Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 25# Menyerahkan Diri


__ADS_3

"Hmpppp..." Dokter gadungan saat ini terlihat sedang melepas bantu alat nafas pasien yang baru dinyatakan kondisinya keluar dari kritis. Pasien itu adalah Aroon. Sengaja dibunuh oleh anak buah rekannya sendiri karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Alhasil, pria itu berakhir menghembuskan nafas terakhirnya tanpa ada petugas kesehatan yang mengetahui.


***


Akibat aksi kekacauan yang Ama dan Utan lakukan, pemberitaan tentang Purnama semakin mengheboh. Sekarang, Ama bukan hanya buronan Negaranya, akan tetapi ia pun sudah menjadi buronan Negara Thailand karena Aroon yang tadinya sempat dinyatakan selamat, kini sudah merenggang nyawa. Dari julukan ******* pengeboman, sekarang nama tengah Ama juga sudah tercemar sebagai gadis berdarah dingin.


Dari televisi, sosial media, radio, surat kabar sampai billboard pun nama Purnama menjadi trending topik.


Keluarga Ama di Indonesia, semakin dipandang sebelah mata. Para kolega Gema Batara - Papi Ama itu saat ini pada kompak menarik saham masing-masing, tidak mau bekerja sama lagi dengan orang tua yang memiliki anak ******* kakap katanya. Usaha usaha klan Batara nyaris bangkrut karena pihak ketenagakerjaannya pun pada mogok bekerja.


Di sebuah ruangan pemerintahan, para petinggi Negara, TNI dan Komisaris kepolisian dan SSA kembali mengadakan rapat besar besaran tentang kasus Ama yang tadinya dikira sudah mati akibat jatuhnya mobil ditambah meledaknya mobil Ama tempo hari di sungai itu, tapi kejadian di Thailand semalam akan aksi keji Ama menyandera IRJEN Anuman Aroon hingga berujung tewas, membuktikan kalau sang buronan mereka ada di Negara Thailand.


"Potongan potongan mayat orang yang di temukan di sungai, nyatanya bukan Purnama dan Lautan."


Braak...


"Bapak tidak usah mengeprak meja juga!" Galaksi Miller Al Malik bin Dibi, berani mensarkas Komisaris Jenderal Militer TNI yaitu Fren.


"Bukankah, kamu salah satu temannya?" Dibi diserang pertanyaan yang membuat diri nya tersudut. Lihatlah, para petinggi sudah menatapnya aneh. "Ah, apa Pak Dibi berkomplotan?"


"Atas bukti apa yang Anda miliki hingga berani menuduh saya? Bukannya, kita semua di sini ini adalah orang yang paham dengan pasal pasal? Jadi, ku harap jaga tutur bahasa Amda." Tidak pandang bulu, Dibi kembali mensarkas. Ia muak dengan tingkah Fren yang sok berkuasa di antara mereka.


"Kalian semua boleh menembak saya secara berjamaah, kalau kalau saya membela orang yang salah! Dan ah, bukannya kita belum berhasil membongkar penyeludupan senjata milik Negara? Coba tanya diri masing-masing, siapa pembelot Negara di antara kita semua?" Dibi menatap tajam semua orang penting itu secara bergantian.


Semua orang tatap tatapan saling mencurigai.


Simi dari SSA, tiba-tiba berdiri takzim dan menawarkan diri dengan berkata, "Bagaimana, kalau SSA ikut memburu Purnama ke Thailand? Saya sendiri yang akan turun tangan menanganinya."


"Saya setuju!" Fren dan Luxi kompak langsung mendukung tawaran Simi.


"Purnama adalah mantan tim SSA, berhadapan dengan SSA langsung, mungkin bisa saja cepat tertangkap," sambung Luxi di angguki kompak kecuali Dibi yang tidak tau harus membantu Ama dengan cara apa lagi.


Dibi hanya diam seribu bahasa melihat orang orang di depannya, menyetujui SSA yang sekarang bertanggung jawab penuh untuk memburu Ama.


Tidak membuang buang waktu lama, Simi undur diri dari rapat tersebut. Pergi ke markas SSA untuk memabawa beberapa orang dari tim SSA.


***


"Aaarggh...!" Di sisi Ama, wanita itu menjerit murka. Pisau pisau kecil ia lempar ke pintu lemari reok yang ada di dalam rumah kosong itu.

__ADS_1


"What the ****! Simi sialan! Pengkhianat!" Pintu lemari yang dilempari pisau, ia anggap adalah Simi. Dari dalam handphone Aroon yang sempat ia ambil, Ama menemukan banyak sekali bukti bukti kerjasama Simi, Aroon dan Dusit.


Dusit? Ya ... Ama sudah mendengar cerita Utan, kalau pria itu lah yang menjadi rekan Aroon yang gagal ditangkapnya semalam. Bahkan, Ama juga mendapati foto foto mesra Simi bersama Dusit yang sialnya, dua orang itu adalah sepasang suami istri.


Pertanyaan Ama, apa niat dan tujuan Simi sebenarnya? Itulah yang menjadi beban otak Purnama karena segala isi file hape Aroon, tidak ada satu pun yang memberi petunjuk.


"Apa iya, aku harus kembali ke Indonesia untuk menangkap Simi?" Ama bergumam sembari berpikir keras. "Ada Dusit yang harus aku urus dulu," monolognya. Seperkian detik, lamunan Ama buyar saat ekor matanya mendapati bayangan seseorang di balik tembok sana.


"Siapa di sana?!"


Vanila keluar cepat sebelum Ama melemparkan pisau ke arahnya, sedari tadi ia lah yang menonton kekesalan Ama seorang diri karena Utan saat ini lagi istirahat total. Abian, pria itu keluar mencari obat untuk Utan akan perintah Ama.


"Apa demam Utan, sudah turun?"


Vanila tidak langsung menjawab. Mengikis jarak ke sisi Ama. "Belum," katanya sembari menggeleng kecil.


Ama jadi bingung. Haruskah dia membawa Utan ke rumah sakit? "Ide buruk," batinnya ngeri kalau Utan akan dikenali oleh orang dan berakhir tertangkap karena Utan, Vanila dan Abian wajah nya mungkin juga sudah terkena camera pengintai yang ada di jalan raya saat mereka berlari kabur dari kejaran polisi.


"Apa pelurunya mengandung zat berbahaya?"


"Zat berbahaya? Itu tandanya, Utan tidak bisa sembuh." Vanila terkesiap mendengar pertanyaan andai andai Ama.


"Ama, kamu mau kemana?" Vanila bertanya sembari mengekori Ama yang sedang memasukkan laptop dan barang lainnya ke dalam ransel.


"Tidak usah banyak tanya. Cukup jaga kekasihmu. Dan jangan sampai lupa, kalau Utan bangun maka segera beri obat untuknya. Biar cepat sembuh." Sebenarnya, salah satu resep obat yang Ama pesan ke Abian adalah obat nyeri yang dosis penenangnya cukup lama. Itu ia lakukan, agar Lautan yang keras kepala tidak ikut membantunya karena Ama cemas pada keselamatan Utan yang sudah terluka. Ama cuma tidak mau Utan akan terluka lebih parah. Andai ia gugur pun, maka Ama ikhlas asalkan tidak mengorbankan sahabatnya.


"Kalau Utan bertanya keberadaan mu, aku harus jawab apa?" Vanila menahan tangan Ama yang hendak keluar rumah.


"Bilang saja, aku tidak butuh bantuan orang lemah dan cengeng sepertinya." Ama sengaja menghina Utan agar sang sahabat marah dan pergi menjauh.


"Ama," rengek Vanila yang tidak mau melepaskan tangan Ama. Wajahnya nampak merasa bersalah.


"Apa lagi, Van?"


"Soal ucapan ku yang semalam, aku meminta maaf. Jujur, aku cuma cemas dengan keadaan Utan yang berdarah darah. Aku__"


Vanila terjeda akan tepukan Ama di bahunya.


"Saya paham kok. Kamu sangat mencintai dia dan takut kehilangannya, wajar saja kalau kamu marah marah dan menyalahkan ku. So, jaga dia baik baik untuk mu."

__ADS_1


Sepertinya, mulai detik ini juga, Ama akan membuang perasaan sukanya ke Utan. Vanila sangat mencintai sahabatnya dan Utan pun sebaliknya. Mereka saling mencintai, pikirnya yang tidak mau menggangu hubungan bahagia mereka.


Setelah Ama sudah jauh dari rumah persembunyiannya, ia berbelok arah ke area rusun kumuh. Mencari telepon umum dengan penampilan masker menutupi wajah cantik buronannya.


"Ini dia telepon umumnya." Ama masuk ke kotak kaca sempit tersebut. Mengulurkan kartu nama Dusit. Ya... Ama berniat menelpon orang itu.


"Halo..."


Ama menyeringai, gercep juga pria itu mengangkat teleponnya.


"Ini aku, Purnama!"


"Hah...?"


Ama yakin, pasti Dusit di seberang sana terkesiap dengan mulut melongo lebar.


"Hahaha... Kamu sangat patut diberi apresiasi tinggi karena berani menelepon ku."


"Bahkan, saya juga berani menyerahkan diri ku. Dua puluh menit dari sekarang, jemput saya di area rusun X. Telat satu menit, maka bermimpi lah akan mendapat kesempatan emas dari saya."


Tut... Tut...


Tidak niat mendengar suara Dusit lebih lama lagi, Ama main tutup telepon tersebut.


Ama menyeringai bengis, lanjut bergumam dengan otak penuh rencana tersusun. "Masuk ke kandang serigala, memang kadang-kadang harus nekat dilakukan demi bisa mengetahui, daging apa yang sebenarnya mereka butuhkan?"


Ya, menyerahkan diri ke orang yang sudah menjebak nya dari jauh jauh hari tersusun apik adalah jalan salah satunya, itu demi mengetahui apa kemauan Simi dan Dusit.


Sesuai keinginan Ama, belum dua puluh menit berlalu, satu mobil hitam pun berhenti di depannya. Mereka itu pasti adalah anak buah Dusit.


Pintu itu terbuka, Ama masuk tanpa dipersilakan.


"Maaf, kata bos, matamu harus kami tutup."


"Eum, lakukan!" Ama menurut manis sekali. Ia tidak akan membuat kekecauan sebelum apa yang ia ingin dapatkan, belum di genggamannya.


Mata Ama di tutup dengan kain cukup tebal. Mobil pun lanjut meninggalkan area tersebut.


Meski dalam mata tertutup, Ama mengamati jalan dengan cara menghitung jarinya setiap mobil berbelok atau berhenti karena lampu merah.

__ADS_1


__ADS_2