Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 27# Rasa Penasaran yang Terjawab


__ADS_3

"Kendalikan dirimu, Ken! Ayah ku akan marah padamu kalau wanita yang termasuk kunci misi kesukseksannya terluka."


Ama memicing penuh tanya menatap Dusit yang berbicara pada Ken. "Kunci misi kesuksesan? Dan siapa Ayah nya yang dia maksud?" batin Ama penasaran sosok ayah Dusit. Kepalanya semakin pusing kalau terus di paksanya menebak teka teki yang entah apa yang orang orang itu inginkan darinya.


"Sebenarnya, apa keuntungan kalian menyandera ku, eum?" tanya Ama yang kesekian kalinya awal dari kedatangannya untuk menyerahkan dirinya, tetapi Dusit tadi malah menyuntiknya obat bius.


Ken, Dusit dan Simi saling pandang satu sama lain sejenak. Lanjut Dusit tertawa garing yang tidak ada hal lucu untuk di tertawakan.


"Kamu penasaran, Cantik?" Dusit mengelus wajah Ama dengan satu jari. Simi yang melihat kegenitan suami bangsatnya, memutar mata muak.


Dengan geram, kaki Ama yang tidak diikat, terangkat untuk menendang perut Dusit. Ia paling benci di sentuh kulitnya tanpa persetujuannya. Otomatis, Dusit tersungkur ke belakang. Bokongnya berdenyut sakit karena benturan kasar.


"Bos muda, kamu tidak apa apa?" Ken dan Asok sigap membantu Dusit untuk berdiri. Simi hanya menyeringai puas melihat aksi pembangkang Ama yang dari dulu paling susah di intimidasi siapapun.


"Dasar wanita liar!" maki Dusit. Ingin sekali dia menghajar Ama, akan tetapi sang ayah sudah mewanti wanti duluan agar tidak bertindak gegabah. "Asok, bawa dia ke inti pabrik."


"Woi, jelaskan dulu apa mau kalian?!" Ama berteriak kesal karena rasa penasaran nya belum dijawab jawab. "Simi, apa yang kamu rencanakan, hah? Ken?" Sembari di geret geret oleh Asok, Ama terus bertanya tanya pada mantan teman SSA nya itu yang sialnya, Simi dan Ken mengabaikannya. Dua pembelot Negara tersebut sengaja sekali menulikan telinganya sembari terus berjalan melalui lorong lorong pabrik yang belum ada pun yang menarik di mata Ama, hanya dinding kaca hitam sebelah kiri dan kanan yang mengiringi jalannya.


Namun, saat lorong itu mentok di sebuah pintu baja berwarna hijau yang sekarang terbuka lebar oleh Dusit, Ama di buat melongo akan pemandangan di depan mata. Bom nuklir berkapaitas atom 75-100 kiloton TNT yang berbentuk sebelas dua belas dengan roket, terlihat jelas di netra nya. Sudah dipastikan, radius yang dijangkau nuklir kalau di aktifkan, pasti lebih jauh. Ngeri Ama membayangkan efek ledak yang akan menghancurkan Negara.


"Inilah alasan nya, kenapa saya bekerja keras membawa mu kemari dengan cara memfitnah mu! Bom nuklir buatan kami masih cacat. Dan kamu, harus membantu ku mengaktifkannya."


Oh, jadi itu alasannya. Ama berdecih tak habis pikir akan kepicikan lawan nya ini.


"Hahaha...!" Ama tertawa ejek. Lanjut berkata dengan santai, "Saya lebih baik tidur, daripada patuh perintah orang pengecut seperti kalian semua!"


"Ama!" bentak Dusit geram. Ama mana takut dengan suara bariton Dusit. "Jangan salahkan saya, kalau namamu akan lebih hancur sebelumnya."


"Memang sudah hancur, bukan?" Ama benar-benar berbicara ejek sesuka hatinya. Dusit sampai mengeluarkan pisau dan menaruh ujung nya di leher Ama. Tapi anehnya, Ama benar-benar tidak merasa gentar. Dengan santai, ia memamerkan muka songongnya. Membuat Dusit semakin geram.

__ADS_1


" Jangan sampai kerjaan ku berjalan sia sia, Purnama. Apa kamu tau, kalau saya sengaja menyuruh Simi meledakkan gedung dengan bom mu sendiri, itu demi bisa membawa mu secara alami ke Thailand. Dan OB yang kamu tabrak di depan WC itu adalah anak buah saya." Dusit menunjuk Asok. Membuat Ama segera mendelik ke pergelangan tangan bagian dalam pria itu, Ama baru menyadari tatto scorpio yang sekarang tertutup di jam miliknya yang dipakai oleh Asok.


"Terus, akui kesalahan kalian." Ama membatin, menyeringai dalam hati. Selama Asok memakai jam miliknya, maka jam tersebut otomatis merekam Dusit berceramah panjang kali lebar yang sangat membanggakan diri karena berhasil membuat namanya rusak di negaranya. Itu tandanya, Dusit tidak sengaja memberi bukti pengakuan yang pasti akan membersihkan namanya dari buronan Negaranya sendiri.


"Pertemuan kita di mall dan menjadi saksi KDRT di kantor polisi, apakah itu juga sudah kalian rencanakan? Tentang penyelundupan senjata Negara, narkoba dan bahan inti pembuatan nuklir, apa kerjaan kalian juga?" Ama sengaja memancing agar Dusit mengakui semuanya.


"Hahaha ... Benar sekali." Dusit tertawa jumawa penuh ejekan untuk Ama dengar.


Ama mendengkus kesal. "Kamu dan Simi memang serasi. Sama sama pengecut!"


"DIAM, AMA! KAMU TIDAK PAHAM POSISIKU!" Simi membentak Ama sembari menunjuk hardik . Di sini, ia pun terpaksa karena anak perempuan nya yang baru lima tahun berada di bawah ancaman Dusit. Sayangnya, ia tidak bisa memberi tahu Ama karena ada Dusit dan Ken yang penjahat sejatinya di depan mereka.


Ama tidak merespon suara terhakiki Simi yang sepertinya tidak suka dicap pasangan pengecut. Ama lebih menyuarakan pertanyaan nya ke Dusit yang sedari tadi ia tahan dengan berkata, "Apa yang akan kamu perbuat kalau fungsi nuklir ini sudah sempurna, eum?"


"Tentu saja memudahkan kami menguasai Negara. Dengan ancaman ledakan nuklir, pemerintahan Indonesia dan kerajaan Thailand akan mudah di atur oleh Ayah saya."


"Belum saatnya kamu mengetahui, siapa Ayah saya. Tapi, sebagai clue nya, kamu sudah kenal orangnya."


Dusit masih mau berteka teki rupanya.


"Baiklah, tak apa. Saya tidak memaksa ingin tau kok. Tidak penting juga untuk saya. Dan ah, tanamkan pada otak ambisius kalian semua, kalau saya tidak mau mengerjakan apa yang kalian inginkan." Setelah berkata, Ama meniup wajah Dusit dengan tatapan ejek. Inginnya sih, Ama ingin menghajar pria yang memelotot padanya. Akan tetapi, tangannya yang diborgol ke belakang tubuhnya, sangat menyusahkan dirinya.


"Kamu harus mau, Ama!" Simi angkat bicara. Ia menggeret Ama yang tadinya ingin di sayat lehernya oleh Dusit menggunakan pisau yang sedari tadi mengancam kulit Ama, ke hadapan alat alat sistem pembuatan nuklir dengan tampang setengah memohon menatap Ama.


"Wow.. Wow.. Woles, Simi. Kamu kan sangat tau cara kerja saya. Di SSA pun, saya itu seenaknya dalam bekerja." Ama puas sekali melihat wajah wajah murka tertahan di depannya. Ia tidak paham dengan wajah Simi yang memohon kepadanya karena nama Simi sudah rusak di mata Ama. "Kalian mau bunuh saya? Silahkan!" Bukannya takut, Ama malah menantang lawannya. Ia yakin, kalau Dusit tidak akan melakukannya karena orang orang ambisius di depannya telah membutuhkan skiilsnya.


"Aku tau, gadis pemberani seperti mu tidak mudah di intimidasi dan diperbudak, tapi bagaimana kalau saya menggunakan keluargamu."


Ama mengetatkan rahangnya. Menatap geram Ken yang tahu kelemahannya yakni memang seluruh orang terdekatnya.

__ADS_1


"Anak buah ku bahkan sudah bertindak di Indonesia sekarang. Mami mu lah target kami!" Ken tertawa setelahnya.


"Kalian pikir, mudah menyentuh keluarga saya, eum? Perlu kalian ketahui, sebelum saya menelpon Dusit untuk menyerahkan diri, saya sudah memberi tahu mantan mantan tim Kurcil Smart ku, bahwa Simi adalah pembelot sesungguhnya dan tentu saja, saya menyuruh mereka menjaga keluargaku." Ama balas menertawakan Ken sembari mengelilingi pria tersebut. Matanya sejenak menatap tajam Simi yang menunduk saja. "Coba cek kerjaan anak buah mu, Ken. Berhasil atau sudah mati?"


Ingin membungkam mulut besar Purnama, Ken segera menghubungi salah satu nomer anak buah terbaiknya yang ia tugaskan untuk menyandera salah satu keluarga Ama. Namun, beberapa kali mencoba menghubungi, Ken tidak ada yang merespon. Kemana mereka? Batinnya resah. Membuang pikiran paranoid nya, Ken lanjut menelepon anak buahnya yang lain. Sama saja tulalit. Lagi lagi, Ken mencoba mengoperasikan layar pipinya tersebut, tapi nihil. Membuat Ama terbahak bahak.


"Damn it!" Dusit mengumpat keras untuk kerjaan Ken yang gagal. Ama berkedip kedip ejek seolah olah dia ketakutan oleh auman lawannya. Sejurus, Ama tertawa tawa bak orang gila. Akan tetapi, tawanya terjeda karena Dusit menjambak rambutnya ke belakang. Tapi anehnya, Ama hanya datar alih alih mengadu sakit. Baginya, kalau ia terlihat lemah di depan lawan, yang ada ia akan semakin diintimidasi.


"Kurung dia di ruangan isolasi dan jangan beri makan ataupun minum sampai dia setuju mengikuti perintah saya." Dengan kejam, Dusit mendorong kuat tubuh Ama ke arah Asok. Gadis itu tersungkur dengan posisi tengkurap. Dagunya bergesekan ke lantai tepat di depan kaki Asok. Cecap amis darah terasa di mulut Ama. Tanpa mengadu sakit, Ama bangkit di bantu oleh Asok karena ia memang kesusahan bergerak akan tangan yang masih terborgol.


"Cuihh..." Sebagai bentuk protes kecilnya, Ama meludah sembarangan dengan mata predator menghunus ke arah tiga orang yang ada di hadapannya secara bergantian.


Dalam geretan Asok ke ruangan isolasi, Ama terus memikirkan keselamatan keluarga serta orang orang terdekatnya. Ia cuma berharap, Guruh - kakanya serta sahabat sahabatnya yang ada di Indonesia berhasil melindungi keluarga besar klan Batara.


"Bujuk dia, Simi. Atau Maugi, anakmu itu akan tinggal nama saja. Kan kamu tahu bagaimana kejamnya Ayah, ia tidak akan segan segan bertindak hal keji demi tujuan besarnya tercapai. Paham!"


Simi hanya pasrah dagunya di cengkeraman kuat oleh sang suami. Setelah mengangguk, wajah itu dihempaskan kasar begitu saja oleh Dusit.


Tanpa berkata kata lagi, Simi mengikuti Asok yang telah membawa Ama.


" Eh, Asoka jelek. Aku ingin ke toilet dulu, kebelet nih!"


Pria berotot kekar itu, seolah-olah tuli. Ia berpikir, kalau gadis licin tersebut hanya beralasan.


"Ck, jangan salahkan aku kalau __" Broot.


"Bau sekali!" Asok mendumel kesal. Tapi, ia enggan mempercayai Ama. Ia malah mendorong Ama ke ruangan isolasi yang gelap dan sempit.


"Sial, udah susah payah ngentut paksa, tapi kacung kampret itu pintar juga," batin Ama menggerutu. Rencana, setelah borgolannya di lepaskan, ia ingin merebut jamnya yang di pakai Asok dan kabur dari tempat berbahaya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2