
Hari terus berlalu tak terasa sudah seminggu berlalu sejak Suge dan Viki menjadi sepasang kekasih, Viki yang posesif dan juga selalu lengket pada Suge membuat hubungan mereka cepat tercium oleh semua orang yang bekerja di perusahaan.
Bahkan berita tersebut sampai ke telinga Bryan sang presedir yang tidak biasanya peduli dengan hubungan para karyawannya, tapi entah kenapa pagi ini saat dirinya melihat kejadian di ruangan kepala divisi kreatif dirinya jadi mau ikut campur dengan urusan karyawannya.Bryan ingin bertemu dengan bagian desain kreatif di perusahaannya saat dirinya ingin bertemu Suge dirinya tak menemukannya di ruangan nya hingga dia mencari di ruangan Viki dan tanpa mengetuk pintu Bryan langsung membuka pintu ruangan Viki dan....
"Astaga... " Bryan langsung terkejut saat dirinya mendapati. pemandangan yang sangat tidak enak. dilihat secara live.
Yap... Bryan menyaksikan Viki sedang bercumbu di ruangannya dengan Suge, bukan hanya sekedar bercumbu tapi mereka bercumbu sangat brutal dan nakal.
Hingga saat ini mereka di sidang di ruangan tersebut karena perbuatan mereka itu.
"Apa yang kalian lakukan hah?! " bentak Bryan.
"Berciuman" jawab Viki santai.
Begitulah Viki tak ada takutnya meski dengan pimpinan perusahaan sekali pun. jiwa Viki memang agak sedikit berbeda dari jiwa wanita kebanyakan. karena dirinya merasa tak terlalu butuh pekerjaan karena sebenarnya dirinya sudah kaya ayahnya pun punya perusahaan sendiri tapi dia memilih tidak. ikut ke perusahaan ayahnya dia mencoba berdiri di atas kakinya sendiri tidak ingin bergantung pada ayahnya.
"Astaga kau... kau... dengan tidak tahu malunya kau mengatakan itu" sentak Bryan.
"Ya buat apa malu kami saling mencintai tuan muda... apa anda belum pernah merasakan jatuh cinta? ups... maaf aku lupa anda belum pernah jatuh cinta mangkanya anda tidak tahu rasanya gelora cinta... " jelas Viki dengan nada menggoda.
Suge dan Milo hanya menepuk dahinya saja karena kelakuan Viki yang sangat diluar dugaan.
"Kata siapa aku tidak pernah jatuh cinta hah?!" bentak Bryan.
"Jadi pernah? " tanya Viki santai.
"Ya... pernah bodoh?! " Bryan sewot.
"Masa sih?! " nada Viki seolah tak percaya.
Membuat Bryan semakin naik pitam.
"Kalau kau tak percaya tanya saja mereka" Bryan menunjuk Suge dan Milo.
Viki melihat kearah Suge dan Suge hanya mengangguk saja.
"Kaya apa sih wanita yang di cintai tuan muda jadi penasaran" bisik Viki.
"Yang jelas tidak secantik kamu sayang" jelas Suge di depan Bryan.
"Hei kalian... jangan mesra-mesraan di depan ku ya sialan... " bentak Bryan lagi.
"Hei... Suge... sebaiknya kau segera nikahi dia agar tidak terjadi hal yang lebih parah dari tadi" ucap Bryan ketus.
Suge menghela nafasnya dalam saat mendengar perkataan Bryan.
__ADS_1
"Jangan bilang kau belum siap ya? " sindir Bryan.
Suge lalu menatap wajah Viki dia lalu memegang kedua tangan Viki.
"Sayang sebenarnya ada yang ingin aku katakan sejak kita menjalin hubungan" ucap Suge lirih.
Deg...
Jantung Viki berdegub kencang dia takut Suge memutuskan hubungan nya di depan Bryan dia takut Suge menerima cintanya hanya karena terpaksa.
"Sayang... mau kah kau menikah dengan ku?" tanya Suge.
Wajah Viki langsung berbinar saat mendengar perkataan Suge.
"Tapi aku hanya bisa memberi mu mas kawin cincin emas seberat dua gram saja, apa kau masih mau? dan aku juga tak bisa membuat pesta mewah untuk pernikahan kita nanti" jelas Suge.
Bryan hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena melihat seorang pria melamar gadis tepat di depan matanya.
"Kau serius dengan kata-kata mu? " tanya Viki ragu.
"Aku serius sayang" ucap Suge yakin.
"Kau mengatakan ini bukan karena terpaksa kan? bukan karena tuan muda menyuruh kita menikah kan? " tanya Viki lagi.
"Tidak sayang sejak awal kita memutuskan untuk menjalin kasih aku sudah ingin mengatakan ini hanya saja aku menunggu waktu yang tepat dan aku rasa sekarang lah waktu yang tepat sayang" jelas Suge.
"Hei... Hei... sudah-sudah sebaiknya secepatnya kau temui orang tuanya dan jadikan dia istri mu, jangan kelamaan bisa bahaya" tegur Bryan yang sudah tidak tahan melihat adegan mesra-mesraan di depan nya ini.
Dan sejak kejadian itu Bryan memerintahkan ruang Suge dan Viki di pisah Suge di tempatkan di ruangan satu lantai dengan Bryan.
Saat Suge sudah berbicara dengan Viki seperti itu di depan Bryan, Suge langsung menelpon Andrea ketika dirinya masih di ruangan Viki.
"Halo... Re..."
"Ya.... ada apa Ge? " tanya Andrea.
"Re... gue udah bilang ke Viki kalau gue mau jadiin dia istri gue dan dia mau Re... gue mau nagih janji elu ya... " ucap Suge.
"Serius dia mau wah... selamat ya... Ge... " Andrea terdengar bersemangat.
"Iya... tapi elu inget kan janji elu tampo hari"
"Iya inget tenang ajah, nanti malam elu tolongin gue nyari duit biar gue yang jaga lilin hahaha" ledek Andrea.
panggilan yang di loudspeaker oleh Suge terdengar oleh Bryan hingga Bryan tergelak saat mendengar perkataan Andrea di telpon.
__ADS_1
"Sialan lu... serius ini Rea... "
"Iya gue juga serius hahaha" Andrea tertawa terbahak.
"Rea... " Suge merajuk.
"Iya... iya... gue bantu elu kan temen gue dari kecil, masa iya nggak gue bantu, tenang ajah hahaha kaya nggak tahu gue ajah lu"Andrea terus tertawa dia tidak tahu kalau saat ini Suge bersama dengan Bryan.
Bryan tersenyum saat mendengar gelak tawa wanita yang di cintainya itu sudah lama dirinya tak mendengar kerenyahan tawa Andrea lama sekali bahkan saat ini. setiap mereka bertemu Andrea hanya bisa tersenyum canggung padanya tak seperti dulu, tawa candanya selalu menghiasi hari-hari mereka saat mereka sedang bersama.
Bryan jadi terkenang masa itu masa dimana Andrea terlihat sangat ceria.
Flash back.
"Hahaha Iyan... sudah Iyan... sudah cukup kau konyol sekali hahaha" Andrea tertawa terpingkal saat melihat Bryan sedang bertingkah konyol waktu itu.
bagaimana tidak konyol Bryan sedang menggoda Wan saat itu dia berpura-pura menjadi wanita yang akan di nyatakan cinta oleh Wan.
Dan peran itu sangat dia hayati dia benar-benar menjadi seorang wanita jadi-jadian hingga dirinya rela memakai bando kapunyaan Andrea dan berlagak seperti layaknya seorang perempuan tapi tubuhnya yang tegap yang sangat cowo banget sangat tidak sesuai dengan peran nya saat ini.
Bryan rela menjadi wanita jadi-jadian sebab dia tidak rela kalau Andrea yang di minta Wan sebagai pasangan latihan untuk menyatakan cintanya pada wanita yang dicintainya saat itu.
"April... aku suka sama kamu mau nggak kamu jadi pacar aku? " ucpa Wan pada Bryan yang berpura-pura menjadi April.
"Apa?! serius Ka kamu suka sama aku" dengan gaya wanita yang dilebih-lebihkan dan suara yang di buat seperti wanita Bryan seperti sangat menghayati perannya sebagai seorang April.
"Buahahaha Iyan sudah Iyan... sudah cukup hahaha" Andrea terpingkal bahkan dia sampai menangis karena tertawa melihat tingkah konyol kekasihnya kalau itu.
"Ck... Wan... akh gara-gara elu image gue sebagai cowo keren jadi hancur nih heuh... kalo mau melesatkan panah asmara minta bantuan Cupid jangan sama gue dah kasihan tuh pacar gue sampe nangis gara-gara elu" Bryan ngomel.
"Lah... kok gue elu yang berlebihan dah kaya yang bener ajah" Wan tak terima dirinya disalahkan.
"Au ah... bodo, yuk An... kita pulang" Ajak Bryan saat itu dan mereka pun meninggalkan Wan sendirian yang bersiap untuk melesatkan panah asmara ke hati April.
falsh back off.
kembali ke ruangan Bryan, Suge yang masih menelpon Andrea akhirnya meledek nya, dirinya sangat tahu apa yang akan membuat Andrea bungkam dari tawanya.
"Re... ketawa mulu luh ada Big bos nih di depan gue" ucap Suge sambil melirik Bryan.
"Apa?! ah... goblok lu kenapa baru bilang sialan" omel Andrea dan setelah itu saluran telpon pun terputus.
Andrea malu dengan Bryan karena dia tertawa seperti orang gila yang sedang kumat saja saat berbicara dengan Suge di telpon, dirinya memang selalu berbicara dan tertawa lepas bila sedang berbicara dengan sahabatnya itu.
Bryan tersenyum saat tahu Andrea langsung mematikan sambungan telpon saat Suge mengatakan kalau ada dirinya di depan sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung.