Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 33# Mati karena Kebodohan


__ADS_3

Bugh bugh kreekk...


Satu persatu Ama membunuh anak buah berjaga Dusit tanpa terdeteksi dan berisik dengan cara membekap kuat mulut sang korban sembari mematahkan leher targetnya dari arah belakang.


Supaya menutupi keadaan yang mulai tidak kondusif akan pembantaiannya, setiap korbannya tersebut di sembunyikan di sela sela perlengkapan pabrik dengan cara menggeretnya.


"Shiit, dia berbelok kemana?" Ama menggerutu kesal. Dua lorong bercabang tidak memperlihatkan tanda tanda kehidupan apapun. Dia kehilangan jejak Asok.


Memakai instingnya, Ama memilih jalan lorong yang kiri. Sementara Asok aslinya mengambil jalan kanan. Pria itu sudah berada di ruangan gelap yang terdapat Utan dan Abian dalam keadaan terikat dengan penampilan nanar mengiris hati. Wajah Utan dan Abian lebam biru ke unguan dengan kelopak mata membengkak parah.


"Makanan untuk kalian. Makanlah..." Seperti binatang yang di beri makan tanpa pakai tangan yang di sodorkan Asok ke hadapan mulut Utan. Membuat sahabat Ama itu meludah ke wajah Asok.


Asok yang berang, hendak melempar satu piring tersebut ke wajah Utan, namun mengingat di dalamnya ada racun, ia pun mengurungkan niatnya.


Sebagai pelampiasannya, Asok memberi tendangan di perut Utan tanpa ada perlawanan dari korbannya karena tangan serta kaki Utan masih di rantai.


"Banci, beraninya memukul orang yang terantai!" Utan sengaja memperovokasi, namun Asok tidak mudah termakan tipuan receh Utan. Anak buah kepercayaan Dusit tersebut beralih ke Abian. Memaksa Abian untuk makan. Alih alih membuka mulut, Abian yang lemah sudah tidak kuat menahan guncangan penyiksaan serta telat diberi makan, berujung pingsan dalam keadaan terikat.


Di sisi Ama, ia memang tidak menemukan Asok. Akan tetapi, Ama menemukan anak Simi yang bernama Jane serta keberadaan Vanila yang terkurung bersama di suatu ruangan.


"Ama..." Vanila berkata lirih dalam keadaan lemahnya yang kelaparan. Di pangkuannya ada Jane yang terbaring lemah. Kedatangan Ama bak cahaya kehidupan baru untuknya.


"Hiks..."


"Ini bukan waktunya menangis, Vanila. Ayo, kamu harus keluar dari sini. Oh, astaga...!" Ama mengerang kesal tertahan saat menyadari ada rantai yang menahan kaki Vanila.


Anak Simi yang tidurnya terganggu, seketika menangis keras karena mengira Ama adalah salah satu orang keji yang membuat keadaannya menderita. Anak Simi itu terguncang dan trauma berat. Ketakutan saat ini sembari memeluk erat-erat leher Vanila.


"Ssstt ... jangan berisik, Sayang. Aku akan membawamu ke ibu__"

__ADS_1


Belum selesai memperingati secara baik-baik anak kecil itu, Asok sudah datang dan langsung menendang punggung Ama.


Ama tersungkur ke pangkuan Vanila. Seperti angin, pergerakan pembalasan Ama berbalik menendang kedua kaki Asok. Pria itu oleng, tetapi piring berisi makanan Asok lempar ke arah wajah Ama.


Ama dengan sigap menangkis piring tersebut menggunakan kaki karena kalau ia sekedar mengelak maka Vanila atau Jane yang sedang menangis itu akan terkena lemparan piring tersebut karena posisi keduanya ada tepat di belakannya.


Pertarungan sengit terjadi. Pukulan saling membeli yang terlihat seri di mata.


Asok yang hendak mengeluarkan senjata apinya dari balik baju, segera di tendang oleh Ama.


Asok yang terpental ke lantai, tidak sengaja kunci yang berada dalam sakunya, jatuh keluar terlihat oleh Vanila.


"Ama, itu kuncinya!" Seru Vanila memberi tahukan. Asok sigap ingin melindungi kunci rantai tersebut, ketika Ama hendak menunduk, Asok dengan cepat menendang benda itu ke arah lain.


Bugh... Bugh... Bugh... Di balas Ama dengan cara menendang babi buta dada pria berotot gede itu.


"Hahaha..." Asok tertawa melihat Ama mengibaskan kedua tangannya yang kesakitan sendiri saat meninju ninju dada nya yang berotot keras.


"Dia kuat sekali." Gumam Ama sembari menatap tajam Asok yang mengejek nya.


"Saya akan memberi mu kesempatan selama sepuluh menit." Asok dengan bangga menepuk nepuk dadanya yang berotot. "Majulah!"


"Dengan senang hati." Ama menyeringai. Ia bukan orang bodoh yang akan terus menyerang dada keras Asok yang sudah terbaca oleh nya sebagai kekuatan pria itu berada di bagian atas tubuhnya yang kokoh.


Oleh sebab itu, Ama dengan santai menendang kemalua* Asok dengan sangat keras.


"Aaaargg... Sialan, saya menyuruh mu memukul dada, bukan __" Bugh... Ama mana peduli dengan keprotesan pria yang ternyata bodoh itu. Tanpa dosa, ia menambahkan serangannya ke Asok dengan cara mengulangi lagi perbuatannya. Asok kian tersiksa karena kelakiannya sakit luar biasa.


Tidak mau kehilangan kesempatan bagus, Ama dengan tega menendang kepala Asok. Pria itu terjatuh. Lanjut Ama menarik kerah baju bagian belakang Asok lalu membenturkan kepala itu ke tembok.

__ADS_1


Bukan hanya sekali, tapi berulang ulang kaki. Vanila dan Jane yang melihat kemurkaan Ama merasa ngeri karena membuat Asok sudah berdarah darah di bagian kepalanya.


"Kamu kan yang sering menyiksa pria yang aku cintai? Nih, rasakan pembalasan ku."


"Pria yang aku cintai?" Vanila bergumam mengulang sepenggal kalimat Ama yang entah tertuju ke Abian atau justru ke Utan?


Kekasih Utan itu terus mengamati aksi Ama yang membenturkan kepala Asok membabi buta sampai pada akhirnya, mata Ama melihat besi runcing di pojok sana.


Aaaargg...


Vanila menjerit shock, saat Ama di depannya main mendorong kepala Asok ke runcingan besi tersebut.


Mata Asok membelalak dengan kepala layaknya baso yang tertusuk. Darah segar Asok pun tidak sengaja mencipratkan ke wajah Ama.


"Kamu memang pantas mati?" Ama segera menarik jam tangan milik nya dari pergelangan tangan Asok setelah membersihkan wajahnya dari darah dengan asal asalan menggunakan ujung bajunya. Masih kesal, Ama menendang mayat Asok lalu melangkah ke arah kunci rantai yang teronggok di lantai sana.


"Apakah pria yang kamu cintai itu Abian, Ama?" tukas Vanila membuat Ama tidak jadi mengambil kunci rantai itu. Sejenak, Ama berbalik. Tidak mau berbohong, Ama lebih memilih membisu sembari meraih kunci tersebut.


"Kok diam saja?" tuntut Vanila ingin memastikan kalau perasaannya salah besar yang mengira Ama itu mencintai kekasihnya. "Jangan bilang, kamu mencintai pria yang sudah punya tunangan."


"Membahas hubungan pribadi bukan tempat dan waktu yang pas." Ama meraih Jane untuk digendongnya. "Nih, kuncinya. cepat buka sendiri dan ikuti langkah ku. Aku akan menaruh kalian di tempat yang aman."


"Apa susahnya di jawab, Ama. Abian atau Utan?" Vanila mulai menyebal di mata Ama. Tapi, ia masih mencoba bersabar.


Sementara di luar sana, Dusit dan anak buahnya sudah mulai geger akan penemuan salah satu mayat korban Ama.


"Tutup semua jalan keluar dan beri titah pada orang yang ada dibalik monitor senjata sistem otomatis untuk segera mengaktifkan." titah Dusit. Alarm darurat pun kini berbunyi berisik membuat Ama mengerang murka.


"Vanila, cepat atau aku tinggal kamu seorang diri?!" gemas Ama karena Vanila terlalu ngotot.

__ADS_1


__ADS_2