Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 17# Menyusul


__ADS_3

Beberapa hari di perjalanan kapal laut, Ama dan Lautan sampai juga di pelabuhan internasional Negara gajah putih. Pelabuhan Laem Chabang namanya.


Kedatangannya ke Negara tersebut, disambut baik oleh Tante Gemi-nya, kembaran Gema - sang Papi. Saat ini, Gemi juga membawa Asnee- anak sulungnya yang berarti sepupu Purnama.


"Kenapa kalian datang menjemput kami?" Bukannya tidak tahu terimakasih sudah disambut baik. Masalahnya, Ama datang ke Negara suami dari Tante nya itu dengan misi menghadapi bahaya, bukan untuk holiday. Ia hanya tidak mau membawa bawa orang terdekatnya dalam ancaman bahaya yang ia pun masih abu abu, masalah apa yang akan ia hadapi nanti?


"Jelas ingin membantu mu, Ama. Papimu sudah menceritakan masalahmy melalui Email khusus ke Tante. Ayo, ikut pulang ke rumah ya? +" Gemi sudah siap menarik tangan ponakannya. Akan tetapi, Purnama masih bergeming tidak mau melangkah.


"Tante, tolonglah. Pahami Ama sekali ini saja. Demi keselamatan Tante sekeluarga, Ama tidak mau melibatkan kalian. Please..." Ama memohon. Asnee dan Lautan cukup jadi pendengar saja.


"Tapi __"


"Please, Tan."


Helaan nafas kasar terdengar dari Gemi, saat melihat tangan Purnama menyatu di depan dada. "Terus, kalian akan tinggal di mana?" Matanya menatap bergantian ke Lautan dan Ama.


"Paling nyewa kamar kecil."


"Pakai apartemen Nesa saja, kebetulan lagi kosong." Asnee bersuara memberi usul. Nesa adalah adiknya yang mengambil study di Negara lain saat ini.


Tapi, lagi lagi Ama menolaknya secara halus dengan alasan kuat seperti pada awalnya yaitu tidak mau mengambil resiko kalau orang yang mengincarnya tahu ia punya keluarga dekat di Negara tersebut. Tidak bisa Ama bayangkan, kalau keluarganya ikut terseret kasusnya. Ngeri mereka kenapa kenapa.


Gemi dan Asnee hanya bisa menghela nafas pasrah dan juga paham kecemasan Purnama. Oleh sebab itu, Ama dan Lautan yang pergi duluan meninggalkan pelabuhan, tidak lagi ia cegah.


"Kali ini, saya setuju keputusanmu menolak bantuan Tante Gemi dan Asnee." Utan bersuara. Mereka berjalan beriringan di antara keramaian malam pejalan kaki.


"Saya juga lebih setuju kalau kamu mundur sebelum terlambat," tukas Ama dingin yang masih berat melibatkan Lautan.


Siul siul dan pura-pura tuli Lautan mendengar kalimat Ama yang malah menyerangnya. "Hooamm..., lanjut pria itu menguap dalam langkahnya.


" Malam ini, kita nginep di hotel itu saja." Ama menunjuk bangunan sederhana yang ada di seberang jalan. Kasihan juga melihat wajah Lautan yang sudah lelah dalam perjalanan kapal laut.


"Maaf, kamar hanya satu yang tersisa," terang resepsionis saat Ama melakukan check in kamar, dengan bahasa English nya karena wajah Lautan dan Ama sangat kentara bukan asli dari Negara tersebut.

__ADS_1


"Tapi, twin bed, ada kan?"


"Hanya tersisa Queen bed."


Ck... Ama berdecak kesal. Badan butuh istirahat, tapi kamar dan kasur cuma satu pula. Masa tidur satu ranjang dengan Utan yang santai santai saja di sampingnya ini.


"Nggak apa, Ama. Hitung hitung ngirit biaya kamar," bisik Lautan enteng. "Kan, kita sudah pernah tidur bersebelahan. Lupa?"


"Itu sih, lain konsepnya, Borjuis. Di kapal kita rame-rame. Lah, di kamar cuma berdua. Ketiganya takut ada setan."


Resepsionis wanita di depannya hanya bisa diam melihat tamunya berdiskusi bisik bisik.


"So, jadi kita jadi nggak nginep di sini?"


"Jadi, tapi awas saja macam-macam."


Ingin loh Lautan mengatakan kesalahan Ama, kalau selama tidur berdesakan di kapal, sahabatnya itulah yang menjadikannya guling. Tapi, Lautan tidak mau saja membuat Ama malu dan menjauhinya karena rasa canggung. Alhasil, Lautan bersuara mengalah, "Iya, saya tidak akan macam-macam."


***


"Kamu sedang apa?" Abian bertanya yang baru masuk ke kamar sang sahabat. Ia dan Vanila sudah seperti adik kakak, sehingga Vanila membebaskan Abian keluar masuk ke apartemennya.


"Mau nyusul Utan."


"Ke neraka?" Abian menyentuh dahi Vanila. Takutnya lagi sakit. Tapi, suhu tubuhnya oke oke saja.


Sejenak Vanila melirik sinis Abian. Kembali lagi sibuk berbenah sembari berkata sedikit judes, "Utan belum mati!"


"Come on, Van. Kamu harus menerima kenyataan demi kewarasaanmu sendiri."


"Kewarasaan? Ck, Kewarasaan yang kamu maksud adalah minum minuman alkohol setiap malam? Tidur di kamar ku dengan suara sepanjang malam menceracau nama Purnama, begitu kah kewarasaan itu Tuan Abian yang terhormat?"


Abian garuk kepala yang tidak gatal. "Ah, masa sih?" Ia juga tidak sadar kalau segitunya mendambakan nama gadis licin itu.

__ADS_1


Ingin sekali Vanila menabok kepala Abian biar gengsinya punah dari otak sang sahabat. Akan tetapi ia tidak bisa melakukannya karena kesopanan. Lebih lebih, ia mengingat jasa jasa orang tua Abian yang membiayi anak pembantu ini sampai lulus kuliah, bekerja dan sukses di bidang desainer. Jadi, sampai kapanpun, Vanila tidak akan bertingkah kurang ajar ke Abian.


"Kalau kamu memang menyukai Ama, jangan gengsi mengakuinya dan ubah sikapmu yang terus menguber dia dengan alibi ingin membalas dendam. Taklukkan dia pakai ini..." Vanila menekan dada Abian. Pria itu diam seribu bahasa.


"Ikut aku ke Thailand, Utan dan Ama ada di sana," lanjutnya.


Abian terkesiap mendengar kalimat Vanila yang terakhir.


"Ama masih hidup? Kamu tidak lagi mengerjaiku kan?"


"Tidak, Bian." terang Vanila menekan yakin.


"Kok kamu bisa yakin, mereka ada di Thailand?" Banyak sekali pertanyaan Abian yang masih tersimpan untuk ia tanyakan ke Vanila.


"Kemarin saya datang ke rumah orang tua Utan dengan maksud ingin silaturahmi dan juga niat mengenang Utan. Tapi, saya mendengar secara tidak sengaja menguping pembicaraan Petir dan Vay yang kebetulan bertamu di sana. Intinya, Ama dan Lautan sedang ada di Thailand dalam keadaan sehat walafiat. "


Abian jadi teringat dengan Ama yang malam itu, datang ke hotel menemuinya hanya karena ingin tau siapa pemilik dua unit apartemen yang di bom.


"Pasti, Ama ingin mencari orang yang bernama Anuman Aroon itu. Ayo, kita ke Thailand." Semangat Abian melebihi antusias Vanila.


Di saat itu juga, Abian dan Vanila memesan tiket.


***


Ke esokan harinya, Ama sudah siap menjalani harinya dengan penampilan serba hitam. Rambut dikuncir kuda dengan tas ransel sudah di punggung.


Di parkiran hotel, Lautan sudah stay cool di atas moge yang baru ia beli beberapa jam yang lalu. Menunggu Ama yang sedang check out di depan resepsionis.


Broomm...


Gas ia mainkan saat Ama sudah terlihat batang hidungnya yang mengekis jarak padanya.


"Siap?" seru Lautan sembari memberi helm full face ke Ama.

__ADS_1


Sambil mengambil helm tersebut, Ama pun menjawab ambigu, "Pesta orang yang bernama Aroon, akan kita meriahkan hari ini."


Ya... Melalui data data yang ia copy dari laptop Abian tempo hari, alamat orang yang bernama Aroon, sangat mudah Ama dapatkan.


__ADS_2