
"Ja-jadi, kamu cewek yang sedang viral diburu oleh polisi itu?" Jimmi memberanikan diri bersuara meski terbata bata karena ia takut dihajar oleh Ama dan Lautan seperti nasib para pembajak itu.
Pelukan persahabatan yang sempat menenangkan Lautan ke Ama, terlepas akan gangguan suara Jimmi dan rekannya yang sudah berdiri mengelilingi.
Tidak ada yang bisa ia tutup tutupi lagi, Ama hanya mengangguk di iringi Lautan yang juga membuang kumis palsu yang membuatnya gatal area hidungnya sedari awal menyamar.
"Apa kalian semua akan melaporkan saya ke pihak berwajib?" tanya Ama ke Jimmi cs. Kompak semuanya menggeleng.
"Kami punya rasa terima kasih. Hehhe..." Jimmi tersenyum kikuk dengan postur tubuh terlihat takut takut. "Kalian berdua sudah menyelamatkan nyawa kami semua dari pembajak, itu tandanya kalian pasti orang baik. Kami berhutang nyawa," sambung Jimmi di setujui kompak oleh anak anak buahnya yang sembilan orang itu.
"Saya anggap kalian jujur, tapi kalau ada yang ketahuan berbohong dan diam diam melaporkan titik keberadaan saya, awas saja!" Setelah mengancam, Ama beranjak menjauhi Lautan dan Jimmi cs.
"Dia bukan ******* yang seperti diberitakan. Purnama adalah wanita tangguh dari anggota dunia intelegen, entah ada konspirasi apa sehingga ada orang yang ingin menghancurkannya dengan fitnah." Lautan menjelaskan ke kelompok Jimmi dan dipercayai begitu saja oleh semuanya karena Ama memang berjasa pada nyawa mereka.
Setelah Lautan yakin kalau kelompok Jimmi bisa diajak kerjasama, Lautan pun memerintah mereka semua untuk membuang mayat mayat yang masih tergeletak sana sini ke laut lepas.
Semuanya menurut, dengan semangat Jimmi cs menggebu gebu membalas pembajak tersebut yang sempat menyandera dan ingin membunuh mereka katanya.
"Hemm... Orang jahat memang pantas jadi santapan hiu, rasakan!" Jimmi dan rekannya membuang korban bantaian Ama dan Lautan ke laut lepas.
Lautan lanjut menyusul Ama yang sedang melempar time bomb ke arah kapal pembajak yang masih bersebelahan dengan kapal yang ia pijak.
Tanpa suara, Lautan menarik bom yang hendak di lempar ke sebelah. Ama tidak protes. Gadis itu lanjut memberi titah ke salah satu anak buah Jimmi yang kebetulan lewat di belakangnya.
"Pergi ke ruang nahkoda, beri instruksi untuk melanjutkan perjalanan lagi."
"Si-si-siap..." Pria itu kocar kacir pergi. Sumpah demi apapun, meski wajah Ama tergolong nyaris sempurna kecantikannya, tetapi bagi Jimmi cs, Ama adalah malaikat pencabut nyawa.
"Apa semenyeramkan itu wajahku di mata Jimmi dan rekannya?" Ama mendumel yang di denger oleh Lautan.
Lantas, Lautan nyaplak menggoda, "Kamu cantik kok." Ama tertegun mendengarnya dengan mata tak berkedip menatap wajah babak belur Lautan. "Tapiii... memang ngeri kalau tahu siapa jati dirimu sesungguhnya. Jimmi dan lainnya melihat kamu seperti kesetanan menghajar musuh tadi, jelas mereka jiper." Lautan tercengir melihat bibir cemberut Ama.
"Menyebalkan! Awalnya aja muji, tapi ujungnya menjatuhkan," batin Ama bete.
Kapal mereka lanjut berlayar, setelah posisi dua kapal itu saling berjauhan, Ama pun memencet remot time bomb. Sejurus kemudian, kapal pembajak meledak disaksikan Ama, Lautan serta Jimmi yang berjejer di dekat pembatas besi kapal.
" Pak Jimmi, saya mempercayaimu untuk melaporkan barang ilegal di gudang deck bawah. Seorang polisi yang bernama Pak Dibi, akan membantu mu setelah kamu kembali ke tanah air. Akuilah, kalau kamu dan timmu adalah super hero yang melumpuhkan para pembajak."
"Jangan begitu, Purnama. Kamu dan Lautan yang berhak mendapat apresiasi, bukan kami yang hanya pengecut bersembunyi disaat kalian berdua berjuang. Dan mungkin saja, pihak Negara tidak lagi termakan fitnah kalau mereka mengetahui perjuangan mu menyelamatkan senjata milik gudang Negara, serta bisa OTT tentang narkoba dan bahan baku bom nuklir itu."
Sayangnya, Ama tidak setuju dengan perkataan Jimmi yang berpikir mudah dan bisa beres begitu saja.
Tepuk pundak Jimmi, lanjut Ama berkata dengan posisi pandangan bertolak belakang, "Saya tidak akan tenang kalau otak konspirasi yang sudah menjatuhkan nama saya, masih berkeliaran dan bernafas bebas."
Merinding Jimmi mendengar intonasi penuh tekad Ama.
Jimmi menoleh ke Ama yang posisi jaraknya cuma tiga jengkal saja. "Apapun perintahmu, saya siap membantu."
Ama tersenyum tipis. "Terimakasih."
__ADS_1
Omong omong tentang gudang, Ama baru ingat kalau ada tiga sandera sebelumnya yang sudah ia tembak bius serta mengikatnya kuat kuat. Mungkin, ia bisa dapat info lebih lanjut dari tiga orang itu.
"Ayo, Utan. Ikut saya." Ama menarik tangan Lautan.
"Kemana?"
Tidak menjawab, Ama terus melangkah cepat. Jimmi tidak berani ikut campur. "Kita istirahat. Capek," katanya ke rekan rekannya.
"Capeknya tidak seberapa, Bos. Tapi menegangkannya itu saat nyawa kita diujung kematian. Mana belum sempat tobat lagi, ah. Untungnya ada Purnama dan Lautan."
Di sepanjang perjalanan, anak buah Jimmi terus saling melempar pujian ke sosok penyelamat nyawa mereka.
Ama dan Lautan sampai ke gudang.
"Kenapa kita kemari?" tanya Lautan lagi.
"Mau interogasi orang." Ama menjawab sembari mendorong kotak yang menutupi tiga pria yang sudah ia ikat sebelumnya. Lanjut, Ama memberi suntikan salah satu dari mereka agar sadar dari obat bius sebelumnya.
Baru juga siuman, Ama sudah menaruh ujung pisaunya di dagu sang korban. Lautan hanya duduk santai di ujung kotak besar, membiarkan Ama bertindak sesuka hati.
"Kalau mau tetap hidup, maka katakan tanpa bertele tele dan jujur pertanyaanku, paham?!"
Pria tersebut hanya mengangguk kecil. Ujung pisau Purnama sudah meninggalkan luka dan perih di kulit dagunya.
"Siapa bos kalian?"
"Iko siapa?"
"Bos saya yang punya kepala botak."
Ama mengumpat kesal. Si botak sudah ia bunuh.
"Katakan kepada saya, barang barang penyelundupan ini akan dikirim kemana?"
"Thailand..."
Thailand? Satu tujuan perjalanannya. Apa cuma kebetulan atau memang musuhnya itu berada di sana? Ah, pusing Ama memikirkan teka teki yang masih abu abu infonya.
"Pasti kamu tau, siapa yang akan menerima barang itu di Thailand, kan?"
Pria tersebut menggeleng.
"Ngaku, atau saya tancapkan pisau ini ke leher mu!" ancam Ama tidak percaya.
"Saya cuma pernah mendengar Bos Iko menyebut nyebut nama Tuan Aroon."
Anuman Aroon? Apakah yang dimaksud pria ini adalah orang yang sama?
"Mengapa semuanya terlihat kebetulan, Ama. Saya yakin, Aroon ini pasti orang sama yang kita cari."
__ADS_1
Lautan pun berpikir sama dengannya.
"Di mana saya bisa menemukan Aroon yang kamu maksud?"
"Saya tidak tahu. Saya cuma kacung. Sekali lagi, Bos Iko yang tahu segalanya."
Berang Ama mendengarnya. Jleb... Sejurus, ia kembali memberi obat bius ke orang tersebut yang niatnya akan ia serahkan ke Dibi melalui bantuan Jimmi.
Lautan yang melihat wajah Ama yang sudah babak belur dan stres juga. Segera menarik tangan wanita itu. Bak robot, Ama hanya mengikut datar tanpa mau tahu Utan akan mengajaknya ke mana.
"Kalau kita di laut, rugi rasanya melewatkan pemandangan sunset."
Lautan ternyata mengajaknya melihat matahari terbenam yang sekarang laut dipantuli warna jingga. Indah sih, tapi perasaan Ama kacau untuk menikmati pemandangan alam yang elok di ufuk barat sana.
" Senyum dong. Kan ada aku yang selalu membantu mu." Hibur Lautan. Ama yang menghargai usaha sang sahabat. Memaksa bibirnya melengkung ke atas. Bibirnya yang sempat robek kena pukulan, baru merasakan perih dan berdenyut. Ia meringis spontan.
"Tunggu sebentar." Lautan beranjak pergi. Ama lanjut rebahan di lantai kapal dan malah memejamkan matanya dengan pikiran melanglang buana. Ia capek lahir batin, tidak disangka sangka, ia menjadi buronan polisi padahal selama ini, ia menjadi bayang bayang kesuksesan sang polisi dari pekerjaan totalitas nya di bawa kesatuan SSA.
Derap kaki terdengar, Ama masih bergeming dalam posisinya yang sudah mager. Itu pasti Lautan yang mendekat. Tanpa membuka mata, tangan seseorang sudah mengompres sudut bibirnya. Perih dan sakit, tapi Ama menahannya.
Saat ia membuka mata, pandangan mereka saling bertemu dengan kepala Lautan tepat di depan wajahnya yang rebahan nyaman di lantai kapal. Ada rasa aneh yang menjalar di hati Lautan. Ia salting sendiri dibuat tatapan intens Ama.
"Borjuis, cita-cita mu dalam karir sudah tercapai semua. Selesai misi dalam membantu ku, apa lagi cita-cita mu yang ingin kamu wujudkan?" Ama bertanya sembari menarik tubuhnya untuk duduk.
Belum menjawab, Lautan mencari posisi enak untuk duduk bersilah di sebelah Ama dengan pemandangan sunset di langit senja sana.
"Cita cita? Jelas akan menikahi wanita yang aku cintai."
Ama mencoba tersenyum. "Vanila pasti sangat beruntung mendapatkan pria sepertimu."
Lautan hanya datar. Balik bertanya, "Kamu sendiri, apa rencana mu setelah nama mu sudah bersih?"
"Banyak!" Singkat padat dan jelas, menjawab pun tanpa menatap lawan bicaranya.
"Termasuk hubunganmu dengan Abian?"
"Eum, termasuk menyelesaikan masalah ku dengan Abian secara baik baik tanpa kabur lagi."
"Jangan bodoh, Ama. Jelas nada mu sangat terpaksa. Jangan menikahi pria yang jelas jelas menginginkan mu hanya karena balas dendam." Lautan tidak rela.
"Terus, saya harus apa, eum? Coba katakan pada ku. Setelah nama ku viral di dunia kriminal, apakah ada pria yang ingin memperistri wanita berbahaya seperti ku?" Ama tersenyum miris. Ia baru paham arti sebuah kalimat 'Kelebihan yang dimiliki oleh seseorang, bisa menjadi bomerang dahsyat untuk hidupnnya kelak' setelah ia mengalaminya sendiri. Gara gara cita-cita dan hobi nya sejak kecil yang ingin menjadi perakit bom di bawah satuan tim GEGANA, ia jadi mendapat masalah besar yang belum ada titik terangnya sampai saat ini.
"Yaak ... Pasti adalah pria yang mencintaimu, intinya bukan Abian itu, titik!" Lautan tetap kekeh menyuarakan penolakannya.
"Ya sudah, kamu saja yang menikahi ku." Celetuk Ama berhasil membungkam mulut Lautan yang tiba-tiba gagu kehilangan kata kata.
Tersenyum miring sejenak, Ama lanjut pergi meninggalkan Lautan seorang diri.
"A-ku?" gumam Utan sembari menunjuk ujung hidung nya dengan mata terus menatap punggung Purnama yang kian menjauh.
__ADS_1