
Malam hari setelah mengantar Suge melamar kekasihnya, Andrea dan Bryan pun pulang ke rumah masing-masing, tapi saat mereka sampai dirumah masing-masing, keduanya pun melakukan kegiatan sehari-hari yang biasa mereka lakukan.
Andrea mengurus anak-anaknya dan juga suaminya meski masih ada rasa yang mengganjal dihati saat bertemu dan berjalan bersama dengan mantan kekasih yang paling di kasihinya.
Sedangkan Bryan melakukan kegiatan seperti biasanya saat tiba dirumah dirinya senang karena bisa membantu Suge dan berhasil meyakinkan orang tua Viki kalau Suge adalah calon suami yang tepat untuk Viki. meski terjadi ketegangan karena tuan Carlo ragu dengan Suge karena Suge itu laki-laki miskin. tapi Bryan berhasil membantunya meyakinkan tuan Carlo hingga akhirnya lamaran Suge pun di terima.
Andrea dan Bryan sangat senang saat lamaran Suge di terima entahlah Bryan sendiri pun. juga merasa heran kenapa dia bisa sesenang ini saat berhasil. meyakinkan hari tuan Carlo untuk menerima lamaran Suge, seolah dia sendirilah yang berhasil. meyakinkan hati sang mertua untuk melamar gadis pujaan hatinya.
andai waktu itu aku bisa meyakinkan ayah ku An... seperti aku bisa meyakinkan tuan Carlo malam ini pasti kita sudah punya banyak anak saat ini, tapi waktu itu malah ayah yang meyakinkan ku kalau meninggalkan mu adalah pilihan yang terbaik karena bila kau terus bersama ku, kau akan dalam bahaya karena musuh ayah ku masih banyak berkeliaran di luaran sana.
Bryan mengenggam erat buku yang di pegang nya saat ini, dan tak lama ada yang mengetuk pintu kamar nya saat dia sedang melamun.
"Ya... masuk" ucap Bryan.
Cek lek.
Handel pintu ditekan dan munculah Zira dari balik pintu tersebut.
"Om.... apa om sudah makan? " tanya Zira.
"Hem... kebetulan sudah, ada apa kau kesini? " tanya Bryan lembut.
"Aku bawa cake yang tadi di bawakan oleh ibu Tari katanya ini cake kesukaan om" Zira menaruh sekotak cake di meja sofa.
Bryan tersenyum melihat itu.
"Kau mau aku menghabiskan sekotak cake itu sendirian hihi" Bryan tertawa kecil.
"Ya kalau om sanggup habiskan saja" jawab Zira polos.
"Aish... kau ini ada-ada saja, apa ayah tidak mau cake ini? " tanya Bryan.
"Papih tadi kekenyangan makan aku tadi masak sup ikan kuwe asam pedas papih sangat lahap makannya hingga kekenyangan hehe"
"Wah... kau jadi juru masak untuk ayah sekarang rupanya hahaha" Bryan tertawa.
Zira hanya tersenyum saja melihat Bryan tertawa.
"Om anda itu sangat tampan loh bila tertawa seperti itu, tapi kenapa anda jarang sekali tertawa lepas seperti itu seolah ada beban di hati anda" ucap Zira.
Bryan langsung terdiam saat mendengar perkataan Zira.
"Oia Zi apa kau sudah bisa membaca? "tanya Bryan.
" Hampir lancar om kata ibu Flo perkembangan ku cukup bagus om karena baru dua bulan aku sudah bisa membaca meski belum lancar"
__ADS_1
"Hem... sebentar" Bryan tiba-tiba mencari nomor telpon Suge dan dia pun menelpon Suge.
saat sambungan terjawab.
"Hei... Ge... apa kau pernah membuat komik bersama Andrea tentang novel nya yang berjudul cinta Setelah tua? " tanya Bryan.
"Sebelum aku bekerja dengan anda memang Andrea mengajak ku bekerja sama dengan kolaborasi novel tersebut menjadi komik, tapi tidak jadi tuan karena aku sibuk bekerja" jelas Suge.
"O... begitu"
"Kenapa tuan? "
"Tidak apa-apa, maaf menggangu mu" Bryan langsung mematikan sambungan telpon.
Dia lalu melihat ke arah Zira.
"Bacalah ini maka kau akan mengerti apa yang aku rasakan" Bryan memberikan novel yang di pegangnya pada Zira.
"Ini hanya sebuah novel tapi sepertinya ini adalah isi hati sang penulis, isi hati dan harapannya dia curahkan kedalam tulisan dan menjadi sebuah karya" jelas Bryan.
Andrea.
"Apa om kenal dengan penulis nya? " tanya Zira.
Bryan hanya mengangguk saja setelah itu Bryan meminta Zira untuk meninggalkan kamar nya dan membawa cake tersebut padahal belum dia makan sedikit pun.
"Baik Om" Zira pun menuruti Bryan dia membawa cake tersebut dan meninggalkan kamar Bryan, membiarkan Bryan beristirahat malam ini.
Setelah itu Zira kembali ke kamarnya dan mulai membaca novel tersebut.
"Andrea... aku penasaran seperti apa orangnya yang menulis ini, kenapa kisahnya seolah berhubungan dengan Om Bryan ya? " fikir Zira.
"Dengar-dengar om Bryan pernah patah hati hingga dia tidak mau menikah dan membuka hatinya untuk wanita lain, sebegitu dalam kah perasaannya pada wanita itu? hingga om Bryan sampai rela menyendiri sampai saat ini? "
"Huft.... rumitnya urusan cinta orang dewasa" Zira merebahkan tubuhnya di atas ranjang nya.
Keesokan harinya.
Di pagi hari yang cerah saat Bryan yang sudah bersiap berangkat ke kantor, menuju meja makan untuk menikmati sarapan pagi terlebih dahulu.
"Pagi om... " sapa Zira ceria.
"Hei... pagi" jawab Bryan.
Bryan duduk di kursinya dan mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai stroberi di roti tersebut.
__ADS_1
"Bryan... " Panggil ayah Lexi.
"Ya ayah" jawab Bryan santai.
"Apa hari ini kau sibuk? " tanya ayah Lexi.
"Setiap hari aku sibuk ayah" jawab Bryan.
"Iya ayah tahu maksud ayah apa ada meeting hari ini? " tanya ayah Lexi.
"Entahlah Milo belum memberitahu ku" jawab Bryan sambil menggigit roti tersebut.
"Telpon Milo bila tidak ada meeting atau pertemuan penting ayah mau datang ke kantor nanti siang"
"Uhuk... uhuk... " Bryan tersedak saat mendengar ayahnya mau datang ke kantor.
"Ada apa ayah tumben datang ke kantor? " Bryan bingung.
"Ada yang ingin ayah bicarakan dengan mu, ini penting"Ucap Ayah Lexi tegas.
"Kenapa nggak disini saja, kenapa harus di kantor? " tanya Bryan dia lalu meneguk air di gelasnya.
"Ayah ingin ke kantor, kenapa apa ada yang kau sembunyikan hah?! " Lexi kesal karena anaknya melarangnya datang ke kantornya sendiri.
"Tidak ayah... hanya saja tumben gitu, memangnya apa sih yang ayah ingin bicarakan? " tanya Bryan selembut mungkin karena dia tahu ayahnya sudah bermode tidak bersahabat.
"Ya nanti saja saat kau di kantor bodoh, kau tidak terlibat sekandal kan dengan karyawan hingga kau takut ayah datang kesana? " Lexi mulai curiga.
"Tidak ayah tidak ada skandal kok, tenang saja anak ayah ini masih laki-laki yang baik kok" jelas Bryan santai.
"Bagus kalau begitu, jangan berbuat yang aneh-aneh Bryan, sudah cukup kau menyukai istri orang jangan kau buat skandal perselingkuhan" singgung ayah Lexi.
"Astaga ayah... aku nggak segila itu juga kali"Bryan sewot akhirnya dia kesal mendengar ucapan ayahnya.
Zira terkejut saat ayah Lexi menyebutkan kalau Bryan menyukai istri orang.
"Bagus kalau begitu, lupakan dia dan menikahlah dengan wanita pilihan ayah nantinya"dengan santainya ayah Lexi mengatakan itu.
"Ck apaan sih... " Bryan berdecak tidak suka.
"Aku berangkat ayah... " Bryan langsung berdiri dari kursinya padahal roti yang dimakannya belum habis.
Lexi yang tahu anaknya sangat tidak suka dengan pembahasan ini pun diam saja, dia tidak mau memperpanjang bicaranya karena bisa merusak mood anaknya saat bekerja nanti.
apa yang mau dibicarakan ayah sih sampai harus ke kantor segala.
__ADS_1
Bersambung.