
Setelah keluar dari gedung perkantoran tersebut, Andrea dan Suge pun menaiki motor tua yang terparkir di area parkir.
Saat di area parkir Andrea masih terdiam, Suge melihat gelagat aneh sahabatnya langsung berbicara.
"Elu masih cinta juga sama dia? " tanya Suge.
"Heh... apaan maksud lu juga? " Andrea bingung.
"Ck dasar bego elu nggak lihat apa dia itu masih suka sama elu, cara dia berinteraksi sama elu tuh matanya tuh beda banget Re... " jelas Suge.
"Masa sih? Astaga ini bahya Ge aduh... gue udah tanda tangan kontrak lagi sama dia, gimana Ge... " Andrea bingung.
"Ck elu profesional ajah lah kalo masalah kerjaan mah... nggak usah di kahawatirin selagi elu profesional nggak akan ada yang namanya cinta lama bersemi kembali".
Tapi Andrea masih juga bingung dan takut dia takut kalau nantinya dia tidak bisa profesional dan terbawa perasaan saat bekerja nantinya.
Puk.
Suge menepuk pundak Andrea, dan berkata.
"Gue percaya elu bisa Re" ucap Suge yakin.
Andrea pun mengangguk yakin pada Suge.
Ya aku pasti bisa profesional seperti apa kata Suge.
"Eh elu beneran mau kerja disini? " tanya Andrea.
"Ya mau lah kapan lagi Re... yang punya perusahaan langsung loh yang nawarin kerja sama gue hehehe"
Andrea hanya tersenyum saja melihat sahabatnya senang.
"Ya udah tapi kalo tiba-tiba dia nanya-nanya tentang gue elu pura-pura nggak tahu ajah ya"
"Pede Bener luh Re... orang tampan dan hartawan kaya Bryan nanyain elu hahaha" ledek Suge.
Andrea yang kesal hanya memukul bahu Suge saja tapi dia tersenyum pada sahabatnya tersebut karena dia tahu Suge tidak sungguh-sungguh mengatakan itu,itu hanya gurauan saja.
__ADS_1
Setelah itu mereka berdua pun pulang dengan menaiki motor tua tersebut, Suge mengantar Andrea sampai depan rumahnya, kedua anak Andrea menyambutnya dengan riang gembira, Suge menganggap kedua anak sahabatnya ini sudah seperti anak kandungnya sendiri, dia pun mampir sebentar untuk bersenda gurau dengan Farel dan Sena sekitar 30 menit Suge bermain dengan mereka setelah itu dia pun pamit pulang pada Andrea.
waktu terus berlalu malam pun tiba, rembulan mulai menyinari sebagian bumi dengan terangnya malam ini.
terlihat senyuman berseri di sebuah kamar, seorang pria tampan di depan balkon kamarnya sedang tersenyum sendiri karena mengingat kejadian tadi siang.
kau pasti sudah gila Bryan dia itu istri orang tapi kenapa kau masih saja jatuh cinta padanya seolah dia itu masih gadis seperti dulu saja, astaga Andrea... kau kenapa masih tidak berubah sih... meski kau sudah mempunyai dua anak, meski memang badan mu sedikit berisi tapi kenapa aura mu masih sekuat dulu, hingga aku masih saja tertarik kembali lagi seperti magnet yang bertemu dengan kutub yang berbeda.
Bryan terus berkata dalam hatinya.
Bryan pun menatap langit malam yang terang karena di sinari rembulan yang bulat penuh malam ini.
Dirinya jadi menerawang ke masa lalunya lagi, masa dimana dirinya masih menjadi buruh pabrik.
flash back.
Malam itu di saat semua karyawan sudah pulang, Bryan dengan setia menunggu kekasihnya di bawah tangga yang gelap karena tidak ada penerangan disana, hanya sinar rembulan lah yang menyinari kegelapan malam itu.
trek... trek.. trek...
derap langkah sepasang kaki terdengar menuruni tangga besi tersebut, seseorang yang sejak tadi dengan sabarnya menunggu seseorang yang sedang menuruni tangga ini pun tersenyum dan mendekat pada gadis tersebut.
Bryan mengajaknya pulang bersama meski hanya sampai di depan gerbang saja tapi itu sudah sangat menyenangkan bagi mereka berdua.
"Iyan... aku ada sesuatu untuk mu, ini Terima lah semoga kau suka" Andrea memberikan sebuah kotak berbungkus kertas kado pada Bryan.
Bryan pun langsung memasukan benda yang di berikan kekasihnya tersebut ke dalam tasnya.
Saat di depan gerbang utama pabrik mereka pun berpisah untuk pulang kerumah masing-masing.
Dan saat sampai dirumah Bryan yang kelelahan pun asal menaruh tasnya dan berbaring di kasurnya, dia tak sadar kalau adaik-adik angkatnya datang memasuki kamarnya.
Pekerjaan yang sangat melelahkan hari ini membuatnya tidak menghiruakan kedatangan siapa pun memasuki kamarnya.
Moza dan Ribca duduk di sofa kamar Bryan menunggu sang kakak yang sepertinya memang terlihat kelelahan. Saat sedang ingin duduk Ribca memindahkan tas Bryan ke meja bundar yang ada di depan sofa, tapi Ribca merasakan ada benda agak berat di dalam tas kakaknya ini hingga dia dengan berani dan tanpa izin membuka tas kakaknya.
dilihat oleh Ribca dan Moza ada sebuah kotak kado mereka pun memberitahu sang kakak.
__ADS_1
"Kak ada kado di dalam tas kakak" ucap Ribca.
"Hem... " Bryan hanya menyahut begitu singkat dia masih memejamkan matanya.
"Boleh kita buka? " tanya Moza.
"Hem... " jawab Bryan.
"Oke kita buka yuk Za" ucap Ribca yang langsung merobek kertas kado tersebut saat semuanya terbuka ada sepucuk kertas jatuh dari dalam nya.
"Eh... apa ini? " ucap Moza dia memungut kertas tersebut.
"Aih... ternyata ini dari pacar kakak... ada surat cintanya loh kak... Teruntuk Bryan... ini adalah hadiah peringatan dua bulan kita jadian"
Bryan langsung membelalakan matanya saat Moza membacakan surat yang ditulis oleh Andrea, Bryan langsung loncat dari atas ranjangnya dan merebut kertas tersebut dari tangan adiknya.
" Kalian berdua keluar dari kamar ku"ucap Bryan datar.
"Astaga kakak marah hahaha kaboooor" ledek kedua adiknya itu mereka pun langsung mengambil langkah seribu saat itu juga takut kakaknya murka.
Bryan lalu melihat sebuah kardus kotak berbentuk kubus dan dia pun membuka kardus tersebut dia tersenyum saat melihat isinya itu sebuah gelas mug berwana putih susu bergambar kelinci.
Dan secarik surat yang langsung di baca isinya.
*Teruntuk Bryan ini adalah hadiah ku untuk mu, sebagai hari peringatan hari jadian dua bulan kita berdua. mungkin kau lupa dengan hari ini tapi aku akan selalu mengingatnya dimana masa kita saling mengukapkan perasaan kita berdua.maaf aku hanya bisa memberikan mu hadiah ini, aku sendiri pun bingung harus memberikan hadiah berupa apa pada mu, semoga kau suka, ingatlah aku bila kau sedang minum dengan mug ini.
from : Andrea.
...Bryan ❤ Andrea*...
Bryan tersenyum setelah membaca isi surat tersebut.
flash back off.
Bryan berjalan ke nakas dia lalu membuka laci kecil nakas dan mengeluarkan sebuah buku di mana terselip kertas surat yang sudah usang. di bacanya lagi surat tersebut mengingatkannya pada wanita yang masih di cintainya tersebut.
Tuhan bila kami tak bisa bersatu kenapa kau pertemukan kami kembali, kau tahu sakit rasanya bila ku ingat cinta ku tak bisa termiliki.
__ADS_1
Bryan menitikan air matanya karena merasakan sakit begitu sakit dadanya karena bertemu dengan seseorang yang paling di cintainya tapi tak bisa dia miliki lagi.
Bersambung.