
Ke esokan harinya Andrea telah bersiap untuk mengadakan pertemuan dengan Presedir yang menyukai karyanya. dia masih belum tahu siapa prsedir itu.
Dia meninggalkan kedua anaknya di rumah karena Farel sudah besar dan bisa menjaga adiknya, jadi Andrea percaya pada anak sulungnya itu.
Andrea pergi ke restoran dengan menggunakan taxi, dia bukannya tidak bisa membeli motor atau mobil dengan penghasilannya tapi karena dirinya tidak bisa dapat menggunakan kedua kendaraan tersebut, jadi dia lebih memilih naik taxi, hitung-hitung bagi rezeki dengan sesama fikir nya.
Taxi yang mengantarnya pun tiba di depan restoran tersebut, Andrea berjalan menuju meja yang telah di beritahukan oleh Milo asisten Bryan.
Andrea berjalan dengan santai dia tidak bisa berjalan dengan anggun seperti kebanyakan wanita tapi dia bisa berjalan santai, bahkan dirinya saat ini hanya memakai pakaian setengah resmi saja gaya casual, dia memakai kemeja di lapisi oleh blazer tipis dan memakai jens dia pun hanya menggunakan sepatu flat saja.
Andrea berjalan ke meja yang telah di tunjukan oleh seorang pramusaji disana dia memeluk amplop besar di dadanya, amplop tersebut berisi karya-karya nya.
Andrea datang lebih dahulu dia lalu dengan sabar menunggu kedatangan seorang presedir perusahaan tersebut.
Hingga 10 menit kemudian, ada seorang pria dewasa berjas coklat cream mendekati mejanya.
"Nona Andrea? " sapa orang tersebut.
"Iya... saya" jawab Andrea singkat saat melihat orang tersebut.
"Maaf anda menunggu lama? " ucapnya ramah.
"Ah... tidak apa-apa pak Presedir" ucap Andrea.
"Ah... maaf saya Milo bukan Presedir, Saya asisten beliau saya yang menelpon anda" ucapnya mengenalkan diri.
"Ah... maaf saya tidak tahu"
"Iya tidak apa-apa, Presedir sedang ke toilet sebentar" jelasnya.
"Oh... begitu" Andrea tersenyum.
Milo pun meminta Andrea duduk kembali di sofa tersebut sementara dia berdiri di seberang sofa yang di duduki Andrea.
Tak lama Milo terkejut hingga dia menutup mulutnya, saat melihat bosnya datang mendekat kemeja tersebut, pasalnya Bryan menggunakan topeng separuh wajah seperti di pesta topeng.
astaga Presedir ini apa-apaan sih.
batin Milo.
Andrea pun hanya memiringkan kepalanya saja karena merasa aneh.
kenapa orang ini memakai topeng? apa dia itu orang yang terkenal ya? agar tidak ada wartawan yang mengambil gambarnya dan menjadikannya bahan berita.
Batin Andrea.
"Maaf menunggu lama"
Deg...
__ADS_1
suaranya.
Andrea mengenali suara pria bertopeng ini.
"Tidak apa-apa pak Presedir" Andrea tersenyum ramah.
"Eh... ini ada tiga novel yang telah dicetak yang saya bawa" Andrea menyerahkan amplop coklat besar tersebut.
Bryan membuka amplop tersebut dan melihat beberapa judul-judul novel tersebut bibirnya lalu tertarik dia tersenyum saat melihat salah satu judul novelnya, yang berjudul My Frist Boy Friend.
"Apa ini kisah anda? " tanyanya.
"Hem sedikit saya memasukan sedikit kisah saya kedalam cerita di novel tersebut, tapi selebihnya karangan saya saja"
Bryan membuka lembar demi lembar novel tersebut dia membaca inti dari novel tersebut, bibirnya tertarik lagi dia tersenyum kembali.
"Apa ini harapan Anda sebenarnya? " tanya Bryan lagi.
"Sedikit tapi itu mustahil" ucap Andrea pelan.
"Kenapa? tidak ada yang mustahil kok di dunia ini asal kita mau berusaha"
"Hehe nggak mungkin Pak itu semua nggak mungkin" Andrea tertawa hambar.
"Mungkin saja An... " Bryan lalu membuka topengnya.
"Iyan... " ucapnya pelan.
"Kau terkejut? " tanyanya.
Andrea hanya memalingkan wajah nya saja.
"Kenapa An? " tanya Bryan lembut.
"Permisi sepertinya kita salah, maaf aku pasti membuang waktu mu yang berharga" Andrea beranjak dari kursinya.
"Tunggu An, duduk lah kita ngobrol sebentar" pinta Bryan.
"Maaf Iyan tapi kita memang tak pantas seperti ini, kita sudah saling memiliki pendamping"
"Itu kamu kalau aku bebas" ucap Bryan santai.
Andrea menoleh dan melihat kearah Bryan dengan tatapan tak percaya.
"Jangan begitu Iyan biar bagaimana pun itu adalah istri mu harus kau akui itu"
"Hahaha" Bryan tertawa lepas saat mendengar ucapan Andrea.
"Istri dari mana An... aku masih sendiri, kalau kau tak percaya tanya saja dia" Bryan. menunjuk asistennya.
__ADS_1
Andrea melihat kearah Milo dan Milo hanya mengangguk saja pertanda membenarkan ucapan bosnya.
"Terserah kau, tapi saat ini aku berstatus istri orang Iyan... "
"Hemmm iya kau benar, tapi aku ingin bertemu dengan mu bukan ada maksud apa-apa kok, aku mau menawarkan kerja sama dengan mu"
Andrea menatap bingung pada Bryan.
"Duduklah dulu agar kau mengerti" pinta Bryan.
Dan Andrea pun menurutinya dia duduk kembali di sofa.
Bryan menjelaskan padanya alasan dirinya ingin bertemu dengan Andrea, karena kemarin malam dirinya melihat siaran wawancaranya di televisi, dia ingin menjadikan Andrea salah satu bintang iklan prodaknya, karena nama Andrea sedang banyak di bicarakan dan Andrea juga sosok yang banyak di sukai banyak orang.
"Bagaimana kamu mau? " tanya Bryan.
"Bintang iklan makanan? " tanya Andrea ragu.
"Hem... ini serius An... aku nggak main-main, nggak ada maksud terselubung juga kok, tapi bohong"
Jujur Bryan masih mengharapkan Andrea menjadi miliknya lagi, meski itu kecil kemungkinannya, tapi setidaknya dia bisa bersama dan melihat wanita tercintanya itu lebih dekat dengannya lagi, meski dia tak bisa memiliki Andrea lagi tapi setidaknya dia bisa melepaskan rasa rindunya pada wanita ini.
"Oo begitu... baiklah aku setuju" ucap Andrea pelan.
"Oke kalau begitu besok datang lah ke kantor ku, nanti kau tanda tangani kontrak kerja mu disana"
"Ooo iya"
Bryan lalu meminum jus jeruk di depannya setelah melakukan negosiasi dengan Andrea berhasil.
"Kau hebat Iyan... setelah belasan tahun tak bertemu saat bertemu kau menjadi orang hebat aku bangga pada mu" ucap Andrea tulus.
"Terima kasih pujiannya, maaf kalau aku tidak memberitahu mu sebelumnya karena aku takut bila kau tahu aku ingin bertemu dengan mu kau tidak ingin bertemu dengan ku"
Andrea hanya mengangguk saja, pertanda tidak masalah.
Pembicaraan antara mereka pun berakhir mereka pun berpisah di depan restoran, saat melihat Andrea pergi dengan taxi Bryan menyuruh Milo untuk menyelidiki suami Andrea, dia ingin mengenal Adji, entah kenapa setelah pertemuannya di mini market tersebut membuatnya penasaran dengan wanita tersebut.
"tolong kau Selidiki suami Andrea, bekerja dimana, jabatannya apa dan apa laki-laki itu setia padanya" ucap Bryan dingin.
kenapa anda sepenasaran itu dengan penulis itu tuan... jangan bilang anda? astaga ini tidak benar kan tuan, anda tidak jatuh cinta dengan istri orang kan?
Batin Milo.
Tuan masih bayak gadis yang mau dengan anda tuan kenapa harus istri orang astaga kenapa kau ini aneh sekali, apa yang menarik dari wanita itu sih... sepertinya dia biasa saja, meski memang ada aura yang berbeda sih, tapi dia istri orang tuan astga tuan sadar lah...
Ingin rasanya Milo berteriak di telinga Bryan sekencang-kencangnya tapi dia tidak berani melakukannya.
Bersambung.
__ADS_1