
hari demi hari berlalu. Tidak terasa pernikahan Gunawan dan Dewi sudah hampir 75% selesai. Dewi yang masih terpaku menatap poto prewedding yang baru saja di antar dengan salah satu orang dari studio, sudah terpampang wajah nya dan Gunawan. Ada raut sedih bercampur bahagia di hati nya, namun ia tidak menyangkah bahwa sebentar lagi ia bukan menjadi istri dari Anton lagi, namun dari Gunawan sahabat teman suami nya sendiri.
"Wah! Ibu kelihatan sangat cantik." Kedatangan anak nya membuat Dewi terkejut dan seketika membuyarkan lamunan nya.
"Ya ampun, anak ibu sudah bisa menggoda ibu nya ya?!" Sambut Dewi yang memeluk anak nya dengan sedikit jongkok.
"Kenapa tidak dari duluh saja Wi, kamu menerima lamaran Gunawan." Balas mertua nya yang datang di belakang Nayla.
Dewi hanya tersenyum malu-malu mendengar ucapan mertua nya, yang terlihat sangat mendukung pernikahan menantu nya dan Gunawan.
Kriingg.... Kriingg..... Kriingg
Terdengar bunyi suara ponsel milik Dewi yang di letakan nya di atas meja ruang tamu. Dengan cepat Nayla mengambil ponsel milik ibu nya itu.
"Ibu... Ibu! Papa Gunawan nelpon ni?!" Ucap Nayla yang berjalan ke arah ibu nya.
Dewi baru teringat kalau hari ini ia memiliki janji untuk pergi berbelanja keperluan pernikahan yang belum di belik nya, dan mencari gaun pernikahan yang sederhana, karena Dewi ingin pernikahan nya di adakan secara sederhana saja.
"Halo! Kamu ingat kan hari ini kita ada janji." Baru pun di angkat telpon nya dengan Dewi, langsung suara Gunawan dengan cepat berbicara dengan semangat nya.
"Iya, aku lupa ni?! Aku siap-siap duluh ya?! kamu datang aja kemari langsung." Ujar Dewi yang langsung mematikan telpon nya begitu saja, seperti terburu-buru untuk cepat-cepat ingin pergi.
"Nayla ikut ibu ya?!" Ajak Dewi pada anak nya.
"Nay, di rumah saja buk! Kasihan oma sendirian di rumah. Lagian agar ibu bisa berpacaran dengan papa Gunawan." Ledek anak nya yang seperti sudah dewasa saja.
__ADS_1
Mertua nya kali inimenyetujui ucapan cucu nya. ia pun menggapai tangan cucu nya. Dewi langsung tidak bisa berkata-kata apapun, ia hanya bisa menuruti omongan anak semata wayang nya saja.
*
*
*
Di perjalanan Dewi hanya terdiam saja di dalam mobil, ia masih saja malu dan ngerasa janggal kalau Gunawan akan menjadi suami nya nanti. Gunawan yang melihat wajah Dewi yang terlihat tegang, dengan tiba-tiba langsung memegang tangan Dewi tanpa menatap wajah Dewi dan tetap fokus menyetir mobil nya. Dewi yang tersentak dengan perlakuan Gunawan mencoba tidak terlihat gugup walaupun di hatinya sangat kacau karna sentuhan tangan Gunawan yang seperti menguatkan nya, baru kali ini Dewi merasakan ada tangan seorang lelaki lagi yang akan menguatkan nya dan menjaga nya dan putri kecil nya. Dewi pun semakin merasakan getaran cintanya lagi untuk seorang lelaki setelah di tinggal suami nya.
*
*
*
Nayla yang mendengar suara mobil pertanda kalau ibu nya sudah kembali dengan tetgesah-gesah ia langsung berlari ke arah pintu ruang tamu, dan benar saja ibu dan papa Gunawan nya sudah berdiri di hadapan nya saat ia membukakan pintu.
"Hai.... Anak papa!" Dengan memeluk putri sambungnya dan memberi satu tangkai bunga mawar kesukaan Nayla. "Ini untuk kekasih sejati papa ya." Ucap Gunawan lagi dengan mengecup kening Nayla.
Mereka langsung membawa barang yang terlihat sangat banyak itu kedalam rumah Dewi.
*
*
__ADS_1
*
Pagi hari ini cuaca terlihat sangat cerah, dan angin berhembus menyejukkan pagi hari ini. Tepat tanggal 13, hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Dewi masih terlihat duduk di depan cermin, ia menatap wajah nya yang sudah penuh dengan polesan penatarias. Dewi masih seperti mimpi mengenakan gaun pernikahan dan wajah nya di rias. Jari jemari nya memegang wajah nya dengan perlahan, kalau ini semua bukan la mimpi. Ia sedikit mengenang sewaktu akan menikah dengan Anton lelaki yang menjadi cinta pertamanya duluh penuh dengan kegembiraan di hati nya walaupun duluh tidak ada restu dari mertua nya, namun kali ini terasa berbeda ia masih tampak ragu dan sedikit bersedih, namun semua ia lakukan demi anak nya walaupun Dewi sudah mulai sedikit menyukai Gunawan.
Dewi dan Nayla begitu cantik, dengan menggunakan gaun berwarnah senada membuat mereka begitu anggun. Mereka berdua sudah siap di rias sejak subuh tadi, sedangkan akad nikah akan di laksanakan pukul 11:00. Dan mertua Dewi pun sedang sibuk melihat ketering makanan yang sudah tersusun rapi di atas meja-meja prasmanan. Hanya tinggal beberapa jam lagi saja, Dewi akan sah mmenjadi istri Gunawan.
Dewi yang masih saja termenung memikirkan pernikahan nya tetap duduk diam di depan cermin, tapi selalu ada Nayla yang selalu menyemangati ibu nya agar terlihat tersenyum.
"Kalau uda cantik, gak boleh melamun lo bu!" Ledek Nayla seperti tau ibu nya sedang gundah.
"Sejak kapan ada anak ibu ini ya?!" Tanya kembali Dewi yang memeluk Nayla.
"Makanya ibu jangan melamun terus dong, jadi Nayla datang pun ibu gak tau. Heuumm.....!!!" Nayla sambil cemberut memegang pipi ibu nya yang sudah di penuhi oleh bedak pengantin.
Tidak lama mereka becengkraman, di luar seperti ada suara ramai-ramai. Ternyata parah keluarga pengantin pria sudah hadir kekediaman Dewi, dan sudah di sambut dengan keluarga Dewi dari mertua nya.
Hati Dewi semakin tak karuan, pipi nya memerah karna menahan rasa malu, seperti pertama kali ia menikah duluh dengan Anton. Dewi berfikir apakah dia benar-benar yakin atas keputusan yang dia ambil untuk menikah dengan Gunawan?, namun semua percuma kalau dia tidak melanjutkan pernikahan ini, akan banyak hati orang yang terluka. Dewi pun memutuskan untuk berusaha terus agar bisa benar-benar mencintai Gunawan demi buah hati nya.
Sementara terdengar tamu undangan akan segera berkumpul di masjid dekat rumah. karena akad akan segera di laksanakan di masjid.
Keluarga mempelai pria dan mempelai pria pun segera pergi ke masjid yang sudah di tunjuk untuk memulainya akad nikah. Kali ini Gunawan tampak berbeda, ia sangat gagah dengan jas hitam dan kemeja putih di dalam nya, di tambah lagi dengan peci hitam yang membuat ia sangat berbeda.
Bukan hanya Dewi yang gugup, namun ternyata Gunawan merasakan hal yang sama. Tatapan Gunawan saat memasuki masjid sangat penuh arti, ada rasa bersalah di hati nya karna menikahi istri dari almarhum teman nya sendiri, namun di sisi lain ia sangat menyayangi Nayla dan Dewi.
...****************...
__ADS_1
Bersambung.....