Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 37# Penjinakan yang Gagal


__ADS_3

Ama, Topan dan Guruh dibuat tercengang saat baru menginjak inti ruangan pabrik. Di mata mereka, Simi kini terikat dengan timer bomb sengaja dililitkan di bagian perut wanita itu di tambah dengan mulut tertutup lakban.


"Simi?" Ama beranjak cepat mengikis jarak ke Simi yang sedang menggeleng geleng padanya.


Greekk... Satu kali tarikan lakban dilepas Ama di mulut Simi.


"Cepat pergi, Ama. Tolong bawa anak saya bersama mu." Simi berkata cemas, tergesa gesa dengan satu tarikan nafas. Keadaannya sangat pucat pasi.


Topan dan Guruh bergotong royong melepas ikatan bagian kaki dan tangannya. Tapi kedua pria itu tidak berani melepas tali yang melilit di area bom pada perut Simi. "Nuklir beberapa menit lagi akan meluncur dan seiringan itu, pabrik akan meledak oleh bom ini. Pergilah!" lanjut Simi pasrah yang rela berkorban.


Mendengar penjelasannya, mata mata tiga orang di depannya, kompak membola. Sejurus, Ama mengarahkan atensinya ke arah sistem nuklir. "Topan, bantu aku dan kamu Bang, bantu Simi. jinakkan bom di perutnya itu." Ama berseru sembari berlari kecil ke arah sistem sistem nuklir yang di ikuti Topan. Banyak nyawa orang yang tak berdosa akan melayang jika bom tersebut meluncur.


Tapi, tidak dengan Guruh yang tak paham dengan penjinakkan bom. Oleh sebab itu, Guruh memprotes dengan berkata, "Aku terlalu tolol tentang penjinakkan, Ama."


"Cabut saja kabel yang menurut mu sambungan non-aktifnya kayak di film film itu."


"Enteng sekali omongan lu, Nyuk. Lu mau mati sia sia, hah?" Guruh membalas ketus ejekan Topan. Tapi, ia juga termakan omongan Topan yang tangannya terulur sekarang hendak memegang kabel kecil di bom itu.


"Jangan sentuh apa pun, Bang." Ama melarang. Ia baru ingat, kalau jenis bom yang ada di perut Simi adalah jenis bom sakelar angkat (meledak jika bom diangkat atau terguncang keras)


Ama yang sudah di depan sistem nuklir, berbalik lagi ke arah Simi dan Guruh. Giliran Topan yang kebingungan harus bagaimana di depan sistem peluncuran. "Ama, ini bagaimana?"


Dalam keadaan kurang kondusif, Guruh balas mengejek Topan. "Sotoy sih tadi. Lu kan bisanya jinakkin Gerhana."


"Lu bawa bawa bini gue, Njirr."


Ama mendengkus kesal mendengar suara berisik Topan dan Abangnya sendiri di waktu yang kurang tepat. "Diam nggak semuanya, atau kalian pergi saja!" bentak Ama tanpa melihat dua orang yang ia omeli. Atensinya hanya untuk di bom yang melingkar di perut Simi. "Aku butuh konsentrasi! Kalau kalian masih ingin bertemu dengan anak bini di rumah, maka kita harus lebih dahulu menjinakkan bom ini."


Tidak ada lagi yang berani bersuara. Bahkan, menarik - hembus nafas saja, Topan dan Guruh merasa enggan. Simi sendiri hanya pasrah, mati dan hidupnya sudah ia serahkan.


" Tolong jaga anak ku, Ama."

__ADS_1


"Aku tidak mau! Kamu sendiri lah yang harus menjaga anak mu." Ama sengaja menolak karena ia tidak suka melihat ada orang yang putus asa. "Aku sudah berjanji pada Jane kalau aku akan mempertemukan kalian. Kamu ingin memberi ku penyesalan tiada tara, kalau kalau kamu mati sekarang, hah?"


Simi menggeleng.


"Anak mu sekarang lagi membutuhkan mu, dia pun sedang berjuang hidup, karena kebanyakan menghirup gas beracun beberapa menit yang lalu. Kami semua hampir mati karena terkurung di ruangan isolasi. Jane sedang berusaha ditolong dengan Vay dan lainnya." Ama mencerocos sembari mempelajari kabel kabel di bom itu.


" Ken, sialan!"


" Eh, jangan banyak gerak atau bom akan meledak." Ama memperingati Simi yang tiba-tiba murka karena tertipu oleh Ken. Tadi saja, setelah ia mengaktifkan sistem nya, Ken langsung mengikatnya bersama bom. Lalu, pria itu pergi begitu saja membawa dua remot timer sekaligus. Ia rela mati, asalkan anak nya baik baik saja, tapi Ken benar-benar sudah tertutup mata hatinya.


"Ayo ... cepat, Ama. Tarik saja kabel merah atau kuning itu." Guruh gemas sekaligus ngeri melihat waktu yang tersisa tinggal tujuh menitan lagi.


"Abang memang kebanyakan nonton film movie Hollywood. Kabel indikator di depan mata kita takutnya cuma alat tipu yang akan mengaktifkan detonator ledak detik ini juga. Biasanya, kabel sesungguhnya tersembunyi."


Guruh benar-benar membungkam rapat bibirnya, tidak lagi berani bersuara setelah disarkas oleh adiknya.


Serba salah Ama sekarang, antara menyelamatkan Simi terlebih dahulu atau mencoba mematikan sistem peluncuran nuklir yang waktu ledaknya sama yang sudah di setting apik oleh Ken sebelum pergi.


"Ama, cepat bergerak." Topan merasa jadi orang bodoh karena hanya Ama yang mengerti keadaan dengan skills-nya itu. Ia tidak bisa membantu banyak.


Topan dan Guruh pun menurut. Mereka semua berkeringat dingin apalagi Ama yang harus memecah dua konsentrasinya antara bom di perut Simi dan sistem di depan dua pria sana yang mulai bekerja akan instruksinya.


"Tekan tombol merah sekaligus hijau nya, Pan. Ingat, dua sekaligus lalu lepas."


"Tombol hijau ada tiga, Ama. Sebelah mananya?" Tidak ada yang sempurna, termasuk Topan yang bodoh yang dihadapkan oleh penjinakkan bom yang bukan skillsnya.


"Hijau paling bawah."


Topan langsung menurut.


"Dan kamu, Bang. Kamu harus tekan terus tombol biru sampai angka berhenti di dua puluh. Ingat, Bang, jangan sampai lewat di angka dua puluh atau angka di bawahnya. Lepas setelah di angka tersebut."

__ADS_1


"Apakah fatal kalau bukan di angka dua puluh?" tanya Guruh sembari mencari cari tombol yang di maksud Ama.


"Tentu saja!" Entah kenapa, menurut Ama kedua rekannya itu tiba-tiba jadi cerewet sekaligus bodoh di waktu yang tidak bersahabat.


"Tombol birunya ada dua. Yang mana, Ama?"


"Aaarggh..." Ama menjerit tertahan stres sendiri. Ia tidak bisa menjinakkan bom yang tinggal lima menit di depannya kalau kalau fokusnya terganggu oleh instruksinya sendiri. "Bagian atas, Bang. Cepat lakukan __ Oh, Shiit!" Ama tiba-tiba mengumpat panik. Tangannya yang bergetar, tidak sengaja menarik satu kabel bom di depannya yang mungkin saja pemicu detonator ledaknya.


Mendengar umpatan spontan Ama, Simi langsung tutup mata pasrah. Sementara Topan dan Guruh kompak berlari ke arah Ama. Dua pria itu menarik masing-masing tangan Ama dan membawanya berlari bersama sama dengan cepat.


Sampai di luar ruangan, Ama baru tersadar kalau ia berlari, ah... Lebih tepatnya di tarik oleh Topan dan Guruh.


Sekonyong-konyongnya, Ama berhenti berlari lalu menarik tangan nya yang di genggam oleh sahabat dan Abangnya.


"Nggak ada ledakan tau. Lihatlah...!"


Berjamaah Topan dan Guruh mengikuti arah tunjuk Ama.


"Benar, Pan. Tidak ada ledakan," kata Guruh setengah malu, namun ia juga masih tegang dan kakinya bergetar lemas.


"Itu tandanya, Ama berhasil menjinakkan bom, bego." Setelah berbego bego ria, Topan kembali menampilkan wajah wajah cool datarnya tanpa dosa. Menyebalkan di mata Guruh. Lalu mengekor Ama yang sudah berlari cepat masuk ke dalam ruangan lagi. Guruh pun beranjak cepat. Pemandangan di depan mereka, kini Simi dan Ama mulai berkolaborasi untuk berusaha keras menghentikan peluncuran nuklir.


"Dua menit lagi, Ama." Kepala Simi yang berputar putar efek sakit parah dibagian bekas tembakan, ia tahan tahan demi bisa membantu Ama.


"What the fuc*!" Ama mengeprak tombol tombol sistem di depannya. "Menjauh, Simi! Ken sepertinya menekan timer on nya dari kejauhan."


Benar saja, atap sistem di ruangan itu terbuka perlahan di susul getaran kecil dari nuklir yang pertanda akan berluncur ke langit. Padahal, dua menit sisa waktu mereka belum berlalu.


"Oh, Tuhan. Indonesia dalam bahaya." Simi menjambak prustasi rambutnya. Ke empat orang itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali sekadar menatap nanar bekas nuklir yang sudah terjun bebas dengan radius jangkau panjang ke Negara mereka.


Ama yang merasa berdosa dan gagal, saat ini meraung raung pilu dengan kepalan tangan ia hantamkan ke dinding. Guruh yang melihat tangan adiknya sudah terluka, segera menarik masuk ke dalam dadanya.

__ADS_1


"Hukuman mati untuk ku pun, rasanya belum cukup untuk membayar nyawa yang tidak berdosa, Bang."


Guruh tidak tau cara menghibur adiknya yang kalut.


__ADS_2