Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 20# Ingin Membantu


__ADS_3

Keluar dari bandara. Naik taksi, turun di depan hotel. Vanila yang ceroboh, tidak sengaja menjatuhkan dompetnya di dalam mobil prabayar tersebut yang di dalamnya berisikan identitasnya.


Oleh sebab itu, Vanila dan Abian menghampiri kantor polisi untuk melapor. Tidak terduga, Vanila yang terburu buru karena panik kehilangan barang berharga yang wajib punya sebagai turis di Negara orang, tidak sengaja menabrak sisi bahu seseorang yang tak lain adalah Purnama.


"Maaf__ Ama?"


Terkejut? Tentu saja Ama, Vanila dan Abian terkesiap satu sama lain.


Ama yang tidak ingin ketahuan penyamarannya di depan Aroon, segera mengelak saat Abian pun ingin membuka suaranya dengan berkata, "Saya Amora, Anda pasti salah mengenal orang." Mata Ama berkedip diam diam dari penglihatan Aroon dengan mimik wajah sekilas memelas, berharap Vanila dan Abian peka terhadap kode nya itu. Lihatlah, Aroon sedari tadi menaruh wajah curiga.


"Tapi __"


"Maaf, dia memang salah orang. Tolong dimaklumi karena baru beberapa hari ini dia kehilangan seseorang yang dicintainya." Abian mensergah Vanila yang tidak peka dengan kode dari Ama.


"Tidak masalah, saya maklumi. Kalau begitu, saya permisi!" Purnama pun bernafas lega dan melanjutkan jalannya meninggalkan kantor tersebut. Di susul Aroon setelah menghafal wajah Vanila dan Abian baik baik.


"Bian, itu Ama, Bodoh. Kamu malah melepaskan nya dan menganggap saya stres di depan polisi." Vanila ingin mengejarnya. Akan tetapi ia tertahan oleh cengkeraman Abian.


"Saya tau. Tapi sepertinya dia sedang menyamar yang mungkin paling punya kepentingan khusus di kantor ini." Abian menepuk bahu Vanila. "Kamu masuk melapor, saya kejar Ama. Nanti ku beri kabar setelah bertemu dengan Utan juga."


Vanila setuju dengan ide Abian. Menatap punggung Abian yang sedang berlari kecil membuntuti Ama.


Hempaskan bokong di kursi cafe. Atur nafas yang ngos ngosan lanjut menarik jus jeruk milik Utan yang saat ini menatapnya penuh tanya.


" Kayak dikejar setan aja?" kata Utan santai.


Ama masih menikmati sisa sisa minuman segar di gelas itu. Setelah tandas, iq pun berkata, "Eum, benar. Setannya Abian dan pacar sialanmu."


"Pacar sialan?" Awalnya Utan cuek, tapi setelah mencerna baik baik kalimat Ama, ia sampai berjengit dengan ekspresi terkesiap hebat. "Pacar sialan yang kamu maksud itu Vanila?" Lautan memperjelas lagi. Takutnya, Ama cuma mengerjainya.

__ADS_1


"Vanila lah, memang kamu punya pacar berapa?"


"Ehem... Saya boleh duduk di sini?"


Nah kan, Abian sudah main duduk di kursi sebelahnya. Ama mengusap wajahnya prustasi. Sialan, ternyata Abian mengejarnya sampai ke cafe.


Utan sendiri mendelik horor ke Abian, tapi akhirnya percaya juga dengan omongan Ama akan kehadiran Abian yang disangkanya cuma mengerjainya saja. Tapi, Vanila mana ya?


Abian, pria itu tersenyum lebar penuh arti membalas muka muka asem dua orang di depannya.


"Pelayan..." Pesan minum dan makanan dengan santai di depan Ama dan Utan. "Ah, Sayang. Kamu mau makanan apa?"


Lagi lagi, Ama dan Utan dibuat melongo dengan omongan Abian yang menyapa Ama dengan sebutan 'sayang'.


"Samakan saja dengan menu saya. Empat porsi ya karena satu orang lagi akan bergabung nanti." Final Abian ke waiters karena Ama dan Utan tidak sama sekali meresponnya.


Satu lagi? Itu tandanya, Vanila? batin Utan. Antara ingin pergi cepat membawa Ama di depan Abian, tetapi ia juga galau karena rindu berat pada kekasihnya itu. Okelah, diam di tempat saja dulu menunggu kedatangan Vanila.


"Duduk kembali atau saya akan datang ke kantor polisi dan membongkar semuanya." Abian mengancam.


Wajah Ama merah padam. Murka tertahan akan kalimat Abian yang bisa saja menggagalkan segala plan yang sudah ia atur dengan apik bersama Lautan. Dengan terpaksa, ia duduk kembali karena Abian sepertinya tidak main main.


"Kamu!" hardik Utan menunjuk tajam wajah Abian. Terpancing emosi oleh kalimat ancaman tersebut. Namun, emosinya padam setelah melihat Vanila yang berlari kecil mengikis ke arah cafe outdor yang mereka tempati.


"Aaarggh..." Greebb...


"Lebay..." gumam Ama memutar mata malas akan tingkah berlebihan Vanila yang terpekik manja sembari berlari merentangkan tangan ke arah Lautan. Lihatlah, keduanya pelukan di depan mata Ama dan Abian.


Makanan yang sekarang ditata oleh pelayan di table itu, segera Ama santap dengan lahap tanpa peduli sepasang kekasih yang masih berpelukan melepas rindu satu sama lain.

__ADS_1


Cemburu? Ya ... Ama meradang melihatnya. Tidak munafik, ia menyadari hatinya yang punya rasa suka ke sahabatnya itu. Apalagi, beberapa hari ini mereka berdua terus menghabiskan waktu bersama sama meski dalam artian menjalankan misi.


"Kamu makan terlalu terburu buru, Ama. Hati hati, nanti keselek loh__"


Uhukh... Ucapan Abian belum juga selesai, Ama sudah batuk batuk tersedak. Utan yang baru duduk di kursinya, segera menyodorkan gelas minumnya perhatian yang sialnya Abian pun melakukan hal yang sama dengan Utan secara waktu bersamaan.


Dua gelas ada di depan mata Ama. Tapi gadis itu, menolak kedua gelas tersebut. Ama menarik minumnya sendiri. Menenggaknya cepat dan setelahnya menaruh gelas itu sedikit kasar sampai menimbulkan suara di atas meja.


"Makanan saya sudah habis. Itu tandanya, saya sudah tidak punya kepentingan di sini. Kalian bertiga, jangan ada yang mengikuti saya__ jangan protes Utan." Mulut Utan segera dibungkam saat pria itu ingin menjedanya. "Vanila ada di sini, bawa keduanya menjauh dari buronan Negara seperti saya."


"Ama, kita bisa bicarakan dengan baik baik."


Ama menulikan telinganya akan suara bujukan Utan. "Saya hanya tidak mau ada orang yang terseret dengan masalah ku. Cukup sampai di sini, kalian bertiga bebas holiday di negara ini." Ama sudah masang ranselnya di punggung yang tadinya di bawah meja.


"Tapi, aku kemari ingin membantu mu, Ama." Abian bersuara.


"Bulshiit!" Ama membentak tertahan. Mencoba untuk tidak mengambil perhatian orang-orang yang ada di table sekitar.


"Iya tauuu... Kami mau membantu mu." Vanila ikut bersuara meyakinkan Ama. Gadis tanpa skills beladiri itu sok sokan berani mengambil keputusan yang belum tau apa yang akan nanti dihadapinya. Ama yang ingin menyadarkan Abian dan Vanila kalau ia tidak sedang berholiday di negara gajah putih tersebut, segera menarik pisau makan kotor bekas pakainya tadi. Menaruh tangannya di atas meja dan dengan mata tertutup rapat, Ama menusuk nusuk sela kelima jarinya.


Abian dan Vanila ngeri melihatnya. Salah bergerak sedikit saja maka jari Ama lah yang tertusuk.


Beberapa kali, Ama terus mengulang pergerakan berbahayanya itu, sampai meja kayu terlihat punya bekas tusuk.


"Kalau kamu tidak berhenti, Ama. Saya sendiri yang akan menusuk tangan mu." Utan yang ikut cemas, mengancam demi menghentikan Ama.


Ama pun membuka matanya sembari melepaskan pisau tersebut. "Saya berharap, kalian berdua mengerti apa yang sudah saya perlihatkan barusan." Ama masih bersabar memberi tahukan keduanya. "Ber-ba-ha-ya!" sampai mengejanya kata tersebut dengan mata bergantian memandang wajah Vanila dan Abian penuh keseriusan.


"Ama, benar. Kalian tidak boleh membahayakan diri, apalagi kamu Abian. Kamu dari keturunan ningrat, pasti dibesarkan dengan cara kemayu bukan dengan cara brutal berkelahi. Tolong, bawa Vanila bersama mu pergi dari sini."

__ADS_1


Ucapan Lautan malah memicu adrenalin Abian. Ia hendak membuka suara sarkasme ke Utan, tapi pertanyaan Ama sangat tak terduga. " Tunggu dulu, kalian berdua kapan seakrab ini? Sampai datang bersama ke Thailand?"


Ama dan Lautan memang tidak pernah tahu hubungan persahabatan Abian dan Vanila.


__ADS_2