Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 45# Seperti Kucing


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita bermain? Sekali kali kan, kita bisa berkumpul di apartemen ku."


Selesai membahas persiapan tentang segala pernikahan yang tidak disukai Utan dengar, Abian menarik paksa paksa lembut tangan Ama untuk bangkit dari sofa, menuju meja makan yang kebetulan ada empat kursinya di sana.


Vanila mengekor dengan suka rela. Utan? Pria itu terpaksa berjalan paling belakang dengan tampang datar.


"Main apaan?" tanya Ama. Mereka semua masing masing sudah duduk di kursi.


"Emm... Apa ya yang menurutnya cocok untuk kita berempat?" Abian berpikir dengan mata terus menatap kecantikan alami Ama tanpa make up itu .


"Bagaimana kalau truth or dare?" Vanila yang memberi ide.


Ama tersenyum malas. Permainan yang sangat sangat membuang waktu dan alay menurutnya. Saat ingin berdiri sebagai penolakannya, Utan malah menahan tangannya dan memaksanya duduk kembali.


"Kenapa mau pergi? Kamu takut?" Utan menyeringai sembari menaikkan satu alisnya, menatap Ama dengan remeh, sengaja agar Ama mau. Kalau Ama ikut main kan, ia bisa bertanya sesuka hati.


Ama yang notabenenya gadis yang tidak pernah takut tantangan, langsung menarik botol saos yang isinya masih ada setengah. Memutarnya pelan tanpa melepas sembari berkata, "Truth or dare?" Ama baru melepas botol. Beberapa putaran, tutup botolnya langsung tertuju ke dirinya sendiri.


"Apakah kamu benar benar mencintai Abian? Bak angin, Utan langsung melempar pertanyaan mendahului Abian yang ingin bertanya pun. Akan tetapi, mencerna pertanyaan Utan yang sangat mewakilinya, ia malah berterima kasih dalam hatinya.

__ADS_1


Purnama tersudut. Kalau ia memilih 'truth' artinya akan menjawab jujur yang mungkin bisa membuat hati Abian kecewa karena ulahnya yang kedua kalinya.


Oleh sebab itu, Ama berkata dengan suara tenang sembari menyandarkan punggungnya ke belakang, "Dare!"


Utan menyeringai. Benar saja prediksinya, Ama hanya 'terpaksa' menerima Abian. Buktinya, Ama saat ini lebih memilih 'Dare' berarti 'tantangan' alih alih menjawab pertanyaan entengnya. Awas saja si ebi udang di depannya ini yang sudah berhasil memaksa Ama dengan cara... Entah? Nanti ia akan lanjut mencari tahu.


Biar tidak terlalu kentara tingkahnya, Utan bergerak mengerjai halus halus kasar seperti permulaannya menyepak tulang tulang kering betis Abian di bawa sana sampai suara ngilu ngilu kaget Abian yang mendapat pergerakan kasar tiba-tiba, mengagetkan Ama dan Vanila. Dua wanita itu kompak menatap tanya Abian.


"Sorry, sorry. Aku nggak sengaja. Tadi kaki ku sedikit keram. Refleks aku gerakin kuat dari pada fatal akibatnya." Sok polos Lautan menjelaskan dan meminta maaf saat Abian menatapnya dengan mata kesal. Dalam hatinya berkata, "Emang enak!"


"Lanjut aja, kaki ku sudah enakan kok." Bohong aja Abian ini. Padahal, ngilunya itu loh ... Luar biasa nyut nyut. Setelah menguasai diri, ia membalas Utan dengan berkata remeh, "Rasanya cuma digigit semut manis. Ngagetin doang." Saat berkata manis, Abian sengaja berkedip lucu ke Ama. Utan makin hareudang melihatnya.


"Aww..." Abian kembali mengadu kesakitan akan ulah Utan yang kembali menendang keras dengan terang terangan di bawa sana.


"Eh, kalian bertiga jangan melotot begitu dulu padaku. Kan aku cuma mau menyadarkan kekeliruan Abian tentang tendangan. Yang barusan itu adalah tendangan anakan gajah. Kalau tendangan indukan gajah, lebih sakit lagi dari semut dan anak gajahnya. Mau ngerasain nggak, biar tau bedanya?"


Wajah Abian sangat bete. Inilah sebabnya ia memaksa Vanila dulu membantunya untuk menaklukkan Utan tengil ini, karena sahabat nyebelin Ama itu selalu tidak suka padanya untuk mendekati Ama. Pertanyaan, kenapa Utan sekarang mulai rese lagi?


Graadakk...

__ADS_1


Ama yang muak melihat kondisi yang tidak kondusif lagi antara Utan dan Abian, segera berdiri kasar di kursi kayu itu. Lalu berkata sembari menatap kekasih Utan, "Vanila, kalau mereka berdua masih berantem, maka siram aja pakai air se-ember."


"Eh, Abian dan Utan kan, bukan kucing yang berantem." Vanila menyahut polos membuat Ama kian malas berlama lama di antara tiga orang di depannya. Ia pun pergi begitu saja.


Lagi lagi, Abian dan Utan kompak mengekori Ama.


Dari tempatnya, Vanila bergeming. Menyadari sesuatu yang aneh akan sikap Utan. Semenjak pergi bersama Ama ke Thailand, kekasihnya itu banyak perubahan sikap. Utan cuek padanya dan selalu mementingkan Ama seperti saat ini yang berebut dengan Abian untuk mengantar Ama pulang. Padahal gadis itu, lagi sibuk mengikat tali sepatu yang terlepas tanpa ada niat menyahuti kedua pria tersebut.


Byuur...


"Vanila!" Abian dan Utan kaget mendapat guyuran air setengah ember dari Vanila. Gadis lugu itu benar benar menerapkan perintah Ama.


"Benar kata Ama, kalian seperti kucing. Suka sekali ribut seperti minta kawin." Oceh Vanila. Tapi, suaranya yang lembut, tidak sama sekali menimbulkan kegarangan di perangainya. Lanjut, gadis itu menarik tas nya, pergi begitu saja melewati Abian dan Utan yang melongo basah kuyup. Saat tersadar dari bengong nya, dua pria itu berbalik ke arah pintu, Ama dan Vanila sudah lenyap di depan mata.


"Huu ... Dasar Lautan jelek!" umpat Abian dongkol.


"Woi, ganteng begini lu bilang jelek? Mata lu katarak! Dasar udang ebi!" Utan balas mengumpati Abian yang sekarang berjalan ke arah kamar tak mempedulikan teriakannya.


"Pintu ada di depan, pergi jauh jauh. Suka tidak suka, Ama akan gue nikahin. Lalu gue kurung jadi ratu gue seorang diri. Lu nggak boleh lagi dekat dekat meski memakai kata alasan 'sahabat." Braak... Banting pintu kamar Abian setelah puas melihat wajah kesal Lautan.

__ADS_1


" Ish...!" Lautan mendengus sembari melototi foto Abian yang terpajang di dinding. "Gue congkel juga mata lu." Ia mengomeli foto itu lalu pergi dengan rasa dongkolnya.


__ADS_2