Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 39# Menuju Ke Indonesia


__ADS_3

Lautan yang masih di luar pabrik, memutuskan untuk masuk ke dalam mencari Ama dan lainnya.


Baru beberapa langkah, golongan Ama dengan Guruh yang menggendong tubuh pingsan Simi, terlihat berjalan keluar berpapasan.


Ama berdecak pelan melihat keberadaan Lautan. "Kamu memang batu! Du suruh pergi, masih tetap tinggal," omelnya tanpa berhenti dari langkahnya melewati Utan. Perasaan Ama kian kacau mengetahui keadaan Utan semakin babak belur yang kini darah di pelipis Utan masih terlihat segar menetes. Akan tetapi, Ama tidak memperlihatkan perasaan cemasnya.


Utan yang sadar diri karena tidak mendengar perintah Ama yang menyuruhnya pergi bersama golongan Vay dan Petir, tidak membalas omelan Ama. Ia hanya membahas apa yang barusan ia alami dengan barkata, "Ken sudah mati!"


Baru lah Ama dan lainnya berhenti sembari kompak menatap Utan.


"Mati?" tanya Ama kurang percaya.


Utan mengangguk kecil. "Sini..." Utan menarik tangan Ama yang terlihat tidak percaya kepadanya. Ia ingin memperlihatkan mayat Ken yang tertembak oleh... Entah, Utan pun tidak tau.


Melihat keadaan nahas Ken, barulah orang orang yang ada di depan Utan itu percaya.


"Kamu yang melakukannya?" tanya Topan.


"Jelas, dong." Percayalah, Utan terpaksa berbohong karena masih kesal di sepelekan Ama beberapa menit yang lalu. "Saya terluka parah pun, masih kuat," sambungnya dengan nada bangga. Hidung pun, ia usap sok cool.


"Kalau Ken mati di tangan mu, terus yang menekan timer nya siapa?"


Pertanyaan Ama membuat Utan terbatuk. Ia langsung membuang gugup wajah nya.


"Utan?" tuntut Ama menyadari dan paham betul kalau Utan hendak lari dari pertanyaannya.


"I-itu, anu__"


"Anu, anu... Cepat jawab, berat ini!" Guruh berceletuk, yang masih menggendong tubuh lemah Simi.


"Karena berjalan di tempat yang remang, aku tidak sengaja menginjaknya." Terpaksa Utan mengakuinya. Ia pun menceritakan adanya pesawat khusus yang pergi meninggalkan area pabrik.


Melihat wajah merah Ama tiba-tiba, ia merasa bersalah.


"Ayo pergi!" Ama menahan emosi nya yang sebenarnya ingin melampiaskan kekesalannya yang gagal mencegah bahaya. Mereka semua belum tau kalau nuklir gagal meluncur ke tujuan akibat 'senjata makan tuan'.

__ADS_1


Karena sudah lelah di malam yang sudah sangat larut itu, Ama memutuskan untuk lanjut berjalan tanpa ingin bertanya lebih lanjut 'siapa yang pergi dengan pesawat.'


"Ama, saya tidak sengaja." Utan merengek sembari mencoba mensejajari langkah langkah panjang Ama.


"Jangan dibahas lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang, waktunya mengurus Fren di Indonesia. Pria itu adalah otak utama nya yang harus mempertanggung jawabkan segala nya."


Mereka semua pergi dari tempat yang terpencil itu, Ama sengaja tidak menghancurkan pabrik dengan bom bom yang ada di dalam pabrik, karena ingin menjadikan tempat tersebut sebagai salah satu bukti untuk membersihkan nama baiknya.


***


Menunggu kabar pemberitaan dari ledakan, Ama dan lainnya yang sudah berkumpul di rumah Gemi - kembaran Gema sang Papi, dibuat bingung.


Pasalnya, kabar dari anggota sisa mantan Kurcil lainnya yang masih di Indonesia, mengatakan kalau di Negara mereka aman aman saja.


"Kalian yakin?" tanya Ama pada empat mantan timnya yang ada di balik layar. Mereka melakukan video call saat ini. Di ruangan itu, hanya ada Ama, Topan, Guruh dan pasangan pasutri - Vay Petir. Utan, Abian serta orang yang mendapat luka, tidak diikut sertakan karena harus mendapat perawatan medis meski kini Utan sudah mendumel bosan di salah satu kamar rumah besar itu dengan infus tertancap di tangan. Gemi serta suaminya, sengaja mendatangkan dokter dan beberapa perawat ke rumahnya demi tidak membuat publik geger akan ada nya Ama, orang yang masih dicap buronan, di rumahnnya. Itu semua sebenarnya keinginan Purnama sendiri untuk tutup mulut semua nya. Ama ingin membuat kejutan pada Fren besok, hari tepat di depan kampanye besar yang di laksanakan di tempat terbuka.


"Yakin seratus persen!" jawab mantap Pelangi di balik layar.


"Terus, kemana radius nuklir tertuju?"


Karena keadaan di Negara aman, Topan yang memimpin rapat itu segera izin mematikan video call pada empat mantan anggota nya di Indonesia yang tak lain adalah saudara - saudarinya sendiri.


" Di Thailand juga tidak ada kabar __ Eh, ini apa?" Vay si ahli hack yang tadinya mencari pemberitaan di laptopnya, dibuat terkejut.


"Memangnya ada apa?" Petir dan lainnya segera mengerumuni Vay.


"Saya iseng iseng meretas milik profesor astronomi negara ini untuk mencari tau laju nuklir dan lihatlah..."


Ama dan lainnya, memelototi laptop Vay yang memperlihatkan video durasi pendek akan ledakan di langit.


"Cerita Topan tadi, Utan katanya melihat ada pesawat misterius yang pergi. Berselang beberapa menit nuklir meluncur kan?"


Semua kompak mengangguk pada Vay yang mencoba memecahkan kebingungan mereka.


"Noh, nuklir menabrak pesawat yang mungkin pesawat sama yang di ceritakan Utan," lanjut Vay

__ADS_1


Hening seketika.


"Apakah, pesawat itu milik Dusit yang akan kabur?" lirih Ama bertanya tanya. Petir yang mendengar suara kecil Ama, refleks bertepuk tangan heboh. Membuat orang di depannya kaget.


"Ama berkata, kalau pemilik pesawat itu adalah milik Dusit." kata Petir. Lalu tercengir tanpa dosa ke Ama.


"Maam tuh, ledakan." Guruh puas sekali mengumpat.


Ama masih diam. Tapi, ia berharap perkiraannya benar.


"Istirahatnya cukup sampai di sini. Sesuai rencana singkat yang sudah di bahas tadi, Topan dan Petir akan tinggal mengurus bukti bukti pabrik dan pihak berwajib di Thailand. Aku, Bang Guruh serta keahlian IT Vay, akan pergi ke Indonesia untuk memberi pelajaran berharga ke Fren di depan umum dan petinggi negara lainnya."


Selesai berbicara, Ama menarik zipper jaket kulit hitam nya rapat-rapat.


" Hati hati dengan Fren, Ama." Topan menepuk pundak Ama. "Tugas di Thailand, percayakan pada ku dan Petir."


"Eum..." Ama mengangguk ke Topan. Lalu melirik ke Petir. "Jaga adik mu, Tir. Jangan bocorkan rencana kita, supaya dia beristirahat total dulu." pesan Ama pada Petir.


"Tenang saja! Pergi lah!"


Ama, Vay dan Guruh pun pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju ke halaman belakang rumah besar sang Tante. Di depan sana, ada helikopter yang akan digunakan Ama untuk transit ke pesawat khusus milik the Kurcil yang tempo hari digunakan Topan Cs ke negara tersebut.


"Hai..."


Ama, Vay dan Guruh dibuat melongo. Ternyata, Utan sudah mendahului mereka duduk manis di helikopter dengan kepala sudah dililit perban medis.


"Sedang apa, hah?" jutek Ama.


"Apa nya sedang apa. Yang jelas, aku tidak mau ditinggal." Lanjut Utan siul siul santai. Ia bodo amat dengan tampang asem Ama dan dua rekannya.


"Ayo kakak ipar, naik sini."


Vay yang di lambai, akhirnya naik juga. Ama pun demikian dengan mata ogah ogahan melihat ketengilan Utan.


"Dasar batu!"

__ADS_1


Utan dengar kok umpatan kecil Ama. Tapi, ia sekadar senyum doang.


__ADS_2