
Disaat aku melihat Nayla yang bermain, pikiran ku slalu membayangkan saat-saat seperti ini kalau saja ada mas Anton yang mendampingi Nayla, pasti Nayla lebih bahagia dari ini. Namun seketika pikiran ku di buyarkan oleh mertua ku yang tiba-tiba memegang pundak ku.
"Hai ma" Dengan kaget aku mengucap kan.
"Kenapa kamu melamun nak?! Masih ingat dengan Anton?!." Tanya mertua ku yang duduk di samping ku.
Sejenak aku memandang mertua ku, yang seperti nya di kedua bola mata nya menyimpan air mata dan rasa rinduh yang teramat dalam kepada anak nya yaitu suami ku, namun aku ahli kan pembicaraan mertua ku, agar tidak membuat nya mengingat anak nya, sudah terlalu tua untuk mertuaku harus memikirkan yang tidak ada sekarang.
"Ah! mama bisa aja! Mas Anton selalu di hati kita ma, jangan terlalu di pikirkan ya mah?! mas Anton sudah bahagia di sana, kita coba iklhas kan. Mamah kan masih ada Naila dan Dewi." Sambil memeluk mertuanya.
Mertua nya pun sangat bahagia dan bersyukur memiliki menantu yang sayang dengan nya melebihi anak sendiri. Mereka pun kembali melihat Nayla yang berjalan kesana kemari dengan memegang boneka yang duluh sempat di belikan mas Anton.
"Pagi menjelang siang keponakan om yang cantik?!" Terdengar suara sapaan pria dari arah pagar rumah, yang mereka sangat mengenal betul suara itu.
Dewi dan mertua nya lantas menoleh ke arah pagar rumah nya dan melempar senyuman pada pria tersebut yang ternyata Gunawan sudah berdiri hampir 5 menit memandang mereka, dengan membawakan bingkisan di tangan nya.
Dewi membalas sapaan nya dengan lembut "Hai! pagi juga Gunawan."
Nayla yang sudah sangat dekat dengan Gunawan, kemudian berlari ke arah Gunawan dan ingin memeluk nya, Gunawan pun menyambut dengan baik pelukan putri dari almarhum teman nya itu.
Sudah menjadi rutinitas setiap minggu Gunawan mengajak Nayla untuk bermain di taman bermain, agar Nayla tidak kehilangan kasih sayang dari seorang lelaki yaitu papa nya.
"Gunawan sosok lelaki yang sangat baik kan Dewi?!" Ucap mertuanya yang sedang mengamati Gunawan dan Nayla yang sedang bermain. "Kamu lihat! Nayla sangat dekat dengan nya. Seandainya tidak ada Gunawan, belum tentu Nayla mendapat kan sosok papa pengganti yang baik seperti Gunawan." Ucap mertua nya lagi.
"Benar buk! Apa lagi Nayla sudah terlalu lengket dengan Gunawan, tapi kita harus beri tau Nayla sedikit demi sedikit. Bagai mana pun papa nya tetap mas Anton." Jawab Dewi yang tidak mau menggantikan mas Anton sebagai papa biologis nya, walaupun suami nya sudah meninggal.
"Apa kamu gak ada niat menikah lagi Wi?!" Dewi sangat terkejut saat mertuanya mengucapkan kalimat seperti itu.
"Mah! Dewi kan sudah pernah bilang, sekarang Dewi hanya fokus ke Nayla dan kebahagiaan Nayla, dan mama sudah Dewi anggap mama Dewi sendiri. Tolong dong mah?! Lagi pula, di hati Dewi masih sangat mencintai mas Anton bahkan mungkin tidak ada yang bisa menggantikan posisi mas Anton di kehidupan Dewi." Ucap Dewi yang mencoba menahan air mata nya, saat mengingat suami nya.
"Tapi wi?!" Belom pun sempat mertuanya melanjutkan bicara nya, dewi langsung mematahkan nya.
__ADS_1
"Sudah cukup mah! Dewi mohon." Tangan Dewi yang memegang tangan mertuanya, agar bisa menghentikan pembicaraan nya.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah 12 siang, mereka pun memutuskan untuk kembali kedalam rumah. Dewi langsung pergi ke dapur untuk menata makanan yang sudah ia masak tadi pagi, sedangkan mertua nya mengajak Nayla untuk mandi, dan Gunawan menunggu dengan sabar duduk di kursi meja makan. Sesekali ia melirik ke arah Dewi yang sedang fokus menata makanan dan meletakkan piring di masing-masing tempat. Sebenar nya Gunawan ingin sekali mengatakan sesuatu kepada Dewi, tapi dia ragu kalau nanti pertanyaan nya membuat Gunawan ia bisa jauh dengan Nayla yang sudah seperti anak nya sendiri. Di saat Gunawan tengah fokus memandang Dewi yang lagi sibuk, mertua Dewi dengan secara tiba-tiba mengejutkan Gunawan yang tengah asik memandang Dewi.
"Ah!" pekik Gunawan yang tersentak.
"Memandang saja, nyatakan kalau memang suka." Ledek mertua Dewi.
"Ibu ini bisa aja! Nayla mana buk?!" Tanya Anton.
"Mau Gunawan ajak ke taman bermain yang di mal itu buk, lagi pembukaan. Pasti Nayla suka." Ucap Gunawan.
Namun saat Gunawan dan mertua Dewi lagi asik mengobrol, Dewi mengajak mereka makan setelah menurut nya sudah sangat rapi dan sudah tertata begitu banyak makanan.
"Waktu nya makan" Ajak Dewi yang langsung duduk di kursi meja makan.
"Ayok, silakan makan nak Gunawan."Ajak mertua Dewi.
Setelah mereka menyantap makanan dengan habis. Dewi kembali membereskan dan mengangkat piring yang kotor, terlihat Gunawan sedang membantu Dewi dengan cekatan, sedang kan mertuanya merapikan meja yang sedikit berantakan. Setelah pekerjaan mereka sudah terlihat siap, mereka bertiga pun duduk di ruang tv.
.
.
__ADS_1
.
.
Saat sedang asik berbincang, mereka mendengar suara tangisan Nayla yang ternyata sudah bangun dari tidur nya, Dewi beranjak dari tempat duduk nya dan langsung mengambil Nayla dan menggendong Nayla yang terlihat mengucek-ngucek kedua mata nya. Melihat Nayla yang seperti itu langsung Gunawan meledek si anak kecil Nayla.
"Oww , Nayla nya om sudah bisa mimpi ya?!" Tanya Gunawan.
Nayla yang melihat Gunawan langsung ia meluncurkan tangan nya meminta gendong dengan Gunawan yang telah siap menerima gendongan Nayla.
Ketika jam sudah menunjukan jam tiga sore, dan Nayla pun sudah terlihat lebih segar. Gunawan langsung mengajak Nayla ke mall. Nayla yang sudah paham, langsung kegirangan.
"Nanti jangan nakal ya?! jangan merepotkan om Gunawan." Pesan Dewi pada Nayla yang belum mengerti dengan ucapan ibu nya, yang dia tau hanya la bermain.
Disaat Dewi menyerahkan Nayla ke pada Gunawan, mertua nya langsung melontar kan kata-kata yang membuat Dewi tidak bisa menolak ajakan Gunawan.
"Kenapa tidak sekali-kali kamu ajak ibu nya Nayla sekalian Wan?!" Ujar mertua nya.
Gunawan langsung terbengong dengan ucapan mertua Dewi., dan dia pun langsung mengatakan kalimat mengajak Dewi untuk ikut serta bersama Gunawan dan Nayla.
"Ayok Wi, ikut aja!" Ajak Gunawan.
Dewi rasa nya ingin sekali menolak, namun mertuanya seperti menyodor-nyodorkan untuk menerima ajakan Gunawan, dan akhir nya Dewi pun mengiyakan ajakan tersebut.
"Kan gak ada salah nya kalau sekali-kali kamu menemani anak kamu main Wi?!." Ucap mertua nya.
"Iya mah! Dewi siap-siap duluh ya?!." Jawab Dewi.
Hanya beberapa menit Dewi pun sudah siap, dan mereka langsung pergi, sedangkan mertuanya sangat bahagia melihat menantu nya bisa lebih dekat dengan seorang lelaki yang begitu menyayangi cucu nya.
...****************...
__ADS_1
Bersambung.....