
Waktu yang di janjikan Dusit pada Fren telah tiba. Akan tetapi, anaknya itu belum mengabari apapun kepastiannya.
Penasaran, Fren mencoba menghubungi Dusit. Namun tidak ada respon apapun. Lanjut, Fren menghubungi Ken.
"Ah, Ken pasti sudah mati di bunuh Dusit," gumam nya tidak jadi menelepon mantan juniornya di militer dulu.
Hape yang baru ia letakkan di meja kerja, tiba tiba mendapat chat dari nomer baru.
"Sesuai rencana, nuklir akan meluncur, Ayah."
Fren menyeringai setelah membaca pesan yang ia anggap dari anaknya. Padahal, nomer tak dikenal yang berkode dari negara gajah putih tersebut adalah kelakuan Utan. Tanpa curiga, Fren pun membalasnya, "Laksanakan setelah ayah memberi perintah lebih lanjut!"
Merasa di atas angin, Fren pergi dari ruangannya yang akan menghadiri rapat besar di istana negara.
Ama dan tiga sahabatnya termasuk Utan yang batu dibilangin, kini sudah berada di sekitar istana Negara. Mereka semua menyamar sebagai pelayan pramusaji dengan bantuan Dibi - IRJEN polisi yang tak lain salah satu teman Purnama cs.
"Vay, kamu adalah inti dari kesuksesan ku membersihkan nama baik ku. Chip ini berisi semua bukti kejahatan Fren dan lainnya, ambillah."
Vay mengambil benda kecil tersebut dari Ama. "Aku akan berusaha sebaik mungkin. Dan doakan, semoga aku mudah meretas sistem istana."
Setelahnya, mereka berpencar. Ama kembali bekerja sama dengan Utan. Sementara Vay bersama Guruh menuju ke ruangan sistem. Dua rekan Ama itu, ingin mengambil alih persisteman yang sangat berpengaruh di acara rapat besar kali ini.
Akan tetapi, Vay dan Guruh tidak mudah masuk ke dalam target ruangan di sana. Keduanya harus melewati penjagaan ketat dari kesatuan tentara khusus para anak buah Fren untuk menjadi tim sukses keamanan rapat itu.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" bisik Vay yang saat ini sedang berjalan beriringan dengan Guruh mendorong pelan troli makan bertaplak putih bersama.
Guruh tidak menjawab karena tidak mau menimbulkan kecurigaan pada salah satu dari enam orang yang menjaga pintu itu, melirik teliti ke arah mereka berdua sekarang.
Dengan melempar senyum ramahnya, Guruh dan Vay melewati penjagaan tersebut. Namun tiba-tiba, Guruh yang baru beberapa jarak dari penjaga itu, membuat ulah. Ia sengaja menyandung kaki kiri Vay. Sehingga wanita blasteran itu, jatuh menimpa troli makan sampai gelas gelas berisi serta beberapa piring, tumpah dan pecah ke lantai.
Suara gaduh pecahan itu masuk ke dalam ruangan kontrol persisteman. Salah satu orang yang ada di dalam sana, membuka pintu dan menanyakan 'ada apa?'
"Maaf, teman saya tidak sengaja tersandung." Guruh memamerkan wajah bersalahnya ke para militer anak buah Fren. Vay yang awal nya kesal karena kakinya benar benar sakit ulah Guruh yang tak terduga oleh nya, menahan emosi nya dan berakting meringis. Vay dibantu oleh salah satu pria di depannya. Kesempatan itu dibuat oleh Guruh melirik masuk ke dalam ruangan kontrol. Kakak Ama ingin memastikan, berapa orang yang harus ia lumpuhkan di dalamnya termasuk enam orang penjaga di depannya.
Guruh yang sudah tau cuma ada tiga orang. Segera memberi isyarat kedipan tiga kali ke Vay. Melihat anggukan samar Vay pertanda paham akan kode nya, Guruh tanpa ba bi bu melesatkan tembakan jarum bius ke para penjaga. Bersamaan aksi Guruh, Vay pun beranjak cepat membuka ruangan yang baru di tutup oleh salah satu tiga orang di dalamnya. Seperti Guruh, Vay memberi tembakan bius ke bawahan Fren. Mereka tidak mau membunuh anggota militer yang mungkin tidak tau apa apa akan kejahatan Fren.
"Aku akan membereskan pecahan di depan biar tidak menimbulkan kecurigaan fatal," tutur Guruh yang sudah selesai menggeret semua enam orang tersebut masuk ke ruangan kontrol untuk bergabung dengan tiga orang lainnya.
"Eum..." Vay sekadar bergumam menjawab Guruh karena sibuk memprogram sistem. Materi rapat besar yang di adakan oleh petinggi negara di aula sana, akan Vay ganti dengan kasus Ama yang dialaminya.
"Biar cepat, lu bertiga bantuin gue kek." Jelas Guruh mendumel, tiga kawannya yang memakai baju loreng loreng militer itu, cuma menjadi penonton ngebabunya.
"Sorry, Bro. Tugas kami bukan babu. Nggak elit kalau ngepel lantai."
Guruh memutar matanya malas ke Badai yang berkata songong. Ia juga mendengkus kesal ke Angkasa dan Bumi karena si Twins tertawa diam diam meledeknya.
"Kingkong semua!" umpat Guruh bete. Senyum tertahan si Twins, kian terlihat.
__ADS_1
Di sisi Ama dan Lautan sudah berada di pinggir aula mewah. Pemimpin negara yang termasuk Tuan istana, jelas ada di antara tamu petinggi petinggi negara.
Ama sesekali menghembuskan nafas kasar, mencoba mengontrol emosi nya saat melihat Fren yang duduk bangga di kursi posisinya.
"Jangan sekarang!" Utan sigap mencengkeram tangan Ama untuk menghentikan gadis itu yang beranjak hendak masuk ke tengah-tengah orang-orang penting tersebut. "Kita harus menunggu laporan keberhasilan Vay menguasai sistem," sambungnya menyadarkan Ama.
"Kalian kenapa masih di sini? Cepat pergi, rapat akan dimulai." Satu penjaga, datang tiba-tiba mengusir Ama dan Lautan. Kerjaan mereka memang sudah selesai sebelum para tamu menduduki kursi masing-masing.
"Kami akan pergi!" Ama terpaksa undur diri dengan pergerakan takzim. Di ikuti Utan yang menunduk sedikit kepalanya yang memakai topi pramusaju. Namun, saat lampu sengaja diremangkan efek layar proyektor akan di hidupkan. Seketika Ama berhenti dan berbalik cepat karena Vay sudah melapor melalui earphone yang terpasang dengan berkata, "Film akan di putar saat ini juga."
Pengeboman awal di gedung, sekarang berputar di layar. Membuat para pemimpin negara itu kompak berbisik bisik bingung. Fren pun diam terpaku di tempat mencoba mencerna maksud dari isi layar tersebut.
"SAYA ... PURNAMA BATARA YANG DI CAP BURONAN DUA NEGARA LANGSUNG, BERADA DI TENGAH TENGAH HADIRAN TERHORMAT!"
Suara lantang Ama sembari beranjak ke tengah-tengah ruangan dengan tangan membuka penyamarannya itu, di beri todongan dari segala arah penjuru. Fren pun demikian yang malah siap menarik pelatuknya, tapi Dibi yang sudah mengawasi Fren sedari awal, begitu sigap menodong senjatanya ke arah perut Fren tanpa dilihat oleh orang lain.
"Turunkan atau perut mu akan tersarang peluru ku," bisik Dibi sadis. Fren akhirnya menurut. Walau bukan dari pelurunya, Ama tetap akan di tembak mati dari para pengawal, pikirnya demikian. Meski, Ama di tengah tengah sana mengangkat tangannya pertanda menyerah, anak buahnya tetap akan bertindak.
" Asal kamu tau, semua pengawal berjaga bukan lagi anak buahmu, melainkan anak buah ku. Mereka tidak akan menembak kalau buronan tidak melawan."
Pernyataan lanjutan Dibi, membuat hati Fren mulai risau.
"ADA YANG MAU NEMBAK? MAKA SILAKAN! KITA SEMUA AKAN MATI BERSAMA!"
__ADS_1
Seragam pramusaji berwarna putih yang dipakai Ama, ia buka beberapa kancingnya untuk memperlihatkan bom yang melekat di bagian perutnya.
Tentu saja, tidak ada yang berani bertindak. Mendekati Ama pun, tidak ada sama sekali.