
Di sisi lain Mamih yang membesarkan gadis itu pun sedang berhadapan dengan agen suruhan Bryan, sang mamih mendapatkan tekanan dan ancaman karena dirinya selama ini memperdaya dan mempekerjakan anak di bawah umur.
"Anda akan di penjara karena telah mempekerjakan anak di bawah umur, dan mendidiknya menjadi pencuri kecil" ancam sang agen.
"Hei... Tuan tampan aku tak memaksa dia untuk bekerja dia yang mau sendiri karena dirinya tahu diri untuk membalas budi pada saya" ucap mamih mendayu-dayu keahliannya merayu lelaki hidung belang sedang di praktekan saat ini.
"Dasar wanita penggoda, aku tak akan tergoda oleh mu" ucap Agen tegas.
Dan saat sedang mengancam mamih itu, ponsel sang agen berdering dilihatnya layar ponselnya tertera nama Bryan, tanpa fikir panjang lagi langsung di angkat olehnya.
"Ya tuan muda" jawabnya.
.....
"Baik tuan muda, baik akan saya laksanakan" ucapnya dan tak lama sambungan telpon pun berakhir.
Agen tersebut menoleh dan menatap sinis, pada mamih tersebut.
"Hei... kau siap-siaplah tuan muda ingin bertemu dengan mu" ucap Agen ketus.
"Hah... kau serius? ada seorang tuan muda yang ingin bertemu dengan ku? " tanya mamih dengan nada menggoda.
"Sudah jangan senang dulu tuan muda kami akan menginterogasi kau tentang anak pungut mu itu" jelas agen.
Wajah mamih seketika berubah jadi masam ketika tahu alasan tuan muda ingin bertemu dengannya.
Dan mamih pun bersiap-siap secara maksimal untuk bertemu dengan tuan muda Bryan.
sementara Bryan mengajak gadis itu kesebuah restoran, wajah gadis itu terlihat berbinar dan takjub saat masuk kedalam restoran mahal, meski dirinya pernah memasuki restoran sebelumnya. saat di jebak oleh pemuda kurang ajar itu, tapi restoran kali ini nampak lebih mewah.
Wah... om ini pasti sangat kaya, dan makanan disini pasti sangat mahal dan pasti rasanya enak.
Batin gadis itu dia masih belum ingat dengan Bryan pria dewasa yang menolongnya dan dia ambil juga dompetnya.
Bryan mengajak gadis itu duduk di sebuah sofa restoran dan mengajaknya memesan makanan, Bryan memberikan daftar menu makanan pada gadis itu.
Gadis itu hanya bengong saja saat melihat begitu banyak tulisan dan gambar yang ada di buku menu tersebut, sesekali mulutnya mengecap menahan air liurnya agar tidak menetes karena melihat gambar di buku menu yang begitu menggoda.
Bryan yang melihat itu hanya menggeleng pelan dan tersenyum.
begitu polosnya dia.
"Kau mau pesan apa? " tanya Bryan lembut.
__ADS_1
"Hehe aku bingung om sebab semuanya kelihatan enak hehe" ucap gadis itu polos.
"Ya sudah kalau begitu aku yang pesankan untuk mu ya... kau pasti suka dengan makanan ini"
Gadis itu hanya mengangguk saja menuruti Bryan.
Dan selagi menunggu makanan yang di. pesan matang, Bryan pun mengejak gadis itu berbicara.
"Apa kau tidak ingat dengan ku? " tanya Bryan.
Gadis itu menggeleng polos.
"Ah benar kau hanya mengincar dompet ku saat itu jadi mana mungkin kau ingat dengan wajah ku" gumam Bryan.
wah... ada live musik... aku seperti bermimpi saja makan di restoran mewah dan menyaksikan live musik, hihi tak pernah ku bayangkan impian ku jadi nyata sayangnya aku makan dengan orang yang tidak aku kenal coba aku makan dengan kekasih ku, huft... rasanya tidak mungkin kemarin saja aku hampir celaka karena dia.
"Hei... kenapa kau melamun? " tanya Bryan.
lamuan gadis itu pun buyar saat di tegur oleh Bryan.
"Oia siapa nama mu? " tanya Bryan.
"Nama ku Zira om" ucapnya polos.
"Berapa usia mu? " tanya Bryan lagi.
Astaga ternyata benar-benar masih bocah dan memang seusia ibu ku.
"kenapa om tanya-tanya apa om mau memasukan aku ke penjara? Jangan-jangan om ini polisi ya? " tanyanya lagi.
Pertanyaan yang polos itu mengundang tawa Bryan.
"Hahaha kau ini lucu, bukan aku bukan polisi aku akan menjadi orang tua asuh mu berikutnya, jadi aku harus tahu tentang mu meski itu hanya sedikit" jelas Bryan.
"Jadi om benar-benar ingin mengambil aku dari mamih? "tanyanya lirih.
"Ya... kau pantas untuk hidup lebih layak Zira"
Nah loh.... Bryan langsung ingat nama Zira, ada apa dengan Bryan ya... kawan...
"Apa kau tidak pernah mencari tahu siapa orang tua kandung mu? " tanya Bryan.
Zira hanya menggeleng pelan saja.
__ADS_1
"Mereka sudah membuang ku untuk apa aku cari mereka, aku tidak di inginkan oleh mereka untuk apa aku mencari orang-orang yang tidak menginginkan aku om" ucap Zira santai.
Mentalnya memang berbeda dari gadis kebanyakan.
"Apa mamih mu sangat menyangi mu? " tanya Bryan.
"Huft... dibilang sayang ya... nggak di bilang nggak sayang juga nggak om... tapi mamih selalu berpesan pada ku, aku boleh jadi pencuri, penjahat kecil, pencopet tapi tidak boleh menjual diri seperti mamih, mamih tak ingin aku terlibat prostitusi beberapa kali ada orang yang ingin membeli ku hanya untuk kepuasan saja dan mamih menolak keras bahkan mamih marah besar dengan orang tersebut sampai orang tersebut kapok dan babak belur karena di pukul martil oleh mamih "
Bryan mendengarkan cerita gadis malang ini dengan seksama, dia benar-benar menyimak kisah hidup gadis ini.
"Kalau om mau mengangkat aku jadi anak apa om sudah minta ijin pada istri om? " tanya Zira polos.
"Aku tak punya istri" jawab Bryan singkat.
"Om duda tidak punya anak ya? " tebak Zira.
"Aku belum menikah" jawab Bryan.
"Hah... bohong banget mana mungkin orang setampan dan sekaya om ini belum menikah" Zira seolah tak percaya.
"Benar aku masih single karena ada alasannya dan aku tak mau cerita sama kamu" jelas Bryan.
Zira hanya manggut-manggut saja saat Bryan mengatakan itu. dan tak lama makanan yang mereka pesan pun datang dan mereka pun menikmati makanan tersebut, walau Zira sempat mengalami kesulitan saat makan karena yang di pesan Bryan itu steak daging namun saat Bryan melihat Zira kesulitan memakan makanannya Bryan membantu memotong daging yang ada di piring saji milik Zira.
orang ini baik sekali, dia pasti akan menjadi ayah yang baik untuk ku nanti, andai dia benar-benar ayah ku... pasti aku sangat senang.
"Terima kasih om" ucap Zira.
"Ya... makanlah yang kenyang bila kurang kau bisa memesannya lagi" ucap Bryan lembut.
"Benarkah aku boleh pesan lagi? " tanyanya polos dengan mata berbinar.
"Iya kenapa nggak? "
"Boleh aku pesan untuk di bawa pulang untuk mamih" ucapnya polos.
"Kau tidak akan pulang ke rumah tikus itu lagi" jawab Bryan ketus sambil menyuap sepotong daging ke mulutnya.
"Kenapa aku nggak boleh pulang om? nanti mamih khawatir"
Bryan meletakan garpu dan pisau di piringnya sebelum dia berbicara dengan Zira.
"Zira... kau akan tinggal dengan ku mulai malam ini dan selamanya, dan nanti mamih mu itu akan datang kesini untuk menyerahkan mu pada ku" jelas Bryan.
__ADS_1
"Apa?! " Zira menjerit kaget.
Bersambung.