Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 11# Penyamaran Di Atas Kapal Laut


__ADS_3

Pantas saja Guntur - suami Pelangi, sang sahabatnya itu menyuruhnya menyamar sebagai laki laki. Saat ini, polisi sudah mewanti wanti Purnama di pelabuhan juga.


"Kalau ada yang melihat wanita yang ada di foto ini, tolong kabari pihak berwajib. Sebagai apresiasinya, kepolisian akan memberi imbalan bagi siapa pun yang mengabari info kepada kami."


Purnama meringis mendengar pengumuman polisi yang memamerkan fotonya di depan orang orang yang mengantri masuk ke area pelabuhan, yang sialnya ia pun wajib masuk melalui penjagaan lima polisi itu. Refleks ia menggenggam gugup tangan Lautan yang juga menyamar sepertinya.


"Kendalikan dirimu, Ama. Tidak ada terong sesama terong bergandengan tangan. Jangan sampai kita menarik perhatian orang orang dan berakhir mencurigai kita," bisik Lautan menyadarkan Purnama dari sikap cerobohnya.


Ama mendelik sinis. "Cuih, menjijikkan." Otak Ama traveling kotor mendengar kata terong dari Lautan. Ia tahu maksud Lautan yang membahas hubungan laki makan laki. Eneg Purnama membayangkannya.


"Kalian akan aman selama kumis kumis palsu kalian tidak terbongkar." Guntur yang ada di antara mereka berdua, bersuara. Sebenarnya, suami Pelangi itu ingin tertawa geli melihat kumis dan bewok palsu Purnama serta kumis tebal nan panjang yang Lautan pun sama memakai penyamaran yang sama, tapi ia tahan tahan karena tahu situasi bukan waktunya becanda.


" Ayo, kita masuk!" Guntur memimpin jalan.


Purnama deg degan. Masalahnya, ransel yang ada di punggungnya itu isinya bom bom rakitannya. Kena sensor alat scanner, pasti akan terdeteksi.


"Utan, pikirkan caranya agar tas ku bisa lolos," bisik Ama sangat pelan.


"Tenang saja."


Tenang katanya? Ck, jantung Ama sudah mau copot. Apalagi sekarang giliran Guntur yang diperiksa memakai alat scanner metal detektor.


Guntur sudah aman. Lautan juga sudah lolos. Giliran Purnama yang ragu ragu untuk mendekat.


"Tunggu apalagi, Pak? Ayo masuk!"


Pak? Oh, iya ... Kan, ia sedang jadi laki laki sekarang. Pantas si Pak Pol memanggilnya demikian.


"Adik saya sebenarnya mabuk kapal laut, Pak. Jadi masih takut takut berlayar." Lautan segera memberi alasan untuk membunuh rasa kecurigaan Pak polisi itu. "Ayo, Ama_rrr, masuk cepat. Tidak apa apa kok, kan bisa minum obat anti mabok nanti." Hampir saja menyebut nama 'Ama'.


Dan karena dipaksa Lautan dengan tampang pedenya si borjuis sahabatnya itu, Ama pun menurut dengan siap siaga baku hantam melumpuhkan lima polisi di depannya kalau kalau ia sampai terciduk.


"Hei, sedang apa kalian di situ?!"


Selamat! Entah dari mana kemunculan Dibi yang tau taunya sudah berdiri di tengah-tengah Guntur dan Lautan. Lantas petugas yang hendak memeriksa Ama, jadi terjeda karena kelima polisi itu kompak menoleh ke suara Dibi.


"Lapor! Kami sedang bertugas, Komandan!" Kelimanya hormat dengan suara tegas nan lantang ke Dibi.


"Saya tau, tapi di area Barat sana, ada laporan maling. Cepat kalian bantu. Biarkan saya yang mengambil tugas di sini untuk sementara waktu." Dibi menarik alat pendeteksi di salah satu tangan anak buahnya. Mereka pun menurut tanpa sedikit pun kecurigaan terhadap sang komandan.

__ADS_1


" Hufft... "Ama bernafas lega menatap Dibi dengan penuh terima kasih.


" Kenapa kamu membantuku, Kak Dibi? "


"Pertanyaan konyol...!" Dibi tersenyum tipis. Lanjut berkata, "Saya mengenalmu dari kecil sampai sudah dewasa seperti ini. Jadi, saya mana percaya kalau kamu melakukan kejahatan. Saya berharap kamu dan Lautan pulang dengan selamat. Buktikan pada negara, kamu bukan pembelot atau ******* seperti yang sedang trending topik di media."


"Pasti!" Jawab Purnama takzim. Tersenyum simpul lalu pergi meninggalkan Dibi setelah pamit.


Sampai di depan kapal laut khusus angkutan barang, Guntur yang awalnya tidak ada niatan turun tangan mengawasi para pekerjanya, mau tak mau harus melakukannya demi memperkenalkan Purnama dan Lautan secara resmi.


"Dua pekerja baru ku akan ikut berlayar bersama kalian. Tolong bekerja sama. Pria ini namanya, Amar dan sebelahnya itu kakaknya, bernama Amir. Tapi, mereka akan turun di Thailand secara khusus saya perintah kakak adik ini mengawal barang barang saya sampai ke tempat tujuan. Paham, Pak Jimmi?" Dibi berbicara pada pria staf yang bertanggung jawab atas pengiriman barangnya ke Negara Negara tujuan.


Lautan melirik Guntur dengan sinis, seenak jidat pria itu memberi nama Amir. Dari R ganti S ujungnya akan jadi Ami-s


"Kak Amis..."


Nah, kan. Belum kering juga bibir Guntur bersuara, Ama sudah berbisik mengejeknya. Sialan!


"Tentu, Pak Guntur," jawab takzim Pak Jimmi. Lanjut memperhatikan Lautan dan Ama secara detail. Ama risih ditatap intens oleh Pria berkemeja hitam polos itu. Apa ia kelihatan aneh kah jadi pria gadungan?


"Amar, Amir. Patuh lah padanya." Guntur menepuk bahu Lautan. Lanjut melirik Purnama. " Hati hati ya, karena kapal barang ini kargo umum. Banyak orang lain di atas sana," bisiknya memperingati dua sahabat sang istri.


Kepergian Guntur, Ama dan Lautan mengikuti Jimmi naik ke kapal. Bunyi ship's whistle telah menggemah, pertanda kapal siap berangkat berlayar.


" Tadinya, kami hanya beranggotakan sepuluh orang. Tapi kedatangan kalian sudah memastikan tempat tidur semakin sempit."


Ama menelan salivanya susah payah sembari menatap Lautan penuh arti. Pasalnya, di depannya saat ini hanya terdapat ruangan sempit untuk dihuni dua belas orang tanpa adanya kasur. Memang sih, ini kapal barang bukan kapal penumpang. Wajar tidak ada fasilitas mewah seperti kamar elit dan fasilitas sewajarnya. Tapi ... Apa iya, Ama harus tidur berdesak desakan bersama sebelas pria sekaligus? O ... EM ... Ji ...


"Di sini, nggak ada cewek gitu?" Ama bertanya tanpa tahu apa yang ia celetukkan karena shock saja melihat anak buah Jimmi yang istirahat amburadul posisinya. Ada yang garuk garuk bokong sambil main hape. Ada yang ngupil dan lainnya. Ama mual di antara pria pria yang jorok dan bau keringat. Dan suara Ama tak lupa menirukan intonasi berat khas pital suara lelaki.


"Hahaha..." Jimmi tergelak sembari duduk asal asalan ke deck yang sudah diberi alas bersih.


Lautan hanya diam seribu bahasa sembari mengamati orang-orang sekitar. Sangar semua tampangnya.


"Kalau ada cewek, ya habis di pepet sama kita kita. Ah, kamu nanya begini pasti lagi pengen ya?" Jimmi jelas mengatakan hal nakal tersebut karena Purnama ia kira seorang pria tulen.


"Adik saya memang napsuan orangnya, Pak Jimmi. Jangan dihiraukan, hehehe..." Lautan yang menyahut. Tertawa renyah sembari mendorong pelan Purnama untuk menggiring Ama ke paling pojok. Karena kapal memang sudah berlayar, semuanya pun bersantai dan memilih istirahat.


" Saya nggak bisa tidur bersama kalian." Ama berbisik bisik.

__ADS_1


"Jangan membuat kecurigaan, Ama. Tenang saja, ada aku yang akan menjagamu. Kamu tidur saja di pojok sini bersama ku. Peluk pun aku siap."


Tuk... Kepala Ama sudah puyeng karena mumet dengan keadaan yang menjebaknya, ini Lautan malah menggodanya. Rasakan tuh jidat, merah kan.


" Sakit tau." Lautan mengelus keningnya yang berdenyut habis di jitak.


" Lagian, situ mau ngambil kesempatan dalam kesempitan." Wajah Ama terlihat sangat bete.


"Eh, Ama. Aku tuh niat nolong. Coba bayangkan kalau kamu tidur di tempat ku, mau dihempit sama anak buah Jimmi, eum?"


Benar juga. Ama tidak bisa berkata apa-apa kecuali menerima suasan paling terburuk di dalam hidupnya.


Mereka tidak sadar kalau Jimmi dan beberapa anak buahnya memperhatikan mereka yang terlihat aneh berbisik bisik.


"Apa ada masalah?" Jimmi menyela tanpa bangkit dari tempatnya.


"Tidak, Pak," sahut Lautan mengelak. Ama juga menggeleng mendukung jawaban Lautan.


Di pertengahan malam, orang orang terlihat sudah tertidur. Beda dengan Ama dan Lautan yang masih terjaga dengan posisi terlentang menatap langit langit. Mereka tidak bisa memejamkan mata dengan pikiran kalut berbeda beda.


Ama sibuk memikirkan siapa dalang otak pengeboman itu dan apa untungnya orang itu membuat hidupnya kacau dengan sebuah fitnah? Dan banyak lagi yang berputar putar di otak pusing Ama.


Beda dengan Lautan, ia tidak bisa tidur karena satu kaki Purnama naik menumpang di pahanya, yang mungkin sahabatnya itu tidak sadar karena sedang melamun.


Lautan jantungan dibuat sentuhan aneh itu. Sialan, meski ia tuh sahabat yang baik. Tapi, jiwa lakinya juga tidak bisa dipungkiri akan ulah kaki Purnama yang berhasil membuatnya panas dingin.


"Ama..." Akhirnya Lautan mencoba bersuara lirih sekali tanpa menoleh ke samping. Bukan tidak mau, takutnya saat ia menggerakkan kepalanya, adanya wajah Purnama bisa disosor tanpa sengaja.


Tidak ada respon.


"Am__ eh." Terkejut Lautan saat Purnama menggerakkan tubuhnya dan berujung menjadikannya guling empuk yang hangat.


Ama akhirnya tertidur pulas karena semakin stres memikirkan musibahnya.


"Aduh, Ama. Kamu membuat adik ku di bawa sana tersiksa," batin Lautan frustasi. Pasalnya, dada Ama yang montok pulen menempel pada bagian tubuhnya. Meski tertutup baju oversize demi penyamaran, tetap saja Lautan tahu itu adalah dada berukuran empuk. Argh... Cenat cenut kepala Lautan. Sialan...


Dan sepanjang malam itu, Lautan tidak bisa pulas gara gara kelakuan tidur Ama yang terlalu nyaman memeluknya.


"Sosor juga nih." Gemasnya dalam hati. Ah, tapi Lautan juga sadar diri kalau Purnama itu seharusnya ia jaga, bukan untuk dinodai.

__ADS_1


"Ama punya kumis, Ama punya kumis, Ama punya kumis dan bewok." Demi bisa terlelap, Lautan membaca mantra dalam hati dengan cara terus memandang wajah Ama yang berkedok bulu kumis palsu.


__ADS_2