
Dor ... Dor...
Dua tangan Ama menembak membabi buta ke enam orang yang sedang menyandera Jimmi cs. Mereka tumbang setelah melolong sakit.
Saat si Gondrong bin ketua pembajak dan yang lainnya ingin membalas dengan tembakan juga. Ama mendahului melempar bom asap hitam tebal. Membuat sekelompok pembajak itu tidak bisa melihat ke segala penjuru. Trik cantik yang bisa mengecoh lawan beberapa menit ke depannya.
Jimmi dan rekannya tentu saja mengambil kesempatan, menyelamatkan diri masing masing dengan cara berlari cepat ke arah Ama.
"TIARAAP!" Perintah Ama berteriak ke arah Jimmi cs, karena ingin menembaki musuh saat asap tebal masih berfungsi.
Jimmi cs menurut tiarap sembari berguling guling ke arah tong berwarna biru yang terdapat banyak di pojok sana. Sepuluh orang tersebut bersembunyi, sembari menonton aksi Ama dan pembajak itu saling mengadu senjata dengan sengit.
Dor...
Dor...
Dor...
Sekitar dua puluh anak buah si pembajak sudah berdarah darah terkena peluru Ama yang bidikannya jarang meleset.
Si Gondrong dan Si Botak, mengerang murka melihat anak buahnya sudah merenggang nyawa. Ke dua orang itu bersembunyi di tumpukan papan, sedang Ama mengamankan tubuhnya di balik tong biru, dekat Jimmi cs karena asap yang ia ciptakan sudah berangsur menghilang.
Sementara Lautan, dia berada di sayap kapal bagian kanan yang jelas berbeda posisinya dengan Ama yang ada di sayap bagian kanan.
Bugh ... Bugh ...
Satu persatu musuh yang maju, ia lumpuhkan memakai tangan kosong karena peluru senjatanya sudah habis yang sejak tadi digunakannya untuk membunuh cepat lawan yang ternyata hampir semua penumpang adalah musuh dalam pelayaran itu.
Duargh ... Punggung Lautan terkena pukulan balok dari belakang yang kedatangannya secara tak terduga. Ia tersungkur ke depan. Dan wajahnya langsung disambut tonjokan oleh salah satu dari lima pria di sekelilingnya. Mereka tertawa karena berhasil membuat tubuh pria yang sok jadi pahlawan itu terbentur ke besi pembatas kapal.
"Sial, kalian merusak wajah tampanku!" Tidak terima sudut bibirnya berdarah darah Lautan membalik cepat tubuhnya dari besi sebatas dada tersebut. Menatap tajam pria yang memukul nya dengan balok tadi.
"Kami akan membuat tubuhmu jatuh ke laut sampai wajah yang kamu bilang tampan mu itu di makan hiu."
Hahahaha ... Mereka berpaduan suara menertawakan Lautan selesai mengejek sahabat Purnama itu.
"Bacot!" Kali ini, Lautan lebih serius dari sebelumnya. Saat satu musuh mendekat menyerang dengan balok tadi, Lautan mengelak ke kanan. Di balas oleh Lautan dengan cara menendang perut pria itu. Lanjut mengangkat tubuh orang tersebut dan melemparnya ke arah pembatas besi.
"Tolooong..." jeritnya shock dengan tangan bergerak cepat berpegangan kuat di besi itu.
"Ayo, siapa yang mau nolong teman kalian yang akan jadi calon mangsa ikan hiu?" Lautan menyeringai ejek. Sudut bibirnya yang masih berdarah, ia cecap lalu meludah asal asalan.
"Biadab!" Ke empatnya menyerang secara keroyokan. Namun ketangkasan Lautan yang tidak lagi di ragukan beladiri nya, begitu mudah mengelak dengan cara berputar seperti gasing di lantai kapal tersebut. Otot kakinya berhasil menendang tiga lutut kering sang lawan. Lanjut melayangkan kakinya naik ke tepat telor keramat di balik celana pria yang tadi sempat menonjoknya. Lantas, lolongan ngilu sakit pakai maksimal menggema di area sensitif itu. Sekali lagi, Lautan terus menendang bak sam sam buat berlatinya ke arah tiga orang yang masih tidak mau menyerah.
__ADS_1
Bunyi krek, seperti tulang patah terdengar sadis di iringi erangan mengiba. Tapi, Lautan yang sudah marah, tidak segan segan mencekik dua pria sekaligus dengan tenaga kuatnya mendorong ke arah besi pembatas.
Satu musuh mundur mundur melihat kekuatan sadis Lautan yang hendak melempar teman temannya ke laut.
"Jangan, saya minta ampun!"
Tidak ada kata ampun lagi, dengan tega Lautan melempar satu orang tersebut ke laut. Lanjut ke satunya yang tidak berdaya di lantai karena efek cekikan Lautan.
"Giliran kamu menyusul temanmu ke kerajaan hiu." Dua orang sudah berenang bebas ke laut lepas.
"Dan kamu juga harus solid jadi teman." Pria yang sedari tadi bergantungan di besi, Lautan pukul pukul tangannya agar terlepas pertahananya.
"Jangaaaaan!" Percuma memohon. Lautan tidak sebaik itu pada orang yang sudah punya niat busuk. Korbannya pun sudah melayang melayang ke dasar.
"Tadi, perasan lima orang deh, satunya kabur kemana?" Lautan lanjut berburu.
Dor...
Di posisi Ama, gadis itu masih terus baku tembak dengan dua pria sekaligus yang tak lain adalah si botak dan si gondrong.
Saat ingin kembali menembak, Ama kehabisan peluru. Untung baginya dua pria tersebut pun kehabisan secara kompak.
"Kalau kamu merasa jagoan, maka keluar lah. Kita beradu dengan tangan kosong."
Ama yang memang butuh salah satu mereka hidup untuk bisa di interogasi dalang penyelundupan kotak kotak yang isinya ilegal semua, menerima tantangan orang itu.
Ama keluar dari persembunyiannya, begitu pun dua lawannya. Jimmi cs, masih takut untuk keluar. Cukup jadi penonton saja dari balik tong tong biru. Sebenarnya, mereka semua penasaran wajah orang yang ada di balik masker dan tudung berhodie dilapisi topi lagi sebagai ekstra penyamaran orang tersebut.
"Bom, senjata punya Negara, uranium, plutonium dan narkoba yang ada di gudang, akan kalian selundupkan kemana?" Ama bertanya meski sudah menebak kalau mereka mana mau memberi info dengan cara mudah.
"Itu kan, suara Amar..." batin Jimmi yang merafal suara Ama sebagai anak buah barunya.
"Jangan banyak tanya!" Bugh bugh bugh... Si botak main menyerang Ama. Menendang dan meninju dengan teknik muay thai yang masih bisa di halau Purnama. Si gondrong masih menjadi penonton, tetapi saat Ama susah di lumpuhkan, malah berhasil membuat si punggung botak ketendang dari belakang, segera turun tangan.
Dua lawan satu.
Ama terus di desak menggunakan serangan kekompakan dua musuhnya. Sampai sampai tendangan maut si gondrong berhasil mengenai perut Ama, membuat gadis itu terhuyung keras ke belakang. Punggung gadis itu menimpa papan keras yang menumpuk banyak.
Jimmi yang kasihan, keluar dari persembunyiannya. Niat membantu, begitu pun para rekannya. Tapi mundur ketakutan lagi saat si botak mengeluarkan pisau. Seram kalau sampai tertusuk. Mending sembunyi lagi lah. Hanya doa baik untuk Ama ia panjatkan.
"Sok jagoan, cuiihh..." Ejek pria botak tersebut sembari mendekat memamerkan pisaunya ke Ama yang sudah berdiri tegak kembali.
Duagh... Lemparan balok dari Lautan yang baru datang, berhasil mengenai tangan si botak. Alhasil, pisaunya jatuh tepat di hadapan Jimmi. Jimmi mengamankannya cepat dengan mata semakin semangat menonton akan kedatangan Lautan yang ia ketahui namanya cuma Amir.
__ADS_1
" Owh, kamu punya teman?" kata si Gondrong menghadap ke arah Lautan yang menyeringai sembari mendekati Ama.
"Ya, kami cuma berdua. Tapi lihatlah ke sekeliling mu? Semua sampah sampah sudah terkapar." Lautan yang menyahut ejek.
Benar juga kata pria itu. Anak buah nya sudah mati sana sini. Kampret lah.
"Tapi, kami akan mengalahkanmu!" Si botak kembali menggebu gebu. Ama ia pilih sebagai duelnya.
Ke empatnya bertarung tanpa senjata. Ama dan Lautan sengaja tidak saling berjauhan karena ingin mempraktekkan hasil latihan geludnya dengan cara berkolaborasi.
" Ama...!" Kode Utan yang langsung membungkuk ke lantai. Ama yang paham pun, berlompat cepat menjadikan punggung Utan sebagai pijakan kakinya. Layaknya gaya seekor singa yang ingin menerkam musuh, di udara itu, Ama membuka kedua jenjang kakinya lebar lebar dan duagh... Masing masing kaki nya mengenai sasaran empuk wajah kedua musuh dalam waktu bersamaan dengan sangat keras, sampai sampai keduanya memuntahkan darah.
Kesempatan bagus, dengan cepat Lautan mengambil alih saat kedua musuh masih oleng akan tendangan terbang Ama tadi. Utan men-jab dagu si botak dari bawah ke atas. Dan itu sangat menyakitkan. Tidak memberi kesempatan, Lautan lanjut mengangkat tubuh si botak yang sudah tidak berdaya ke arah ... Tentu masuk ke dalam kerajaan hiu bin laut lepas yang menyeramkan di bawa sana.
Duargh... Ama sendiri kembali membuat si gondrong terkapar di lantai. Secepatnya, Ama menaruh kakinya tepat si leher sang lawan. Pisau yang ia taru di sela sela sepatu botnya, ia keluarkan untuk mengancam lawan. Sialnya, penyamaranya terbongkar. Topi Ama terjatuh sehingga rambut indahnya tergerai indah oleh angin laut.
"A-mar cewek?"
Glekk ... Jimmi menelan susah payah ludahnya. Jiper dan takjub sekaligus pada Ama yang jago berkelahi yang notabenenya adalah seorang perempuan. Tidak seperti dirinya dan rekannya, tampan doang sangar tapi isinya kerupuk apek yang melempem.
" Ka-kamu kan yang dicari dan di tunggu tunggu oleh bos ku!" Si Gondrong tersebut sangat terkejut, melihat wajah wanita yang menginjak bagian lehernya.
Bos? Ama jadi bingung. "Siapa Bos mu? Dan cepat, katakan padaku, barang ilegal di gudang akan kamu bawah ke mana?"
"Hahaha ... Aku tidak akan membocorkannya __"
"Kamu akan mati kalau begitu!" ancam Lautan bersuara yang ikut menginjak bagian perut pria itu.
Jimmi masih bergeming ngeri di tempat.
"Lakukan lah!" Pria gondrong itu malah menantang dan lebih siap mati dari pada berkhianat. Dan jleb...
"Oiii.... Biadab! Jangan mati dulu. Katakan padaku, siapa bosmu dan tujuannya apa merusak nama baik ku!" Ama menceracau murka, pria gila itu nekat bunuh diri sendiri dengan cara menarik pisau Ama yang terduga menancapnya ke mata sendiri. Darah muncrat ke arah random.
Jimmi dan rekannya sampai menjerit ngeri melihat aksi gila pria itu.
Ama yang stres oleh konspirasi yang masih belum bisa menebak tujuan dan otak dalangn pelakunya, hanya bisa mengerang murka sembari mengguncang guncang mayat si Gondrong sembari berkata, 'l"ayo bangun."
Lautan berangsur mendekat, menarik Purnama masuk ke dalam pelukannya, berharap sahabatnya itu tenang.
"Suruh dia bangun, Utan. Suruh bongkar maksud dan tujuannya. Dan suruh pula dia mengatakan siapa Bosnya yang menunggu ku."
Lautan cuma bisa mengelus elus lembut rambut Purnama yang masih menceracau.
__ADS_1