Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 18# Ternyata, Aroon Polisi!


__ADS_3

Moge yang dikendarai Utan sampai di titik GPS lokasi alamat orang yang bernama Anuman Aroon.


Tunggu sebentar. Ama dan Lautan saling lirik dulu melalui kaca spion. Mereka aneh saja mendapati alamat di depannya yang ternyata adalah kantor pusat kepolisian Negara tersebut.


"Kamu bisa membaca GPS kan, Ama? Ini kantor polisi loh." Utan mengejek karena mengira Ama salah tujuan.


"Benar, Utan. Ini ... Ini, lihat pakai mata lebar lebar." Seperti scane peluk dari belakang, Ama menjulurkan tangannya menggebu gebu ke hadapan mata Utan, di mana mereka masih stay cool di atas motor.


Utan mengamatinya. Benar adanya alamat yang dimaksud Ama. "Andai Vay bersama kita," kata Utan yang mengingat kakak ipar sekaligus mantan tim Kurcil itu adalah ahli retas.


Ama terdiam. Dalam misi yang penuh teka teki itu, ia memang sebenarnya butuh bantuan para sahabatnya yang mempunyai skill di bidang masing-masing. Akan tetapi, ia meyakinkan diri nya kalau ia tidak boleh egois. Menyeret masuk para sang sahabat dalam bahaya apa yang ada di depannya, adalah keputusan yang tidak benar di pikiran Purnama.


"Kamu lupa, eum? Kalau kata Kak Dibi, semua orang orang terdekat kita, lagi di mata matai oleh pihak polisi, baik secara offline maupun online. Itu tandanya, AI komputer Vay pun dalam pengintaian ketat. Sekali kita meminta bantuan pada mantan mantan the Kurcil, bocor sudah ke beradaan kita."


Mengerti maksud Ama, Lautan bergegas menyalakan mesin motornya. Pergi dari hadapan gedung polisi itu yang tidak mungkin ia masuk ke dalam dengan gegabah.


Di boncengan, Ama terus berpikir keras tentang alamat Aroon yang ternyata ia berujung di depan kantor pusat kepolisian.


Pengeboman di apartemen dan kantor polisi? Penyelundupan di kapal soal tempo kemarin? Juga Pembajakan kapal laut? Ama terus menyangkut pautkan kejadian tersebut. Sejurus, ia menepuk keras bahu Lautan dengan semangat. Ia sepertinya mendapat pencerahan meski belum valid juga.


"Apa sih?" Utan mendumel kaget.


"Cepat cari parkiran motor yang dekat dengan gedung pusat kepolisian tadi."


Dengan penasaran tertahan, Utan menurut. Masuk ke area cafe demi mencari parkiran strategis agar gerak gerik mereka tidak dicurigai.


Duduk di table cafe. Pesan minum agar tidak dikira tamu yang memanfaatkan fasilitas Wi-Fi gratis.


"Coba sela aku kalau persepsi ku salah."


Lautan hanya mengganguk kecil. Tidak sabar apa yang akan dibahas oleh Ama yang nampak serius sekali.


"Tim SSA ku membuat senjata buat Negara. Lanjut kirim ke Komisaris TNI dan Komisaris Kepolisian untuk memenuhi persenjataan Negara kita. Nah, Luxi mengaku kalau pesanan tersebut sampai kepada pihak dua tim bersangkutan dan otomatis, Luxi sudah angkat tangan karena sudah mendapat surat tanda bukti serah terima dari kedua tim kesatuan Bukan?"


"So?" Lautan menyela.


"Coba pikir, kalau kita sangkut pautkan dengan penyelundupan senjata buatan SSA, bahan baku pembuatan bom nuklir serta paket narkoba secara besar besaran di kapal kemarin?"


Lautan menjentikkan jari di depan wajah Ama, lanjut menggeprak meja cafe, heboh. Ia sudah bisa menebak jalan pikiran Ama yang cerdas.

__ADS_1


" Biasa aja... "Ama berbisik geram. Pasalnya, ulah geprakan meja Utan, para tamu cafe menatap penuh tanya ke arah mereka berdua.


" Hehehe... No problem, All." Lautan cengengesan kikuk ke orang orang sekitar.


Tidak lagi diperhatikan, kedua nya lanjut diskusi.


"Soal penyeludupan, pasti ada pihak berwajib yang korup dan penghianat. Entah dari polisi atau TNI, itu kan yang kamu maksud?"


Ama mengangguk mantap. Lautan punya jalan pikiran sama dengannya ternyata. Meski belum jelas pastinya juga.


"Dan menurut perkiraan mu juga, Anuman Aroon yang kita cari adalah salah satu pihak berwajib di Negara ini? Dan pasti, kalau pembajakan mereka berhasil, maka barang barang ilegal tersebut akan aman sentosa masuk keluar antar Negara karena adanya campur tangan pihak kepolisian yang korup. "


Ama mengangguk lagi.


"Pantas, alamat GPS membawa kita ke kantor pusat polisi di seberang jalan sana, ternyata Aroon kutu kupret itu adalah polisi?" Utan ingin menggeprak meja lagi, tapi di tahan Ama dengan gesit diiringi plototan warningnya agar tidak membuat keributan.


"Aku cuma mendeskripsikan kekesalanku, Ama!" katanya membela diri saat Ama sudah menatapnya dingin.


"Mendeskripsikan kekesalan?" Ama mengulang dua kata Lautan yang tidak sengaja memberinya ide. Bibirnya menyeringai lebar dengan mata berkedip ke arah Lautan.


Yang di kedipin, jadi merinding. "Jangan bilang, kamu sedang merencanakan ide konyol atau gila?" Lautan menyelidik sampai memajukan wajahnya lebih dekat ke hadapan Ama.


"Apa tuh?"


"Bahas rencana receh itu, belakangan saja. Lebih baik, kita pastikan dulu Aroon itu polisi setempat atau bukan?" Ama lanjut mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Ingin lebih dalam mencari info tentang Aroon dari daftar nama kepolisian. Berharap, alamat website yang ia masukan valid.


"Bravo...!" Ama yang sekarang menggeprak meja, saking riangnya mendapat info valid tentang Aroon yang memang betul target yang ia cari adalah seorang kesatuan polisi.


"Hehehe ..." Lanjut Ama cengengesan bodoh, layaknya seperti Lautan tadi.


***


Sesuai rencana yang sudah dibahas di cafe tadi. Ama dan Lautan pun sudah siap berakting sebagai sepasang suami istri yang hubungannya sedang tidak baik baik saja.


Dengan penampilan dress merah seksi menantang hasil beli dadakan, wajah dirias cantik yang biasanya polos, Ama kini berada di sebuah pusat perbelanjaan.


Dari kejauhan, Lautan pun sudah siap dengan perannya sebagai seorang suami yang akan melampiaskan kemarahannya pada sang istri yang berselingkuh. Jangan lupa, kumis palsu tebal yang dibenci Utan, kini terpaksa ia pasang lagi di bawah area hidungnya. Gatal dan geli geli gimana gitu rasanya. Risih pokoknya Utan punya kumis palsu.


Main hape modus sembari berjalan pelan. Padahal, mata Ama sedang memilah milah pria sebagai target pasangan selingkuhan bohongannya dengan dalih Lautan hanya salah paham nanti.

__ADS_1


Nah, target sepertinya ada yang cocok. Pria sipit berkemeja navy yang baru keluar dari toilet, sedang berjalan ke arahnya.


Dubrak ... Modus tabrakan diri ke sang pria. Aduhai, ditangkap pinggangnya oleh pria tersebut dengan mata saling bertatapan tanpa kedip dalam beberapa menit. Lautan yang melihatnya dari kejauhan, kok rasanya kesal benaran ya. Kurang ajar pria itu yang malah tidak mau melepaskan pinggang tipis Purnama. Wah, wah, minta hajar benaran rupanya.


Tap...


Tap...


Tap...


Lautan mengikis jarak dengan langkah panjang panjang. Ia sudah mirip pria yang benar benar akan memergoki sang istri yang sedang berselingkuh darinya.


"Oiiii ... lepaskan dia, Sialan!" Lautan mendorong kuat dada pria itu. Hendak menonjok. Ama berteriak, "Stop!" Tapi telat, Lautan sudah menghadiahi bogeman mentah wajah pria yang tidak punya salah. Ini, diluar skenario yang mereka sepakatin. Harusnya, Lautan itu menamparnya di depan khalayak umum sebagai bukti nyata. Lanjut, Lautan akan kabur, agar ia bisa melapor ke pihak polisi dengan tuduhan KDRT. Ini... Astaga...? Kesal sekali Ama dengan tingkah bodoh Lautan yang keluar dari kesepakatan.


"Hei, apa apaan kamu memukul saya?" Pria itu tidak terima.


Utan dan figuran pilihan Ama jadi berdebat. Lanjut siap pukul pukulan karena Utan pun sudah mendapat tonjokan bagian pipi kanannya.


"Kacau! Kacau!" Ama mendumel sangat sangat geram. Orang orang pun sudah mengelilingi mereka bertiga.


Ama yang tidak mau rencananya gagal, masuk ke tengah-tengah dua pria tersebut. Bugh... Kena pukulan di pipi kirinya akan tonjokan Utan yang sebenarnya tertuju ke pria sipit di depannya. Sakit sekali pipi Ama. Tapi no problem. Itu tandanya, ia berhasil meski sedikit berantakan.


"Aku--" Utan terjeda karena baru ingat situasinya. "Pukulan itu memang berhak untuk mu, karena sudah berani berselingkuh di belakang bersama pria kurang ajar itu!" Dialog nya sudah tepat belum ya? Duh, Ama pasti marah deh karena hampir mengacaukannya. Kabur lah, sesuai kode mata tajam Ama.


"Saya akan melaporkan mu ke polisi! Kamu KDRT!" dialog Ama meneriaki punggung Lautan yang kabur. Setelahnya, ia pun meminta maaf ke pria yang sudah jadi korbannya dengan lantang menjelaskan akan kesalahpahaman suami pura puranya di depan umum demi bisa menarik empati banyak orang.


" Hiks, bukan sekali ini saja dia memukul ku, tetapi sering sekali." Biar totalitas, Ama menambah nambahkan dialog menjelekkan Lautan diiringi tangis buayanya.


"Suami kasar seperti itu, harus di laporin ke polisi." Pria itu mendukung Ama. Orang-orang sekitar pun mengatakan, "Laporin saja! Kami siap jadi saksi kalau perlu."


Nah, ini yang Ama mau. Masuk ke kantor pusat kepolisian yang tak jauh dari mall tersebut. Berharap, ia bisa bertemu langsung dengan polisi yang bernama Aroon itu.


"Ama ... Pipi mu sakit nggak? Maaf ya, aku tidak sengaja." Suara Utan lewat earphone terdengar merengek tiba-tiba. Ama diam diam tersenyum di depan orang banyak.


"Pipiku memang sakit, tapi tak apa. Demi bisa mendekati target utama secara alamiah, aku rela dihajar oleh mu, Borjuis. Cepat buka penyamaranmu, jangan sampai kumis mu itu tertangkap. Dan ah, segera ke lokasi yang kita sepakati."


"Baik...!"


Bersama dengan pria yang sempat mendapat tonjokan dari Utan, Ama nekat datang ke kantor polisi untuk membuat laporan palsu yang terlihat nyata di depan banyak saksi.

__ADS_1


__ADS_2