
"Terus, dimana anak kita?!" dengan sangat perlahan Anton berbicara.
Sofia sangat bingung berkali-kali Anton menanyakan hal yang sama. Namun dalam kebingungan Sofia lagi-lagi ia tertolong dengan dokter yang mencoba menenangkan Anton kalau ia harus banyak beristirahat lagi.
"Pak! lebih baik bapak istirahat duluh, jangan terlalu banyak memikirkan hal yang membuat bapak sakit kepala. Bapak harus pelan-pelan untuk mengingat semua, jangan terlalu di paksa kalau bapak tidak sanggup untuk mengingat nya. Dan bapak harus bangga, selama beberapa tahun, istri bapak selalu setia menemani bapak di rumah sakit ini." Ucap dokter memberi ketenangan pada Anton.
"Benar itu kata dokter sayang, kamu jangan terlalu memaksakan untuk mengingat nya. Soal anak kita kamu pasti kangen kan? Nanti pasti aku bawak kermh sakit." Jawab Sofia.
Anton terdiam dan meyakini semua kata-kata Sofia dan dokter yang tidak tau tentang Sofia yang begitu licik.
"Mungkin cukup penjelasan saya, dan pak Anton bisa istirahat lagi, agar kesehatan pak Anton berangsur-angsur pulih ya pak!" Dokter langsung berpamitan untuk keluar dari ruang inap Anton.
Dan Anton pun memejamkan mata nya lagi untuk beristirahat, Sedangkan Sofia masih menggenggam telapak tangan Anton yang begitu dingin, dan sesekali membenahi selimut Anton.
*
*
*
"Kamu benar-benar serius dengan ku Wan?!" Pertanyaan Gunawan sontak membuat ia mempunyai sedikit semangat.
"Kalau aku gak serius, untuk apa aku selalu berusaha untuk meyakinkan kamu Wi?!." Jawab Gunawan yang langsung memegang tangan Dewi.
Dewi memberi tatapan yang penuh tanda tanya,ia mengerutkan kedua alisnya dan mencoba meyakinkan hati nya untuk menerima Gunawan. Dewi sadar ia tidak boleh egois dan harus mementingkan keinginan Nayla yang mau kalau Gunawan menjadi papa untuk nya.
"Baik la." Ucap Dewi yang membuat Gunawan spontan menjerit kegirangan.
__ADS_1
"Apaaa!!! Wi, aku gak salah dengar kan?! Baik kata kamu?, berarti kamu menerima lamaran aku?! Benar itu Wi?" Tanya Gunawan yang penuh dengan pertanyaan di fikiran nya, namun juga sangat gemetar dengan jawaban Dewi yang sangat singkat namun penuh arti tersendiri.
"Iya aku terima lamaran kamu Wan?! tapi kamu harus meminta izin kepada mertua ku duluh, bagaimana pun ia sudah aku anggap sebagai ibu kandung ku." Jawab Dewi yang melempar senyuman sedikit malu-malu.
Gunawan terlihat sangat bahagia, ia langsung menggenggam tangan Dewi dan berkali-kali mengucapkan terima kasih atas jawaban yang membuat nya bahagia setengah mati, karena sekian lama dia menunggu jawaban atas lamaran nya lamaran.
*
*
*
Setelah beberapa tahun mas Anton dirawat si rumah sakit, kini saat nya Sofia mengajak Anton untuk kembali kerumah nya, Sofia membawa Anton pulang karena keadaan Anton sudah lebih baik.
"Aku sudah lama tidak berjalanan, rasanya kaki ku tegang sekali, apa aku lumpuh?" Tanya suami nya mas Anton, yang susah untuk berjalan setelah beberapa tahun ini ia belajar untuk berjalan, karena kaki nya yang sulit di buat untuk berjalan lagi.
Sofia langsung memapah Anton untuk berjalan sedikit demi sedikit, yang sudah terlihat sangat kaku .
Dokter dan perawat pun tersenyum sudah berhasil membuat pasien nya sembuh dengan secepat ini.
Kini Sofia mengambil kursi roda untu Anton lebih gampang lagi untuk menuju keluar rumah sakit, Sofia pun mendorong keluar rumah sakit. dan terlihat mobil Sofia sudah ada di depan.
Sesampai nya di mobil, Sofia di bantu oleh salah satu perawat laki-laki yang ada di depan, untuk lebih membantu Anton masuk kedalam mobil. Setelah semua selesai Sofia langsung mengucapkan terimakasih pada perawat yang sudah membantu nya, dan Sofia langsung menaru kursi roda itu kedalam bagasi mobil nya.
Setelah semua terlihat selesai, Sofia langsung duduk di kursi tepat sekali di belakang sopir dan duduk di samping Anton, agar lebih mudah menjaga Anton yang baru saja siuman.
"Kita pulang kemana?!" Tanya Anton yang masih bingung dan merasa kaku.
__ADS_1
"Ya kita pulang kerumah kita dong sayang?!" Jawab Sofia dengan sedikit mengelus pipi Anton.
"Berarti aku bisa berjumpa dengan anak ku kalau begitu kan? entah kenapa aku sangat merinduhkan nya Sofia?" Lirih Anton yang seketika menetes kan air matanya tanpa ia sadari.
"Ya ampun sayang, kamu nangis?! kata dokter kamu kan tidak boleh terlalu banyak memikirkan sesuatu hal yang bisa membuat kamu bertambah sakit. pasti kamu akan berjumpa dengan anak kita, tapi kamu harus sembuh duluh ya?! Anak kita ada sama nenek nya, aku titipkan dia pada ibu ku karena aku harus bolak balik kerumah sakit menjaga kamu. kamu ngerti kan?." Jawab Sofia mencoba meyakinkan Anton yang sedikit lemah.
Mereka pun terdiam.
Tak lama kemudian mereka sampai dirumah yang begitu megah, namun Anton melihat rumah itu seperti asing menurut nya. ia memberikan tatapan kosong saat masih berada di depan rumah Sofia.
Bahkan didepan ada dua satpam yang berjaga,
dan saat Anton memasuki rumah yang megah itu didalam nya terlihat banyak pembantu yang menyambut kehadiran mereka. Anton merasa sangat janggal,ia pun berpikir " Kenapa banyak pembantu anak nya harus di jaga dengan ibu nya" namun Anton tidak ingin menanyakan hal itu, pasti nanti jawaban Sofia selalu sama.
Sofia pun memerintahkan salah satu pembantu ya untuk memberi tau kepada pembantu yang lain agar dapat berkumpul di ruang tengah. Sedangkan Anton sudah duduk di Sofa yang sangat empuk.
Setelah beberapa menit, satpam dan para pembantu sudah terlihat berkumpul semua di ruang tengah.
"Dengar kan baik-baik, ini pak Anton Suami saya yang sudah lama terbaring koma di rumah sakit, mulai saat ini kalian harus menghormati beliau dan membantu apa saja yang pak Anton perlukan. Saya harap kalian semua layani pak Anton dengan sebaik mungkin, karena pak Anton masih dalam keadaan masa pemulihan. Jadi jangan sampai saya tau, pak Anton kenapa-napa, karena sampai hal itu terjadi, bukan hanya satu orang yang saya hukum, tapi semua akan menerima hukuman atas perbuatan yang tidak kalian perbuat, jadi maka dari itu saya mohon kalian dapat bekerja sama untuk menjaga pak Anton. Kalian paham?!. Ucap Sofia dengan sangat tegas.
"Faham, nyonya besar." Jawab mereka dengan kompak.
"Baiklah, mulai sekarang kalian bisa membantu nya tuan." Ujar Sofia dengan tegas dan berwibawa.
"Baik tuan besar, selamat datang tuan besar." Sapa mereka kompak pada Anton, mereka sudah Sofia latih agar terlihat kompak. Namun lagi-lagi Anton seperti janggal dan tidak terbiasa dengan hal ini semua, bahkan ia terlihat sangat risi dengan sebutan tuan besar yang di layangkan kepada dirinya.
...****************...
__ADS_1
Bersambung.....