
Bryan melangkah diiringi Milo dan rekan bisnisnya, yaitu si pemilik hotel. perusahaan sedang menjalin kerja sama dengan hotel yang saat ini di kunjungi oleh Bryan, sang pemilik hotel menjual sebagain asetnya pada perusahaan Bryan, hingga Bryan harus melakukan survei langsung ke hotel tersebut sebelum dirinya benar-benar menandatangani kerja sama dengan hotel tersebut dan membeli sebagian aset hotel tersebut.
Tanpa mereka ketahui di hotel yang sama di sebuah kamar yang paling mewah di hotel tersebut sedang terjadi pertikaian besar.
Bryan menaiki lift untuk meninjau semua fasilitas yang telah tersedia di hotel tersebut, saat dirinya sampai di lantai paling atas dimana kamar-kamar mewah berasa disana bahkan hanya ada tiga kamar saja disana.
Dan saat lift telah sampai di lantai yang dituju Bryan dan para anggota yang lain, saat pintu lift bergeser dan Bryan melangkah kaki kanannya keluar dari lift.
Dor....
Terdengar suara letupan senjata api dari sebuah kamar yang berada disana.
Dan tak lama terdengar suara seorang wanita menjerit.
Bryan langsung mengenali suara tersebut.
"Andrea... " Bryan panik.
"Dari mana asal suara tembakan itu? " Bryan panik.
"Sepertinya dari kamar yang itu tuan muda" tunjuk sangat pemilik hotel.
Bryan langsung berlari ke arah yang ditunjukkan oleh pemilik hotel tersebut dan tanpa fikir panjang lagi Bryan langsung masuk kedalam kamar tersebut yang memang tidak di kunci.
"Mas... mas... Adji... bertahan mas... aku mohon".
Kejadian di dalam kamar saat Bryan mulai melangkahkan kakinya di hotel tersebut.
Saat Yumi mengarahkan pistol ke arah kepala Andrea, Adji yang panik saat itu karena melihat nyawa istrinya terancam langsung berlari ke arah Yumi mencoba merebut pistol yang di pegang Yumi.
Saat sedang berebut pistol Yumi melepaskan cengkraman nya dari Andrea, namun Yumi masih mempertahankan pistol tersebut, hingga akhirnya pelatuknya tertarik. oleh Yumi saat pistol sedang mengarahkan ke perut Adji.
Dor...
Suara letupan tembakan langsung terdengar hingga keluar kamar, Andrea langsung melihat suaminya terkapar bersimbah darah, langsung berteriak.
Antoni tak membiarkan Yumi. dia langsung melumpuhkan Yumi dengan memiting tangan Yumi kebelakang tubuhnya. hingga wanita itu tidak bisa bergerak.
"An... " Bryan yang panik langsung berlari mendekat pada Andrea yang terlihat menangis.
__ADS_1
"Iyan... mas Adji Iyan tolong dia Iyan" Andrea tampak memohon.
"Baiklah kita tolong dia dulu tuan Gabriel tolong panggil ambulans secepatnya" pinta Bryan pada tuan Gabriel sang pemilik hotel tersebut.
Andrea terus berada di sisi suaminya.
"Mas.... mas yang kuat ya mas... " Ucap Andrea lirih.
Adji menatap ke arah Bryan yang sedang berdiri di sisi Andrea.
"Tu.. an mud.. a" ucap Adji terbata.
"Mas jangan banyak bicara dulu" ucap Andrea.
Bryan bersimpuh di sisi Andrea.
"Ya... ada apa mas? "tanya Bryan saat Adji memanggilnya.
Adji meraih tangan Andrea dan juga tangan Bryan dan menyatukan tangan mereka berdua.
" Aku serahkan dia pada cinta nya yang sebenarnya "ucap Adji terbata.
" Mas... jangan banyak bicara dulu mas sebentar lagi ambulans datang dan mas akan mendapatkan pertolongan "
Adji menggeleng.
"Maafkan aku Rea... karena menahan mu selama ini, meski aku tahu cinta mu hanya untuk dia" Adji menatap ke arah Bryan.
"Maafkan aku tuan muda karena aku merebutnya selama ini dari mu"
Bryan terenyuh saat mendengar ucapan Adji.
"Mas... mas kuat mas... mas kuat"
Adji menggeleng lagi.
"Aku nggak kuat lagi Re... mungkin memang ini saatnya dan mungkin memang dia lah jodoh mu yang sebenarnya"
"Mas.. hiks... hiks... hiks... " Andrea mnangis tersedu.
__ADS_1
Bryan mengelus pundak Andrea mencoba menguatkan hatinya.
Saat Andrea dan Bryan fokus pada Adji, Yumi yang di bawa oleh polisi yang sudah tiba disana mencoba berontak untuk melarikan diri, dan dia berhasil melarikan diri polisi memberikan tembak peringatan tapi tak di hiraukan oleh Yumi hingga akhirnya polisi menembak kaki Yumi untuk melumpuhkan Yumi dan itu berhasil Yumi terjatuh tersungkur ke lantai. dan polisi berhasil menahannya.
Ambulans datang dan langsung membawa tubuh Adji ke dalam ambulans. sampai di dalam ambulans Andrea masih menangis di samping tubuh Adji.
"Jangan menangis Rea... jangan menangis sayang... aku tenang bila memang harus berpulang kerumah Tuhan saat tahu kau ada di tangan orang yang tepat sayang, aku titip anak-anak ya... " ucap Adji dan Adji langsung tak sadarkan diri.
Andrea panik dan berteriak histeris melihat suaminya tak sadarkan diri.
"Mas... mas Adji... bangun mas... bangun mas hiks... hiks... "
"An biarkan para medis yang menanganinya" Bryan merangkul pundak Andrea dan membawanya keluar dari ambulans.
Andrea yang bersedih tak sadar kalau dia langsung memeluk tubuh Bryan dan menangis di dada bidang Bryan, Bryan yang baru pertama melihat Andrea sedih seperti ini hanya bisa mengelus punggung Andrea dengan lembut.
"Tegar lah An... aku tahu kau wanita tegar"ucap Bryan pelan.
" Hiks... Iyan... "hanya itu yang di katakan Andrea saat di berikan suport oleh Bryan.
ambulans yang membawa Adji pun berjalan menuju rumah sakit, Andrea dan Bryan menyusul dari belakang.
Ambulans sampai di rumah sakit dan Adji. langsung mendapatkan pertolongan, namun karena peluru yang menembus perut Adji mengenai oragan yang sangat vital hingga operasi langsung di lakukan untuk mengambil proyektil peluru.
Proyektil peluru telah berhasil din keluarkan dari dalam tubuh Adji, tapi tiba-tiba terjadi pendarahan hebat saat operasi, para dokter dan timnya berusaha menghentikan pendarahan tapi sulit karena ternyata peluru menembus sangat dalam hingga ada luka yang tak terlihat, nafas dan detak jantung Adji sudah timbul dan tenggelam.
dokter dan timnya trus berusaha apalagi saat tanda lurus di mesin EKG muncul, dokter mencoba memacu jantung Adji segenap kemampuan dikerahkan oleh dokter dan timnya. tapi nyawa Adji tak dapat tertolong juga, Adji pulang kerumah Tuhan setelah berjuang sanagt keras.
dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang bersedih dan dengan berat hati sang dokter memberi tahu kondisi Adji yang tidak bisa selamat pada Andrea.
lutut Andrea langsung lemas dia terjatuh dan terduduk di lantai, air matanya tumpah kembali saat mendengar suaminya pergi untuk selamanya, isak tangis memenuhi lorong yang sangat sepi itu.
Bryan mencoba mensuport nya.
"An... sabar lah... suami mu sudah tenang disana" ucap Bryan.
Andrea langsung memeluk tubuh Bryan dan menangis lagi di dada Bryan.
Andrea menangis bukan karena dirinya berpisah dari Adji tapi dia berfikir ini kesalahannya karena bila dia tidak mengajak Adji ke hotel mungkin Adji tidak akan menjadi korban atas perbuatan gila Yumi, padahal tadi dia bisa saja langsung melumpuhkan Yumi dengan kemampuan bela dirinya tapi waktu itu dia yang terlalu waspada malah kecolongan dengan Adji yang panik untuk menyelamatkan dirinya.
__ADS_1
Bersambung.