
Keluar dari ruangan yang menyekap Vanila, Ama langsung di serang oleh dua anak buah Dusit menggunakan balok.
Ama langsung membalik tubuh nya dengan refleks karena ingin melindungi Jane yang berada di gendongannya. Alhasil, punggung nya lah yang terkena hantaman balok itu.
"Mereka ada di sini," teriak orang itu kepada teman teman nya. Ama langsung mengambil kesempatan tak mempedulikan rasa sakit punggung nya tersebut dengan cara menusuk perut sang lawan.
"Vanila, tolong gendong Jane. Lindungi dia, bisa?" Ama tidak bisa bertarung leluasa kalau kalau ada Jane yang ia gendong. Sebagai janjinya ke Simi, dia akan memperjuangkan nyawanya untuk melindungi anaknya itu serta melindungi para teman-teman nya.
"Bisa__ Ama di belakang mu, awas... "
Peringatan Vanila dimengerti Ama, ia segera berbalik sembari melempar pisau nya yang ia ambil dari salah satu anak buah Dusit yang berhasil dia bunuh. Pisau itu langsung menghunus permukaan jantung sang lawan.
"Ayo, cepat. Ikuti aku, Van. Pintar pintar lah jaga diri ya." Ama mengambil senjata orang yang barusan ia bunuh.
Karena teriakan orang tadi, beberapa anak buah Dusit kembali lagi. Dor... Dor... Tidak mau membuang buang waktu, Ama langsung menembaki orang orang yang terlihat di matanya.
Jane yang mendengar suara ngeri tembakan, berteriak takut yang sekarang ada di gendongan Vanila. "Diam ya, semua akan baik-baik saja__" Dor... " Argh...!" Vanila yang aslinya penakut, berujung berteriak juga karena ada tembakan nyasar mengenai dinding sebelahnya.
"Shiit..." Ama mengumpat karena menyadari ada tembakan sistem otomatis yang harus ia lewati di ujung lorong itu saat ini.
"Tunggu di lorong sini, jangan coba-coba melongokkan kepala apa lagi keluar sebelum ku suruh."
Tidak menunggu jawaban Vanila, Ama keluar dari lorong. Tembakan otomatis sistem yang terpasang di atas dinding, langsung memberondong nya. Akan tetapi, Ama gesit mengelak dengan cara menggulingkan tubuhnya. Sudah mengetahui kelemahan sistem yang mengeluarkan peluru nya di setiap dua detik sekali, Ama pun mengacungkan pistol di detik pertama ke arah alat canggih di sudut ruangan membuat nya eror seketika.
"Vanila, keluar lah."
Kekasih Utan tersebut menurut. Jane yang masih menangis ketakutan, menjulurkan kedua tangannya ke arah Ama. Anak kecil itu sudah percaya kalau Ama adalah penolong yang akan membawanya ke Simi.
"Mau Mama..." rengek Jane. Tidak mau mengecewakan hasrat Jane yang ingin digendongnya, Ama pun meraih tubuh sosok mungil itu. Lalu berkata ke Vanila, "Copot outfit mu , Vanila."
__ADS_1
"Buat?"
"Copot saja!" Balas Ama sedikit ketus karena Vanila selalu bertanya balik yang tidak penting di pertanyaankan di saat-saat waktu yang tidak bersahabat.
Meski menggerutu akibat sentakan Ama, Vanila tetap mencopot outfit nya dan menyisakan tantop berwarna pink.
Ama meraih cepat baju itu, mengikat tubuh Jane ke punggung nya agar nanti tidak terjatuh kalau ia bergerak brutal ataupun nanti tangannya ia lepas saat bertarung nanti.
"Dengar anak manis, saya akan membawa mu ke Mamamu asalkan kamu jangan menangis ataupun berteriak saat aku bertarung nanti. Dan ah, pegangan yang kuat agar tidak jatuh. Mengerti, Jane?"
" Eum... Aku mengerti."
Entahlah, benar atau tidaknya ucapan anak kecil yang langsung memeluk lehernya untuk berpegangan, Ama akan lihat nanti.
"Vanila, ini senjata buat mu. Gunakan untuk melindungi dirimu."
Hap... Lemparan Ama melenceng ke lantai karena Vanila tidak segesit itu dalam hal hal peperangan. Mengambil senjata hitam itu saja, tangannya sudah bergetar hebat.
"Mudah, Van. Ikuti cara ku. Seperti ini peganganya. Kamu todong kan ke sasaran. Terus... Tekan seperti ini." Dor... Arrgh... Vanila menjerit saat peluru senjatanya keluar mengenai tembok di depan sana. Jane yang sudah berjanji, benar benar menepati permintaan Ama demi bisa segera bertemu sang Mama.
"Biasakan mengurangi jeritan mu itu." Lerai Ama yang kupinnya sakit karena Vanila. Merasa sudah membuang buang waktu meladeni Vanila, Ama segera maju yang ingin mencari keberadaan Simi. Ia mengira Simi masih ada di kamar Ken. Ia ingin mempertemukan Mama dan anak yang sekarang memeluk lehernya.
Entah di mana keberadaan kamar yang di carinya. Ama hanya melangkah waspada dengan senjata sudah siap mengacung di tangannya.
"Ama, kok sepi sekali?" Vanila mengekor di belakang.
"Pasar rame!"
"Ish__"
__ADS_1
"Diamlah, Van. Sepi pertanda bagus. Saya tidak perlu repot-repot bertarung." Sebenarnya, Ama pun merasakan kecurigaan. Kenapa sepi sekali? Dusit pasti sudah mengetahui kekacauan yang ia buat ini, tapi sekarang di mana pria itu dan ante ante nya? Masa cuma beberapa orang yang menghadang nya tadi.
"Lorong ini yang mungkin di lewati Asok?" Gumam Ama. Instingnya mengatakan, ada Utan dan Abian di jalan tersebut. Alhasil, Ama menunda langkah nya untuk mencari keberadaan Simi. Ia ingin membebaskan Utan dan Abian terlebih dahulu.
Saat membuka pintu di depannya, keadaan ruangan gelap gulita. Refleks Vanila merapatkan barisannya ke Ama.
Braak...
Pintu di belakang mereka, tiba tiba tertutup sendiri. Kendati kemudian, lampu pun menyala terang benderang memperlihatkan Dusit dan seluruh anak buahnya. Utan dan Abian menjadi sandera empuk bagi Dusit.
"Kamu bisa apa, Ama?" tanya Dusit penuh ejek sembari menodongkan senjata nya ke kening Utan. "Buang senjata mu atau kepalanya akan ku tembak di depan mata mu__"
"Stop...!" Ama terpekik karena Dusit hampir melepas pelatuknya yang tidak bermain main dengan ancamannya. Segera, Ama melempar senjatanya ke lantai. Jane yang takut dengan Dusit, tidak berani mengangkat kepala nya yang bersembunyi di sela leher Purnama.
"Cepat berikan kunci peluncuran nuklir padaku."
"Jangan, Ama. Jangan berikan padanya. Aku rela mati demi menyelamatkan banyak orang dari ledakan nuklir?" Utan melarang. Membuat Dusit tertantang ingin membuktikan ancamannya dengan benar benar menembak kepala Utan. Akan tetapi, Ama yang tidak rela Utan kenapa kenapa segera menarik sebuah kertas di dalam saku jaketnya.
" Ini ... Ambilah."
" Jangan, Ama...!" Utan dan Abian kompak melarang. Tapi Ama tetap menggeleng.
Dusit mengkode salah satu anak buahnya untuk mengambil kertas yang terlipat di tangan Ama. Setelah berada di tangannya, Dusit berkata lantang ke ante ante nya yang sekarang mengepung. " Bunuh mereka semua!"
Senjata tertodong ke arah Ama, Utan, Abian dan juga Jane. Akan tetapi, mereka semua kompak mendongak ke atas yang tiba-tiba qda kegaduhan. Dari atas sana ada empat orang yang berselencuran ke bawah memanfaatkan pipa pipa besi sembari menembaki musuh musuh.
Dor... Dor..
Empat orang itu adalah mantan anggota Kurcil Smart yang di pimpin oleh Topan.
__ADS_1
"Kami datang, Sob..."
Ama dan Utan tersenyum kompak melihat kedatangan bala bantuan dari anggotanya yang selalu setia persahabatan mereka sedari kecil.