Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 9# Memaksa Ikut Misi


__ADS_3

Keluar dari sungai yang cukup jauh dari TKP jatuhnya mobil. Lautan dan Purnama hampir kehabisan nafas karena terlalu lama di dalam air. Keduanya kompak menjatuhkan bokongnya ke rerumputan dengan keadaan basah kuyup. Angin malam yang berhembus dingin, semakin membuat dua orang itu menggigil.


"Mobil ku..."


Purnama melirik malas pada Utan yang masih merengek kehilangan mobilnya.


"Jangan kayak anak kecil deh, Utan. Katanya seorang borjuis yang tajir melintir, masa kehilangan satu mobil aja mewek."


Tanpa peduli rengekan Lautan, Purnama yang masih mengatur nafasnya, segera membaringkan tubuhnya di rerumputan. Otomatis, Lautan ketarik ke arah rebahan Purnama karena borgol yang masih menyatu di tangan mereka.


"Ayo, buka segera borgolnya," titah Ama. Ia sempat melihat Lautan mengambil kunci borgol ini dari polisi tadi secara diam-diam.


"Ah, iya. Tunggu sebentar." Rogo kantong celana, kosong. Sebelah kiri, kosong lagi. "Hais, Ama. Kayaknya jatuh di dalam air atau di mobil yang sudah kamu ledakkan."


Lemas Purnama mendengarnya. Menoleh cepat ke samping, deg... "Mundurin wajah mu, Borjuis." Hampir mereka berciuman.


Lautan menyeringai. Malam malam goda sepupu tidak ada salahnya buat hiburan di tengah malam sepi itu. "Kissing-ku mantap tau, Ama. Vanila aja nagih. Mau coba?"


"Adanya bau jigong dan Vanila kan memang maniak liur."


"Wangi kok. Nih, buktinya." Haaaah... Nafas naga menyembur wajah Purnama. Sampai gadis itu memejamkan mata saking semangatnya Lautan meniup.


"Jijik, sumpah."


"Hahaha..." Lautan tergelak. Kalau Ama sudah cerewet begitu, pasti gadis ini sudah memaafkannya. Ia dan Purnama sudah bersama dari orok, jadi ia sudah hafal luar dalam sifat masing-masing. Dan Purnama, kalau marah sama orang terdekat, jurus andalannya adalah bisu seribu bahasa. Dan Lautan paling tidak betah di beri jurus bisu itu.


Hening...


Purnama kembali menatap langit malam bertaburan bintang di atas sana. Memikirkan nasibnya yang malah jadi buronan Negara. Jadi bulan bulanan Abian saja, ia sudah capek. Ini, malah di uber yang lebih ganas.


"Tolong beri penjelasan baik baik ke keluarga ku, Utan. Terkhusus Mami ku, bilang pada mereka kalau aku akan pulang setelah misi dan namaku sudah bersih dari tuduhan." Kali ini, intonasi Purnama cukup serius.


"Ck, kamu pikir, saya akan tega meninggalkan mu seorang diri berjuang, hah?"


"Yeak, jangan dicubit juga kali!" Manyun manyun Purnama sembari mengelus pipinya yang memerah. "Dan, apa maksudmu?"

__ADS_1


"Ish, kadang orang pintar itu juga lemot dan tolol. Dari awal Kak Dibi memberi info kasus mu, yang saya setujui membantumu lepas dari kepolisian tadi, itu tandanya saya siap berpetualang dengan mu. Cukup beri tau aku, apa rencana mu selanjutnya? Aku sudah siap empat lima menjadi ajudan mu."


Purnama menggeleng. "Aku nggak mau kamu terseret dalam bahaya. Masalah yang ku hadapi layaknya rantai yang belibet. Aku yakin, entah di SSA, TNI atau kepolisian yang memiliki tujuan tertentu padaku? Itu PR ku yang harus kupecahkan. Dan kuncinya, aku harus ke Negara Thailand untuk mencari orang yang bernama Anuman Aroon, si pemilik unit kamar yang meledak. Coba pikir, banyaknya kamar di gedung itu, tetapi kenapa dua bomnya ada di titik unit yang sengaja dibeli sebelumnya?"


Lautan manggut manggut mendengar penjelasan Purnama. Karena dia juga suka petualangan, Lautan tetap memaksa akan membantu.


" Terus, Vanila bagaimana, eum?"


" Yaak, nggak gimana mana. Nanti aku akan beri kabar __"


"Kabar apanya, hah?" Purnama menserga cepat. "Kalau kamu niat membantu maka harus totalitas. Di depan Simi dan polisi tadi, kita sudah mati."


Lautan yang cerdas, sudah cukup mengerti maksud Purnama. Handphone yang masih di dalam saku, ia keluarkan.


"Maaf ya hp canggih ku, kamu harus ku kuburkan di air." Plung ... Karena tidak mau terdeteksi, hape anti air itu, Lautan lempar ke sungai. Purnama sendiri, dari awal sudah tidak membawa barang barang yang bisa dilacak oleh SSA dan pihak berwajib lainnya.


Dan malam itu, mereka sibuk menyusun plan demi plan agar bisa pergi dari Negara menuju ke Thailand tanpa identitas terbongkar.


Bisa dikata, keduanya sudah ilegal bagi Negaranya apalagi Negara orang.


Paginya, Purnama yang silau akan sang fajar yang mulai menyapa bumi, terbangun dari lokasi yang masih sama semalam. Lirik ke samping. Eh ... Ternyata dia tidur berbantalkan lengan berotot Lautan. Cepat cepat Purnama bangkit. Ia lupa kalau tangan masih terborgol, sehingga mengakibatkan tangan Lautan yang lemas itu tertarik. Otomatis, pria itu terganggu.


"Hoaamm ... uda pagi ya? Eh, Ama. Kamu mau apa buka kancing celana?" Baru bangun, Lautan sudah diberi sarapan shock aja. Jangan bilang, Purnama minta anu anu.


"Dasar otak kotor. Balik badan sana. Saya mau pipis."


"Hahaha..." Lautan terbahak bahak.


"Ngekek aja terus kayak kuntilanak. Cepat ah, kebelet nih."


"Iya, iya... Hahaha..." Lautan sampai sakit perut. Berbalik cepat karena kasihan juga pada kondisi Ama yang memepetkan paha karena menahan air kecil.


"Ini tu karena kebodohan mu. Nolong sih nolong, tapi nggak ikut diborgol kan bisa. Oon sekali jadi manusia!"


Biarkan Ama mengoceh di sepanjang pipisnya. Lautan masih menikmati tawa gelinya. Pasti Ama tidak cebok.

__ADS_1


"Uda!" seru Ama. Santai sekali dia tanpa malu di depan Lautan. "Ayo pergi. Di sini bau pesing."


"Hahaha..." Lautan tidak bisa menghentikan tawanya. "Ama, cebok dulu. Noh, ada sungai," goda Lautan.


"Berisik!" Purnama mendumel. Menarik ransel lalu beranjak pergi. Lautan hanya pasrah digeret geret tangannya. Pria itu masih senyum senyum di belakang jalan Purnama dengan tangan masih terborgol.


"Kita cari orang yang bisa memotong tangan mu," seru Ama tanpa hati. Mereka memang terdampar jauh dari kota. Banyaknya pohon sekitar membuat jalan mereka sedikit bingung, akan menuju kemana?


"Ck, nggak dengan cara potong tangan segala kali, Ama. Aku bisa..." Lautan tiba tiba menarik jepitan hitam kecil yang ada di ikat rambut buntut kuda Purnama.


"Duduk di pohon sana saja dulu." Lautan memimpin jalan. Setelah di tempat teduh, mereka duduk bersebelahan dengan Lautan berusaha membuka borgol oleh bantuan jepitan yang sudah di bentuk bengkok oleh Lautan.


Beberapa menit, Lautan pun berhasil. Itu malah membuat Purnama mendumel, "Dari semalam kek, Utan. Kan nggak pegal tangan kita, Bego."


"Ya, terus saja salahkan aku __ Eh, malah ninggalin lagi. Amaaaa, tunggu!" Lautan mengejar lari Purnama. Jangan bilang, ia akan ditinggalkan.


"Ini misi ku, Utan. Kamu tidak boleh ikut karena sangat berbahaya. Pergilah ke arah lain. Saya hanya tidak mau menyesal seumur hidup ku kalau kamu mendapat musibah. Pergiiii!" Purnama masih tidak setuju melibatkan Lautan. Ia berseru tanpa menghentikan lari cepatnya.


Tapi, bukan Lautan namanya kalau ia takut mati. Terus menerus mengejar lari Purnama tanpa peduli larangan gadis keras kepala itu. Sampai pada akhirnya, Lautan menerjang tubuh Ama dari belakang dengan rangkulan kuat tersemat di leher Purnama.


"Apa melotot? Aku colok matamu kalau niat mengusirku. Sesuai rencana semalam, kita akan berjuang bersama membersihkan namamu!"


Purnama sesak dirangkul kuat kuat bagian leharnya. "Iya, iya, kamu boleh ikut. Tapi lepaskan dulu tangan mu."


"Ogah ketipu aku! Nanti kamu kabur lagi." Rangkulan kian mengerat. Semak semak ilalang terus mereka terjang tanpa risih. Karena medang ditumbuhi rumput tinggi menutup tanah, kaki Lautan tidak sengaja menginjak ujung batu besar. Bugh... Ia terjatuh tetapi tidak mau melepaskan tangannya dari leher Purnama. Daripada ditinggal kabur, biarin Purnama ikut jatuh juga, tak apa tubuhnya tertimpa kemolekan sahabat nya ini.


Cup...


"Hiahhh ..." Purnama menjerit tepat di depan wajah Lautan yang masih berada di atas tubuh pria itu. Tadi, scane tak terduga terjadi. Bibir seksinya, tidak sengaja menempel di bibir Lautan. "First kiss ku hilang oleh mu, Borjuis jelek. Sialan!" Bugh ... bugh ... bugh ...


"Hahaha..." Bukannya merasa sakit digebukin dadanya kesal oleh Purnama, Lautan malah tertawa tawa. Bahkan, saat mereka sudah berdiri, Ama berhasil menendang bokongnya. Kasar memang, tapi Lautan suka melihat gadis itu kebakaran jenggot.


"Gimana, meski sekedar menempel biasa, enak kan rasanya? Mau coba yang bisa bikin panas dingin nggak? Yuk, kita praktekin__" Alamak, bom uda keluar dari ransel. Mendadak Lautan men-zipper mulut jahilnya. Ama sudah marah betulan ternyata.


Dari pada dibungkam oleh coklat panas cap buatan Purnama, Lautan pun sekedar bersiul siul saja mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Entah mimpi apa aku semalam bisa kembali menjalankan misi dengan mu yang tidak pernah serius!" sembur Purnama galak. Lalu segera melanjutkan perjalanan tanpa peduli lagi dengan Lautan yang cuma tercengir bodoh.


__ADS_2