
Sesampai nya di kantor. Dewi langsung menarik nafas panjang nya, kemudian duduk memutar badan nya dan sedikit menekuk lehernya, di barengi dengan memijat telapak tangan nya, berapa hari ini kesibukan di kantor membuat ia sangat kelelahan di tambah harus jemput anak nya di sekolah.
Tok.... tok.... tok....
"Masuk, tidak di kunci." Ucap Dewi.
"Sibuk ya kamu." Tanya Gunawan yang melihat Dewi masih memegang pulpen di atas berkas.
"Gak ni. Berapa hari ini capek banget, banyak yang aku kerjakan." Jawab Dewi dengan menatap Gunawan yang seperti nya ada sesuatu yang ingin ia sampai ka.
"Nanti pulang aku nebeng sama kamu ya?!" Gunawan berusaha mencari alasan.
"ya boleh! emang nya kemana mobil kamu?!" Ucap Dewi merasa heran.
"Nggak kenapa-napa, aku mau bicara saja sama kamu."Balas Gunawan yang mulai gugup.
Dewi sesaat mulai terdiam dan melangkah kan kakinya yang sedang terduduk beranjak bangun dari tempat duduk nya.
Tidak dapat di pungkiri sejak kepergian Anton, Gunawan menjadi sesuatu yang penting bagi Nayla, bahkan Nayla bukan seperti cucu bagi anak nya
Dewi saat ini paham apa yang akan di bicarakan Gunawan, karena tidak satu atau 2 hari ini ini saja Gunawan berprilaku seperti ini. namun sebenarnya setelah beberapa tahun di lalui dengan Dewi atas kedekatan Gunawan dengan keluarganya terlebih lagi kedekatan ia dengan Nayla, sebenarnya Dewi sudah memiliki ketertarikan, namun semua Dewi hanya menyimpan dalam hatinya saja karna dia takut kalau perasaan nya hanya karna Nayla bukan karna hati nya saja.
"Kenapa kamu melamun Wi?!" Ujar Gunawan.
"Owh, ngak! Aku gak melamun kok, cuma lagi kepikiran dengan kerjaan aja." Jawab Dewi yang mulai gugup.
..
Akhirnya jam pulang kerja pun tiba. Terlihat Dewi sedang sibuk bergegas merapikan meja kerjanya yang terlihat berantakan dan bergegas untuk pulang.
__ADS_1
Saat Dewi sudah selesai merapikan ruang kerjanya, ia langsung keluar dari dalam ruangan nya, namun betapa terkejut nya ia sudah melihat Gunawan berdiri di depan ruangan nya.
Dewi dan Gunawan langsung menuju parkiran, tidak banyak yang mereka bicarakan saat menuju parkiran mobil mereka sama-sama mulai bingung hal apa yang akan ia katakan terlebih dahulu.
Dan saat di dalam perjalanan pulang, Gunawan 6ang mengambil ahli mennyupir ia sedikit gugup harus mulai dari mana ia akan membahas kalau ia ingin sekali melamar Dewi sebagai istri nya, namun lagi-lagi Gunawan merasa tidak ada keberanian di dalam pembicaraan nya.
"Katanya ada yang kamu ingin bicara kan Wan?!" Ucap Dewi yang membuat Gunawan tersentak.
"Ehmmmm..... Harus bagai mana ya aku untuk memulai pembicaraan ku wi?!" Ucap Gunawan dengan gugup.
"kelihatan nya sangat penting y?! sampai kamu lupa apa yang akan kamu bicarakan." Jawab Dewi.
Gunawan masih merasa aneh saja harus melamar Dewi istri sahabat nya yang sudah meninggal, namun bagai mana pun ia tetap harus memiliki kepastian dari Dewi.
"Bicarakan saja, ngak apa kok?!" Ucap Dewi yang tau kalau sebenar nya ia tau apa yang akan di bicarakan Gunawan.
"Wi! langsung aja ya?! sebenarnya aku mau melamar kamu." Dengan rasa canggung akhir nya Gunawan langsung melontarkan kata-kata lamaran, ia sangat gugup.
Bagi Gunawan, rasanya aneh sekali melamar istri sahabat nya sendiri. Gunawan jadi salah tingkah sendiri, saat omongan nya membuat mata indah Dewi tidak habisnya memandang Gunawan dengan tidak mengedipkan sama sekali matanya.
"Bagai mana Wi?! Tanya lagi Gunawan, kali ini dengan suara lantang dan tegas.
"Heuummmm....." Dewi rasanya ingin menjawab ia, namun rasanya ia sangat malu atas omongan nya tempo duluh.
"Wi?!" Ucap Gunawan.
"Aku takut mengecewakan perasaan kamu Wan?!" Ujar Dewi.
Seketika Gunawan menghentikan laju mobil nya di tepi jalan, dan sesaat dia melamun, kalau ia mendapat kan jawaban yang lagi-lagi tidak pasti lagi dari pembicaraan ini.
__ADS_1
Melihat hal ini, Dewi sebenar nya sangat kasihan melihat Gunawan yang selalu mendapat penolakan dari diri nya.
"Mengecewakan yang bagai mana? Aku janji bakalan tetap menyayangi Nayla." Gunawan mencoba memastikan Dewi yang masih selalu ragu dengan nya.
"Bukan itu, aku tau kamu sangat menyayangi Nayla. Tapi aku takut membuat kamu sakit hati kalau nanti aku menyakiti kamu." Jawab Dewi seakan-akan memastikan Gunawan.
Gunawan hanya bisa terdiam dan tertunduk lesu mendengar jawaban Dewi yang selalu sama saat ia menanyakan hal yang sama.
Dewi yang melihat Gunawan seperti itu sebenarnya tidak tegah, apa lagi semenjak beberapa tahun kebersamaan mereka sebenarnya Dewi sudah perlahan-lahan menyukai kepribadian Gunawan yang selalu apa adanya dan terlebih lagi menyayangi Nayla.
...................
Di sisi lain, hari demi hari berlalu. Kondisi Anto berangsur-angsur membaik dan sesekali ia membuka mata nya, namun belum sepenuh nya sadar. Sedangkan Sofia masih setia menemani Anton, ia selalu datang kerumah sakit setelah pulang dari kerjaan nya.
"Anton! Kamu cepat siuman dong." Ucap Sofia yang mencium kening Anton dengan lembut. "Aku mohon bangun Ton. Biar kita cepat pulang dari rumah sakit ini." Ucap nya lagi dengan terus menggenggam tangan Anton yang masih terlihat lemas.
Saat Sofia masih menggenggam tangan Anton, lagi-lagi Anton memberikan reaksi, dan kali ini mata nya terbuka dan seperti tatapan kosong yang di milikinya, dan tentu saja membuat Sofia kembali memanggil dokter. Dan setelah dokter datang dan memeriksa, ternyata Anton sudah siuman namun masih perlu sejenak ia menyesuaikan diri dari berapa tahun tidak sadar kan diri.
Namun setelah bangun dari koma, beberapa memori ingatan nya hilang, ia hanya mengingat kalau ia mempunyai seorang istri yang baru saja melahirkan putri pertama mereka. Dokter pun menarik nafas dalam, ia sangat senang melihat pasien nya yang telah sadarkan diri, walaupun keadaan nya sekarang mengalami amnesia karena cedera kepala yang di alami nya cukup lumayan berat. Tapi itu semua membuat kebahagian tersendiri untuk Sofia yang langsung mengakui kalau diri nya adalah istri yang dia maksut.
"Sayang! kamu jangan banyak bergerak." Ucap Sofia yang menahan Anton saat hendak mengangkat kepalanya.
"Alhamdulillah buk. Selama ini tidak sia-sia ibu menjaga dan merawat suami ibu, akhir nya allah tunjukan hasil perjuangan ibu yang begitu besar." Ucap pak dokter di hadapan Anton yang sama sekali lupa siapa dirinya.
Sofia sangat kagum dengan omongan dokter yang semakin membuat Anton yakin kalau Sofia memang benar istri nya. Namun saat Anton menanyakan anak nya, Sofia lantas mulai kebingungan harus menjawab bagai mana atas pertanyaan Anton pada diri nya.
...****************...
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggal kan jejak ya setelah membaca, kritikan dari anda membangun saya untuk lebih giat menulis🙏🤗
Salam dari penulis🤗😘😍