
"Vanila, jawab pertanyaan, Ama?" Lautan menuntut dengan mata terus menatap titik netra hitam Vanila yang nampak gelisah. Meski beberapa bulan baru saling mengenal, Lautan sudah hafal gerak gerik Vanila yang kadang kadang kalau terdesak atau berbohong, kekasihnya itu terlihat akan gugup berlebihan.
"Anu __ itu, aku dan Abian sebenarnya..."
"Sebenarnya kami bertemu tidak sengaja di bandara. Dia kehilangan tas di sana. Karena saya kasihan, saya membantunya datang ke kantor polisi untuk melapor." Abian gercep menyambung ucapan Vanila yang terlihat dari gelagatnya, sahabatnya itu ingin mengakui hubungan persahabatan mereka. Ia belum berhasil mendapatkan Ama, jadi jangan sampai Utan menaruh curiga kecurangan Vanila di awal pertemuan mereka yang sudah ia setting seapik mungkin.
Vanila yang kesal karena tidak mau membohongi Utan lebih lama lagi, segera menendang pelan kaki Abian di bawa meja sana. Abian acuh tak acuh dengan keprotesan Vanila.
"Kamu kehilangan tas, Sayang?" Lautan menatap iba Vanila yang mengangguk sebagai jawabannya. Entah bagaimana respon kekasihnya ini kalau ia ketahuan berbohong. Dalam hati, Vanila juga merutuki alasan Abian tentang tasnya, harusnya Abian itu mengatakan kehilangan di atas taksi yang ia tumpangi.
"Ehem ... Anggap saja, saya percaya. Dan mau berbohong pun saya tidak peduli dan tak mau ambil urus." Ama sebenarnya tidak percaya. Tetapi ia juga tidak punya bukti. Ia sudah muak di antara orang yang bucinnya terhakiki. Tadi saja, Utan itu menatap intimidasi Vanila, eh saat mendengar Vanila mendapat masalah yang kehilangan barang, sudah sayang sayang saja.
Tidak mau membuang buang waktunya lebih lama lagi di antara tiga orang di depannya, Ama main tarik kunci motor Lautan yang tergeletak di atas meja, lalu beranjak pergi dengan berlari kecil, tak menghiraukan panggilan Lautan dan Abian.
Abian ingin mengejarnya, tapi di hadang waiters karena ia belum membayar bill. Lautan juga mau mengejar Ama, tetapi di tahan oleh Vanila.
"Aku bagaimana? Jangan tinggalkan aku, Utan. Aku tidak punya uang sepersen pun loh."
Lautan dibuat bingung, antara mengejar Ama atau bersama Vanila yang merengek manja memeluk pinggangnya kuat kuat yang takut ditinggal.
Kasihan dengan Vanila yang tidak mungkin membiarkan kekasihnya itu jadi gembel di Negara orang, Utan hanya melenguh kesal sendiri.
"Ayo, ikut aku," kata Utan sembari menggandeng tangan Vanila untuk pergi dari cafe. Abian yang sudah selesai membayar makanan, segera mengikuti langkah Utan dan Vanila.
"Kamu mau apa ngikutin kita? Jangan bilang, kamu pun tidak punya uang?" Utan mendengus saat menyadari Abian mengikutinya. Mereka sudah di pinggir jalan.
"Bukannya saya sudah menjelaskannya, kalau saya mau membantu Ama." Abian tidak peduli muka asem Utan.
"Biarkan dia ikut, Sayang. Kan, semakin banyak yang membantu, maka masalah Ama juga cepat selesai." Vanila membujuk. Ia yakin, kalau Utan itu tidak bisa membantahnya.
Utan tidak menjawab ia cuma kembali berjalan dengan pikiran tertuju ke Ama. Sekarang, Ama pergi kemana? Ia pun tidak tahu titik keberadaan sahabatnya itu.
"Harusnya kamu tidak kemari, Vanila. Tolong, pulanglah. Kali ini saja, menurut padaku " Utan setuju dengan Ama akan penolakannya di bantu oleh Abian dan Vanila yang tidak punya keahlian bela diri apapun.
Vanila cemberut, berhenti berjalan dan memilih duduk asal asalan di halte bus yang hanya ada beberapa orang disekelilingnya. Abian sih, cuma jadi obat nyamuk. Tidak mau ikut campur yang roman romannya akan ada perdebatan. Intinya, ia nanti bisa bertemu Ama lagi, karena yakin kalau Utan tidak akan meninggalkan Ama seorang diri berjuang di luar sana.
"Ambil hati Ama dengan cara mengekspresikannya yang benar dan nyata menyukainya, bukan dalih kata balas dendam." Mendengar nasehat Vanila tempo hari tersebut, ia pun memutuskan akan mengambil hati Ama dengan cara halus mulai hari ini.
"Jangan seperti anak kecil. Ayo bangun!"
"Tidak mau."
Pfyuuf ... Inhale exhale. Lautan menghembuskan nafas kasar melalui mulutnya. Vanila ini kalau ngambek, susah di bujuk.
"Apa kamu tahu, Utan. Waktu kamu dikabarkan meninggal, aku terpukul berat. Aku menangisimu berhari hari, tapi setelah bertemu, kamu seakan-akan acuh tak acuh padaku. Mendengar kamu masih hidup dan mengetahui keberadaan mu di Thailand dari percakapan Petir dan Vay yang tidak sengaja aku dengar, tanpa pikir panjang lagi aku datang kemari hanya untuk mu. UNTUK MU!" Mata Vanila berkaca-kaca, hendak menangis.
Tidak mau membuat Vanila semakin kesal, Utan akhirnya mengalah dengan berkata, "Maaf! Aku cuma cemas nanti kamu kenapa kenapa, Vanila. Kamu kan tau, aku mencintai mu, wajar aku memikirkan keselamatan mu."
Lautan membujuk sembari berjongkok di depan duduk Vanila dengan tangan menggenggam jemari kekasihnya itu. Hati Vanila luluh seketika mendengar pernyataan cinta Utan.
__ADS_1
Abian berdeham. "Masih lama nggak berdebatnya? Kita harus mencari Ama loh!"
Benar juga kata Abian, gumam Lautan. Ia pun memimpin jalan mencari Ama sembari mencoba terus menelpon Purnama.
Drrrt...
Yang di telepon saat ini mengabaikan hapenya. Cuma mendelik sekilas, lalu kembali memperhatikan laptopnya untuk mengamati ruangan kerja Aroon yang sialnya, Aroon belum memberi tanda tanda mencurigakan. Targetnya itu hanya sibuk main hape sembari ongkang kedua kaki di atas meja. Benar benar polisi bobrok di mata Ama.
"Come on, Bodoh. Jangan uji kesabaran ku dan berakhir datang menembak kepala mu." Ama berceloteh kesal sendiri. Ia ingin sekali, Aroon segera memberinya petunjuk.
Ting dong...
"Ck..." Ama berdecak kesal. Lagi sibuk mengintai target, suara bell kamar penginapan sederhana yang ia sewa beberapa menit lalu, berbunyi.
Intip melalui lubang khusus pintu untuk melihat siapa yang sudah mengganggunya.
"Utan?" kaget Ama. Ia tidak menyangka, Utan tau keberadaannya.
Buka pintu, siap memberondong pertanyaan, tapi Ama dibuat kaget, Utan ternyata tidak sendiri, ada Vanila dan Abian.
"Kenapa kamu tau saya di sini? Dan mengapa mereka kamu ajak kemari?" cerca Ama.
Utan meringis di jutekin sembari memperlihatkan hapenya yang sebenarnya ia sudah menyambung GPS titik hape Ama dan miliknya. Ama mendengus kesal mengaku kecerdikan Utan.
"Kalau pertanyaan kedua, saya tidak bisa membiarkan Vanila lontang lantung di negara asing, Ama. Please, mengerti aku!" Utan membujuk dengan tangan menyatu di depan dada, memohon. Abian dan Vanila yang sudah di wanti wanti Utan untuk jangan banyak bersuara demi tidak membuat Ama semakin kesal, jadi menurut membisu.
Utan segera menahan pintu itu. Masuk ke dalam sembari menarik Ama untuk mencari ruang berbicara empat mata. Abian dan Vanila masih bergeming di depan kamar yang cuma saling pandang sejenak layaknya orang asing.
"Sebenarnya, orang-orang seperti apa yang dihadapi Ama?" kata Vanila pelan.
"Pastinya sih orang berbahaya. Bayangkan saja, Ama juga aslinya cewek berbahaya." Abian menjawab tak kalah pelannya.
"Sudah ketahuan aslinya Ama bukan wanita biasa, tapi kenapa kamu masih nekat mendekatinya?" Vanila menggoda.
"Karena aku memang suka, mungkin?"
Vanila menyikut pinggang sang sahabat, dengan godaan, "Ciee.. Yang uda nggak gengsi lagi." Ia tersenyum menatap Abian yang membalas senyumnya meski cuma tipis.
"Semangat berjuang ya, nanti aku bantu deh."
Abian hanya mengangguk kecil.
Di dalam sana, Utan terus membujuk Ama agar mau menampung Vanila. Abian? Bodo amat dengan pria itu.
"Vanila tidak akan bisa pulang tanpa passport nya, Ama. Dia kehilangan itu loh dan saya tidak mungkin juga membiarkan dia bersama Abian terus menerus, saya takut Vanila nanti diapa apain. Please ... Mau ya bantu Vanila, demi aku!"
Tidak tega juga melihat Utan memohon terus. Ama hanya bisa mengangguk mengalah.
"Kamu memang terbaik!" Dengan riang, Utan spontan memeluk Ama. Sial bagi gadis itu yang semakin terjebak akan perasaan yang seharusnya tidak tumbuh untuk nama Lautan. Ia tau, kalau hatinya akan terluka karena menyukai pria yang punya kekasih.
__ADS_1
"Lepas, Utan!"
"Hehehe..." Utan cengengesan sembari melepaskan pelukan tersebut. "Aku suruh masuk dulu ya."
"Eh, maksudnya, Vanila tinggal di kamar ini?"
Utan mengangguk mantap. "Sudah tidak ada lagi kamar kosong. Abian sudah mencoba check in tadi tapi ditolak."
Selesai menjelaskan, Utan segera membuka pintu. "Ayo masuk!" Mempersilahkan Vanila. Abian ingin masuk, tapi di cegah oleh Utan.
"Awas!"
"Kamu ngapain ikut masuk?"
"Dibilangin, saya mau ikut bantu Ama. Memang kamu doang yang bisa? Aku juga bisa!"
Utan masih menahan.
"Baik, kalau begitu saya datang ke kantor polisi tadi__"
"Masuk, Kampret!" Utan mengalah dengan kesal karena ancaman Utan.
Abian tersenyum jumawa. Masuk dan segera menatap ke sekeliling ruangan. Dekorasi penginapan ini, bertema khas Jepang tradisional yang tidak memiliki ranjang.
Mencoba cuek ke Abian dan Vanila, Ama kembali memperhatikan layar laptopnya.
"Eh, ada seorang wanita di ruangan Aroon."
Sontak saja, Abian, Vanila dan Utan ikut menyaksikan layar laptop Ama.
Awalnya, wanita itu berdiri membelakangi kamera tersembunyi. Perlahan, lolosin baju. Ama dan tiga kepala lainnya saling lirik dengan tampang salah tingkah masing-masing. Cepat cepat Ama menutup laptop nya. Sialan si Aroon, bisa bisanya adu-aduan di waktu tidak tepat.
Empat orang itu jadi salah tingkah sendiri.
Ahhh... Uhh...
Laptop sudah di tutup, tangan Vanila malah tidak sengaja mengaktifkan alat pengeras suara di atas meja yang tersambung oleh penyadap suara yang ada di ruangan Aroon. Jelas saja, suara laknat Aroon dan wanita penghiburnya terdengar jelas di kuping mereka.
"Hehehe... Maaf, nggak sengaja." Vanila garuk kepala yang tidak gatal sembari tercengir bodoh ke tiga orang yang di depannya.
"Saya mau ke kamar mandi!" Tak terduga, Abian dan Utan kompak bersuara. Tanpa persetujuan Ama, kedua pria itu berebutan masuk. Nyangkut di pintu karena tidak ada yang ingin mengalah.
Ama dan Vanila cuma bisa saling lirik, tidak paham apa yang akan di lakukan oleh dua pria itu yang berebutan kamar mandi.
"Nanti malam ... Oke, saya akan ke markas. Udah dulu ya, ahh... Lagi mules."
"Markas?" Ama tidak peduli lagi dengan kelakuan Utan dan Abian saat mendengar suara Aroon yang setengah mendesa*, beralasan kebelet katanya yang cuma mengibuli lawan bicaranya yang sedang menelepon.
"Ini yang aku tunggu!" Ama menyeringai tajam. Dilihat oleh Vanila, kekasih Utan itu merinding tiba-tiba melihat seringai Ama.
__ADS_1