
Mobil yang membawa Ama berhenti. Entah di manalah dia saat ini? Mata yang masih tertutup kain dengan tangan terborgol ke belakang, sedikit menyusahkan dirinya.
Turun dari mobil yang dibantu oleh anak buah Dusit, Ama lagi lagi tidak memberontak.
Proook, proook...
Indera pendengaran tajam Ama disuguhkan oleh tepuk tangan seseorang dari posisi yang masih terbilang jauh. Derap langkah langkah pun, ia dengar mengikis jarak padanya. Meski matanya tertutup, Ama meyakini dirinya sedang di tempat yang mungkin jauh dari perkotaan. Aroma zat zat yang tidak asing bagi dirinya yang pembuat bom, kini menyeruak sedikit menyesakkan nafasnya.
"Akhirnya kamu sampai juga, Cantik." Dusit menarik penutup mata yang melingkar di area kepala gadis itu.
Mata kucing Ama menatap datar Dusit bagai mangsa yang akan ia cabik cabik nantinya. Setelahnya, Ama pun menyempatkan mengamati sekitar. Bangun apalah di depannya ini.
" SSA sangat pintar merekrut anggota. Kamu dan Simi benar-benar sempurna di mata ku!" Dusit mengambil beberapa helai rambut Ama untuk ia hirup aromanya.
"Mulai hari ini, selalu lah jaga tangan mu. Jangan sampai terluka atau lecet sekalipun kecuali aku yang memotongnya."
"Hahaha..." Suara penuh ancaman Ama hanya dihadiahi tawa ejek oleh Dusit. Para anak buahnya pun, ikut tertawa girang mengikuti sang bos.
Tangan Dusit terangkat ke arah anak buah nya, kode agar stop tertawa mengikutinya. Mereka semua menutup mulut kompak. Lanjut kompak menatap Ama yang di kelilingii tubuh gadis itu, pelan.
"Geledah dia! Jangan sampai ada senjata apapun yang ia sembunyikan. Tasnya pun, tahan atau buang saja."
Ama begitu pasrah, seluruh senjata yang terselip di kantong dan di sepatunya, di ambil oleh anak buah Dusit. Tas yang berisikan bom bermacam jenis serta laptop yang berdata data penting, harus ia relakan demi 'tujuan' akhirnya.
"Jam tangan bagaimana, Bos?"
Pertanyaan anak buah Dusit, saat ini membuat Ama getar getir dalam hati. Jam khusus ciptaan mantan geng-nya yakni Kurcil Smart, adalah alat ampuh yang ia butuhkan saat ini. Tanpa jam tersebut, Ama akan merasa percuma menyerahkan diri nya masuk ke dalam kandang serigala.
"Jangan, jangan, jangan..." rafalnya seperti mantera dalam hati.
__ADS_1
"Lepas dan buang saja!"
"Damn!" Ama mengumpat dalam hati. Jam tersebut, sudah di tangan anak buah Dusit.
"Cepat katakan, apa niat mu membawa saya kemari dan apa sebenarnya masalah mu padaku, hah?"
Alih alih di jawab oleh Dusit, pria itu malah menancapkan suntikan ke lengannya. Beberapa detik kemudian, pijakan Ama terasa melayang. Dia sudah tidak sadarkan diri.
" Ikat dia ke ruangan isolasi. Awasi jangan sampai lepas atau Ayahku akan membunuh kita semua." Andai tak berada di dalam misi, Dusit ingin sekali menikmati tubuh indah Ama yang tertutup pakaian hitam hitam tersebut.
***
Di dalam pesawat kesatuan SSA, raut wajah Simi berubah bengis menatap tiga anggota SSA yang Luxi rekrut untuk ikut membantu memburu Ama di Thailand.
Mendapat kabar dari suaminya - Dusit, kalau Ama sudah di tangkap suaminya itu. Simi dengan tega melesatkan cepat isi senjata apinya ke arah Clara, Ragil dan satu lagi rekannya. Ken yang jadi pilot di depan sana, hanya tersenyum miring seakan-akan menikmati pertunjukan yang Simi lakukan.
"Ke-kenapa?" Ragil terbata bata sembari memegangi permukaan dadanya yang berdarah darah sekarat. Satu tangannya, menggenggam nanar jemari Clara - tunangannya yang sudah tidak bernyawa. Ia tidak menyangka pergerakan keji Simi, yang mereka anggap salah satu pemimpin pusat SSA yang membanggakan ternyata penghianat.
"Buang saja ke laut!" titah Ken enteng tanpa merasa berdosa. Lagi lagi, Simi patuh akan perintah Ken yang menjadi kaki tangan bos besar yang menjadikanya pion catur yang tak berdaya.
Satu persatu, Simi membuang tiga mayat yang ia bunuh sendiri. Terjun bebas dari ketinggian beribu beribu kaki.
Tiga jam lebih, pesawat milik SSA itu tiba di pendaratan khusus yang jauh dari pemukiman atau keramaian apapun.
Turun dari pesawat, Ken dan Simi di jemput oleh anak buah sang big bos. Keduanya di bawa menuju pabrik pembuatan bom nuklir yang keberadaan gedung itu tidak diketahui oleh pemerintahan dan pihak berwajib setempat.
Saat mobil itu sudah dekat dengan pabrik, aroma zat zat kimia pembuangan limbah nuklir, mulai menyeruak menyesakkan dada. Air bendungan buatan di sisi jalan, sudah berwarna kehijauan tercemar oleh limbah tersebut. Simi dan Ken kompak memakai masker khusus untuk menyelamatkan paru parunya dari radiasi zat berbahaya.
Ckiiit...
__ADS_1
Mobil berhenti di depan pabrik. Simi dan Ken turun yang sudah di sambut oleh Dusit dan beberapa anak buah di sekelilingnya.
"Welcome back, My Wife." Dusit menyambut manis dengan rentangan tangan ke Simi, hendak memeluk. Tapi, Wanitanya itu setia memamerkan wajah kecutnya. Dusit pun tidak jadi memeluk sang istri, bibirnya tersenyum miring lalu melirik Ken yang memberi hormat padanya.
"Di mana Ama sekarang?" tanya Simi datar.
"Ayolah, aku merindukan mu, Sayang. Jangan bekerja terburu buru. Lebih baik kita beristirahat dulu di kamar yang sudah aku siapkan__"
"Shut up, Dusit!" bentak Simi yang muak dengan kalimat penuh genit sang Suami. "Saya ingin semua nya selesai dan anak saya yang tidak berdosa kamu kembalikan padaku."
"Ck, anak tiri itu lagi," batin Dusit kesal. Ya ... Ia menikahi Simi yang sudah janda anak satu dengan maksud dan tujuan tertentu yaitu keberhasilan dirinya dan sang Ayah membuat bom nuklir. Simi dan Ama adalah orang penting yang Dusit butuhkan untuk kesuksesan tujuan besarnya.
Tanpa ingin membuang buang waktu, Simi mendahului orang orang sekeliling nya masuk ke dalam pabrik.
"Teman SSA mu itu ada di ruangan isolasi," seru Dusit sembari berbelok arah, bersama Ken dan satu pria yang bernama Asok- anak buah kepercayaan Dusit yang tadi melepas jam tangan Ama. Sekarang, jam tersebut malah melingkar di tangannya. Simi pun menghentikan langkah, membalik tubuhnya dan tanpa bersuara ia mengekori langkah langkah Dusit dan Ken yang sekarang tiga pria beda usia itu yang memimpin jalan.
Kedatangan kelompok Dusit yang membuka pintu ruangan gelap, membuat Ama terganggu. Matanya silau seketika dengan keadaan terikat kuat di kursi tengah tengah ruangan sempit. Kepalanya berkunang kunang pusing efek obat bius yang disuntikkan Dusit.
Ama mengerjap erjap beberapa kali efek kesilauan. Empat orang yang berdiri di depannya belum ia lihat dengan betul tampang mereka karena membelakangi cahaya.
Tap ... Lampu menyala membuat Ama tersenyum ejek mengetahui ternyata Simi serta Ken yang tak terduga, ikut turut menjadi pembelot Negara.
"Aku sebenernya ingin memberi tepuk tangan heboh untuk kalian berdua sebagai defector ulung untuk Negara kita sendiri, tapi tanganku terikat."
Plakk...
Wajah Ama mendadak panas di beri tamparan kuat oleh Ken. Pria itu tidak terima di ejek rupanya.
Bukannya minta ampun yang sudah terikat tak berdaya, Ama yang tidak mudah di intimidasi, malah semakin mengejek Ken dengan cara tertawa, pertanda ia tidak takut pada pria itu.
__ADS_1
"Kamu _" Ken terjeda akan suara 'stop' Dusit. Tangan yang sudah di dekat pipi Ama, terkepal kesal.
"Kuingatkan padamu, Ken. Jaga baik baik tangan mu, jangan sampai terluka atau lecet sedikit pun, kecuali aku sendiri yang akan memotongnya." Seperti kalimatnya untuk Dusit tadi, ancaman penuh dendam itu, ia lemparkan ke Ken.