
"Abian datang melamarmu!"
"Aku sudah tau..." Ama menjawab datar Papinya. Saat ini, ia berada di meja makan bersama kedua orang tuanya. Makan malam dengan lahap tanpa memperdulikan tatapan serius Papi, Maminya.
"So, apa kamu mau?" tanya sang Mami dengan penasaran.
Hening, hanya dentingan sendok beradu dengan piring. Ama mempercepat makannya karena ingin menghindar dari pertanyaan menuntut dua orang di depannya.
Sekonyong-konyongnya, tangan sang Papi menggenggam tangan kiri Ama. Lalu berkata dengan sangat bijak, "Ikuti kata hati mu untuk memutuskan sesuatu."
Ama tersenyum simpul akan sikap Papanya yang sangat pengertian. Sejurus berkata dengan sangat ambigu. "Pi, Ibarat kata, dulu Mami mencintai pria lain terus Papi juga sebenarnya mencintai Mami. Maka apa yang akan papi perbuat, merelakan atau memperjuangkan perasaan Papi?"
Satu alis Gema terangkat satu, menatap curiga anaknya lalu menebak sesuai prasangkanya," Apa kamu mencintai pria lain yang bukan Abian?"
Ama berdecak pelan." Bukannya dijawab, malah bertanya selidik," batinnya malu mengakui apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Siapa pria itu, eum?" goda sang Mami kian membuat Ama bete.
"Kan aku cuma bertanya, Mi, Pi. Kok malah __ ah, sudahlah. Kalian tidak seru diajak ngomong." Ama yang ngambek karena malu di goda, hendak meninggalkan meja makan, tapi sang Papi melerai karena pantang bagi kebiasaan keluarga Ama pergi dengan keadaan piring masih berisi.
"Habiskan makanan mu!"
__ADS_1
Ama kembali meraih sendoknya, menurut patuh.
Lanjut Gema ingin bersuara, tetapi sang istri mendahului mengungkapkan pengalamannya sebagai seorang perempuan yang mempunyai pikiran lugas, "Kalau Mami, lebih baik dicintai daripada mencintai. Saling mencintai pun, tidak selamanya ujung kisah akan menjanjikan sebuah pernikahan dan kebahagiaan. Kembali pada takdir dan jalani apapun yang tertulis untuk hidup kita dengan positif. Mami dan Papi selalu mendukungmu, apapun keputusanmu yang menurut mu benar dan baik."
Benar dan baik? Dua kata sederhana dari bibir penuh kasih sayang sang Mami, membuat Ama berpikir keras.
Secepatnya, ia menghabiskan makanannya dan segera izin pergi.
"Harus tau jalan pulang ke rumah!" Sang Mami masih trauma anak gadis tapi badung itu, pergi dan mendapat masalah besar lagi.
"Sip, Mi. Aku pergi ya."
Pipi Gema dan Jum, mendapat kecupan hangat darinya. Lalu pergi berniat bertemu dengan Abian.
Pulang dari melamar Ama tadi siang, Abian langsung kembali kerja rodi di kantornya yang bergerak dalam bidang properti.
Sampai jam sembilan malam, tidak Abian sadari waktu begitu cepat berlalu.
"Hufft ..." Ia hanya menghela nafas berat sembari mengusap wajahnya yang letih. Sejurus, meraih handphone yang ada di sebelah laptopnya. Mata yang lelap, tiba-tiba segar memelototi layarnya saat melihat notif panggilan tak terjawab dari nomer Purnama. Berikut chat Ama yang sarkasme pakai banget karena dikira mengabaikan telepon gadis itu yang kenyataannya suara dan getar hape ia setting menjadi senyap.
Abian gegas meninggalkan ruangannya. Menuju parkiran dan langsung di kagetkan keberadaan Ama yang duduk di kap mobil miliknya.
__ADS_1
"Ha-hay..." Entah kenapa, Abian malah gugup sendiri di tatap intens oleh Ama. Setelahnya, tersenyum manis di hadapan Ama yang berjarak satu langkah. "Maaf, hape saya dalam keadaan silent."
"Mau hang out bersama ku?" Ama to the point. Ia ingin berbicara serius dengan Abian. Dan ajakan Ama itu, membuat Abian tersenyum senang.
"Dengan senang hati. Ayo...!" Abian sangat antusias. Ia segera membuka pintu mobilnya, akan tetapi Ama malah berseru, "Aku lebih suka naik motor."
Abian baru sadar, kalau Ama kembali memakai jaket ojolnya dilengkapi dengan motor matic yang terparkir di sebelah mobil mewahnya.
"Anak ningrat mana kenal ojek, iya kan?" Ama berkata ejek sembari turun dari kap mobil Abian. Saat ingin beranjak ke motornya, Abian sigap menarik kunci motor yang ada di tangan Ama.
"Siapa yang akan menolak berboncengan ojol cantik seperti mu!" Abian sudah stay di atas motor. Ama yang di gombali barusan, hanya datar - datar saja. Tidak banyak ucap, ia pun naik ke boncengan Abian.
"Tempat hang out yang kamu maksud, kemana?" tanya Abian sebelum menyalakan mesin.
"Terserah saja, tapi pilih tempat yang tenang. Aku ingin berbicara serius denganmu!"
Motor akhirnya melaju yang di kemudikan oleh Abian dengan stylish kantor berjas.
Di tengah-tengah perjalanan, Abian sengaja memainkan gas-nya dengan bermaksud Ama kaget dan refleks memeluknya dari belakang. Ama yang sempat melamun, bergerak sesuai niat Abian. Gadis itu, berpegang di pinggang Abian untuk seperkian menit karena sibuk menetralkan jantungnya yang terkejut hebat. Dan pemandangan itu, tidak sengaja dilihat oleh Lautan yang juga sedang berkendara motor.
Lautan segera berbelok arah yang tadinya berlawanan arus dengan jalan yang dituju Ama dan Abian.
__ADS_1
"Benar kah itu, Ama dan Abian? Tapi, kok mesra begitu?" Lautan bertanya tanya sendiri. Ia masih ragu dengan penglihatannya dan enggan percaya kalau Ama bisa nempel begitu dengan Abian.