganggap aku adik om" jelas Zira.
"Ah... iya kau benar kau benar fikiran aku saja yang salah sudah jangan dibahas lagi" Bryan kesal entahlah dia kesal atau kaget pasalnya ini pertama kali dirinya di kecup wanita asing.
Mobil pun akhirnya sampai dihalaman kediaman Irawan mereka berdua pun turun dari dalam mobil, Zira membawa semua barang belanjaannya. sendirian sedangkan Bryan langsung berlari kedalam rumah dan menaiki tangga ke arah kamarnya.
"Ah... dasar gila" Bryan bangkit dari posisi tidurnya dan mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
Mungkin efek kelamaan menjomblo dirinya jadi bingung menghadapi gadis polos dan belia seperti Zira.
"Astaga apa yang aku fikiran sih sudah jelas-jelas gadis itu berkata pada mu Iyan kalau dia hanya menganggap mu kakaknya bodoh" Bryan memaki dirinya sendiri karena kesal.
Disisi lain Zira yang membawa banyak kantung belanjaan di bantu oleh dua orang pelayan saat dirinya menaiki tangga, Lexi keluar dari dalam kamarnya.
"Kau habis belanja? " tanya Ayah Lexi.
"Iya papih tadi om mengajak aku ke mall dan membelikan aku banyak baju, katanya untuk aku pakai sehari-hari" jelasnya polos.
Ayah Lexi hanya tersenyum saja.
"Oia papih mau makan apa nanti malam? nanti aku masakan untuk papih" ucap Zira polos.
"Kau bisa masak? " tanya Lexi ragu.
"Bisa dong tapi masakan rakyat jelata hehe"
Lexi tersenyum mendegar ucapan Zira.
"Kau bisa buat ikan bila goreng sambal pecak? " tanya Lexi.
"Bisa pih" jawab Zira.
__ADS_1
"Maaf tuan besar anda tidak boleh makan goreng-gotengan dahulu nanti kolesterol dan kesehatan jantung anda terganggu lagi" jelas ibu Dera yang kebetulan lewat.
"Ah sesekali tidak apa-apa lah" elak Lexi.
"Bukan begitu tuan bila anda sakit tuan muda suka gelisah kasihan nanti dia bisa tidak konsentrasi bekerja"
"Gimana kalau ikan gorengnya di ganti dengan ikan pepes pih, papih suka nggak ikan pepes? " tanya Zira.
"Kau bisa buat itu? " tanya Lexi antusias.
"Bisa dong mamih suka ajarin aku masak, masakan mamih itu enak loh pih" puji Zira pada mamih nya.
"Oke malam ini aku ingin makan masakan putri ku ini" ucap Lexi pada kepala pelayanan yang berada disana.
Zira pun masuk kedalam kamarnya dan menaruh barang belanjaannya di kamar setrlah itu dia berlari kedapur dan bersiap. memasak di dampingi oleh para pelayan yang bertugas di dapur.
Para pelayan memperhatikan Zira memasak, mulai dari membersihkan ikan dari siisknya dan membersihkan kotorannya, hingga meracik bumbu dan juga cara memasak pepes, yang Zira bungkus dengan daun pisang dan dia kukus langsung di panci kukusan, terlihat tangan mungil yang sudah biasa mengerjakan itu semua.
Para pelayan jadi terlihat lega saat melihat itu sebab mereka sedikit khawatir saat ingat wajah Zira yang sangat mirip dengan wajah nyonya mereka yang kalau itu tidak bisa memasak dan belajar memasak hingga kulit tangannya terpercik minyak panas hingga Lexi marah pada semua pelayan di dapur.
Waktu makan malam pun tiba semua makanan yang di masak malam ini adalah hasil masakan Zira, dia membuat ikan nila pepes dan sayur tumis sawi,jamur dan wortel dan dia juga membuat sambal dadakan yang tidak di goreng dia sajikan mentah dan masih segar di siram oleh jeruk limau warna merah cerah yang mengoda dan wangi jeruk limau yang sangat segar membuat orang yang melihat sambal tersebut seolah ingin mencicipi makanan tersebut.
Saat di meja makan Ayah Lexi susah tak sabar ingin mencicipi maskan putri angkatnya itu, tapi dia lihat Bryan belum turun juga.
"Kemana Bryan? " tanya Ayah Lexi pada salah satu pelayan.
"Tuan muda sepertinya masih tertidur tuan sejak beliau pulang tadi" jelas pelayan.
"Bangun kan dia, dia belum makan kan? " perintah Lexi.
"Baik tuan" pelayan tersebut sebenarnya bingung bagaiamana caranya membangunkan tuan mudanya itu. dirinya tidak berani mengusik jam istirahat tuan mudanya itu, tapi. dia juga tak berani menolak perintah tuan besarnya.
"Biar aku saja yang bangunin om" Tiba-tiba Zira berjalan ke arah pelayan tersebut dan memberikan penawaran yang bagus menurut pelayan tersebut.
"Ya... bangunkanlah dia putri ku" ucap Lexi.
Zira pun melangkah menuju kamar Bryan yang berada di lantai dua, saat dia mengetuk pintu tak ada suara yang menyahut dari dalam hingga Zira memutuskan untuk masuk kedalam kamar Bryan.
Dan benar saja Bryan masih tertidur di kasurnya dengan posisi terlentang,Zira mendekat ke ranjang tersebut dan mencolek-colek pipi Bryan bermaksud membangunkan Bryan.
"Om... om... bangun om sudah waktunya makan malam" bisik Zira di telinga Bryan.
"Hem... siapa sih pasti Moza deh aku ngantuk Za" gumam Bryan yang berbalik badan membelakangi Zira.
"Moza? " gumam Zira.
"Aku bukan Moza Om... " Zira mencolek punggung Bryan.
"Ish... pergi" Bryan melemparkan guling ke wajah Zira hingga Zira terjatuh ke lantai.
"Aw... om sakit" jerit Zira.
Dan saat mendengar jeritan Zira Bryan langsung terbangun dari tidurnya dia menatap gadis kecil itu terduduk di lantai dan seperti menahan kesakitan.
"Zira... " Bryan terkejut.
__ADS_1
Bersambung.