
Pagi hari ini sangat cerah, mentari menyinari pagi hari ini dengan penuh kehangatan, membuat hari minggu ini menjadi lebih indah di tambah angin sepoi-sepoi yang membuat daun di ranting bergoyang seakan-akan berjoget riang.
Terlihat Anton sedang duduk di kursi taman depan rumah, ia sekarang tampak lebih segar paska pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Tatapan nya seperti kosong dan sering sekali ia tanpa sengaja mengeluarkan air mata tanpa ia tau apa penyebab nya.
Tidak berapa lama, Anton melihat dari balik pagar besi ada seorang anak perempuan sedang bermain di luar bersama boneka nya, ia memandang anak perempuan itu dan seperti ingin sekali mengingat sesuatu yang duluh ia sangat bahagia saat melihat kehadiran bayi perempuan yang sangat ia sayangi. Namun lagi-lagi kepalanya pusing luar biasa saat ia akan mengingat semua yang ada di memori nya.
"Sayang.... Kenapa kamu di luar?! kata dokter kan kamu harus banyak istirahat di kamar." Ucap Sofia yang tiba-tiba sudah ada di belakang nya.
"Aku cuma ingin menghirup udara segar, lagian aku sudah lebih baik." Jawab Anton dengan menatap Sofia yang selalu ingin menolak tubuh nya untuk dekat-dekat dengan nya.
Sofia lantas mengalihkan pandangan nya ke arah luar pagar, ia tau kalau pasti Anton melihat anak perempuan itu dan mulai berfikir, yang membuat kepalanya tiba-tiba sakit.
"Sayang kalau begitu kamu mau gak nanti kita keluar lihat anak kita di rumah ibu aku." Ucap Sofia yang mulai binggung dengan omongan nya untuk melihat anak yang sama sekali tidak ada.
Anton yang mendengar ucapan Sofia langsung bersemangat dan rasanya ingin cepat-cepat bertemu dengan anak nya.
*
*
*
Pukul 10:00.
Sofia di kamar mondar-mandir memikirkan bagai mana dengan singkat ia mencari seorang anak perempuan dan langsung ia suruh untuk berbohong, apa lagi berpura-pura sebagai anak ia dan Anton.
"Aku harus keluar sekarang juga, semogah masih ada waktu untuk mencari anak yang jago berbohong demi menutupi kebohongan Sofia.
****
__ADS_1
Mobil Sofia terhenti di persimpangan yang ada lampu merah, dari dalam mobil ia melihat anak perempuan yang sedang mengamen di jalan raya.
Di fikir nya kalau anak pengamen pasti tergiur melihat uang banyak yang bakalan ia suruh untuk berpura-pura sebagai anak nya nanti.
Singkat cerita, anak pengamen tersebut sudah terlihat di dalam mobil nya, ia membicarakan semua tentang hal apa yang haru ia lakukan nanti, terlihat anak itu memberikan isyarat dengan mengangguk. Dan langsung saja Sofia membawa anak itu untuk ke salon dan membersihkan dirinya.
Setelah semua terasa selesai menurut Sofia, ia langsung menyusun skenario seakan-akan selama ini anak nya di titip dengan ibu nya, bahkan Sofia sampai rela mengeluarkan uang yang cukup besar untuk skenario ini berhasil, tentu saja bukan hanya menyewa anak jalanan sebagai anak pura-pura nya, namun ia juga menyewa seorang ibu- ibu paru baya dan seunit rumah.
Pukul 2:30. Sofia yang sudah menyusun rencana nya terlihat santai dan tenang bahkan Anton tidak memiliki kecurigaan sama sekali terhadap diri nya.
"Kamu sudah selesai sayang?!" Tanya Sofia yang merapikan baju nya.
"Sudah, aku gak sabar rasanya mau cepat-cepat untuk berjumpa dengan anak kita." Jawab Anton yang mulai terbiasa dengan Sofia, walaupun begitu di hati Anton masih ada perasaan ragu yang menyelimuti nya.
Sofia dan Anton pun menuju ketempat yang di tuju. di perjalanan Anton lebih banyak diam, dia hanya memikirkan bagai mana nanti saat jumpa dengan anak nya, Anton hanya mengingat kalau dia memiliki putri kecil yang sangat ia sayangi yang selalu mengganggu fikiran nya.
*
*
*
Di dalam kamar Dewi seakan-akan menahan diri nya untuk terlihat tenang, walupun di hati nya terselimuti rasa takut kalau nanti nya Gunawan memeluk nya tiba-tiba.
"Kamu masih terlihat ngantuk Wi?!" Ucap Gunawan yang berdiri dan berjalan menuju tempat Dewi yang sedang duduk di depan cermin rias.
"Enggak kok, pagi ini kan seperti biasa aku harus menyiapkan sarapan pagi." Sambil melirik ke arah cermin yang melihat Gunawan sudah hampir dekat di belakang nya.
Perasaan Dewi sangat kacau, ia takut seandainya Gunawan mencium nya, seperti mas Anton duluh memberi perhatian nya.
__ADS_1
"Apa sebenar nya kamu belum siap dengan pernikahan ini? atau memang kamu tidak mengingin kan nya ya Wi?!" Pertanyaan Gunawan membuat Dewi bingung.
Dewi menundukkan kepala nya, ia tidak berani menatap Gunawan, apa lagi sampai menjawab pertanyaan yang di lontarkan kepada nya.
"Kenapa kamu diam, coba kamu lihat aku Wi?!" Tanya lagi Gunawan dengan sedikit membungkukkan badan nya dan tanpa segan memegang dagu manis Milik Dewi yang membuat Dewi langsung memandang wajah Gunawan.
"A... aku," Belum pun sempat Dewi meneruskan ucapan nya, Gunawan lagi-lagi membuat Dewi tercengang dan hanya bisa diam saat Gunawan mengecup bibir manis nya.
Dan seperti nya kecupan Gunawan membuat Dewi luluh, didalam hati nya ingin sekali menjawab pertanyaan Gunawan, kalau sebenar nya ia juga menyukai Gunawan, apa lagi Gunawan memiliki sifat penyayang dan bertanggung jawab itu yang membuat Dewi jatuh hati kepada Gunawan.
"Wan, jangan sekarang ya?! pasti semua akan kita lalui kok. tapi ini aku harus buru-buru masak sarapan pagi buat mereka." Jawab Dewi yang mencoba menghindar karna ia belom berani untuk melakukan hal sebagai mana suami dan istri.
"Baik la! aku hargai keputusan kamu." Jawab Gunawan yang tidak ingin memperpanjang masalah ini.
Setelah perbincangan antara Dewi dan Gunawan selesai, Dewi langsung keluar dari kamar nya.
Dewi berjalan menuju dapur dan langsung memasak seperti biasa nya, terlihat langkahan mertua nya mendekat ke arah dapur.
"Masak apa ya kita hari ini Wi?!" Tanya mertuanya.
"Dewi pun bingung ini ma! Enak nya masak apa ya kita ma?!" Tanya balik Dewi.
"Sebaik nya kamu tanya ke suami kamu, dia mau di masaki apa sore ini." Jawab mertuanya yang membuat Dewi rasanya malas untuk pergi sekedar bertanya.
"Kalau Gunawan sih katanya terserah kita aja ma!" Jawab kembali Dewi.
"Kamu ini ya, Gunawan itu kan sekarang uda jadi suami kamu, seharus nya kamu bisa lebih sopan dong Wi panggil dia." Nasehat mertuanya. "Walaupun mama bukan mama kamu, tapi orang tua dari suami kamu duluh, mama mau kamu itu bisa menghargai Gunawan, seperti kamu menghargai Anton duluh Wi." Ucap lagi mertuanya.
Dewi pun terdiam dan ia sadar kalau sekarang Gunawan adalah suami nya bukan teman kerjanya, Dewi pun sebenarnya ngerasa bersalah atas sikap nya terhadap Gunawan.
__ADS_1
...****************...
Bersambung...