
Srreeeet...
Zipper jaket kulit berwarna hitam, Ama tarik naik menutup sempurna tubuhnya. Celana kulit serba ketat pun sudah terpasang apik. Kalau kostumnya sudah serba hitam begitu, itu tandanya ia siap melaksanakan misinya.
Keluar dari kamar mandi, tiga orang sudah menyambutnya dengan tatapan susah diartikan. Tanpa membalas tatapan dari mereka, Ama main tarik ransel dan peralatan lainnya yang memungkinkan akan ia butuhkan untuk memburu Aroon yang katanya akan ke markas.
"Aku mau ikut!" Vanila memprotes ke Utan yang juga lagi bersiap siap memakai jaketnya.
Sementara Abian, dia juga membuntuti Ama yang sedang memakai sepatu.
"Jangan merengek seperti Vanila!" tukas ejek Ama ke Abian yang cuma diam saja.
"Aku akan menurut apa mau mu, telpon aku kalau butuh bantuan." Demi mencari perhatian Ama, Abian menurut manis.
Lantas atensi Ama jatuh penuh ke samping, di mana Abian tersenyum manis padanya. Alis Ama terangkat satu sejenak, tumben sekali Abian tidak menyebalkan, batinnya.
Beda dengan Vanila yang masih merengek ke Utan. Ama yang kesal, mengeluarkan pisau yang baru ia selipkan di sepatu bot hitamnya. "BERISIK!" bentak Ama sebagai kode untuk Utan agar menyelamatkan kekasihnya karena ia berkata sembari melempar pisau tersebut.
Vanila menjerit. Menutup matanya shock saat Ama tiba tiba melempar pisau itu ke arahnya. Untung, Utan sigap menepis pisau tersebut dengan cara menendangnya.
"AMA," bentak Utan yang tidak terima kekasihnya akan dicelakai. Sejurus, ia menyadari suara baritonnya ke Ama yang menatapnya dingin sekarang.
Ama tersenyum dingin. "Aku hanya memberi dia pengalaman berharga, kalau-kalau dia masih kekeuh mau ikut maka ia harus tau, pisau atau peluru kapan saja akan mengancam tubuhnya yang hanya bisa menjerit tanpa mau mengelak. Saya melempar pisau itu juga, karena saya tau kamu pasti sigap menolongnya. So, kamu di sini saja, jaga baik baik Vanila atau kalian bisa jalan jalan sebagai turis di kota ini. Cukup Abian yang ikut dengan ku. Abian, cepat ganti bajumu!"
Abian tersenyum jumawa ke Utan yang nampak kesal karena di sarkasme oleh Ama. Gegas Abian bergerak ingin ganti baju. Masuk ke kamar mandi.
"Vanila, please, jangan merusak plan kami. Kamu baik baik di sini."
Setelah berkata ke Vanila yang masih shock dengan pergerakan Ama yang menyerangnya, Utan segera menarik paksa Ama untuk pergi dari kamar itu. Ia tidak akan membiarkan Ama pergi bersama Abian yang tidak punya pengalaman menjalankan misi berbahaya.
Ama tidak memberontak, menurut saja yang saat ini Utan terus menggenggam tangannya. Naik ke boncengan pun sama sekali tidak banyak berkata. Inilah yang ia inginkan dari Utan yaitu keprofesionalan.
"Loh, Ama mana?" Abian sudah rapih yang baru keluar dari kamar mandi, kaget hanya mendapati Vanila yang bersungut sungut kesal ke Ama.
"Sudah pergi!" katanya jutek.
"Ck, dia menipu ku." Abian berkacak pinggang bete.
"Bukan Ama yang menipu mu, tapi Utan yang menarik narik Ama pergi secara paksa. Tidak rela dia, kamu akan pergi bersama Ama." Awas saja Utan kalau sudah balik, ia akan ngambek, niatnya dalam hati.
"Tidak rela? Apa kamu yakin?" Abian menaikkan satu alisnya, curiga dengan sikap Utan yang seharusnya tidak usah berlebihan terhadap Ama. Layaknya dirinya dengan Vanila yang cuma sebatas teman. Sahabatnya itu mau jalan sama Utan atau pria lainnya pun, ia oke oke saja. Tapi Utan?
" Apa Utan punya rasa ke Ama?"
"Ngaur!" sembur Vanila cepat. Ia juga langsung memamerkan cincin tunangannya ke Abian yang melingkar di jari manisnya itu. "Nih, cincin ikatan kami, Utan mencintaiku, tidak mungkin dia sama Ama punya rasa."
Abian mengedikkan bahu cuek. Lalu berjalan ke arah pintu.
"Kamu mau kemana, Bian?"
"Yang jelas mencari angin dan hiburan. Sumpek di dalam kamar terus."
__ADS_1
"Ikut...!" Vanila berseru sembari mengekori Abian yang cuma diam kembali.
***
Di bawah langit gelap, Utan terus mengendarai motornya dengan Ama di boncengannya sedang membaca GPS yang menyambung ke hape Aroon. Beberapa lama berkendara, titik GPS lokasi Aroon sudah berada di tempat yang sama.
Keduanya menatap gedung bertingkat lima di depannya.
"Ini club malam," kata Utan di angguki Ama.
"Markas yang dia maksud, cuma club, Ama."
"Eum, tapi insting ku mengatakan ada hal penting di dalam sana. Aku akan masuk."
Mereka berpencar dengan earphone sudah saling terhubung.
Terlihat, penikmat club malam di depan Ama sedang berdisco heboh di lantai dansa diiringi musik DJ seksi di atas fodium kecil sana. Sembari mencari cari keberadaan Aroon, Ama duduk di depan meja bartander.
"Pesan satu minuman rendah alkohol," kata Ama agar tidak terlalu mencolok yang cuma numpang duduk saja.
Meski penampilan Ama tidak terbuka, tapi kecantikan yang khas dan postur tubuh profesional nya, mampu menarik pasang pasang mata pria yang ada di sekelilingnya.
"Pelanggan baru, Cantik?" Pria di sebelahnya menyapa dengan pandangan penuh minat ke Ama.
Ama mengangguk sebagai jawabannya.
"Mau berjoget bersama?"
Ama tidak meladeni. Gadis itu berdiri dari kursi. Terus dibuntuti oleh pria tersebut, sampai sampai berani mendekati Ama, dengan sedikit paksa mendorong pelan Ama ke pojok tembok.
"Menyingkir atau__" ancaman Ama terjeda. Lautan tau taunya sudah ada di depannya yang langsung menjambak rambut pria itu ke belakang, lalu... Bugh. Hidung pria itu sudah mencucurkan darah ulah tonjokan keras Lautan.
"Kenapa kamu diam saja?! Saya tidak suka kalau ada yang menyentuh mu meski cuma seujung kuku pun, Ama!" Marah Utan membuat Ama membeku seperkian detik tentang kalimat Utan yang terkesan cemburu. Lagi, Utan menghajar pria itu dengan tendangan ke belakang. Club tersebut jadi ricuh akibat Utan yang tersulut emosi.
" Maaf, maaf. Dia lagi mabuk dan cemburu ulah pria itu yang mendekati saya." Ama sengaja berbohong demi mengibuli orang-orang sekitarnya termasuk tiga penjaga club yang otot ototnya sangat besar. Ia tidak mau di usir. So, kambing hitamnya adalah pria yang sudah tergeletak di lantai.
Cemburu? Lautan bergumam mengulang dua kata itu. Apa benar ia lagi cemburu? Segera, ia menarik Ama ke pojokan. Orang-orang pun sudah tidak peduli sekitar karena pria korban Utan itu sudah diamankan bodyguard club.
"Apa sih?" cicit Ama, aneh melihat tingkah Utan yang cepat berubah ubah.
"Kamu bilang, aku cemburu?"
"Pikir saja sendiri__" Ama tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah menyembunyikan wajahnya di dada Utan sembari melingkarkan tangannya di leher sang sahabat secara tiba-tiba. Dari belakang, posisi keduanya terlihat sedang bercumbu bibir.
"Apa yang kamu __"
"Diam dan jangan menoleh ke belakang. Ada Aroon dan dua pengawalnya yang akan melawati kita."
Deg degan jantung Utan akan posisi yang intim itu. Demi hubungannya bersama Vanila, Utan mencoba menepis rasa aneh yang sudah menjalar di dalam tubuhnya.
Saat Aroon sudah melewatinya, Ama pun segera membuntuti, meninggalkan Utan yang masih mencoba menetralkan perasaannya yang kacau sendiri.
__ADS_1
Aroon naik ke lantai dua. Ama mengikuti dengan pergerakan pelan dan hati hati.
Utan pun yang sudah menguasai dirinya, akhirnya bergerak mengikuti langkah Ama. Ia mengesampingkan terlebih dahulu rasa yang mengganggu hatinya itu demi keberhasilan misi sang sahabat.
"Dia masuk ke pintu VIP dua," jelas Ama memberi tahukan.
"Tidak ada cela selain lewat pintu utama." Utan mengamati sekitar.
Tap Tap Tap...
Seorang pelayan wanita terlihat menaiki tangga, membawa baki yang isinya tiga botol wiski mahal serta gelas gelas unik. Saat melewati Ama dan Utan, keduanya melihat kertas yang ada tulisan 'VIP 2' di atas baki itu. Mengerti kode mata Ama yang seolah olah berkata, 'tahan pelayan itu.' Utan pun pura pura mengerang sembari memegangi perutnya. Sontak, Sang pelayan berhenti, menoleh ke belakang. "Ada apa, Tuan?"
"Sakit perut!" Utan meringis bohong. "Tolong ambilkan air untuk minum obat atau saya bisa mati!"
"Tapi, saya harus mengantar __"
"Baki ini titip saja dulu ke saya. Cepat ambil air, atau saya akan laporin ke atasanmu karena mengabaikan tamu VIP satu seperti bos saya." Ama mengambil alih baki tersebut secara paksa di tangan pelayan. Mau tak mau, pelayan tersebut turun ke lantai satu untuk mengambil air pesanan Utan yang katanya tamu VIP.
Kepergian pelayan itu, Utan segera memasang penyadap suara di sisi baki.
" Beres..." kata Utan.
"Bagaimana, kalau saya saja yang masuk membawa bakinya?"
Ide Ama ditolak mentah mentah oleh Lautan. "Ini bukan saatnya untuk menyerang. Kita perlu tau dulu siapa orang orang yang menjadi rekan Aroon. Lebih lebih, kita belum tau jelas, apa tujuan utama mereka."
Lagi asyik bertukar pendapat, Pelayan tadi sudah tiba.
"Ini minumnya, Tuan. Segera minum obat dan lekas sembuh." Utan meraih mineral yang masih tersegel. Ama memberi tip untuk sang pelayan.
"Terimakasih...!" Pelayan tersebut pun mengambil bakinya dan beranjak ke pintu yang bertulis VIP 2. Ama dan Utan segera mencari tempat aman untuk menguping pembicaraan Aroon dan rekannya.
"Satuan!" Utan merebut satu handset di kuping Ama.
Terdengarlah suara suara percakapan Aroon dan lawan nya melalui penyadap itu.
"Kalian itu bodoh semua! Tidak becus! Sekarang, barang barang yang kita selundupkan susah payah, jatuh ke tangan IRJEN polisi jujur dari Indonesia yang susah di suap kekuasaannya."
"Siapa, nama polisi itu, Bos?"
"Galaksi!"
Utan dan Ama saling lirik. Mereka membicarakan Dibi yang mempunyai nama asli 'Galaksi Miller Al Malik'.
"Jimmi dan anak buahnya gercep juga kerjanya." Gumam Ama yang memberi tugas ke anak buah Guntur untuk membawa senjata milik Negara, narkoba dan lainnya.
"Untung, anak buah yang ada di tangan Galaksi, sudah dibereskan oleh rekan kita sebelum membongkar identitas bos besar."
"Fixed, ada polisi Indonesia yang bergabung dengan mereka. Kalau tidak ada kan, mereka pasti susah menembus pertahanan kekuasaan Kak Dibi."
Ama mengangguk akan kesimpulan Utan. "Siapa bos besar yang mereka maksud?"
__ADS_1
"Kalau mau tau, jalan satu satunya, kita harus masuk membuat mereka mengaku. Secara paksa atau suka rela, kita harus bertindak." Utan menggebu gebu. Tangannya di tahan oleh Ama. "Apa lagi?"
"Jaga keselamatan mu. Saya tidak mau menyesal seumur hidup ku, kalau kamu kenapa kenapa." Tanpa menunggu jawaban Utan, Ama malah mendului Utan beranjak ke kamar VIP dua. Senjata sudah ada di tangannya. Siap menskakmat lawan termasuk Aroon kalau mereka tidak mau membuka suara.