Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 48# Pasrah Oleh Takdir


__ADS_3

Ke esokah harinya, Abian tidak sabaran pagi pagi sekali menghampiri apartemen Utan.


Tangan ingin menekan bel, tapi menyadari daun pintu tidak tertutup rapat, Abian nyelonong masuk begitu saja. Biarkan dicap bad ettitude juga. Abian sudah tidak sabar meluapkan segala unek uneknya yang di tahan oleh nya semalaman penuh.


Di dalam, Abian mendapati Lautan yang masih berbaring asal asalan di sofa efek mabuk semalaman.


Abian melengos menyaksikan keadaan Utan yang sangat berantakan.


Saat berbalik, berniat meninggalkan tempat itu, ia terhenti karena mendengar Utan tiba tiba menceracau menyebut nama Purnama dengan nada yang begitu lirih tapi tersirat beban menyedihkan.


Begitu dalam kah cinta pria ini pada Purnama? Abian hanya bergumam. Niatnya berbicara empat mata dengan Utan, luruh. Orang yang kacau seperti Utan saat ini, tidak bisa diajak berbicara dengan baik. Abian lebih memilih untuk pergi lagi tanpa mau mengganggu Lautan.


***


"Maaf, Mba. Pak Abian tidak bisa menerima tamu saat ini."


Ama yang ingin menemui Abian di kantornya, dihadang oleh resepsionis.


"Bilang kalau tamunya adalah Purnama Batara." Ama masih kekeuh ingin menemui Abian. Semalam, Vanila mengirimi sebuah chat kalau apa yang dilihat dan di dengarnya tentang dirinya bersama Utan, sudah Vanila laporkan ke Abian.


Ama tidak ingin membuat hati dari pihak manapun terluka, termasuk Abian, Lautan dan Vanila. Meski sebelumnya ia sudah memprediksi, diantara mereka pasti akan ada yang patah hati. Oleh sebab itu, ia ingin berbicara dari hati ke hati ke Abian dan Vanila yang sedari malam kedua orang itu susah untuk ia temui, baik secara langsung atau pun komunikasi.


"Tetap tidak bisa, Mba. Masalahnya, Pak Abian sedang meeting." Resepsionis itu pun kekeuh menyampaikan apa yang sudah menjadi tugasnya. Tadi, Abian memberinya titah untuk menolak semua tamu tanpa terkecuali.


"Saya akan menunggu." Ama keras kepala. Beranjak duduk di sofa ruang tunggu yang ada di dekat lobby utama.

__ADS_1


Sambil menunggu, Ama mengoperasikan teleponnya. Mengecek, apakah Vanila sudah membaca chatnya? Namun tetap saja, stasus pesannya masih centang satu. Sepertinya, Vanila sudah memblokir nomernya.


Beralih ke nomer Abian. Ama menulis chat, "Aku ada di lobby menunggu. Ingin bicara penting."


Sama saja. Vanila dan Abian sangat kompak mengabaikan pesannya.


Satu, dua, sampai empat jam, Ama menunggu lama. Tapi hanya sia sia, Abian benar-benar menolak kedatangannya.


Capek menunggu, Ama bangkit dari sofa. Berjalan ke arah lift namun segera ditahan oleh resepsionis tadi.


"Mba, tolong jangan mempersulit kerjaan saya." Dengan takzim, resepsionis itu memelas padanya.


Ama mendes*h kasar. "Aku sudah menunggu lama ___" Sebuah notif chat, menjeda Ama. Melirik layar pipih nya yang kebetulan masih ia genggam.


Chat ini dari Abian. "Nanti malam jam tujuh, temui aku di Imperial."


***


Di sisi Utan yang sudah sadar seratus persen dari pengaruh alkohol, terlihat sedang mengendarai motor sportnya dengan kecepatan sangat pelan. Beberapa menit yang lalu, ia berusaha menghubungi Vanila. Sebagai pria, ia harus mengakui kesalahannya dengan cara meminta maaf.


Tapi, Vanila tidak ada di tempat tinggalnya serta tidak berada di butik juga. Ditelepon pun, gadis itu tidak meresponnya.


Tidak sengaja, Utan melihat Ama duduk di bangku halte. Manatau salah mengenali, Utan menghentikan motornya. "Ama?"


Merasa dipanggil, Ama mengangkat atensinya yang sedari tadi menunduk ke layar hape.

__ADS_1


Benar Purnama.


"Kamu sedang apa? Kamu tidak membawa motor atau mobil?"


Ama belum merespon sampai Utan sudah berdiri di depannya.


"Kita harus bicara serius," ucap Ama sembari berdiri. Ia mengabaikan pertanyaan Lautan


Utan juga memang niat bertemu Ama untuk memastikan perasaan Ama semalam yang diungkapkan padanya. Takutnya, efek mabuk membuat dirinya delusi hebat mendengar Ama juga mencintainya katanya.


"Utan, soal semalam ... perasaanku memang tidak berbohong, aku mencintaimu juga. Tapi..."


Detak jantung Utan berdetak dua kali. Awalnya ia senang karena ternyata ia memang tidak delusi soal semalam. Namun, mendengar ujung kalimat Ama yang terjeda membuat perasaannya berkecamuk.


"Tapi, kita tidak bisa bersama sama."


"Kenapa, Ama?" Utan maju satu langkah, membuat Ama mundur selangkah pun. Ia mencoba memberi pengertian pada Lautan, kalau mereka berdua telah melukai dua hati di luar sana.


"Please, Utan. Kita tidak boleh egois__"


"Itu tandanya, kamu tetap akan menikah dengan Abian? Tanpa cinta?" Lautan memotong penjelasan Ama. Sebenarnya, ia juga paham betul maksud Purnama. Meski manja, Vanila orang baik. Tidak pantas untuk disakiti. Namun, di sini hatinya yang memilih. Tidak bisa dipaksakan. Soal hati memang sangat rumit!


" Soal itu, aku hanya pasrah dengan jodoh. Siapapun pasangan kita ke depannya, sebaiknya menjalankan hidup dengan ikhlas." Ama pergi setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Wajah nya muram penuh kesedihan karena sejujurnya, hatinya pun sakit melepaskan orang yang dicintainya.


"Ya ... kalau memang jodoh, tidak akan kemana." Utan bergumam dengan perasaan hancur. Berpaling ke sisi lain sembari mengusap wajahnya prustasi. Ia tersenyum kecut. Lanjut bergumam, "Saling mencintai pun, tidak menjanjikan kebersamaan."

__ADS_1


Seperti maksud Purnama, Utan pun pasrah oleh takdir. Dalam hatinya berjanji akan berlapang dada kalau Ama dan Abian berujung ke pelaminan. Meski sakit tidak bisa diuntaikan, ia akan mencoba ... sabar dan menerima demi kewarasannya!


***


__ADS_2