Buah Hati Mama

Buah Hati Mama
Bab 9


__ADS_3

Pagi yang cerah ini membuat mata ku sedikit memiliki kedamaian, Dokter menyarankan aku harus lebih banyak bergerak agar nanti saat lahiran akan sedikit lebih mudah membantu.


Terlihat mas Anton sedang melakukan aktifitas nya setiap minggu pagi, membantu aku untuk membersihkan halaman. "Aku buat kan teh atau Kopi ya mas?." Tanya aku sembari memberi sapu halaman yang di minta oleh mas Anton.


"Terserah sayang." Jawab Anton yang masih terlihat sibuk membersihkan rumput.


Saat Dewi ke dapur, dia melihat mertua nya yang duduk di kursi roda, sudah ada di dapur. Mereka pun saling tidak berpandangan apa lagi buat ngobrol, tapi Dewi yang melihat mertuanya itu kesusahan untuk mengambil minum, Dewi langsung mengambil air dan menaruh nya ke teko agar mertua nya dapat meraih nya. Dan Dewi langsung pergi mengantar kopi suaminya.


Benar saja. Saat Dewi pergi, mertua nya langsung mengambil air yang Dewi taruk kedalam teko tadi, dengan melihat kearah pintu, melirik kiri dan kanan, takut kalau Dewi melihat nya bisa-bisa besar kepala dia. pikir mertuanya.


.


.


.


.


Saat aku membantu mas Anton, aku merasakan mulas yang teramat kuat di bagian perut dan pinggang, aku pun memegang bagian perut dan pinggang belakang dengan tangan ku yang gemetaran menahan sakit. Mas Anton yang melihat, langsung memapah aku duduk di kursi depan.


"Sakit ya sayang!?." Tanya Anton.


"Sakit sekali mas." Ucap dewi yang meringis menahan sakit.


Anton yang terlihat sangat panik, langsung mengelus perut Dewi dan sekali-kali mencium kening nya, agar istri nya lebih tenang.


"Seperti nya kamu mau lahiran sayang!." Jawab Anton yang tersenyum tipis sembari mengajak Dewi untuk pergi ke rumah sakit.


Terlihat dari arah dalam, mama Anton seperti cemas tapi dia tidak ingin menunjukan nya." Aku sebentar lagi punya cucu." Ucap nya dalam hati. Tapi tidak berapa lama," Haemm!!. Dia bukan cucu aku." Ucap dia kembali. Tanpa mengawatirkan menantu dan cucu nya.


Anton buru-buru memapah Dewi ke mobil, dan langsung lari kedalam rumah untuk mengambil perlengkapan bersalin, yang sudah di persiapkan Dewi jauh hari.


"Ma...!, Anton pergi duluh." Anton yang berpamitan dengan mama nya. yang terlihat bahagia karna sudah menunggu 8 tahun dan akhir nya akan mempunyai anak.

__ADS_1


"Iya." Jawab singkat mama nya.


......................


Tidak sampai 15 menit, Anton sudah sampai di depan rumah sakit kasih ibu. Dengan perlahan Anton memapah Dewi yang terlihat menahan sakit untuk di baringkan di brankar dan di bantu dengan perawat untuk di dorong menuju ruang bersalin.


Anton yang menggenggam erat tangan Dewi, harus di lepas saat Dewi memasuki ruangan bersalin.


"Mas, doain aku dan bayi kita ya!." Ucap Dewi sebelum persalinan di mulai.


"Uda pasti sayang. Aku yakin kamu pasti bisa, jangan pikir hal yang aneh-aneh ya!?." Kata Anton sembari memberi semangat buat Dewi.


"Maaf pak!. Bapak sebaik nya menunggu di luar saja." Ucap salah satu perawat yang menutup pintu ruangan.


Anton menunggu dengan cemas di luar ruangan dan sesekali iya berdoa untuk keselamatan ke dua nya. Sedangkan di dalam ruangan ada dua suster yang menemani Dewi. Bidan pun memasukan jari nya untuk mengecek pembukaan yang ternyata hampir melengkapi dan air ketuban sudah pecah.


*


*


*


*


"Buk... Seperti ada yang ingin keluar ni." Ucap Dewi yang mengerut kan wajah nya.


Dengan nafas yang terengah-engah, Dewi terus mengejan sesuai yang di perintah kan bidan.


"Ya buk, sedikit lagi. Terus buk...." Ucap buk bidan yang memberikan aba-aba, dan sedikit mengelus perut Dewi.


Dewi kembali mengejan lebih kuat dari yang sebelum nya, dengan menarik nafas yang panjang, Dewi kembali lagi mengejan dengan sekuat tenaga nya.


"Iya buk, terus.... Sedikit lagi buk, kepalanya sudah terlihat, Tarik napas dan mengejan buk, sedikit lagi ni." Ucap bidan yang memberi semangat Dewi.

__ADS_1


Auwwwhh......


Terdengar suara tangis bayi yang menanda kan persalinan sudah selesai.


"Alhamdulillah..., bayi nya sehat buk dan cantik seperti mama nya." Ucap buk bidan.


suster pun langsung membersihkan bayi tersebut. Dan setelah di bersih kan, bayi tersebut langsung di taruk di atas dada Dewi, seketika Dewi pun menetes kan air mata bahagia sembari mencium pipi mungil bayi yang berjenis kelamin perempuan tersebut. Tidak berhenti-henti Dewi mengucap syukur nya.


Anton yang menunggu di luar pun seakan tidak sabar. Sampai saat pertama kali nya Anton mendengar suara tangis bayi, dia belum menyangka kalau itu benar-benar suara anak nya. Tidak lama suster pun keluar membawa bayi yang sudah kelihatan bersih dengan lilitan kain bewarna merah muda.


"Alhamdulillah, ini pak!, anak bapak perempuan. Uda bisa bpk adzan kan." Kata suster yang berlalu pergi.


Sedang kan Dewi kembali harus merasakan sakit yang kedua kali, karna proses mengeluarkan ari-ari dalam perut nya dan proses jahit di bagian ******** nya oleh buk bidan, tapi Dewi sepertinya sudah tidak merasakan sakit lagi.


Rasa sakit itu semua tergantikan dengan hadir nya si buah hati selama penantian 8 tahun ini.


Apa lagi sebelum nya, kandungan Dewi di kabar kan bermasalah dan harus di angkat rahim nya. Tapi sekarang seperti mimpi, yang membuat Dewi tak henti-hentinya mengucap syukur ke pada Allah.


................


Aku pun sudah di pindah kan keruang rawat, dan mungkin 3 atau 4 jam lagi kalau tidak ada kendala, buk bidan sudah mengizinkan ku pulang.


Saat mas Anton masuk kedalam ruangan rawat, terlihat dari wajah nya sangat bahagia. Mas Anton menatap ku dengan penuh haru yang membuat air mata ku tak bisa tertahan lagi.


"Terimakasih sayang, untuk segalah nya. Untuk pengorbanan mu dan rasa sakit yang kamu rasakan. Terimakasih sayang...." Ucap Anton yang mencium-cium kening Dewi.


Dewi pun langsung memeluk suami nya dengan erat. Dan dalam pelukan Anton, Dewi berkata. "Anak kita seperti kamu wi, cantik!, dan dia sangat mungil.


"Mana anak kita mas?." Tanya Dewi, seraya melepaskan pelukan nya.


"Di bawak sebentar dengan suster, mau di suntik." sebentar lagi di kembalikan." Jawab Anton.


Tidak lama berselang, suster membawa kembali bayi mereka ke ruangan dimana Dewi di rawat. Anton yang menyambut nya tak henti-henti mencium pipi mungil bayi mereka, sedangkan Dewi memandang penuh bahagia.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2