Buah Hati Mama

Buah Hati Mama
Bab 18


__ADS_3

"Sayang nya ibu, ayok kita masuk kedalam kamar." Ucap Dewi, seraya mengangkat anak nya untuk di pindahkan ke dalam kamar.


Setelah Dewi memindah kan Nayla ke dalam kamar. Dewi langsung bergegas ke dapur mengambil teh dan pastel kesukaan suami nya, yang kebetulan Dewi buat tadi.


"Sayang, ini teh nya."


Anton hanya mengangguk kecil.


"Ini..., aku juga ada belikan sesuatu buat Nayla." Anton menunjukan gelang kaki yang sangat indah pada Dewi.


"Ini hari kamu lagi bahagia ya mas?, apa kamu dapat bonus atau kamu lagi menang lotre." Dewi yang bertanya terus menerus membuat Anton hampir tidak bisa menjawab nya.


"Kamu suka dengan bunga nya?." Tanya Anton yang mencoba mengalikan pertanyaan istrinya.


"Suka banget mas. Punya Nayla juga bagus, ternyata kamu pintar ya dalam hal memilih barang." Ucap Dewi.


Anton hanya terlihat tersenyum tipis dan memandang wajah istri nya yang penuh dengan rasa bersalah.


"Kamu lekas mandi la mas, aku perhatikan baju kamu kusut banget, ngapain aja si di tempat kerja?."


Anton hanya diam, tanpa memberi jawaban, tidak seperti biasa nya yang slalu ceria saat sudah berjumpa dengan putri kecil nya.


"Mas...., kamu melamun?." Tanya Dewi kembali.


"Iya sayang....!. Maaf, tadi terlalu banyak pekerjaan ku yang tertinggal, jadi kepikiran nya sampai rumah." Jawab Anton.


Anton pun beranjak kekamar mandi yang ada di kamar nya, saat di dalam kamar mandi. Anton mulai berfikir dan teringat akan kejadian tadi siang. Bagai mana kalau semua nya di ketahui Dewi, apa yang akan terjadi, pasti dia tidak akan pernah memaafkan nya. Otak nya rasanya hampir saja meletus menjadi puing-puing.


"Ini semua salah ku. Kalau dari awal aku jujur, semua nya tidak akan seperti ini. Sekarang aku menutupi kebohongan demi kebohongan." Ucap nya.


...................


Di pagi hari yang sangat cerah, Dewi sudah membereskan semua pekerjaan rumah, jam pun masih menunjukan pukul 7 kurang, Dewi yang sudah mulai terbiasa dengan ada nya Nayla dan pekerjaan yang menumpuk, sekarang tidak begitu terasa.


Anton yang masih terlihat tidur dengan sedikit memeluk Nayla. Terlihat wajah mas Anton yang begitu lelah, seperti melakukan pekerjaan yang sangat berat. Lalu aku tidak lupa menghampirin mertua ku yang kelihatan nya belum juga bangun.


Dewi memutuskan untuk langsung membuat teh agar nanti ia tidak repot saat semuanya sudah bangun. tepat pukul 7, aku segera membangun kan mas Anton yang masih terlelap tidur.


"Mas...mas..." Aku memanggil dengan suara pelan dan sesekali mengelus-elus pundak mas Anton.


Tanpa di sadari Anton yang kaget, mengucapkan "Maaf...maaf kan aku Wi." Anton pun terbangun.


Sedangkan Dewi yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut suami nya, bertanya-tanya di hati " Apa yang kamu lakukan , sampai kamu bisa mengigau seperti melakukan kesalahan saja."

__ADS_1


"Kenapa kamu mas?." Tanya Dewi yang langsung duduk di tepi ranjang.


"Gak apa sayang."


"Yakin?." tanya Dewi kembali.


"Iya sayang." Anton memeluk Dewi sangat erat "Jangan tinggali aku ya?, Maafkan aku, kalau kemarin-kemarin aku membuat kamu terluka." Ucap Anton dengan mencium kening istri nya.


"Uda a, kamu apaan si. Tanpa kamu minta aku sudah maaf kan." Jawab Dewi, berdiri dan langsung mempersiapkan baju kerja Anton.


Sesaat Dewi teringat kalau kemarin, mama nya mencari nya, mungkin ada keperluan.


"Aku baru ingat mas, kemarin mama tanyak kamu, mungkin ada perlu mama." Ucap Dewi yang langsung memberi handuk buat Anton mandi.


*


*


*


*


Dewi pun meletakkan piring makan ke atas meja, dengan menggendong Nayla. Tanpa kesusahan lagi, Dewi sudah terbiasa mengerjakan semuanya, walaupun harus menggendong putri kecil nya itu.


Kini langkah Dewi menuju kamar mertua yang seperri nya sudah bangun, karna Dewi mencium bau parfum dari kamar mertuanya.


Kreekkkk.....( terdengar suara pintu terbuka )


"Ma ayok makan, mama kan masih harus minum obat." Ucap Dewi.


Mertua nya hanya diam, tanpa mengangguk atau pun bersuara.


Dewi langsung membalikan badan nya ke arah keluar.


Heeumm....( Dewi menghela kan nafas panjang nya)


Kenapa dengan orang-orang hari ini fikir Dewi, melihat suami nya yang banyak melamun sehabis pulang ngantor, dan mertua nya yang lebih banyak diam sekarang.


"Kalau lihat mertua ku seperti itu, rasanya senang. Tapi rumah ini menjadi sepi, karna tidak ada suara omelan mama." Ucap Dewi yang berjalan menuju


kamar nya kembali.


"Nak. Lihat, papa kamu sudah ganteng tu."

__ADS_1


Anton hanya tersipu malu, dan membalikkan badan nya berjalan menuju Dewi.


"Papa nya siapa duluh dong...?, kan papanya Nayla ya...?." Jawab Anton yang mengajak anak nya berbicara.


Dewi dan Anton berjalan menuju meja makan sambil mendorong putri mereka menggunakan stroller.


"Mama mana Wi?." tanya Anton.


Ternyata mama mertua nya belum juga keluar kamar, ntah kenapa?, stelah habis sakit mertua Dewi banyak berubah. Lebih banyak diam dan slalu ingin sendiri.


"Kamu uda jumpai mama?, Soal nya kemarin mama tungguin kamu pulang.


"Belum sempat, nanti la. Lagi pula apa coba yang mau mama bicarakan, pasti ya itu-itu lagi ya kan?.


"Aku panggil mama duluh ya." Ucap Dewi.


Saat Dewi akan melangkah kekamar mertuanya, ternyata mertua nya sudah keluar dari kamar, dan berjalan ke meja makan.


"Mau Dewi panggil, ternyata mama uda keluar.


Mertua nya hanya senyum dan langsung duduk di sebelah kreta dorong Nayla.


"Anak kamu gak kamu buat kan Syukuran Ton?." Tanya mama nya.


Dewi sangat terkejut dengan pertanyaan mama nya, karna tidak terpikir sedikit pun, kalau mertua nya akan bertanya hal tersebut. Karna untuk mengakui cucu nya saja dia tidak mau.


"Heemmm.... Mama setuju kalau Anton membuat acara syukuran?." Tanya Anton dengan senang.


"Kenapa harus tidak setuju, kamu sudah menunggu 8 tahun pasti kan hal yang sangat mengembirakan buat kamu kan?." Ucap mama nya.


Dewi dan Anton merasa senang dengan rencana mama nya. ternyata ke hadiran putri kami membuat mama lebih baik dengan Dewi.


Setelah semua nya sudah selesai sarapan, Dewi seperti biasa, mengambil piring-piring yang kotor dan membersikan meja makan. dan suami nya berjalan menuju keluar rumah , ku lihat mama yang mengikuti mas Anton keluar rumah dan seperti nya membicarakan sesuatu di teras.


"Ton...." Ucap mama nya.


"Ya ma!." Jawab Anton dengan membalik kan tubuh nya ke arah mama nya. "Ada apa ma?." Tanya Anton lagi.


"Mama rasa nya malu dengan Dewi, mama slalu jahat dengan dia, bahkan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan perasaan nya." Ucap mama nya sembari menetes kan air mata.


"Uda ma. Dewi bukan orang yang pendendam, Anton tau itu. Mungkin dia sudah memaafkan mama jauh sebelum mama minta maaf. Anton tau, mama gengsi kan?." Jawab Anton yang mengelus bahu mama nya.


Mama nya terdiam dan rasa nya ingin sekali meminta maaf, tapi rasa gengsi nya tidak bisa membuat mama nya ada kemampuan untuk bicara itu semua.

__ADS_1


...*************...


Bersambung......


__ADS_2