Bryan (Cinta Lama)

Bryan (Cinta Lama)
Datang Kerumah


__ADS_3

Bryan hanya melirik saja ketika dia tahu siapa yang memanggilnya.


"Heuh burung pemakan bangkai" gumamnya sambil berlalu dan tak memperdulikan siapa yang memanggilnya.


"Bryan" sapa wanita itu sekali lagi.


Tapi tak di hiraukan nya dia terus berjalan keluar dari restoran dengan terus memegang tangan Zira.


Wanita tersebut merasa kesal karena tidak berhasil menarik perhatian Bryan, untuk kesekian kalinya Bryan benar-benar menolaknya, satu hal yang selalu membuatnya penasaran dengan pria tampan namun cuek itu, selama bertahun-tahun dirinya tak kunjung bisa mendapatkan Bryan sejak mereka masih bekerja di pabrik bersama hingga mereka sudah keluar dari pabrik dan memiliki karir masing-masing, tapi Bryan masih tetap Bryan yang dia kenal dulu, seorang pria yang tak pernah bisa dia rebut hatinya jangankan hatinya perhatiannya saja tidak bisa dia alihkan dari teman sejawatnya yang bernama Andrea, ya wanita yang di. banyak di berikan julukan oleh Bryan tak lain adalah Yumi teman kerja dirinya dulu ketika di pabrik.


Malam ini mereka bertemu lagi setelah sekian lama tidak bertemu sepertinya suami Yumi mengajaknya makan bersama di restoran ini, suami Yumi juga bukan orang biasa dia juga adalah penerus dari perusahaan tempat mereka bekerja dulu yaitu pabrik sparepart mobil dan motor ya... suami Yumi adalah Antoni yang dulu sempat menyukai Andrea. dan hampir bertengkar dengan Bryan karena Antoni ingin berkenalan dengan Andrea saat sedang berduaan dengan Bryan, kalau menurut Bryan mereka berdua memang cocok karena sukanya merebut milik orang lain.


Bryan menggandeng tangan Zira sampai ke area parkir. Zira tak bertanya kenapa Bryan cuek saja saat ada yang menegurnya tadi, dia tak mau ikut campur masalah orang dewasa begitulah fikirannya saat ini.


Bryan langsung menunggangi motor sport nya dan meminta Zira naik di belakang boncengan nya. Zira pun menurut, setelah mereka berdua naik ke atas motor tersebut Bryan mulai menyalakan mesinnya dan mulai memacu motornya meninggalkan restoran tersebut.


fiuh.....


Semilir angin mengiringi perjalanan mereka berdua menuju kediaman Irawan, angin malam yang berhembus cukup kencang karena laju motor yang di bawa pengemudinya membuat rambut hitam dan panjang Zira bergoyang dan terutai ke belakang, bila anda sering melihat iklan sampo di televisi penampakannya ya seperti itu karena rambut Zira sangat indah.


Zira memeluk tubuh Bryan dari arah belakang karena Bryan memacu motornya seperti dirinya sedang berkendara sendiri saja.


"Om... bisa nggak nggak ngebut-ngebut bawa motornya aku takut" Zira protes.


Mendengar protes dari gadis kecil ini Bryan hanya tersenyum.


"Kalau di bawa pelan motornya tarikannya nggak enak Zi... jangan takut pegangan saja yang kencang sebentar lagi kita sampai" ucap Bryan berteriak dari arah depan.


Dan Zira pun hanya menurut saja memeluk erat pinggang Bryan selama dalam perjalanan hingga mereka pun sampai di gerbang utama kediaman Irawan.


Kedatangan tuan muda disambut oleh penjaga keamanan yang berada di depan beberapa orang terbengong dan bertanya-tanya siapa dan tumben banget tuan muda membawa seorang perempuan ke rumahnya.


Bryan langsung memasukan motornya ke garasi dan mematikan mesin motornya sebelum mereka turun dari motor.


Dan saat mereka turun dari motor para petugas yang sudah lama menjadi penjaga disana langsung bengong saat melihat wajah Zira.

__ADS_1


"Nyonya... " gumam Bono salah satu penjaga senior.


Bryan menarik tangan Zira dan membawanya masuk ke dalam rumahnya, saat di dalam rumah Bryan di sambut oleh para pelayan dan juga kepala pelayan yang juga ikut bengong saat melihat wajah Zira dengan reaksi yang sama mereka pun terkejut dengan wajah Zira yang sangat mirip dengan nyonya muda mereka yang telah tiada.


"Ibu Dera tolong anda dandani dia ya... aku akan mengenalkannya pada ayah" ucap Bryan.


Sang kepala pelayan pun menuruti perintah tuan mudanya.


"Baik tuan muda" ibu Dera dan para pelayan pun membawa Zira kesebuah kamar dan mendandani Zira disana, mereka hanya menggantikan pakaian Zira dan membersihkan wajah Zira dari debu jalanan yang menempel di wajahnya tadi dan memoleskan sedikit bedak di wajah gadis muda tersebut.


Setelah selesai mereka pun membawa Zira ke ruang kerja Bryan.


"Tuan... dia sudah siap" ucap ibu Dera.


Zira hanya bingung kenapa dirinya harus di dandani seperti ini, seperti gadis yang sangat feminim, karena Zira dipakaikan dress pendek selutut berwana ungu muda, di pakaikan bedak bahkan rambutnya di sisir dengan rapih.


"Oke... ayo ikut aku" ajak Bryan.


"Apa gadis ini calon istri anda tuan? " tanya ibu Dera karena dirinya sejak tadi penasaran.


"Hah... selamanya? " ibu Dera terkejut.


"Anda tidak bermaksud untuk menjodohkan gadis ini dengan tuan besar kan?" batin Ibu Dera.


Bryan mengajak Zira keluar dari ruang kerjanya dan mengajaknya kesebuah kamar, ya itu kamar ayahnya.


Sejak awal masuk kedalam rumah Zira tak henti-hentinya merasa takjub karena dirinya baru kali ini masuk kedalam rumah mewah.


Saat di depan kamar Ayahnya tak lupa Bryan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum dirinya masuk, saat terdengat suara pria tua dari dalam ruangan mengatakan masuk, barulah Bryan menekan handle pintu dan muncul dari balik pintu, saat masuk dilihatnya ayahnya sedang membaca buku di sofa kamarnya.


"Ada apa Bryan? " tanya ayah Lexi yang langsung menurunkan kaca mata baca ke hidungnya.


"Ayah... aku ingin memperkenalkan seseorang pada ayah" ucap Bryan wajahnya terlihat senang. dia belum mengajak Zira kedalam kamar ayahnya.


"Siapa? kekasih mu? " tebak ayah Lexi.

__ADS_1


"Bukan tapi memang seorang gadis sih" ucap Bryan yang belum mengajak Zira ke kamar tersebut.


"Oke... kalau bukan kekasih mu juga tak penting untuk ayah"sang ayah yang sudah memasang mode cueknya mulai menaikan kaca matanya lagi dan mulai membaca lagi.


Bryan lalu berbisik di balik daun pintu meminta Zira masuk ke kamar ayahnya.


" Masuklah"bisik Bryan.


Dan Zira pun melangkah masuk keruangan Lexi.


Ayah Lexi tak menghiraukan siapa yang dibawa oleh anaknya dia terus membaca dan fokus menatap deretan huruf di buku tersebut.


"Ayah... ini Zira, aku minta ijin ayah agar dia bisa tinggal disini selamanya bersama kita" ucap Bryan.


Prek.


Ayah Lexi langsung menutup buku tebal itu. saat mendengar perkataan anak semata wayangnya itu, wajahnya langsung terangkat dan menatap lurus. dan tajam kepada Bryan dia masih tak melihat ke sisi Bryan.


"Apa yang kau katakan tadi heuh? " ucap ayah Lexi dingin.


Aura di ruangan tersebut mulai berbeda menjadi dingin seketika saat ayahnya mulai. berbicara dengan nada tak bersahabat. seperti itu.


Bahkan bulu kuduk Bryan pun sudah berdiri karena merasa adanya bahaya.


"Namanya Zira ayah, aku.... aku... " Bryan mulai gugup.


Lexi lalu melihat kearah sisi kiri Bryan, seorang gadis yang sejak tadi berdiri di sisi kiri anaknya baru dia lihat saat ini, dan saat melihat gadis itu Lexi langsung melepas kaca mata bacanya dan menaruhnya di meja sofa, spontan dirinya langsung berdiri dan mendekat ke arah Zira.


Zira bingung sekaligus ketakutan saat Lexi berdiri Tiba-tiba di hadapannya.


"Sayang.... " ucap Lexi yang langsung meraup wajah kecil Zira dengan kedua tangannya.


Zira kebingungan dan ketakutan dengan pria tua yang tiba-tiba memanggilnya sayang dan memegang wajahnya dengan lembut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2