
Perjalanan para sahabat sahabat Ama terhambat oleh badai hujan di sertai angin ribut. Sejauh mata memandang di balik kaca mobil, keberadaan mereka jauh dari pemukiman warga. Sisi kiri dan kanan, hanya ada pepohonan kiri di jalanan gelap beraspal rusak tersebut.
Chiiit... Topan yang berada di kemudi, dengan cepat me-rem dadak mobilnya.
"Ah, Shiit..." Mereka kompak histeris saat tiba tiba satu pohon tumbang menghadang jalanan di depan sana.
"Kita tidak bisa melakukan perjalanan kalau badai hujan terus turun," kata Petir kemudian.
Ingin turun untuk bergotong royong memindahkan pohon tumbang tersebut, namun di luar sana masih hujan deras. Terpaksa, mereka menunggu keadaan kondusif sembari membahas plan demi plan penyerangan untuk musuh.
Di sisi Ama, pekerjaannya sudah selesai, tetapi masih enggan untuk melapor. Simi pun sebenarnya sudah tau, namun ia hanya bisa diam karena Ama mengancamnya akan merusak kunci sistem yang baru jadi tersebut kalau ia bertindak gegabah.
"Ama, aku ingin segera bertemu dengan anak ku," ucap Simi dengan nada penuh permohonan. Berharap, Ama tidak bermain main dengan Dusit.
Ama yang paham kegundahan seorang ibu itu, segera berbisik bisik dengan berkata, "Jangan terlalu percaya sama Dusit dan Ken, Simi. Coba pikirkan dengan logika mu, apakah Fren yang licik itu akan melepaskan kita semua dengan hidup hidup setelah kita mengetahui segala tindakan kejinya, eum? Gunakan ini mu..." Ama menunujuk kepalnya. "Aku yakin, kita pun akan di bunuhnya agar kejahatannya tidak terekspos di kemudian hari."
Simi terpaku di tempat sembari mencerna baik baik ucapan Ama yang tidak kepikiran sebelumnya. Sebagai seorang Ibu yang diancam, hanya keselamatan sang anak yang ada di otak dan selebihnya tidak ia pikirkan secara masak-masak akan tindak tanduk hasil keputusannya.
Mengakui ucapan Ama yang ada benarnya, tulang kaki Simi terasa melemas. Ama sigap menahan pundak Simi sembari bertanya, "Are you okay?"
"Buruk sekali!" Simi menggeleng gelengkan kepalanya, shock. "Ama, kamu benar. Fren dan Ken serta Dusit tidak akan pernah melepaskan lawan nya secara hidup hidup."
Gemas sekali Ama mendengar suara Simi yang baru sadar dari kebodohannya.
"Anak ku bagaimana, Ama?" Simi gelagapan.
"Tenanglah, Simi. Anak mu akan baik baik saja kalau kita bekerja sama melawan mereka?"
"Caranya?" Simi menaikkan satu alisnya saat melihat seringai tajam Ama.
"Lepaskan rantai kaki ku dulu, baru kita akan mencari celah menyelamatkan anak mu serta teman teman ku."
__ADS_1
Simi terdiam sembari melirik dua rantai panjang yang membelit masing masing kaki Ama yang memang sedari awal gadis itu bekerja sudah di rantai agar kebebasannya hanya di dalam ruangan kerja tersebut saja.
"Kunci nya ada di tangan Ken, Ama," kata Simi ragu untuk mengambilnya.
"Ambil lah!"
"Tapi __"
"Terserah kamu saja sih, aku tidak memaksa. Kalau pun kita mati semua, aku mah tidak kepikiran anak karena memang tidak punya." Ama sengaja mempengaruhi Simi.
Mendengar kata anak, keberanian Simi tumbuh dua kali lipat. Wanita beranak satu itu, pergi dari ruangan tersebut tanpa pamit ke Ama.
Beberapa anak buah Dusit yang berjaga di penjuru pabrik, ia lewati begitu saja dengan beralasan ingin ke toilet.
Simi yang tidak ingin di curigai, memaksa dirinya harus berbelok ke arah toilet karena anak buah Dusit yang sudah di wanti wanti untuk mengawasinya itu, terus memperhatikannya.
Di dalam toilet, Simi tidak kehabisan akal. Wanita tersebut segera menutup closet duduk berwarna putih itu, lalu kakinya naik berpijak demi bisa menggeser penutup lorong ventilasi di atas sana.
Terbesit ide gila saat matanya melirik dua dinding penyekat toilet sempit itu. "Semoga tidak licin," katanya. Lalu mencoba merenggangkan ke dua kakinya ke masing-masing dinding. Kedua tangannya pun bekerja keras merambat di tembok. Setelah bersusah susah payah, Simi berhasil menggeser penutupnya.
Pelan pelan Simi bergerak di atas lorong ventilasi yang cukup sempit dan kotor berdebu ditambah kurang pencahayaannya.
"Semoga Ken sudah tidur," gumam Simi yang sudah berada di atas kamar pria itu.
Saat mengintip ke bawah melalui celah ventilasi kamar Ken, Simi terjeda. Samar samar dirinya mendengar seseorang sedang mengobrol yang Simi yakini suara itu berasal dari kamar Dusit, yang memang Ken dan suami bangsatnya itu bersebelahan.
Penasaran apa yang telah diperbincangkan Dusit, Simi pun merangkak maju dengan penuh ke hati hatian agar tidak menimbulkan suara mencurigakan untuk Dusit dengar.
"Pak Fren menyuruh kita meluncurkan nuklir di jam sebelas siang, Bos Muda. Detik detik itu adalah waktu Pak Presiden Negara Indonesia bertemu dengan Raja Thailand di titik kota ini. Adu domba kedua belah pihak Negara akan berlangsung besok, Tuan."
"Hahaha..." Dusit tertawa menyikapi penjelasan Asok.
__ADS_1
Simi mendengus kesal pelan sembari memicing ke arah peta lokasi yang di tunjuk oleh Asok tadi. Meski kelewatan kesempatan bagus untuk merekam video sebagai tanda bukti membantu nama baik Ama bersih, Simi tetap mengeluarkan handphonenya. Dari celah celah kecil itu, ia berusaha merekam pembicaraan keduanya berharap ada percakapan selanjutnya yang menguntungkan diri nya.
"Setelah itu, Pak Fren juga menyuruh saya untuk membunuh semua sandera. Ken pun harus kita singkirkan katanya."
Simi menyeringai, setidaknya ia mendapat hal menarik setelah bersusah susah payah masuk ke ventilasi. Rekaman tersebut, akan ia perlihatkan untuk Ken agar sadar kalau dalam dunia kejahatan, teman bisa saja dikhianati demi harta atau kekuasaan apapun itu.
"Eum, saya setuju dengan rencana Ayah. Tunggu sebentar..."
Simi membekap mulutnya agar nafas pun tidak disadari oleh Dusit yang saat ini, pria itu mengikis ke arah bupet, tepat di bawah persembunyiannya.
Dari atas, Simi terus memperhatikan Dusit yang membuka laci, mengeluarkan botol kecil yang tidak dimengerti oleh Simi, apa isinya itu?
"Racun tanpa bau tajam ini akan membunuh mereka semua dengan mudah. Apalagi Purnama, gadis liar itu terlalu pintar untuk di kelabui."
Meski suara Dusit pelan, Simi yang pendengarnya bagus, tetap saja bisa mendengar jelas suara kelicikan Dusit.
"Ambilah ini, Asok. Campuri makanan mereka setelah Purnama menyelesaikan sistem kunci peluncuran nuklir kita."
Asok meraih botol kecil tersebut. Lalu bertanya, "Jane, bagaimana, Bos? Apa saya juga harus memberikannya ke anak tiri Anda?"
"Jangankan Jane, Ibu nya pun harus kamu racuni."
****... Simi mengumpat geram dalam hati dengan tangan terkepal erat. Benar kata Ama, Fren dan Dusit tidak bisa ia percayai yang katanya akan membebaskan anak dan dirinya setelah pekerjaannya selesai.
"Aku harus bertindak cepat," monolognya yang harus menemui Ken untuk mengambil kunci rantai yang membelenggu kaki Purnama. Tanpa bantuan Ama, Simi meyakini dirinya akan kalah telak melawan Dusit beserta anak buahnya yang banyak.
Kreek....
"Hais..." Simi merutuki dirinya sendiri, akibat berbalik dengan keadaan sempit dan gelap, kepalanya terbentur, menimbulkan suara gaduh.
"Siapa di atas?" Dusit dan Asok menodong senjata. Tanpa menunggu lama, keduanya melepaskan peluru.
__ADS_1