Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 7# Dicap Buronan Negara


__ADS_3

"SSA pembuat bom ini. Benar kan, Tuan Luxi?"


"Benar, Tuan. Tapi, setiap SSA membuat senjata apapun yang dipesan oleh pihak TNI maupun kepolisian, maka pihak SSA langsung menyetorkannya semua tanpa ada di pihak kami mengambil satupun pesanan itu. Dan jelas kita ketahui, bukti bom di tengah tengah kita semua adalah jenis pesanan dari pihak Komisaris TNI dan Komisaris kepolisian." Luxi langsung menyuarakan keprotesannya kepada Letnan Jendral Fren, manakala semua pihak seakan akan menuduh SSA yang sengaja menjadi musuh Negara dengan cara membuat ricuh di tengah masyarakat menggunakan ledakan bom.


" Oh, secara tidak langsung, SSA menuduh TNI atau Kepolisian ada yang berkhianat?"


"Bukan seperti itu, justru Anda lah yang awalnya menuduh tim kami!" Ken yang geram, ikut bersuara membantu Luxi.


Perdebatan terus terjadi dari empat pihak petinggi di ruangan tersebut. SSA, Komisaris Jendral - Jendral dari TNI dan Kepolisian serta Mentri pertahanan dan keamanan pun ada di rapat meja panas itu. Dan hasil rapat para petinggi SSA dan pihak petinggi berwajib lainnya, sangat mengejutkan.


Luxi yang terdesak karena terus disalahkan dari perwakilan kepolisian dan pihak TNI, juga mentri, terpaksa mengkambing hitamkan Purnama sebagai dalang pengeboman.


Bukti nyata katanya, bom SSA hasil buatan Purnama yang sempat dijinakkan ada di tengah-tengah meja para petinggi itu. Mereka menganggap kalau Purnama berkhianat dan punya niat tertentu. Daripada SSA ditentang kejayaannya, Luxi mau tak mau mengorbankan Purnama dengan dalih, 'Karena Purnama pembuat satu satunya jenis bom itu yang mudah di rakit dan dimilikinya, mungkin saja wanita itu yang melakukannya.'


Meski pihak penyelidik masih sedang berlangsung di TKP, Jenderal jenderal itu memutuskan ingin mengamankan Purnama sampai pada masanya, akan dilepaskan kalau terbukti tidak bersalah, begitu pun sebaliknya yang akan dihukum kalau bukti bukti yang terarah kepadanya saat ini tidak bisa di tepis.


Dan terpaksa dengan sangat sangat menyesal, Luxi harus membocorkan identitas Purnama di depan orang orang tersebut. Tapi satu dari pihak polisi yang diam diam tidak setuju kalau Purnama, si gadis penyuka coklat yang ia kenal betul dari kecil, di salahkan begitu saja. Dia adalah Galaksi Miller Al Malik atau kerap disapa Dibi. Ya... Ada Dibi di antara rapat itu yang sekarang berpangkat menjadi IRJEN. Meskipun pangkatnya tinggi, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak untuk saat ini karena Komisaris Jenderal - atasannya itu, sangat menggebu gebu berkolaborasi bersama Letnan Jendral Fren dari pihak TNI.


***


Ting...

__ADS_1


Ting...


Purnama yang sedang melakukan yoga di tengah tengah ruangan apartemennya, buyar konsentrasinya dikala dua notif masuk ke hapenya.


Takut penting, Purnama memutuskan untuk melihatnya.


Ada kiriman video dari hasil rapat yang dikirimkan Dibi dengan catatan peringatan "PERGI SEKARANG!"


"Oh my god..." Purnama jelas panik tidak tertolong. Beberapa kali ia menelpon Dibi, akan tetapi pria yang sudah seperti keluarganya itu, tidak merespon. Bahkan dirijek. "Fixed, Kak Dibi pasti masih di antara orang orang yang minta di bom oleh ku."


Purnama mondar mandir cemas seperti setrikaan sembari menggigit gigit ujung kukunya, ciri khasnya kalau ia sedang berpikir keras.


Tidak banyak yang Purnama bawa, ransel hitam besar yang isinya sangat berguna bagi misinya yang sedari awal sudah ingin pergi ke Thailand untuk memulai mencari orang yang bernama Anuman Aroon - si pemilik dua unit apartemen yang Ama pikir, kunci pembuat namanya tercoreng adalah pria bertato scorpio tersebut.


Sampai di pelataran apartemen kecil itu, Purnama malah tidak sengaja menabrak Simi. Ia terkejut hebat, kalau Simi yang telah memimpin penangkapannya.


"Maaf, Ama. Tolong bekerja samalah. Nanti kita bisa bicarakan baik baik. Percaya sama saya __"


Bugh... Purnama bukan anak TK yang mudah diberi kata kata menenangkan dengan kalimat bisa dibicarakan baik baik. Ia dengan cepat berlari setelah melumpuhkan Simi dengan cara mendorong kuat kuat wanita itu ke arah tiga polisi yang berdiri di belakang Simi, sehingga keempat jatuh ke lantai.


"Berhenti di tempat atau timah panas akan mengenai mu..." Secepat itu, Purnama terkepung karena ternyata gedung apartemen sudah di keliling beberapa petugas kepolisian. Sialan... Ia sudah mirip ******* sesungguhnya. Dengan tangan terangkat ke langit malam, Purnama terus berpikir keras, bagaimana caranya ia lolos dari orang orang bersenjata ini?

__ADS_1


Menyerah? Cuih, tidak akan. Harga dirinya akan ia pertaruhkan sampai tetesan darah terakhir, karena itu sama saja mengakui kesalahan yang tidak sama sekali diperbuat nya. Mati dengan menjunjung harga diri nya bagi Purnama, itu lebih baik. Daripada hidup menanggung tuduhan yang bukan salahnya.


Purnama bersumpah, siapapun orang orang yang terlibat dari musibah yang ia tanggung, maka demi apapun ia akan membuat orang itu tertunduk di depan kakinya.


Masalahnya, macam mana caranya ia mau kabur? Onde mande, satu tangannya sudah diborgol yang hendak akan diborgol ke kedua tangannya. Tapi tiba-tiba, bugh... "Na na na na na..." Seorang pria mabuk tiba tiba ada di tengah-tengah Purnama dan polisi itu yang sedang menyanyi nyayi gila. "Eh, ada main polisi polisi seperti upin ipin itu, yang nyanyi viralnya seperti ini, Om. 'Saya susanti perempuan banyak... Apa lagi ya? Heheh... Lupa!" Trep... Borgol itu menyatu dengan tangan pria mabuk tersebut yang dilakukan oleh Pria mabuk itu sendiri.


Purnama mengambil kesempatan untuk kabur dengan cara menjadikan pria yang tak lain adalah Lautan - sahabat oroknya yang mungkin datang membantunya untuk mengelabui orang-orang yang ingin menangkapnya, menjadi sandera.


"Senjata saya akan melubangi kepalanya kalau kalau kalian ada yang menghalangi jalan saya pergi!"


Lautan, sahabat konyolnya itu malah sengaja senyum senyum bodoh di depan Simi dan anak buahnya. "Hehe... Hore, main polisi polisian. Tante... Jangan nekat ya. Nanti saya berdarah darah." Lautan berceloteh seperti bocah untuk Simi dengar. Dan sebutan tante, sangat membuat Simi jengkel. Wanita itu menolak dikata tua.


"Purnama, jangan menjadi buronan yang akan merugikanmu. Lebih baik, akhiri ini dengan cara menyerah saja. Kami, SSA akan menolong mu nanti..." Simi membujuk Purnama yang sekarang beringsut menjauh ke arah mobil Lautan yang sudah stay di parkiran tak jauh dari posisinya.


" Bacot!" sarkas Purnama geram. Ia kecewa dan marah pada timnya yang tega begitu mudah menjadikan kambing hitam padahal masih sangat awal. "Nitip salam ke Luxi, kalau Purnama akan datang menghancurkan SSA yang saya yakini, salah satu dari kalian ada yang jadi sampah Negara. Kamu, orang mabuk. Pegang senjatanya dan tembak orang orang yang bergerak sedikitpun. Nah, iya betul, tarik pelatuknya." Karena salah satu tangan mereka menyatu karena terborgol bersama, Purnama pun mempercayakan senjata itu ke Lautan. Pihak Simi akan beranggapan kalau orang mabuk bisa saja berbuat nekat.


Mundur mundur Purnama naik ke mobil. Susah sih, karena diborgol. Otomatis Lautan juga mundur mundur mengikuti langkah Purnama karena borgol yang menjebak. Purnama naik ke mobil bukan melalui kemudi karena pasti akan susah Lautan yang terpaksa harus ia bawa karena borgol sialan itu.


Dor...


" Horeee ... dapat kaki ikan lele ." Lautan menembak tanah yang di sebelah kaki Simi yang ingin sok sokan maju menghentikan aksi Purnama. Seperti biasa, ia berlagak teler agar tidak dicurigai.

__ADS_1


__ADS_2