
Sore itu langit yang berwarna jingga menghiasi jalan kota mentari yang hampir terbenam dan akan bergantian dengan sang rembulan untuk menyinari sebagian dunia pun ikut menyaksikan bagaimana perjuangan seorang Suge untuk melamar secara resmi sang kekasih.
Suge meminta pertolongan Bryan dan juga Andrea sebagai perwakilan orang tuanya karena Suge sudah tidak memiliki orang tua dan juga kerabat lagi di kota ini.
Namun kedua orang yang di mintai pertolongan oleh Suge nampak sangat canggung saat bertemu kembali, padahal kemarinnya saat mereka bertemu nampak sudah cair suasana tapi kenapa sekarang malah kembali canggung kembali.
"Kenapa kok elu gugup begitu seharusnya gue yang gugup bukan elu Re? " bisik Suge.
"Eh... nggak apa-apa gue cuma takut salah ngomong ajah hehe" ucap Andrea dia berusaha tertawa tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan kecanggungan nya saat berada dekat Bryan.
Suge pun mengehela nafas mencoba mengatur nafasnya agar dirinya tidak terlalu gugup saat berhadapan dengan calon mertua nya.
Mobil yang membawa mereka pun akhirnya tiba di kediaman keluarga Viki, terlihat wajah tegang dari Suge, bahkan saat mobil berhenti di depan halaman mereka semua pun belum turun dari mobil karena menunggu Suge yang sudah berkeringat dingin.
"Ge... elu jadi ngelamar nggak? " tanya Andrea yang memecahkan lamunan Suge.
"Hem... " Suge mengangguk.
"Ya udah hayu turun kenapa masih disini somplak" ucap Andrea asal.
Bryan tergelak saat mendengar Andrea berkata seperti itu.
"Re... Kira-kira orang tuanya nerima nggak ya? gue kan miskin" Suge dilanda sindrom ketidak percayaan diri.
"Ya mana gue tahu, kita coba dulu. Ge... biar nggak penasaran ya kan Yan? "tanpa sadar Andrea mengajak Bryan berbicara.
Telapak tangan Suge sudah dingin wajahnya sudah pucat, perasaannya pun tidak karuan.
Tapi akhirnya laki-laki baik itu pun keluar dari. dalam mobil bersama Andrea dan Bryan, kaki Suge gemetar saat melangkah masuk ke dekat pintu utama rumah.
Mereka pun disambut oleh dua orang pelayan dan mengantar mereka kesebuah ruang keluarga, dimana kedua orang tua Viki sudah menunggu disana.
Saat mereka di Terima dengan baik dan di persilhakan duduk di sofa berhadapan Viki yang di himpit kedua orang tuanya dan Suge yang di himpit oleh Bryan dan Andrea pun mulai pembicaraan.
__ADS_1
Ayah Viki sudah mengenal Bryan dan beliau sudah menebak kalau Suge lah yang akan melamar anaknya karena tidak mungkin Bryan yang akan datang melamar Viki sebab sang ayah tahun betul Bryan itu bukan tipenya Viki jadi mereka tidak mungkin punya hubungan lebih dari sekedar bos dan karyawannya.
"Saya sudah dengar niat baik mu dari putri saya, tapi apa kau yakin akan membuat putri saya bahagia bila dia bersama mu? " tanya ayah Viki.
"Pasti ayah aku akan sangat bahagia bila. dengannya" celetuk Viki.
"Diam kamu yang ayah tanya itu dia bukan kamu" sentak ayahnya dan Viki hanya mencebik saja.
"Tuan.... saya mungkin memang tidak bisa membahagiakan dia dengan harta yang berlimpah tapi saya akan selalu menjaga hatinya dan akan selalu menjadi sandaran dirinya"
"Ck omong kosong kau fikir hanya dengan begitu saja putri ku akan bahagia heum? kita ini hidup di dunia ini butuh uang, apa kau tahu berapa harga lipstiknya dan skincare nya? saya ragu kau bisa memenuhi segela. kemauannya" ucap Ayah merendahkan.
"Ayah uang bisa dicari ayah" celetuk Viki.
"Diam kau" sentak ayah lagi.
"Bila kau tidak bisa mencukupi segala kebutuhan nya mana bisa kau membahagiakan dia heum? "
Suge menunduk dia meremas celananya sendiri.
"Maaf tuan bila saya ikut campur, tapi sahabat saya ini tulus tuan dia tulus mencintai putri anda" jelas Andrea.
"Heuh... cinta kau fikir dengan cinta kau bisa makan dengan kenyang heuh?! " ucap Ayah ketus.
"Tapi dengan cinta kita bisa membangun pondasi rumah tangga yang lebih kokoh tuan, uang bisa dicari saya yakin Suge akan selalu berusaha membahagiakan dan memenuhi kebutuhan putri anda dengan sekuat tenaganya dan segenap hatinya" Andrea berusaha meyakinkan orang tua Viki.
"Ayah kenapa sih... kan aku sudah bilang uang itu bisa di cari ayah apa ayah lupa itu bila. kita masih mau berusaha maka tidak menutup kemungkinan semua keinginan kita itu bisa tercapai" jelas Viki.
"Maaf tuan Carlo tapi semua yang dikatakan mereka ini benar" Bryan pun akhirnya ikut bicara.
"Anda tahu ayah saya kan? awalnya beliau pun miskin tapi beliau tak pantang menyerah hingga sekarang beliau dengan tenang menikmati masa tuanya" jelas Bryan.
Tuan Carlo atau ayahnya Viki lalu terdiam saat Bryan mengatakan itu, sebenarnya Tuan Carlo hanya tidak rela anak gadisnya ini cepat-cepat menikah karena Viki adalah putri satu-satunya.
__ADS_1
"Gue ditolak ya Re? " bisik Suge pesimis.
"Belom ngaco ini gue sama Iyan lagi berusaha ngeyakinin calon mertua elu" bisik Andrea.
"Mahar apa yang akan kau berikan untuk. putri ku? " tanya ayah Carlo.
"Satu set perhiasan berlian" celetuk Bryan.
Suge hanya cengo saja saat Bryan mengatakan itu.
berlian satu set uang dari mana gue.
Suge melirik kearah sahabatnya, dan seolah bisa membaca isi hati sahabatnya Andrea hanya menepuk punggung Suge dan berbisik.
"Tenang ajah" bisik Andrea.
"Dan pernikahan pun akan dilaksanakan mewah di sebuah hotel berbintang" lanjut Bryan.
stop tuan muda stop anda jangan bicara lagi dari mana. aku mendapatkan uang sebanyak. itu untuk mengadakan acara resepsi pernikahan astaga.
"Bagaimana tuan apa anda setuju? " tanya Bryan.
"Jangan menolak tuan sebab putri anda tak akan bisa menemukan Laki-laki setia dan berbakat seperti sahabat saya ini" ucap Bryan meyakinkan.
"Ayah... Terima saja ya... aku tak perlu pesta mewah dan juga berlian yang penting aku bisa menikah dengannya karena dia pria yang sangat baik dan sabar ditambah lagi dia sangat sayang dan cinta pada ku ayolah ayah... Terima lamarannya" rengek Viki.
"Viki... jangan gegabah pernikahan itu akan kau lakukan seumur hidup, kau akan menjalani hari-hari mu dengan orang yang sama seumur hidup nak... ayah tak ingin kau menyesal dan gagal" ucap Ayahnya tegas.
"Aku yakin Oberon orang yang tepat untuk ku ayah" rengek Viki.
*astaga Ge elu beruntung banget Ge nih cewe beneran cinta sama elu, gila nggak ada loh cewe yang ngerengek minta di nikahin dan maksa ayahnya buat nerima calonnya padahal calonnya nggak sesuai kriteria sang mertua.
Andai dulu aku bisa memperjuangkan mu seperti ini An... mungkin saat ini akulah yang menjadi suami mu*.
__ADS_1
Disaat Viki membujuk ayahnya kedua orang yang masih saling cinta ini berfikir dengan fikiran masing-masing.
Bersambung.