
"Zira... " Bryan terkejut.
Tapi tak lama Bryan tertawa terbahak saat melihat ekspresi Zira yang di nilainya sangat lucu dan menggemaskan karena Zira cemberut pipinya gembung dan bibirnya lancip.
"Hahaha sedang apa kau disana? " Bryan tertawa lepas.
"Aku mau bangunin om karena sudah waktunya makan malam, papih sudah menunggu om di bawah" Zira kesal dia lalu bangun dari posisi jatuhnya yang terduduk di lantai.
"Hem... begitu ya sudah kau turunlah dulu aku akan menyusul nanti, aku mau cuci muka dulu"
Setelah mendengar itu Zira pun turun dari lantai dua menuju meja makan, saat di meja makan Ayah Lexi bertanya kenapa Bryan tertawa seperti itu, karena jarang sekali dirinya mendengar anaknya tertawa sampai terbahak seperti itu.
"Om Bryan di bangunin nya susah Papih, tadi aku di lempar guling dan terjatuh dan itu yang membuat dia tertawa" jelas Zira.
"Owh... hehe"
"Kenapa Yah? " tanya Bryan tiba-tiba saat melihat ayahnya tertawa kecil dengan Zira.
"Tidak apa-apa ayo kita makan"
"Wah.... tumben banget menunya begini? " Bryan baru pertama kali melihat menu makanan yang tidak biasa di meja makannya.
"Iya ini putri Ayah yang masak"
"Putri Ayah? maksud Ayah Zira? " tanya Bryan heran
"Ya iya siapa lagi bukanlah dia sudah jadi putri ayah? "
"Oo iya benar juga, oke kita cobain masakan kamu"Bryan lalu menarik kursinya dan mulai duduk di samping kanan ayahnya.
Dan mereka pun mulai makan dengan mengambil makanan masing-masing, Bryan dan ayah Lexi mencicipi ikan pepes kukus buatan Zira.
" Hem... enak... "ucap ayah dan anak tersebut secara bersamaan.
" Wah nggak nyangka kamu bisa juga memasak hahaha"celetuk Bryan.
"Sambal nya juga rasanya pas, pedas, asam, manis, gurih enak" puji ayah Lexi.
Zira yang di hujani pujian oleh kedua orang ini hanya tersenyum saja.
aku senang kalau mereka cocok dengan masakan ku.
Saat sedang menikmati makan malam Bryan dan Ayahnya yang sedang berebut ikan dan sambal di meja makan tiba-tiba kedua ibu angkat Bryan ibu Mentari dan Ibu Reka datang.
"Astaga ada apa ini kenapa ribut di meja makan? " tanya keduanya.
"Ayah nih bu... tidak mau mengalah aku suka sambal dan pepes nya tapi malah mau di habiskan sama ayah" keluh Bryan.
__ADS_1
Tari dan Reka melihat seseorang yang wajahnya tidak asing duduk bersama mereka di meja makan.
"Kimi... " Pekik mereka berdua.
Dan kedua orang yang sedang memperebutkan ikan dan sambal di meja makan pun langsung menghentikan aksi perebutan makanan tersebut.
"Bukan Ri... ini putri angkat gue namanya... namanya siapa ya? " Lexi lupa.
"Zira ayah... " jawab Bryan malas.
"Ah.... iya itu hehe"
Zira berdiri dari kursinya dan tersenyum pada kedua ibu Bryan.
"Wajahnya... " ucap Tari dan Reka bersamaan.
"Iya wajahnya memang sangat mirip dengan ibu, tapi dia bukan ibu, oia apa ibu mengantar makanan kesini? " tanya Bryan yang sangat tahu kebiasaan kedua ibunya yang selalu berkunjung dan membawa makanan kesukaannya.
"Hem... ibu buat sambal goreng kentang kesukaan mu" ucap Ibu Reka.
"Dan ibu juga buat casava cake untuk kalian berdua dengan takaran diet yang pas untuk ayah mu jadi dia bisa ikut makan hehe"
"Wah.... kebetulan banget ada dessert ya setelah makan" celetuk Lexi.
"Ayah tidak jadi mengahabiskan ikannya? " tanya Bryan.
"Om... ini siapa? " tanya Zira pada Bryan.
"Oia aku lupa mengenalkan kalian hehehe" Bryan tertawa tulus.
"kamu Ini kebiasaan Iyan... " gerutu ibu Reka.
"Mereka ini ibu ku, tepatnya seperti mamih mu itu, mereka yang mengurus ku sejak bayi dan kadang masih suka mengurus ku sampai saat ini" jelas Bryan.
"Itu karena kau tidak menikah-menikah sama seperti ayah mu ini yang sulit sekali membuka hati untuk wanita" omel ibu Tari.
"Ya... maaf Bu... hati ku kan cuma ada satu jadi ya aku cuma bisa satu kali jatuh cinta" jawab Bryan santai.
kedua ibu angkatnya hanya menggeleng pelan saja.
Setelah makan malam selesai mereka pun pindah ke ruang keluarga untuk mengobrol, Bryan memperkenalkan Zira pada kedua ibunya dan menceritakan kehidupan Zira yang sangat malang, hingga dia meminta ayahnya untuk mengangkat Zira menjadi anak.
Bryan pun menceritakan pada Zira tentang kedua ibunya, yang adalah sahabat ayahnya sejak kecil, hubungan persahabatan yang terjalin hingga tuan itu memang sangatlah jarang, kedua ibu memang jarang berkunjung ke rumah sejak Bryan sudah menjadi CEO di perusahan Lexi, dan saat ini Lexi sudah menyerahkan urusan perusahan seutuhnya kepada Bryan, Lexi pensiun dan Bryan lah yang menjadi presedir.
Namun sedihnya Lexi dimasa pensiunnya dirinya belum bisa mendapatkan cucu karena anaknya tidak kunjung menikah karena putus cinta secara paksa belasan tahun yang lalu, Lexi sebenarnya menyesal bila tahu efeknya akan seperti ini tapi saat ini dirinya tidak bisa memaksa anaknya untuk membuka hati lagi untuk wanita lain, karena semua itu memang tidak bisa di paksakan.
Lexi hanya bisa berdoa dan selalu berharap pintu hati anaknya bisa terbuka kembali meski sedikit untuk wanita lain selain Andrea.
__ADS_1
Zira memperhatikan iteraksi antara Lexi dan kedua sahabatnya itu benar-benar seperti seorang saudara, gaya bicara mereka memang terlihat berbeda tidak seformal berbicara dengan yang lainnya.
"Zi... jangan kaget ya... bila melihat keakbraban kami, ya kami memang seperti ini bila sudah bertemu" jelas ibu Tari.
Zira hanya tersenyum saja saat mendengar itu.
"Semoga dengan kehadiran Zira di rumah ini bisa menambah keramian dan elu nggak kesepian lagi Lex ada temannya kalau Bryan kerja" ucap Tari.
"Hem... bener banget itu" Lexi setuju dengan perkataan Tari.
Selama bertahun-tahun ini Lexi di usia senjanya memang merasakan kesepian bila. Bryan bekerja apa lagi bila anak itu suka tidak pulang atau keluar kota pasti dirinya selalu merasakan sendirian dirumah sebesar ini dirinya hanya di temani oleh pelauan dan para anak buahnya yang sudah tidak berprofesi sebagai mafia.
Suasana rumah terlihat berbeda memang sejak kehadiran Zira, contohnya saja tadi saat makan malam tak seperti biasanya Lexi dan Bryan perebut makanan seperti itu di meja makan.
"Zi... bila mau belajar membuat cake kau bisa belajar dengan ibu Tari karena ibu sudah mempunyai beberapa cabang toko cake dan roti di seluruh negeri ini"ucap Bryan.
"Oo ya... " Zira terlihat takjub.
sementara ibu Tari hanya tersenyum saja.
"Kau ingat nama anak gadis ini Iyan? " tanya Ibu Reka.
"Iya ingat bu kan yang menemukan dia juga aku" ucap Bryan santai.
Tari dan Reka menggeser duduk mereka menghimpit Lexi yang berada di tengah mereka dan berbisik.
"Lex elu nggak ada niat jodohin Bryan sama anak ini? kayanya Bryan suka sama dia" bisik Tari.
"Hem... setuju gue Lex, mungkin cerita elu sama Kimi terulang lagi sama Bryan dan Zira" bisik Reka.
Lexi hanya manggut-manggut saja saat di bisikan oleh kedua sahabatnya itu.
"Gue punya rencana sendiri kok tenang ajah" gumamnya.
"Ayah sama ibu kenapa bisik-bisik begitu sih?" Bryan bingung.
"Oh... biasa urusan orang tua antara nenek-nenek dan kakek-kakek hehe" Tari asal bicara.
Bryan memandang ketiganya bergantian seolah dirinya merasa ada yang di sembunyikan oleh mereka bertiga.
"Apa yang kalian rencanakan? " tanya Bryan curiga.
"Tidak ada, Lex kita pamit pulang dulu ya... sudah malam, jaga kesehatan elu ya" Tari dan Reka bangkit dari sofa dan segera menggeser kaki mereka dari ruangan tersebut.
Sementara Lexi pun ikut bangkit dari sofa dan berjalan ke arah kamarnya. meninggalkan Bryan berdua saja dengan Zira di ruang keluarga.
"Pasti ada yang mereka rencanain dan itu nggak beres nih" gumam Bryan yang masih duduk di sofa berhadapan dengan Zira.
__ADS_1
Bersambung.