Buah Hati Mama

Buah Hati Mama
Bab 31


__ADS_3

Seperti petir di siang bolong mendengar perkataan pak polisi yang membuat Dewi seketika terdiam dan menatap penuh kosong, seperti belum mempercayai apa yang pak polisi itu ucapkan.


Mertua nya bahkan sama sekali tidak mempercayai satu pun perkataan pak polisi, bahkan mertua nya memukul-mukul dada salah satu polisi yang ada didepan nya, dia tidak terima kalau anak nya di kabar kan kecelakaan. Sedangkan Dewi mencoba menahan kemarahan mama nya dengan memegang bahu nya dan berusaha menenangkan.


"Maaf buk, tim kami lagi berusaha untuk menemukan suami ibu. Karna medan yang kami tempuh sangat curang dan kondisi yang terus menerus hujan, membuat kendala bagi kami." Ucap pak polisi.


"Pak saya mohon, tolong cari keberadaan suami saya pak. Saya memohon dengan sangat pak." Dewi yang memohon dengan suara merintih menahan kesedihan nya yang teramat memukulkan bagi nya.


"Terima kasih atas waktu nya, kami mohon izin dan doa kan kami agar cepat menemukan suami ibu dalam keadaan apapun.


Pak polisi pun berlalu pergi, meninggal kan Dewi dan mertuanya yang masih teramat terpukul dengan apa yang terjadi.


Dewi menutup pintu, yang masih tetap memeluk mama nya yang terlihat sangat hancur seperti hati ku saat ini, terlalu banyak yang aku pikir kan, Nayla, dan juga kehidupan selanjutnya.


"Mah, kita doakan mas Anton yang terbaik mah, semogah ada mukzijat dari allah untuk kembalikan mas Anton bersama kita lagi." Mencoba menguat kan mama nya walaupun hati nya sendiri sangat hancur.


Mertuanya tidak mendengar sedikit pun ucapan Dewi, dia terus menerus menangis dan pergi masuk kekamar nya.


"Biar kan mama sendiri duluh Wi." mertua nya berlalu pergi meninggal kan Dewi yang masih berada di ruang tamu.


Dewi langsung memberi ruang untuk mertuanya agar bisa menyendiri duluh untuk saat ini.


Dewi melangkah kembali kekamar nya, sesampai nya di kamar dia memandang foto mas Anton yang begitu gagah di foto dengan menghusap-usap dan sesekali memeluk foto suaminya mencoba menahan segalah amarah dan sedih yang teramat dalam.

__ADS_1


Dan akhir nya, sebegitu kuat dia menahan nya namun dia hanya la seorang istri yang tau akan kehilangan suami tercintanya. Dewi menutup wajah nya, menangis tersedu-sedu karena terasa begitu sangat hancur perasaan nya saat ini, bagai mana tidak, beberapa hari sebelum nya mas Anton membuat nya sangat bahagia dan kebahagiaan itu harus terhenti begitu saja.


"Mas.... kamu di mana? Aku mohon kembali pada kami, Nayla masih terlalu kecil untuk kamu tinggal kan, kamu mengharap kan kehadiran anak kan?!" Ucap nya dengan penuh lirih.


Puku 5 subuh.


Dewi masih terduduk di pinggir ranjang nya, sembari memandang bingkai foto suami nya dengan tatapan nya yang kosong, Nayla yang mulai merengek pun tak terdengar oleh Dewi yang ada di samping nya.


Ooeekkk.... oekkk.....oekkk....


Semakin lama putri kecil nya menangis begitu kencang dan tidak membuat Dewi tersadar dari lamunan nya. Mertua nya yang mendengar cucu nya menangis, langsung beranjak ke kamar Dewi. dan saat dia membuka kamar Dewi, cucu nya sudah terisak-isak karna terlalu lama di gendong.


"Dewi.... Dewi....!" Teriak mertuanya.


Dewi yang begitu sedih langsung memeluk mertuanya yang ada di hadapan nya dengan begitu kencang, yang membuat keduanya seketika menangis. Dia yang tidak sanggup membayangkan anak nya tumbuh tanpa hadir nya seorang ayah dan kasih sayang dari ayah nya.


"Mah.... " Panggilan di iringi suara tangisan tersedu-sedu Dewi. "ini semua tidak benar kan mah? mas Anton gak akan tinggalin kita kan mah?!" Suara Dewi yang semakin keras dan terisak-isak.


"Sudah nak! Kita doakan yang terbaik buat Anton, semogah dia selamat dan segera di temukan ya?! kalau kamu seperti ini, kasihan anak kamu." Ucap mertua nya yang mengelus-elus kepala Dewi.


Dewi pun langsung melepaskan pelukan dari mertuanya. Dan dia mendekap erat Nayla yang sangat kehausan.


Jam mununjukkan pukul 8 pagi.

__ADS_1


Pagi hari ini mentari sangat terang menyinari alam semesta langit yang terlihat begitu indah dan mencerahkan pagi ku yang masih dalam kegelisahan menunggu kabar baik.


Ibu ku yang mulai terlihat lebih tabah dan berusaha tegar mendengar anak satu-satu nya dalam pencarian karna kecelakaan dan hingga saat ini masih belum di ketemukan. Aku tau, mertua ku hanya mencoba untuk tegar di hadapan aku dan cucu nya, padahal dia sangat hancur hati nya.


Tidak berapa lama terdengar ucapan salam dan ketukan yang berulang-ulang, rasanya tubuh ini tidak sanggup untuk berdiri, namun aku paksa kan untuk berjalan menuju pintu depan rumah ku, dan saat aku membuka pintu, aku melihat beberapa orang sudah berdiri di hadapan ku dengan memandang penuh kesedihan. Mertua ku pun menghampiri dan menyambut tamu yang datang yang ternyata adalah teman-teman kantor mas Anton, dan pimpinan nya.


"Silakan masuk buk/pak!" Ajakan mertua Dewi pada para tamu.


Namun aku masih saja terpaku menatap kosong pada mereka yang datang, dan rasa nya di pikiran ku ingin sekali menyalah kan mereka yang membuat suami ku menjadi seperti ini. tapi aku ingat dengan yang nama nya takdir, tapi apa ini takdir suami ku?.


"Ayok duduk Wi! ini teman dan pimpinan tempat suami kamu bekerja" Ucap ibu nya yang membawa Dewi duduk di sofa.


"Buk saya mohon maaf yang sebesar-besar nya atas kejadian yang menimpah pak Anton. Ini semua kesalahan perusahaan kami, kalau perusahaan kami tidak memutuskan untuk pak Anton keluar kota, mungkin ini tidak akan terjadi." Ucap buk Hany yang meminta maaf atas kejadian ini.


Dewi lagi-lagi menetes kan air mata nya, terlihat dari raut wajah nya yang begitu terpukul atas kejadian ini, bahkan ingin mengeluarkan kata-kata pun tidak sanggup karna tertahan dengan bibir nya yang gemetar menahan tangisan nya yang rasa nya ingin sekali menjerit sekuat-kuatnya.


"Kami tidak menyalahkan siapa-siapa buk! Mungkin ini takdir anak saya, dan saya berharap cukup doakan anak saya selamat dan segera di temukan.


Gunawan yang ada di situ pun menetes kan air mata nya, dia masih belum menyangka apa yang tertimpa dengan sahabat dekat nya itu, mata nya pun seketika tertuju pada Dewi yang sedikit menunduk kan kepalanya, seperti ingin menyembunyikan air mata nya yang jatuh dari pipi nya. Namun Gunawan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menguat kan keluarga sahabat nya itu.


...****************...


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2