
Malam hari Bryan sedang melamun di depan balkon kamarnya,menikmati hembusan angin yang menyapanya malam itu dengan sangat lembut dan penuh kesejukan, langit malam yang cerah berhiaskan bintang-bintang dan rembulan yang penuh menyinari sebagian bumi.
Angin yang berhembus dan seolah membelai wajah Bryan hingga menggoyangkan rambutnya yang agak panjang tersebut, membuatnya tersenyum.
"Bu... ada gadis yang sangat mirip dengan mu bu..." ucapnya sambil tersenyum menikmati hembusan angin.
Entah kenapa perasaannya sangat senang bila mengingat wajah gadis tersebut, padahal dirinya belum kenal sama sekali.
Saat dirinya sedang asik menikmati angin malam di balkon kamarnya ponselnya berdering, dia pun masuk kedalam kamarnya dan mengambil ponselnya yang dia letakan di nakas.
Di lihat layar ponselnya ternyata telpon dari seorang agen yang dia suruh untuk mencari keberadaan gadis tersebut.
Tanpa fikir panjang lagi Bryan langsung menggeser tombol hijau yang berkedip di ponselnya.
"Ya bagaimana? " tanya Bryan to the point.
"Tuan saya sudah menemukan tempat tinggal gadis itu"
"Dimana? " tanya Bryan penasaran.
"Di pemukiman gang tikus tuan"
"Hah... apa?! " Bryan berteriak.
"Iya tuan gadis itu tinggal di pemukiman padat penduduk bahkan sangat sempit untuk di lewati meski itu hanya berjalan kaki" jelas agen tersebut.
"Apakah dia bersama mu saat ini? " tanya Bryan.
"Tidak tuan dia sedang tidak ada di tempatnya malam ini entah kemana orang disekitar rumahnya tidak ada yang tahu"
Dan sang Agen pun menceritakan latar belakang gadis tersebut, yang rupanya gadis tersebut bukanlah gadis yang berpendidikan gadis itu bahkan tidak bisa membaca karena tidak disekolahkan oleh orang yang mengurusnya selama ini.
Karena mamih yang mengurusnya itu bukan ibu kandungnya, gadis itu dia temukan saat bayi di pinggir jalan, dan mamih nya itu adalah seorang wanita tuna susila, tapi mamih nya tak menjadikanya seperti dirinya tapi menjadikannya hanya sebagai pencuri kecil dan pencopet agar mereka bisa menghasilkan uang untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Gadis itu di peralat oleh mamih nya untuk mencari uang setiap harinya, dengan cara mencuri, mencopet, dan menjadi anak jalanan degan mengamen bahkan kadang mengemis.
Sedih begitu sedih Bryan mendengar kehidupan pahit yang di alami oleh gadis muda tersebut.
"Anak itu tidak bisa membaca? tapi bagaimana caranya dia bisa membobol kartu debit ku? " tanya Bryan penasaran.
"Entahlah tuan muda sepertinya anak itu punya kenalan seorang yang biasa membobol ATM atau merentas data bank dan lainnya" jelas Agen.
"Astaga... dimana kau sekarang? " tanya Bryan.
"Saya masih dekat dengan daerah pemukiman gadis itu tuan"
"Tunggu aku disana aku akan kesana" Bryan langsung mematikan saluran telpon dan langsung mengambil kunci motornya dan tak lupa dia menggunakan jaket kulitnya dan pergi dari rumahnya menuju ke daerah gang tikus tersebut.
__ADS_1
Sementara itu.
Seorang gadis yang memang di didik hanya untuk mencuri sedang melancarkan aksinya, di sebuah lampu merah, padahal seharusnya dia libur tapi jiwa klepto maniaknya membuatnya tidak bisa menahan tangannya untuk mengambil sesuatu yang sangat dia inginkan meski itu adalah barang milik orang lain.
Gadis itu mendekat pada seorang pria yang sedang berdiri di lampu merah yang menunggu kendaraan yang berlalu lalang berhenti melintasi jalan karena lampu merah.
Dan tangannya yang sudah terlatih itu pun. mengambil sesuatu dari tas yang Di slempangakan oleh pria dewasa tersebut, sebuah benda pipih berwana hitam yang di taruhnya di dalam tas bagian depan tas tersebut.
"Yes... Berhasil" gumamnya.
Saat lampu merah menunjukan tanda berhenti, pria dewasa itu pun berjalan menyenrangi jalan tersebut dan gadis itu pun berlari menjauhi pria tersebut tapi, ponsel yang dia ambil belum sempat dia matikan lalu menyala.
"Akh... sial bakal ketahuan nih" gumamnya yang langsung berlari menghindari pria tersebut.
Pria tersebut yang mengenal bunyi dering ponselnya sendiri pun langsung memeriksa tasnya dan tak mendapati ponselnya berada di tempatnya, pria tersebut sadar dirinya kecopetan dan mengetahui siapa pelaku yang mengambil ponselnya dia pun mengejar gadis tersebut.
Dan terjadilah kejar-kejaran dijalan raya tersebut, dan karena dirinya tak ingin tertangkap akhirnya gadis itu langsung loncat ke arah motor sport yang akan berjalan saat lampu menunjukan warna hijau.
"Om... cepat jalan om... " ucap gadis tersebut tergesa.
Merasa ada yang tidak beres sang pengemudi motor pun menoleh kearah belakangnya dan betapa terkejutnya Bryan. saat melihat siapa yang sudah duduk di belakang kemudi motornya.
"Kamu! " ucap Bryan.
"Ck... om cepetan jalan itu lampu nya sudah hijau" ucapnya tergesa.
Bryan melihat ada gelagat tidak beres tak mau menuruti permintaan gadis itu.
"Dasar maling cepat kembalikan ponsel saya" ucap pria itu kasar.
"Aw... aw... aw... sakit om sakit" gadis itu kesakitan karena tangannya di pegang begitu kencangnya oleh pria dewasa tersebut.
Bryan yang tak tega melihat gadis itu kesakitan pun akhirnya membantu gadis itu dengan baik-baik.
"Kembalikan barang yang kamu ambil. darinya sebelum dia berteriak maling dan kita di pukuli orang ramai-ramai" ucap Bryan pelan.
Gadis itu mencebik dia kesal karena aksinya kali ini gagal.
"Kembalikan atau aku bawa kamu ke kantor polisi sekarang juga" ancman Bryan.
"Iya... iya nih om" Gadis itu pun memberikan ponsel yang dia copet tadi kepada pemiliknya.
Saat gadis tersebut ingin turun dari motor Bryan langsung memacu motornya hingga gadis itu spontan langsung memeluk tubuh Bryan dari belakang.
"Om... om gila ya... aku mau turun" jerit nya dari belakang.
"Bukankah tadi kau yang ingin aku lekas melaju Hem" ledek Bryan.
__ADS_1
"Ish... " gadis itu cemberut.
Bryan melihat raut wajah lucu itu dari kaca spionnya dan dia tersenyum entah kenapa dirinya tersenyum melihat wajah yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
Bryan membawa gadis itu kesebuah danau yang tak jauh dari lingkungan tersebut.
"Om kenapa membawa aku kesini? " tanyanya polos.
"Kenapa kau mencuri? " tanya Bryan langsung.
"Hehehe nggak tahu tapi itu sudah jadi kebiasaan atau naluri ku sejak kecil om hehe"
"Ck kau ini masih kecil tapi punya kebiasaan yang sangat buruk"
"Ya... om aku ini rakyat jelata yang tidak berpendidikan tidak bisa kerja di mana-mana hanya dengan mencuri aku baru bisa mendapatkan uang untuk makan dan bertahan hidup sehari-hari" jelas gadis itu.
"Tapi bisa lah tidak mencuri"
"Tidak bisa om... sebab yang diajarkan guru ku ya seperti itu" jawabnya polos.
"Astaga?! guru? bahkan mencuri pun kau harus berguru kenapa tidak sekolah? " tanya Bryan kesal.
"Tak ada biaya kata mamih biaya sekolah mahal buat makan saja nyarinya susah apa lagi buat biaya sekolah" jelasnya.
anak ini benar-benar mendapatkan pendidikan yang salah.
"Kau mau sekolah? " tanya Bryan akhirnya.
"Ya mau... tapi siapa yang mau biaya yain" jawabnya santai.
"Aku ! akan aku sekolah kan kamu di sekolah yang sangat bagus"
"Om Serius? " tanya gadis itu tak percaya.
"Iya aku serius" Bryan serius.
Gadis itu terlihat berfikir.
"Aku akan membeli mu dari mamih mu itu dan kau akan tinggal bersama ku di rumah ku, tapi kau harus janji pada ku, kau tidak akan mencuri lagi"
Mata gadis itu terlihat berbinar saat mendengar perkataan Bryan, tapi itu tak berlangsung lama dia menjadi muram lagi.
"Kenapa? " tanya Bryan.
"Aku kasihan sama mamih om, kalau aku tingglin mamih nggak ada yang nyari uang buat mamih makan dan bayar kontrakan" jelasnya polos.
"Hei... aku akan memberikan uang pada mamih mu itu agar dia bisa punya usaha sendiri untuk membiayai hidupnya dan membeli rumah untuk dia tinggal, jadi kau bisa tenang saat meninggalkannya" ucap Bryan serius.
__ADS_1
Gadis itu sekolah dilema sebab dirinya sebenarnya juga tak ingin menjadi pencuri seumur hidupnya dan ingin sekolah dan berpendidikan minimal dirinya bisa membaca dan menghitung agar dirinya tak di bohongi terus oleh orang-orang yang selalu memanfatkannya.
Bersambung.