Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 41# Nama Baik yang bersih


__ADS_3

Bukan hanya Fren yang mulai risau, Orang orang petinggi Negara pun, kian ngeri melihat bom yang ada di badan wanita buronan yang sangat berbahaya dan pemberani masuk ke Istana Negara begitu mudah padahal ada penjagaan ketat, pikir mereka.


Para ajudan itu, berdiri di depan majikannya masing-masing. Beberapa dari mereka ingin membawa atasannya keluar dari aula. Akan tetapi, Ama kembali terpekik memberi instruksi, "Utan, jangan biarkan satu orang pun meninggalkan tempat!"


Utan mengangkat jempolnya dari kejauhan sana.


"Berani sekali kamu menyandera kami semua! Kamu __"


"Demi nama baik, saya nekat melakukan apapun. Matipun asalkan nama baik saya sudah bersih, maka dengan senang hati saya menerimanya!" Ama mensarkas tegas tegas santai Fren yang pura pura bodoh di dekat Dibi sana.


Setelahnya, Ama membalik tubuhnya ke arah para petinggi Negara. Sekonyong-konyongnya, ia membungkuk takzim tubuhnya lalu berkata, "Beri saya waktu beberapa menit, setelahnya semua keputusan hukuman dari kalian, akan saya terima."


Belum di jawab permintaannya, terima atau tidaknya, Ama sudah menjentikkan jari lentiknya.


Seketika, layar proyektor yang tadinya mengulang ulang pengeboman di apartemen tempo dulu terganti oleh semua bukti bukti kejahatan Fren cs secara bertahap. Sang tersangka - Fren, saat ini sudah berkeringat dingin. Apalagi, Vay yang sudah menguasai kontrol sistem di ruangan lain, sekarang memperlihatkan Topan dan Petir secara video live di pabrik pembuatan nuklir milik Fren. Di layar itu, kepolisian Thailand pun sudah di antara Topan dan Petir yang membenarkan kejahatan Fren secara valid.


"Pencoreng nama baik negara!" hardik para pejabat Negara itu berjamaah ke Frenm


"Saya__" Fren tidak bisa mengelak. Ia tergagap memikirkan cara untuk menyelamatkan dirinya. Berkata pun, rasanya sudah tidak sanggup.


"TANGKAP DIA!"


"Dengan senang hati, Pak!" Dibi sudah sangat tidak sabar menunggu perintah tersebut sedari awal. Ia begitu bersemangat menangkan Fren. Akan tetapi, saat ingin memborgol Fren, pria kriminal itu menggunakan keahlian militernya bergerak cepat melesatkan peluru ke arah tubuh Purnama yang di terpasang bom sembari berkata, "Kita lebih baik mati bersama semuanya!"

__ADS_1


Dor...


Jelas saja semua orang menjerit hebat karena takut bom yang di pakai Ama itu, meledak sesuai pemberitahuan Ama kalau ada yang menembaknya maka semuanya akan hancur oleh peledak tersebut.


Namun kejadian tak terduga, alih alih bom itu meledak dahsyat yang diinginkan Fren, peledak tersebut hanyalah bom asap yang mengeluarkan lambang bendera negara merah putih layaknya kembang api yang pernah menipu Abian dulu. Pemandangan tersebut, sangat menakjubkan para pejabat di depan Ama namun sangat menjengkelkan di mata Fren yang sudah diringkus oleh Dibi dan beberapa anak buahnya.


"Haha..." Ama tertawa mengejek Fren. "Saya tidak akan mati tanpa melihat kesangaranmu."


"Aaarggh... Lepaskan! Lepaskan!" Fren memberontak. Ama yang melihat itu sangat geram, dengan cepat mengikis jarak. Ingin sekali Ama mematahkan batang leher Fren, akan tetapi ia masih punya logika. Emosinya ia redam sebisa mungkin di depan para petinggi Negara demi nama baiknya. Andai ia tidak memikirkan nama baik sang keluarga besarnya, Ama sudah mengambil resiko membunuh Fren dan setelahnya menyerahkan diri ke pihak polisian.


"Selamat menikmati hukuman mu, Pria tua. Ah, satu lagi, anak mu Dusit mungkin menanti mu di neraka sana." Ama berbisik memprovokasi. Ia berharap, Fren kena mental lebih dari hukuman penjara.


Fren yang dicekal Dibi dan tiga orang lainnya, kian memberontak yang seolah olah ingin memakan Purnama mentah mentah.


Setelah bayangan Fren menghilang, nama baik Ama dinyatakan bersih. Para pejabat itu berjanji akan melakukan konferensi fans di publik untuk mengumumkan ketidakadilan Ama yang dialaminya dalam beberapa jam mendatang. Mereka juga meminta maaf serta berterima kasih tulus akan aksi Ama yang berjuang menyelamatkan negara dari bom nuklir. Juga, mereka berjanji akan memberi Ama upresiasi besar.


"Terserah Anda semua. Saya hanya ingin menuntut permintaan yang harus pemerintahan kabulkan."


"Apa?"


"Hukum mati Fren secepatnya!"


Setelah mengutarakan permintaannya, Ama bergegas beranjak ke arah Utan yang sudah menunggunya sedari tadi di pintu keluar.

__ADS_1


Tanpa berhenti sedikit pun meski dipanggil oleh Utan, Ama tetap melangkah cepat melewati Utan.


"Kenapa tergesa gesa begitu?"


"Jangan mengikuti ku! Aku ingin sendiri!"


Utan mana mau mendengarnya. "Aku takut, kamu malah bunuh diri." Katanya bercanda sembari menyamai langkah langkah Ama yang panjang.


"Ck..." Sekedar berdecak Ama bersuara.


"Kamu kenapa sih, kok malah jutek padaku? Apa aku ada salah?"


"Tidak ada yang salah padamu. Tapi kesalahan itu ada pada diri ku karena __" Ama terjeda sendiri yang hampir keceplosan mengutarakan hatinya. Daripada diketawai oleh Utan akan perasaannya itu serta tidak mau menanggung malu akan penolakan, Ama lebih baik mengubur perasaannya.


"Karena?"


"Karena aku ingin istirahat total. Jangan ganggu aku lagi!"


Utan berhenti dan tertegun akan penekanan tegas kalimat Ama. Ia baru tersadar setelah Guruh dan Vay sudah ada di sampingnya.


"Ama kemana?" tanya Guruh.


Utan tidak bersuara.

__ADS_1


__ADS_2