
Setelah menghabiskan hari minggu bersama anak nya,Dewi memulai aktifitas nya kembali di hari senin harus kembali bekerja seperti semula. Dewi 30 menit sebelum jam kerja operasional kerja sudah berada di kantor dengan cepat. Hari ini Dewi di tugaskan memilih objek untuk pembuatan promosi mengenai barang yang akan di keluarkan perusahaan nya. Untung saja Gunawan sudah banyak membantu Dewi dalam pekerjaan nya, jadi sekarang Dewi sudah sangat paham apa saja yang harus ia kerjakan.
"Semangat!!" Suara yang mengejutkan saat pintu ruangan terbuka, membuat Dewi mengalihkan mata nya sejenak ke arah pintu, dan ternyata itu Gunawan.
"Ih... Kamu tuh ya, suka sekali ngagetin aku, uda macem apaan saja." Ketus Dewi yang kembali fokus dengan pekerjaan nya yang sudah sangat menumpuk, tanpa melihat ke arah Gunawan.
"Kamu lagi ngerjain apa sih?! fokus amat. Sini aku bantu." Ucap Gunawan, seketika Dewi langsung menoleh ke arah Gunawan dengan sorot mata yang tajam dan wajah serius nya.
"Dengar ya! aku tau kamu lebih tau tentang semuanya, tapi aku mau usaha sendiri. dan tolong biarkan aku belajar sendiri, dan terimakasih atas tawaran nya." Dengan kembali menatap laptop di depan nya.
"Ya uda deh kalau begitu, lagian aku cuma menawarkan diri aja ingin membantu kamu." Ketus Gunawan, yang mengalihkan diri untuk mengambil ponsel nya yang tiba-tiba berdering dari saku jas nya.
Gunawan langsung keluar dari ruangan kantor Dewi untuk menerima tlpon yang dari tadi sudah ia rasakan getaran nya. Dewi yang melihat Gunawan keluar dari ruang kerja nya, sedikit terasa nyaman dan ia langsung mengerjakan tugas nya.
Di ruangan kantor. Dewi masih di sibukkan dengan padat nya pekerjaan, bahkan jam istirahat makan siang ia lewatkan begitu saja, Dewi baru tersadar saat Gunawan datang membawakan semangkuk bubur ayam kesukaan nya.
"Ini buat kamu!" Ucap Gunawan menyodorkan bubur ayam ke meja kerja Dewi.
Sejenak Dewi mengalihkan pandangan ke arah Gunawan yang baru saja menyodorkan bubur ayam pada Dewi. "Tau aja ya kamu aku belom makan?! tumben, pasti ada mau nya ini" Gurau Dewi dengan mengambil mangkuk yang berisi bubur ayam.
"Tumben kamu bilang ya Wi!" Dengan wajah kesal Gunawan menghelakan nafas nya.
Dewi hanya tersenyum melihat Gunawan yang terlihat kesal di wajah nya, Dewi langsung mematikan laptop nya, lalu segera menyantap bubur ayam yang selagi panas.
Dewi yang sedang menyantap bubur ayam nya menghentikan kunyahan dari mulut nya, ia menengok ke arah Gunawan yang sedari tadi hanya menatap nya saja.
"Kamu memandang aku ya?!"Pertanyaan Dewi membuat Gunawan terkejut.
"Ngapain aku memandangi kamu! Aku cuma lagi berpikir aja." Jawab Gunawan yang menampis ucapan Dewi.
__ADS_1
"Oww gitu ya?!" Ujar Dewi yang sudah selesai memakan bubur ayam nya.
Gunawan langsung mengambil tempat bubur ayam yang sudah selesai Dewi makan, langsung dia bawak ke kantin untuk di kembalikan.
"Aku pergi duluh ya?!" Ucap Gunawan yang langsung keluar dari ruangan Dewi.
...****************...
Dewi terlihat sudah merapikan meja kerjanya, dan ia siap-siap untuk mengambil tas nya. Ini memang sudah waktu nya pulang kantor. Dewi langsung berjalan keluar ruangan nya, sesaat ia melihat meja ruangan kerja Gunawan yang sudah terlihat rapi dan tak ada penghuni nya lagi, tidak seperti biasanya Gunawan pulang tanpa memberi tau Dewi.
"Ngapain juga aku harus kepikiran Gunawan ya! mau dia pulang duluan itu kan hak nya." Ucap Dewi seorang diri.
Sesampai nya di parkiran sudah ada Gunawan dengan seorang perempuan mudah sedang berdiri seperti membicarakan sesuatu hal yang penting, namun aku memutus kan tetap berjalan terus menuju mobil ku yang melewati mereka. Aku berjalan terus tanpa menatap kiri dan kanan, tetap dengan satu arah di mana mobil ku berada.
Seperti nya di antara wanita mudah itu dan Gunawan sedang membicarakan suatu hal yang penting, bahkan saat Dewi melewati mereka, Gunawan tidak sama sekali melihat nya.
*
*
*
Saat ini Dewi menyetir mobil nya untuk langsung menuju kerumah nya, karena tadi ibu nya menelpon untuk nya segera pulang kerumah.
"Aihhhhh alhamdulillah akhirnya sampai juga, rasanya saat melihat anak rasa capek di badan seketika luntur begitu saja" Ucap nya dengan senyum tipis dan mencium pipi Nayla yang sedang tertidur.
Dewi langsung masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri. Bersiap-siap membantu mertuanya yang terlihat sibuk di dapur.
Hanya beberapa menit Dewi sudah siap membersihkan diri nya dan langsung menemani mertuanya yang terlihat sudah tua di dapur untuk menyiapkan makan malam mereka berdua. Memang mertuanya yang melarang Dewi untuk mencari ART untuk membantu atau sekedar menemani mertua nya menjaga Nayla.
__ADS_1
Dewi dari duluh sangat cekatan kalau berhubungan dengan masalah dapur, maklum saat duluh masih ada mas Anton, dia hanya wanita rumah tangga yang keseharian nya di habiskan di dalam rumah saja.
"Biar Dewi aja yang menyelesaikan masakan nya mah!" Ujar Dewi yang melihat mertua sepertinya sudah tidak tahan untuk berdiri.
"Uda gak apa Wi, lagian kamu capek pulang kerja." Jawab mertuanya yang menolak untuk Dewi bantu.
"Tolong dengar Dewi ya mah?! Lagian kita makan cuma berdua, mana la capek itu." Ucap Dewi yang menuntun mertuanya untuk duduk di meja makan.
*
*
Berhubung ayam kecap yang tadi di msak mertuanya sudah selesai, Dewi langsung mematikan kompor nya
dan berlalu meninggal kan dapur dan menata piring untuk Dewi dan mertuanya makan.
Sebenarnya Dewi merasakan lelah yang luar biasa, harus membagi waktu untuk mengurus anaknya, pekerjaan rumah ny, dan pikiran nya yang masih saat ini belum stabil memikirkan almarhum suami nya. Namun semua di jalani Dewi semata-mata hanya demi Nayla yang semakin lama semakin besar.
"Mah, ayok makan!" Ajak Dewi yang menggendong putri kecilnya yang sangat ia rinduh kan.
Mereka langsung berjalan ke arah meja makan yang sudah Dewi tatah dengan baik walaupun mereka hanya makan berdua, dan di temani si cantik Nayla, kebiasaan makan bersama seperti ini harus tetap Dewi jalani dan jaga, agar kedekatan tidak akan pernah berubah, sejak kepergian mas Anton.
"Anak mamah, hari ini ada repotin omah tidak?!" Tanya Dewi sambil memasukan makanan kedalam mulut nya.
Mertua nya hanya bisa tersenyum-senyum saja, ia kelihatan sudah sangat tua tidak seperti duluh saat anak nya mas Anton masih ada, mertua ku sangat segar wajah nya. Mungkin ia sangat merinduhkan dan kepikiran anak satu-satu yang ia miliki dan cintai sudah lebih duluh meninggal kan nya.
...****************...
Bersambung.......
__ADS_1