Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 6# Dua Unit, Satu Identitas


__ADS_3

Demi tujuannya yang ingin tahu siapa otak dalang pengeboman yang parahnya memakai rakitan khususnya, Purnama yang fobia nama Abian, sekarang mau tidak mau harus menemui pria itu di hotel.


"Begitu banyak tempat, mengapa harus memilih hotel. Dasar, pasti otaknya selalu kotor!" dumel Purnama yang sudah berdiri di depan pintu unit yang Abian instruksikan. Tengok kiri kanan dulu di lorong hotel sepi tersebut. "Masuk nggak ya?" Purnama masih ragu bertemu Abian, tapi tidak ada cara lain juga selain bertemu dengan Abian.


Oke, Abian akan ia hajar habis habisan kalau macam macam ingin menyentuhnya.


Sudah mantap, Purnama langsung menekan bel. Gercep dibuka oleh Abian.


" Eh, apa apaan sih toples begitu? pakainya cuma boxer doang, menjijikkan." Purnama membuang mukanya ke samping. Dada Abian sangat silau di mata.


"Saya memang sengaja!" Abian tersenyum jumawa melihat gadis liar ini bisa dibuat malu merona. "Ayo masuk." Alisnya naik turun menggoda. Siulan nakal pun ia perdengarkan ke Ama.


"Nggak, enggak. Pakai baju dulu." Purnama menolak.


Abian yang ingin mengetes Purnama, kenapa tiba tiba gadis yang selalu menghindarinya kini datang mengantar diri sendiri, sengaja tidak mengindahkan kerisihan Purnama.


"Kalau tidak mau masuk, ya sudah. Saya mau tidur." Abian berpura-pura ingin menutup pintu. Di tahan oleh Purnama sigap dan langsung masuk dengan sengaja menabrak sisi bahu Abian. Bukannya marah, Abian malah bersorak dalam hati. Malam ini, Purnama akan menjadi miliknya. Bodo amat dengan cara paksa.


Tapi pikir pikir, Purnama pasti ada perlu hal penting padanya sampai nekat masuk secara suka rela, pikirnya sudah pasti. Baiklah, ia akan jual mahal dan harus berujung membuat Purnama tunduk padanya. Kesempatan bagus seperti saat ini, belum tentu ada lagi. So, bekerja maksimal lah, Abian. Batinnya memberi semangat.


"Apa kamu owner apartemen yang terkena ledakan bom tadi siang?"


Kebetulan Purnama membahas demikian. Ia pun ingin bertanya, "Apa yang berteriak ada bom itu, kamu?" Dengan santai, Abian duduk di tepi kasur tanpa ingin memakai bajunya.


Purnama langsung mengelak, "Bukan." Setelahnya, membanting bokongnya ke sofa.


"Jawab pertanyaan ku yang tadi!" tuntut Purnama.


"Eum, memang betul. Saya ownernya. Bagaimana, cukup tajir kan bersanding dengan klan Batara? So, apa lagi yang membuatmu ragu?" Nada Abian disombong-sombongkan.


Kalau bukan tanpa sebab, Ama ogah ogahan membuang buang waktunya bertamu di depan mata Abian. Bahasnya ke pernikahan terus. Sakit kuping Purnama mendengarnya.


"Saya ingin meminta dua data pemilik penghuni unit yang terkena bom."

__ADS_1


Alis Abian terangkat satu dengan tatapan curiga ke Purnama. Jadi, itu maksud dan tujuan Purnama nekat menghampirinya. "Buat apa?"


"Jangan banyak tanya. Berikan saja!"


Garang sekali gadis yang duduk anggun di sofa itu. Hem, perlu diberi pelajaran, batin Abian yang sudah berpikir kotor. Kamar hotel sudah di kunci dan di taruh aman. So, Purnama mau tidak mau akan berhasil ia dapatkan. Uhhh... Tidak sabar rasanya memiliki gadis pembangkang bibit Batara yang bisa dibilang unggul.


"Tidak semudah itu, Sayang." Abian sudah mulai genit. Purnama tetap tenang meski emosinya sudah meletup letup tertahan.


Abian berdiri dari duduknya. Mengikis jarak ke samping sofa yang ditempati Purnama.


"Bagaimana kalau kita DP malam pertama sekarang," bisiknya nakal tepat di sebelah kuping kiri Purnama.


Sianying... Umpat Purnama bersabar. Bibirnya tersenyum manis sekali. Tapi, itu malah membuat Abian merinding. Gadis di depannya benar setuju atau punya niat lain?


"Ayo, siapa takut. Saya pun ingin merasakan malam panas membara yang penuh gelora itu. Uhhh... Pasti nikmat, Babe. Ahh... " Njirrt... Jijik sebenarnya akan suara manja manja yang dibuat buat sendiri. Apalagi, melihat wajah Abian yang sudah bernafs* duluan. Ini baru suara nakalnya, belum juga ia bernaked ria yang amit amit, Purnama tidak akan memperlihatkan tubuhnya pada pria seperti Abian yang ternyata penikmat celup sebelum sah.


"Sini, Sayang. Setelah ini, saya janji akan menikahmu dan memberikan apapun yang ingin kamu butuhkan." Abian yang sudah horni, segera menarik tangan Purnama untuk bangkit. Tapi gadis itu menyuruhnya bersabar.


"Tunggu apalagi? Bukannya, aku sudah berjanji akan menikahmu setelah malam indah ini. Kamu tidak percaya kah?"


"Sabar..." seru Purnama dengan posisi wajah hampir menyatu.


Dan sekonyong-konyongnya, tangan bebas Purnama menarik bom dari ransel yang ia bawa, lalu melemparnya ke tengah-tengah kasur. Abian tentu saja ketakutan. Ia berteriak dan bersembunyi di belakang sofa.


"Hahaha..." Purnama tertawa sumbang. "Ayo, Sayang. Katanya mau menikmati gelora panas membara malam ini. Hayoo... Ku menunggu mu." Dengan jahil, Purnama tidur seksi di atas kasur. Memiringkan tubuhnya dengan sisi kepala ia topang. "Saya sudah siap loh. Ayo, buka sekalian boxermu biar kita bisa bakar bakaran jagung."


Glek... Jagung bakar katanya? Cepat cepat Abian memegang aset berharganya, Ama ambigu sekali.


"A_apa kamu ada sangkut pautnya dengan bom tadi siang itu?"


"Jangan banyak tanya, cepat berikan apa yang ku pinta tadi." Sekarang, raut wajah bengis Purnama terlihat untuk Abian. Pria itu jiper, dan segera memberikan data tersebut ke Purnama.


"Gitu dong. Dari tadi kek." Purnama menyeringai puas. Menarik laptop pria yang sedang berkeringat dingin. Abian juga sekarang terlihat memakai bajunya cepat. Purnama kasihan sih sudah membuat anak orang ketakutan, tapi siapa suruh yang mulai kurang ajar padanya.

__ADS_1


"Data ini valid kan, Ebi?"


Dah, sekarang pasrah saja diberi julukan udang oleh gadis yang penuh misteri rupanya.


"Valid lah." Nada bicara Abian kali ini, sudah berbeda. Tidak lagi nakal. Tapi masih sering mencuri pandang ke bom yang berada di belakang duduk mereka yang bersebelahan Purnama.


"Jangan dilirik terus, nanti akan meledak cepat." Purnama tidak puas menjahili. Tanpa mengalihkan atensinya ke laptop milik Abian yang ada sedikit ganjil menurutnya.


"Seriusan? Ck, tidak lucu, Purnama. Jangan main main dengan benda berbahaya?"


"Bom itu tidak akan meledak tergantung kejujuran mu jika saya tanyai. Dan pertanyaannya, benar tidaknya pemilik unit kamar TKP di lantai lima dan dua puluh itu, sama?"


"Sama, Purnama. Itu terpangpang jelas datanya di situ. Dua hari lalu, orang yang dari thailand membeli sekaligus dua unit."


Sembari mendengar penjelasan Abian yang terdengar jujur tersebut, tangan Purnama pun terus menyalin data dari laptop Abian untuk ia ambil. Memang ada yang ganjil dalam pikirannya, karena kenapa dua kamar unit yang sama pemiliknya lah yang di bom. Kan banyak kamar kamar lain. Fixed, nama Anuman Aroon ini pasti kunci permasalahannya.


Purnama jadi teringat akan OB yang menyamar itu. "Wajahnya memang bukan orang pribumi," gumam Purnama memprediksi kalau pria OB gadungan tersebut adalah pemilik dua unit kamar yang sepertinya sengaja diledekkan oleh pemilik nya langsung.


"Sudah kan, Ama? Cepat matikan bomnya. Dan kamu itu sebenarnya siapa? Cewek cewek kok mainannya bom." Abian masih bergidik ngeri dengan takut takut melirik ke benda berbahaya tersebut.


Purnama merapatkan bibirnya, enggan menjawab Abian. Dan karena sudah selesai apa yang diinginkannya, Purnama pun menyerahkan laptop tersebut ke Abian. Menarik tasnya tanpa ada niatan mengambil bom rakitannya.


"Loh, loh... Ama, bom itu bagaimana? Bawa pergi bersama mu." Abian merengek sembari mengikuti langkah Purnama ke arah pintu.


"Buka pintunya." Ama tidak peduli dengan rengekan Abian yang ketakutan maksimal.


"Nggak, aku nggak mau buka pintu sebelum bomnya kamu bawa." Kening pria itu sudah berkeringat besar besar. Purnama sialan. Niat mengungkung gadis ini di bawah tubuhnya, eh malah dirinya yang mendapat masalah besar.


"One, two..." Purnama malah menghitung. Dikata Abian butuh sekolah gitu.


"Ama.. Ambil bomnya," gemas Abian merengek. Sekonyong-konyongnya, ia menggoyang goyangkan lengan Purnama agar gadis berbahaya itu tidak membuatnya jantungan. Seperti bocah yang minta mainan pada Emaknya.


"Idih, cowok kok lembek. Otot gede tapi cengeng. Aku kira kamu punya nyawa sepuluh karena terus menguber ku. Five..." Puas mengolok olok Abian. Purnama final dalam hitungannya. Dan pushhh... Benda yang dikira Abian bom, sebenarnya kembang api asap rakitan Purnama. Dan terlihatlah, di langit langit kamar ada asap berlambang bendera negara mereka. Indah, akan tetapi Abian masih saja jantungan. Ia shock dibuat Purnama. Mulutnya yang melongo dengan mata terus mengamati kepulan asap merah dan putih di atas sana, ia sampai tidak sadar kalau tangan Purnama yang terlatih cekatan, sudah berhasil mengambil kunci kamar yang berbentuk kartu.

__ADS_1


"Kamu menipu ku__ Loh, Ama! Dasar gadis belut. Awaaaaaaas pokoknya...!" Lagi dan lagi, Abian hanya bisa mencak-mencak kesal. Mau ngejar Purnama untuk saat ini pun, rasanya seluruh tubuh nya masih gemetaran.


__ADS_2