
keesokan harinya.
di siang hari di kala mentari bersinar dengan terangnya, dan panas yang dia bagi kepada sebagian mahluk bumi seolah tak bisa mencairkan suasana hati seorang wanita yang berubah menjadi freezer akhir-akhir ini.
Andrea melangkahkan kaki ke sebuah rumah, dia ketuk pintu coklat yang memang berbentuk sama seperti coklat batangan tersebut.
tok... tok... tok...
Lama Andrea menunggu tapi sangat pemilik. rumah tak kunjung keluar juga, hingga akhirnya dirinya menelpon sang pemilik rumah dari ponselnya.
Terdengar suara dering ponsel dari dalam rumah begitu nyaring dan tak lama seseorang yang ditelpon pun menjawab juga.
"Haloooo" tersengar suara serak laki-laki khas orang bangun tidur.
"Buka pintu sialan elu hibernasi apa ya? tidur nggak bangun-bangun udah siang ini?! " sentak Andrea.
"Elu di mana? " Sang penelpon langsung bangun dari tidurnya.
"Di depan rumah elu ngaco cepetan lah elu buka pintunya panas ini" omel Andrea.
Dan tak lama yang ditelpon pun bangkit dari kasurnya dan berlari keluar dan membuka kan pintu rumahnya.
ceklek.
Pintu terbuka terlihat laki-laki yang masih bermuka bantal muncul dari balik pintu.
Andrea langsung merangsek masuk dengan langkah yang terlihat seperti orang kesal.
Sang sahabatnya ini hanya berdecak saja.
"Kenapa sih lu? " tanya Suge sahabat kecil Andrea.
Suge dan Andrea bersahabat sejak kecil, tapi tak ada kata cinta diantara mereka berdua, mereka menganggap persahabatan mereka itu adalah persaudaraan.
Suge juga sudah menikah hanya pernikahannya gagal karena istrinya tak sanggup di ajak susah oleh Suge yang seorang seniman dan penulis komik.
Andrea duduk di lantai karena memang tidak ada kursi apalagi sofa di rumah minimalis ini.
Andrea mengehela nafas saat dirinya terduduk.
"Sendirian lu? Anak-anak lu kemana? " tanya Suge.
__ADS_1
"Di rumah mereka nggak mau ikut capek katanya baru pulang sekolah" jelas Andrea.
"Ooo begitu... " Suge menggut-manggut.
"Oia elu tumben ada apa kesini? " tanya Suge akhirnya.
"Ge... " Andrea mulai bicara.
Suge terdiam bersiap mendengarkan.
"Kemarinnya gue ketemu sama dia lagi Ge" ucap Andrea tak bersemangat.
"Dia... dia siapa? " tanya Suge sambil meminum air dalam botol kaca yang baru dia ambil di kulkas.
"Bryan" Jawab Andrea pelan tapi cukup terdengar oleh Suge.
byur...
Suge menyemburkan air dalam mulutnya ketika mendengar nama tersebut.
"Bray... Bray... an? " ucap Suge ragu.
Andrea hanya mengangguk saja.
"Re... jangan bilang elu masih cinta sama dia ya... udah belasan tahun Re... elu juga udah punya keluarga sendiri loh" Suge mengingatkan Andrea.
"Iya gue tahu ini salah, Ge cuma gue nggak bisa bohongin hati gue Ge... " Ucap Andrea lesu.
"Astaga Rea... Adji itu laki-laki baik dan bertanggung jawab loh Re... elu juga nge dampingin dia dari nol loh Re... masa elu mau ngehancurin begitu ajah" oceh Suge.
"Iya elu bener tapi dia sama gue juga sama Ge... dia itu masih suka kontekan sama mantannya itu, dia suka bohongin gue Ge..."
"Hah... serius lu? "Suge seolah tak percaya.
Andrea mengangguk pelan.
"Asal lu tahu sejak awal kita nikah tuh, gue udah bisa baca kalau dia itu hatinya nggak sama gue, cuma gue diam ajah karena sebenarnya hati gue juga bukan untuk dia, kita nikah karena terpaksa karena tuntutan orang tua dan sebenarnya pernikahan kita ini cuma status doang Ge... " Andrea cerita panjang lebar akhirnya pada sahabatnya ini.
Suge menghela nafas dalam.
"Terus elu mau balikan lagi gitu sama Bryan? karena sekarang kan ayah lu juga udah nggak ada kan? "
__ADS_1
Ayah Andrea meninggal dunia tak lama setelah Andrea menikah.
"Hehehe nggak lah Ge... dia juga udah punya keluarga sendiri kok, kemarin gue ketemu sama dia, dia lagi sama anaknya" jelas Andrea.
"Ooo dia udah nikah juga? bagus lah kalau begitu, tapi kalo bisa elu juga harus bertahan Re... jangan sampe orang ketiga masuk ke kehidupan keluarga kecil lu ini"
"Tapi dia makin ganteng Ge" Andrea berbinar-binar mengingat Bryan yang kemari dia temui.
"Ish... elu mah emang ya... jangan di butakan cinta lama dong" Suge kesal.
"Hemft... gue nggak tahu lah Ge... bakalan bertahan atau nggak, yang jelas gue cuma ikutin arus ajah sekarang, dan gue memang nggak bisa ninggalin dia kalau dia nggak ngelepas gue"
Mengingat Adji itu hanya anak angkat dari keluarga nya ini dan keluarga nya yang selalu menuntut balas budi pada Adji membuat Andrea tidak tega untuk meninggalkan Adji, meski Adji telah bermain di belakangnya.
"Yang penting mas Adji tuh masih pulang kerumah inget sama anak-anak nya dan rutin kasih jatah bulanan gue nggak masalah Ge... mau dia sama siapa di luaran sana gue nggak peduli lagi, gue udah mati rasa Ge" jelas Andrea lemas.
"Re... jangan patah semangat gitu dong... mana Andrea yang selalu semangat, ceria dan energik sahabat gue yang sangat suka tantangan dan tak pernah takut dengan apa pun" Suge memberikan semangat pada Andrea.
Andrea tertawa saat mendengar sahabatnya itu berkata seperti itu.
Andrea selalu terhibur bila dirinya mencurahkan perasaannya, mencurahkan kisah hidupnya pada sahabatnya ini, hanya Suge yang tahu bagaimana Andrea yang sebenarnya karena hanya saat bersama Suge Andrea menjadi dirinya sendiri.
Mereka pun mengobrol banyak tentang keseharian mereka dan mereka berencana berkolaborasi dalam karya, Andrea yang menulis dan Suge yang akan membuat komiknya.
Setelah dirasa sudah terlalu lama mereka mengobrol Andrea dan Suge pun mengakhiri pembicaraan mereka, Suge mengantar Andrea pulang kerumahnya, dirinya sekalian ingin bertemu dengan kedua anak Andrea, Suge sudah menganggap Farel dan Sena seperti anaknya sendiri.
Suge mengantar Andrea dengan motor tuanya,mereka berjalan melintasi jalan raya yang cukup padat, karena rumah Suge itu letaknya lumayan jauh dari daerah rumah Andrea, dan jalan di daerah rumah Suge itu rawan macet karena dekat dengan daerah pabrik.
Saat di lampu merah motor yang di kendarai Suge berhenti mereka tak sadar ada seseorang yang melihat kedekatan mereka karena saat di lampu merah mereka mengobrol dan terlihat canda tawa dari wajah mereka seolah dunia ini milik mereka berdua saja.
Senyum sinis dan licik terlihat dari sebuah bibir bergincu merah cabe itu, dari dalam sebuah mobil pribadinya, dia pun merekam video kedekatan Andrea dengan Suge di lampu merah tersebut, dan akan membagikan video tersebut pada seseorang yang selama ini dia harpakan.
hadiah untuk mu sayang.
begitulah pesan yang di tulisnya di bawah video yang dia kirimkan pada Adji.
Tring.
Bunyi ponsel Adji menandakan notifikasi dari ponslenya. Adji melihat pesan tersebut melihat siapa yang mengirimkannya video dan siapa yang ada di video tersebut.
Adji langsung menaruh ponslenya di meja dengan kesal hingga terdengar suara "trek".
__ADS_1
dirinya kesal karena melihat isi Video. tersebut. tangannya mengepal kuat hingga urat-urat di tangannya terlihat keluar.
Bersambung