
"Kamu kelihatan sangat lelah mas?" Tanya Dewi yang membawa tas suami nya.
"Terlalu banyak berkas yang kami rekap ulang. Apa lagi pimpinan nya sudah ganti, pasti nanti lebih banyak yang berubah." pungkas Anton yang mengambil minum di atas meja.
Anton yang tau sekali kalau sebenar nya istrinya pasti sudah sangat lelah, dia tidak ingin merepotkan apa lagi menyuruh istri nya untuk menyiapkan baju tidur nya, walaupun biasanya Dewi selalu menyiapkan tanpa di suruh, tapi kali ini aku yang melarang nya. Dan aku lihat jam sudah menunjukan pukul 1 malam.
*
*
*
*
Dewi dan Anton memandang putri kecil nya yang sedang duduk di pangkuan Anton, kebetulan kantor hari ini pulang cepat semua karyawan nya.
Putri kecil mereka yang rasanya baru kemarin di lahir kan dengan Dewi, tak terasa kini hampir dua bulan saja. Badan nya pun terlihat lebih berisi. Kini putri kecil mereka terlihat tambah cantik saja, dengan lesun di pipi kiri dan alis yang terlihat sedikit tebal. Rasa lelah Dewi dan Anton bahkan tak terasa kalau sudah melihat putri kecil nya.
"Mas jadi bagai mana syukuran buat Nayla." Tanya Dewi.
Sejenak Anton berfikir, apa perlu mereka kompromi ber 3 dengan mama nya, agar mendapat solusi yang bagus dan bermanfaat.
"Coba nanti kita berdua tanya dengan mama, bagai mana bagus nya ya." Jawab Anton yang terus menggoyang kan kaki nya, agar Nayla berasa seperti di ayun.
"Kalau menurut aku, Bagai mana kalau kita bersedekah? Seperti menyumbangkan sesuatu kepada anak-anak yang membutuh kan, seperti itu mas."
Anton pun seperti nya sependapat dengan istri nya, karna pasti lebih bermanfaat kalau kita lebih memberi kepada yang membutuh kan. Belom lagi Anton menjawab, terdengar suara mamanya dari arah belakang Anton.
"Mama setuju dengan rencana Dewi." Ucap mama nya.
Mama Anton langsung mengambil putri nya dari pangkuan Anton. Dewi yang duluh nya takut dengan penolakan dan tak di akui sebagai cucu nya, kini bisa tersenyum lega. Rasanya lengkap sudah keluarga kecil mereka.
"Ini cucu oma ya!? Mana oma nya Naila a." Ucap mertuanya menggendong Nayla.
......................
Hari sudah hampir sore, namun cuaca di luar masih saja terasa terik. Dewi mendorong stroller Nayla ke teras depan rumah nya. Sedangkan suami nya terlihat tertidur di ruang tv. Dewi mengajak anak nya berbicara dan sesekali mencubit pipi nya yang kelihatan gendut. Nayla yang sekarang sudah sedikit-sedikit merespon, terlihat tertawa kecil.
"Anak siapa ini? Anak papa atau anak Ibu?" Ucap Dewi yang sesekali memencet hidung nya.
" Cucu oma dong?! Sambung mertua nya yang menghampiri Dewi .
__ADS_1
Mertua Dewi sekarang sudah lebih akrab dan lebih banyak tersenyum, bahkan tidak jarang membantu pekerjaan Dewi di rumah.
"Nay, ada oma ni." Ujar Dewi.
"Oma bawakan sesuatu ni buat cucu oma." Dengan perlahan mertuanya membuka dompet kecil, dan mengambil sesuatu yang ada di dalam dompet tersebut.
Dewi yang terkejut dan merasa bahagia, dia tidak membayang kan, kalau mertua nya akan membeli set mas buat anak nya.
"Ya ampun, ma?!" Dewi terpukau melihat setiap ukiran di setiap lekukan nya.
Mertua nya menjelaskan bahwa perhiasan ini milik orang tuanya yang di berikan saat mertua nya itu seumuran Nayla, dan di simpan sampai sekarang. Dan dia berjanji akan mewariskan set emas ini kepada cucu perempuan nya.
..................
Kringgg.... Kringgg.... Kringgg
Suara telepon yang terus menerus bersuara, membuat tidur nya Nayla terganggu,dan ternyata suara itu dari telepon mas Anton.
Dewi buru-buru mengambil dan akan memberi pada suaminya yang ada di ruang kerja nya. saat Dewi hendak berjalan keluar kamar, di lihat nya yang menelpon itu adalah Sofia.
"Kenapa Sofia telepon ke no mas Anton?" Ucap nya binggung.
Tok... Tok... Tok...
"Mas." Panggil Dewi dari luar ruangan.
"Masuk sayang, gak di kunci!" Ucap Anton dari dalam ruangan.
"Masih belom selesai kerjaan nya ya mas?" Tanya Dewi.
"Sedikit lagi sayang" Jawab Anton.
Dewi meletakkan telepon genggam kepunyaan Anton tepat di hadapan nya.
"Tadi ada yang nelpon mas!.
"Siapa?" Tanpa melihat wajah Dewi, Anton menanyakan siapa yang menelpon nya malam-malam begini.
"Sofia!." Jawab Dewi.
Anton yang terkejut dengan Jawaban dewi, langsung menatap mata Dewi dengan rasa heran.
__ADS_1
"Sofia?." tanya nya.
"Iya, Sofia! Ada keperluan apa? Sampai malam-malam seperti ini dia menelpon kamu?." Tanya Dewi yang seperti memaksa.
"Itu pertanyaan atau menyudut kan?." Tanya Anton kembali.
Dari dulu kedulu, Dewi tipe wanita yang tidak mau ribet, kalau pertanyaan nya sekali di lontar kan tapi tidak mendapatkan jawaban, dia lebih memilih untuk diam atau pergi. Tapi kali ini dia memilih untuk pergi karna bukan perasaan nya lagi yang dia pikir, melainkan anak nya.
"Kalau sudah siap langsung istirahat. Aku masuk kamar, kasihan Nayla."
Anton yang tidak bisa berkata-kata lagi hanya bisa mengangguk kecil, mungkin dia merasa bersalah juga atas apa yang dia perbuat bahkan tidak bisa di maaf kan, kalau saja Dewi mengetahuinya.
Dewi pun sudah berlalu pergi dari ruang kerja Anton. Dan Anton lebih memilih untuk mematikan telpon genggam nya.
"Awas aja kamu besok Sofia, ngapain kamu telpon malam-malam seperti ini." Ucap Anton dengan pelan.
...................
Pukul 5 pagi
Dewi sudah terlihat sibuk di dapur, tidak seperti biasanya. Dewi sudah bersiap menghidangkan sarapan untuk suami nya yang akan pergi kekantor, tentu saja masih dengan suasana hati yang tak enak.
Meskipun suasana hati nya lagi tidak enak, tapi tidak mempengaruhi Dewi buat melakukan tugas nya sebagai istri mau pun ibu, karena itu sudah tanggung jawab yang sudah dia ambil.
"huaaammm...." helaan nafas terdengar
Ternyata mertuanya, yang sudah duduk di meja makan dengan sedikit mengantuk.
"Jam berapa kamu bangun Wi? gak seperti biasanya?." Tanya mertuanya.
"Jam 5 lewat ma. Takut Nayla nanti rewel makanya Dewi kerjakan apa yang bisa di lakukan terlebih dahulu.
Mertua nya hanya mendengarkan penjelasan Dewi dan langsung masuk kamar mandi.
Setelah semuanya terlihat selesai di atas meja makan. Dewi langsung mencuci peralatan yang habis untuk masak, selagi anaknya masih tertidur pulas dengan papanya.
Sedangkan mertuanya, membantu menyapu setiap sudut ruangan. Walaupun terkadang Dewi selalu melarang kalau mertuanya akan membantu dia. karna Dewi tau kalau mertuanya belum sembuh benar dari penyakit nya.
...****************...
Bersambung......
__ADS_1