Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 32# Bebas


__ADS_3

Tembakan Asok melenceng, tapi tembakan Dusit tembus dan berhasil mengenai perut Simi.


Tidak mau ketauan, Simi menahan lolongan sakitnya sembari menutup mulut dan perutnya yang berdarah darah dengan susah payah. Setelah menguasai rasa sakitnya itu, Simi bercicit cicit meniru suara tikus yang bertengkar, demi ingin meyakinkan Dusit kalau suara yang tadi hanya lah serangga saja.


Berhasil, Dusit dan Asok saling lirik sejenak. Lalu kompak menurunkan senjatanya. Mereka percaya begitu saja yang di atas sana hanyalah tikus.


"Saya permisi, Tuan Muda." Asok undur diri di kamar sang majikan.


Sambil menggigit gigit ujung bibirnya agar ringisan sakit tidak keluar dari mulutnya yang takut menimbulkan rasa kecurigaan Dusit lagi, Simi pun berangsur pelan merangkak ke arah ventilasi milik kamar Ken.


Simi membuka tutup ventilasi tersebut, sejurus... Bugh...


Ken yang berbaring di atas kasur, di buat kaget oleh jatuhnya tubuh Simi yang berdarah darah di bagian perutnya. "Simi..." katanya sembari turun dari ranjang. Ia mendekat dengan sedikit waspada.


"Ken, tolong aku. Dan kamu harus melihat ini." Suara Simi terdengar lirih dengan tangan terangkat ke arah Ken untuk memberikan hapenya.


"Siapa yang melakukannya?" Ken berjongkok di depan Simi, meraih hape tersebut.


"Dusit... Mereka ingin membunuh kita semua. Termasuk kamu. Lihatlah videonya."


Ken yang tidak mau percaya begitu saja, segera memutar video Dusit dan Asok di hape Simi. Mengetahui kenyataan, Ken ingin bangkit tapi di tahan oleh Simi tangannya.


"Kamu tidak boleh gegabah, Ken. Kamu seorang diri sedangkan mereka banyak. Minta tolong sama Purnama adalah jalan satu-satunya."


Merasa ada benarnya perkataan Simi, Ken pun meraup tubuh lemah Simi. Membawa masuk ke dalam kamar mandi dan membaringkan tubuh itu di bak mandi. Keluar sebentar untuk mengambil kotak P3K.


" Saya akan mengeluarkan peluruh di perut mu."


Simi hanya pasrah di operasi tanpa adanya alat medis apapun. Ken yang termasuk tim SSA dan pernah menjadi militer juga, tidak asing lagi dengan hal pertolongan pertama yang bisa di bilang sangat mengerikan. Mulut Simi, di bungkam oleh Ken menggunakan handuk kecil agar teriakan wanita itu saat di eksekusi tidak sampai keluar dari ruangan.


Menggunakan alat runcing stainles dan pencapit seadanya, Ken memulai aksinya mengorek peluru di bagian perut kanan Simi yang syukurnya tembakan itu tidak terlalu dalam.

__ADS_1


"Hmmppt..." Simi menjerit tertahan dalam operasi tanpa adanya obat bius tersebut. Bak yang berwarna putih bersih, kini ternodai darah. Tidak butuh waktu lama, peluru berhasil Ken keluarkan. Lanjut, pria itu menutup bekes lubang tembakan menggunakan obat merah dan perban medis seadanya.


"Minum obat ini!"


"Ken, aku selama ini patuh padamu. Ku mohon, bebaskan Ama dan kalau ada sesuatu yang terjadi padaku, tolong sampaikan padanya untuk membawa Jane ke panti asuhan yang layak," ucap Simi berpesan.


Ken hanya mengangguk.


Setelah selesai meminum obat, Simi seketika pingsan. Ken membiarkannya istirahat tanpa niat memindahkan wanita itu ke ranjangnya. Ia takut Dusit akan masuk dan melihat Simi.


Keluar dari kamar mandi, Ken mengambil kunci rantai yang membelenggu kaki Ama. Berjalan santai agar tidak dicurigai anak buah Dusit yang berjaga.


"Saya ingin memastikan pekerjaannya, buka pintunya!" titah Ken ke dua orang yang berdiri di depan ruangan tempat Ama di rantai.


Penjaga itu menurut tanpa curiga. Ken pun masuk. Matanya seketika bertemu dengan netra Ama yang menatapnya datar.


"Simi mengutusku untuk membebaskan mu." kata Ken sembari membuka rantai kaki Ama.


"Tertembak..."


Mulut Ama terbuka iba. Ia tidak bersuara karena sibuk mendengar cerita Ken tentang pesan Simi yang memintanya menyelamatkan anaknya serta rencana Dusit yang katanya akan meracuni semuanya.


"Terimakasih pesan mu yang berharga, Ken. Saya akan berusaha menyelamatkan apa yang harus ku selamatkan.


Ken mengangguk. "Sebenarnya, apa pekerjaan kalian sudah selesai apa belum?"


Spontan Ama menjawab 'sudah' tanpa melihat seringai tipis Ken karena terburu buru menyingkirkan rantai di kakinya yang sudah bebas.


"Ken, apa kamu tau, titik penyanderaan Utan dan lainnya?"


Ken menggeleng jujur. "Asok sudah memindahkannya. Tapi setahuku, masih di area pabrik."

__ADS_1


"Aku akan mencarinya."


Saat ingin keluar, Ama yang mengintip terlebih dahulu untuk memastikan keadaan, ia di buat mundur. Cepat cepat ia memasang rantainya kembali dengan kunci sigap ia masukin ke belahan dadanya.


"Ada Asok, Ken."


Ken paham maksud Ama yang ingin mengelabui dengan cara berakting.


Ceklek...


"Tuan Ken, Anda di sini?" tanya Asok penuh selidik.


"Kamu saja kemari, ada eum?" balas Ken sembari melirik ke makanan yang di tangan pria itu.


"Ini malam tau, siapa yang mau makan, hah?" Ama menyela pembicaraan.


"Kata siapa ini buat kamu. Makanan dan minuman ini buat anak Simi serta teman-teman mu yang lupa saya kasih makan sejak tadi pagi. Saya kemari hanya ingin memastikan tawanan liar ini." Asok menatap Ama yang memutar mata malas padanya.


"Sialan..." Ama mengumpat kesal dalam hati. Gilaran diberi makan, ada racunnya, gerutu nya dalam hati.


Namun, sejurus Ama menyeringai. Itu tandanya, Asok akan pergi ke tempat Utan yang entah bagaimana keadaannya sekarang.


"Ya sudah, saya mau istirahat." Ken yang tidak mau dicurigai, segera pergi meninggalkan Ama dan Asok.


Lima menit kemudian, Asok pun pergi. Di luar sana, ia berkata pada bawahannya, "Jaga pintu, kamu dari mana aja sih?"


"Toilet, Bos."


Ama samar samar mendengar hal tersebut yang saat ini sudah membuka kembali rantainya.


Mengintip dari cela pintu, ia melihat Asok berbelok arah dan di samping pintu ada satu penjaga yang hendak rebahan di kursi panjang tersebut.

__ADS_1


Tidak ingin membuang buang waktu yang bisa saja ia kehilangan jejak Asok, Ama keluar dan langsung memutar kepala penjaga itu sampai sampai menimbulkan suara krek.


__ADS_2