
Malam hari.
Adji pulang bekerja seperti biasa dan di sambut oleh Sena, sementara Andrea sedang sibuk di kamar merapihkan pakaian yang akan di masukan ke dalam lemari.
Adji memasuki kamarnya mendapatkan istrinya masih terdiam membisu.
"Mah... " sapa Adji.
Andrea hanya menoleh sesaat kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.
Adji menghela nafasnya berat.
"Masih marah? " tanyanya.
"Kau fikir saja sendiri mas, bahkan setelah pertengkaran semalam pun kau masih menemuinya, sebegitu cintanya kah kau padanya hingga kau benar-benar tak pernah menghargai istri mu? " ucap Andrea ketus.
"Aku tidak ingin menemuinya tapi dia yang selalu menemui ku Re... "
"Tapi bukan kah kau bisa menolaknya mas... "Andrea kesal.
" Aku selalu menolaknya Re... tapi dia selalu datang lagi, lagi dan lagi"
"Hingga kau akhirnya luluh dan tergoda begitu, astaga mas... mas... alasan klasik kau pakai mas" Andrea sudah malas meladeni suaminya.
"Besok aku harus ke kantor perusahaan X mereka meminta ku menjadi bintang iklan prodak makanan mereka, aku minta ijin mu untuk pergi, karena biar bagaimana pun kamu masih menjadi suami ku" Andrea menyindir di akhir kata.
"Perusahaan X? itu kan perusahaan besar Re... beruntung sekali kau bisa bekerja sama dengan mereka, ku dengar kepemimpinan nya di ganti dengan putra tunggal sang Presedir" ucap Adji takjub.
Andrea baru sadar kalau perusahaan X memang perusahaan besar dan sudah terkenal sejak dahulu, dia baru sadar saat suaminya mengatakan ini.
"Bisa kau jelaskan sekali lagi mas siapa pemilik perusahaan tersebut? " pinta Andrea.
"Iya setahu ku namanya Bryan Irawan anak tunggal Lexi Irawan beliau membangun perusahaan tersebut dari nol hingga jadi sebesar sekarang" jelas Adji.
Nggak mungkin Bryan...
"Dan setahu ku dulu Bryan tidak langsung memimpin perusahaan tapi dia di suruh bekerja menjadi bawahan dulu agar bisa menghargai kerja keras orang lain, begitu lah para petinggi perusahaan besar mendidik anak-anak mereka agar saat menjadi pemimpin mereka tidak semena-mena" jelas Adji.
Kaki Andrea langsung lemas saat mendengar cerita suaminya, rasanya ini lebih parah dari rasanya melihat foto suaminya bersama wanita lain, karena dia merasa di bohongi oleh Bryan selama ini.
"Kau besok berangkat naik taxi? " tanya Adji.
"Tidak aku berangkat dengan Suge" jawab Andrea yang langsung meninggalkan kamar dan masuk ke ruang kerjanya.
Adji menatap punggung istrinya dan dia berfikir Andrea masih marah padanya.
__ADS_1
Di dalam ruang kerja Andrea terduduk di kursi kerjanya dia menaruh dahinya di kepalan kedua tangannya dirinya menunduk.
jadi selama ini aku membohongi ku Iyan... pantas kau menghindari ku dulu dan pergi jauh dari ku ternyata kau memang hanya mempermainkan ku saja, oh...tuhan apa salah ku kenapa semua orang selalu membodohi ku, menipu ku hiks... hiks...
Andrea menangis lagi untuk kedua kalinya hari ini.
sadar Andrea kamu hanya mainan orang-orang itu jangan kau berharap lebih dari mereka, tegaslah pada diri mu sendiri, bila kau tidak ingin tersakiti lebih dari ini.
Hingga esok pun tiba Andrea berangkat ke kantor Bryan, dia menitipkan anak-anaknya pada tetangga dekatnya.
Andrea di jemput oleh Suge dengan motor tuanya, di perjalanan Andrea hanya terdiam saja dia tidak mengobrol atau mengeluarkan suara berisik seperti biasanya bila sudah berdua dengan Suge.
Suge yang merasa ada yang aneh pada sahabatnya ini akhirnya memulai berbicara dahulu.
"Kenapa lu diam ajah Re... elu gugup mau ketemu mantan lagi? " tanya Suge.
"Nggak bukan begitu, gue lagi banyak fikiran ajah"
"Mikirin apa? alur novel lu mandek nggak ada ide gitu? " tanya Suge.
"Bukan tapi yang lain, nanti dah gue ceritain ke elu setelah selesai dari sana" ucap Andrea tak bersemangat.
"Oke lah kalo begitu, ayo Fang kita ngebut... " Suge memacu motor tuanya dengan cepat meski sudah dengan kecepatan penuh pun motor tersebut tidak bisa berjalan cepat tetap saja kalah dengan kendaraan lainnya hingga hal tersebut membuat Andrea jadi tertawa.
Tapi meski begitu Andrea tidak bilang pada Suge untuk mengganti motornya karena biar bagaimana pun si Fang ini adalah motor kesayangan sahabatnya ini meski sudah tua dan sering keluar masuk bengkel tapi motor warisan orang tuanya ini tak akan bisa tergantikan meski dengan motor keluaran terbaru sekali pun yang lebih bagus dan lebih canggih mesin dan pembuatannya.
astaga... benarkah dia pewaris semua ini.
saat sedang takjub mengagumi kemegahan gedung tersebut padahal itu masih luarnya saja, Tiba-tiba mereka berdua di tegur oleh satpam yang berjaga disana.
"Maaf anda berdua ada keperluan apa datang kesini ya? " tanya satpam tersebut.
"Kita kesini mau ketemu sama Bryan... temen saya mau jadi bintang iklan prodak makanan terbaru katanya" jelas Suge.
Sang Satpam melihat penampilan keduanya sangat jauh dari ekspektasi seorang bintang, karena mana ada seorang bintang naik motor. butut dan tua seperti itu, fikir satpam tersebut.
"Nih orang kayanya nggak percaya Re... " gumam Suge yang masih bisa di dengar Andrea.
"Pak... boleh kami masuk karena saya memang sudah ada janji dengan beliau kemarin, tuan Milo yang mengirimkan pesan langsung pada saya" ucap Andrea lembut.
"Kalian bukan ******* kan atau musuh tuan muda yang mengaku-ngaku akan bekerja sama dengan beliau" ucap Satpam tersebut sinis.
Andrea dan Suge hanya menggaruk-garuk kepala saja.
"Bukan pak kami hanya orang biasa kok" ucap Andrea masih sopan.
__ADS_1
"Maaf kami periksa barang bawaan anda dulu sebelum anda memasuki gedung" ucap Satpam tersebut.
Kemudian keduanya di periksa oleh beberapa satpam yang sedang berjaga juga.
Keamanan di sini. begitu ketat karena wajar saja, semuanya sudah tahu sang pemilik perusahaan yang dahulu banyak musuhnya hingga semua yang bertugas menjadi keamanan harus benar-benar memastikan keamanan tuan muda mereka.
Semua barang telah di periksa oleh tim keamanan isi tas yang di bawa oleh Andrea dan Suge di periksa baik-baik takut-takut ada senjata berbahaya yang disembunyikan dan di kamuflase menjadi barang yang tidak di curigai, namun semuanya aman, tak ada yang berbahaya yang mereka bawa, hingga mereka bedua pun di persilahkan masuk kedalam gedung.
"Kantor tuan muda berada di lantai paling atas" ucap satpam tersebut.
Suge dan Andrea pun berjalan masuk kedalam gedung tinggi tersebut, bahkan saat masuk pun mereka masih belum bisa leluasa masuk karena masih ada tahap pemeriksaan yang lainnya dan mereka pun tak bisa masuk tanpa kartu Id dari perusahaan tersebut.
"Ya ampun ribet banget sih dari tadi" keluh Suge.
"Ya namanya juga perusahaan besar Ge... " bisik Andrea.
"Eh tapi elu hebat juga ya dulu bisa pacaran sama tuan muda" ledek Suge.
"Apaan sih lu, gue dulu pacarannya sama buruh pabrik bukan sama tuan muda kalo gue tahu dian tuan muda gue juga nggak mau sama dia"
"Lah kenapa? " Suge bingung.
"Minder lah ngaco lu, apa elu lupa gue dulu itu siapa hihi" Andrea cekikikan.
"Hemm... siapa ya... hahaha" Suge meledek.
"Baik nona ayo ikut saya, tuan muda sudah menunggu anda di atas" ucap seorang wanita yang akan mengantar mereka ke lantai atas.
Tadi wanita tersebut menelpon seseorang dan memberitahu kalau ada orang yang ingin bertemu dengan tuan muda mereka.
Mereka pun menaiki lift dan menuju lantai atas gedung tersebut.
Ting...
bunyi suara lift yang telah sampai di lantai yang di tuju.
Wanita tersebut menempelkan sebuah kartu di depan mesin yang ada di depan pintu, dan tak lama pintu tersebut pun terbuka.
"Mari nona saya antar anda ke ruangan presedir" wanita tersebut berjalan mendahuli Andrea dan Suge dan mereka berhenti di depan sebuah meja bertuliskan sekertaris.
"Nona Amor ini tamu tuan muda" ucap wanita yang mengantar tersebut pada sekertaris yang ada di sana.
"Ah sebentar saya akan menelpon tuan Milo dahulu" ucapnya sambil mengangkat gagang telpon, dan dia pun memberitahukan Milo bahwa tamu tuannya sudah tiba.
"Nona tunggu sebentar ya... karena tuan muda masih meeting" ucap sekertaris lembut.
__ADS_1
Andrea dan Suge pun akhirnya duduk di sofa di ruang tunggu.
Bersambung.