
"Aww..."
Tiga pria yang tadinya sibuk membahas pembajakan, terganggu oleh suara lembut Ama yang sengaja terjatuh demi menarik perhatian kelompok tersebut secara alami.
Lantas ketiganya mendekat, membuat mereka terkejut saat melihat kecantikan wanita yang memakai topi hodie itu.
"Mas, tolong saya. Kaki ku sakit sekali." Suara Purnama terdengar sangat manja manja menggoda. Ama hanya berharap Jimmi dan anak buah nya tidak naik ke lantai atas kapal dan melihat membuka penyamaranya.
"Duh, kasihan. Sini sini, saya obati."
Satu pria ikut berjongkok di depan Ama. Menyentuh kaki mulus itu dengan elusan elusan lembut tapi nakal. Sejenak Ama melirik dua pria yang masih berdiri dengan wajah nakal menjilati bibirnya pertanda mupeng.
"Kedua Mas ini, mau obati kaki saya juga nggak?" Iiuuhh... Ama ingin muntah sendiri mendengar kalimat provokasinya yang penuh memancing hasrat lawan meronta ronta.
"Mau dong, Cantik. Bagaimana kalau kita cari tempat aman." katanya penuh semangat.
Ini yang Ama mau.
"Tapi, tunggu dulu deh. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kok wajah si cantik tidak asing?"
Duh, jangan jangan mereka mengenal wajahnya yang buronan Negara.
"Ahh, masahh. Sayah kahnn salahh satuh kokih di dapur kapal inihh yang berkeliaran karena kurang belaianhhh." Capek juga buat suara manja manja lebay yang sengaja Ama menambahkan huruf H di beberapa kata yang ia ucapankan, supaya terkesan seksi mendesaaah-desaaah layaknya orang kepedesan.
"Ayo, Cantik. Ikut Mas. Jangan hiraukan dia." Pria yang sedari tadi mengelus elus kakinya, mengabaikan ucapan temannya yang sempat mengenali wajah Ama tapi masih samar ingatannya. Ia tidak tahan melihat mulut Ama yang terbuka tutup seksi maksimal. Duh, pengen cium deh.
"Di manahh tuh, Mashh?" Ama semangat bangkit. Sejurus pura pura meringis sembari melirik kakinya yang harus berakting sakit. "Kedua mas ini mau ikut juga nggak? Tenang, kalian akan mendapat giliran 'membahana' dari saya." Ting ting... Mata Ama berkedip kedip genit demi meyakinkan dua orang itu. Jijik juga ia melakukannya, tapi harus totalitas mempermainkan hasrat laki laki sekaligus kelemahan seorang pria.
Ketiga pun akhirnya setuju kerena diiming iming kenikmatan dari seorang wanita.
Sikap Ama hanya santai santai menurut digiring oleh tiga pria ini. Wow ... Masuk ke gudang penyimpanan barang yang sepi. Bahkan, pintunya sengaja ditutup oleh mereka. "Apakah ini barang yang dimaksud adalah pesanan sang bosnya?" gumam Ama dalam hati sembari menatap ke sekeliling ruangan yang penuh kotak besar. Ama jadi penasaran, apa isinya?
Bugh...
"Aww... Jangan kasar kasar dong, Mas." Ama kaget saat salah satu pria itu mendorongnya sampai punggungnya terpojok ke kotak kotak barang yang bertumpuk tumpuk rapi. Ketiga pria di depannya sudah mengelilinginya dengan tampang buas buas menjijikkan.
"Kami sudah tidak sabar. Ayo buka baju mu dan layani kami!" tukasnya.
Ama hanya menyeringai dengan anggukan polosnya. Tangannya bergerak ke ujung bajunya seolah olah menurut ingin menanggalkan pakaiannya. Tapi, yang keluar malah sebuah pistol dan bom dari balik saku hodie yang super jumbo itu.
"A_apa tuh?" katanya kompak tergagap shock kaget. Mereka memang sudah tahu benda itu berbahaya, tapi kenapa seorang cewek yang cantik pula malah mainannya benda berbahaya?
Ama tertawa renyah.
__ADS_1
"Bom atau senjata api yang ingin kalian pilih?" Ama menakuti dengan cara ingin menarik penutup granat nya. Kompak ketiga pria itu menampilkan ekspresi takutnya sembari berkata, "Jangan!" Ama pun terhenti dan kembali tersenyum miring.
"Ah, saya akan menjawab pertanyaan kamu tentang 'apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Kok wajah si cantik tidak asing?' Hem... Saya adalah wanita yang dianggap ******* yang lagi diburu oleh pihak berwajib."
Bugh ... Bugh ... Bugh ... Selesai bertutur demikian, Ama segera saja memutar kakinya untuk melayangkan flying-kick nya ke arah perut pria itu secara bergantian. Karena pergerakannya tidak terbaca, ketiganya oleng dan terjatuh.
Saat mereka ingin membalas serangan Ama ... Dor ... dor ... dor ... Tidak mau buang buang waktu meladeni lawan untuk berkelahi, Ama main tembak sesuka hati.
"Kalian akan tidur pulas dalam beberapa hari."
Tembakan tersebut hanya obat bius. Di geret geret oleh Ama ke pojok ruangan. Di ikat kuat kuat lalu menutupinya dengan beberapa kotak barang. Selesai!
Ama yang penasaran akan isi kotak yang bertumpukan banyak, segera membuka salah satunya.
"Ini hanya garam?" Curiga cuma modus atasnya, Ama tanpa ragu mengguling kotak jumbo itu. Nah kan, benar dugaannya. Ternyata di balik tumpukan garam ada uranium dan plutonium, yaitu bahan baku pembuatan nuklir.
"Astaga ... Siapa sebenarnya bos mereka?" Ama ngeri sendiri melihat barang barang langka di depannya.
Masih penasaran, Ama kembali membuka kotak lainnya.
"What?" Ama terpekik kaget. Bom - bom beda jenis dan faktor ledakan akan hasil rakitannya yang ia persembahkan untuk persenjataan Negara, ada di depan matanya.
"Aaarggh...!" Ama tidak kuat lagi akan konspirasi yang ia hadapi. Ia menjerit kesal karena baru sadar ada orang yang mempermainkannya.
Kenapa Luxi yang Ama curigai? Ya, karena ketua SSA itu adalah penanggung jawab hasil rakitan SSA menuju ke gudang persenjataan Negara. Tapi ini...? OMG, milik Negara akan berpindah tangan akan ulah orang yang tidak bertanggung jawab.
"Aku akan mencari bukti sampai ke akar akarnya, Luxi! Siapa dalangnya, tujuannya dan juga siapa lagi yang terlibat selain dirimu? Tunggu saja pembalasanku," katanya penuh tekad untuk menuntut nama baiknya kembali.
Belum puas, Ama terus membuka beberapa kotak. Narkoba pun ada banyak di depannya. Tidak habis pikir, kenapa barang ilegal ini bisa lolos masuk ke dalam kapal?
" Apa ada pihak polisi yang ikut melancarkan penyelundupan barang haram ini? Kenapa Kak Dibi bisa kecolongan," gumamnya berpikir keras. Ia pun memfoto barang barang itu menggunakan hape baru yang di berikan Guruh - kakaknya melalui tangan Guntur sebelum berangkat tadi.
"Ama, kamu dengar aku?" Suara Lautan terdengar di earphone Ama.
"Masuk!" Jawab Ama singkat.
"Kita mulai dibajak, posisi ada di mana?"
"Siap mendekat! Ingat, jaga keselamatan semua nahkoda kapal kita. " Kumis serta penyamaranya sebagai pria kembali ia pakai sembari berjalan terus menuju ke deck paling atas.
"Baik...!"
Tanpa nahkoda, kapal tidak akan jalan. Oleh sebab itu, Lautan sedari tadi menaruh posisinya di dekat ruangan kemudi kapal itu sesuai rencana mereka.
__ADS_1
"Berhentikan kapal atau tembakan bazoka akan kami luncurkan ke sana...!" Ancaman pesan itu dari kapal pembajak dengan cara mengirimi ke sistem nahkoda yang sudah di retas. Mau mengirim signal darurat ke sistem pelabuhan pun, nakhoda itu tidak bisa melakukannya karena jaringannya sudah bug.
"Berhentikan saja kapalnya!" Lautan bersuara yang ternyata sudah di dalam ruangan kemudi itu. Membuat para nahkoda tersebut, kaget.
"Kamu siapa? Apa kamu teman mereka?" Lima nahkoda itu menghardik Lautan. Dua di antaranya mengambil kuda kuda pertahanan, siap menghalau serangan Lautan yang mungkin saja tidak terbaca. Namun, pria di depannya cuma berkacak pinggang santai.
"Saya adalah polisi yang akan membantu kalian." Bohong saja bisanya. Tapi, nakhoda yang terdesak itu mau tak mau percaya saja karena terus di ancam dari sistem kapal pembajak.
"BERHENTIKAN KAPAL ATAU KAMI TEMBAK!" Dua orang baru bergabung dengan bentakan serta todongan senjata di gawang pintu.
"Ck," Utan berdecak. Dor ... dor ... tanpa ba bi bu, main tembak orang itu tanpa ampun.
Para nahkoda akhirnya percaya kalau Utan berada di pihaknya.
"Berhentikan saja," tutur Lautan mentitah sembari menepuk salah satu bahu nahkoda itu.
Sementara di tempat lain, golongan Jimmi dan anak buahnya sudah disandera di deck paling atas tanpa banyak perlawanan karena jumlah mereka terlalu banyak. Ternyata, tanpa Ama dan Lautan serta Jimmi Cs ketahui, semua orang lain yang ada di atas kapal itu adalah anak buah sang pembajak kecuali para nahkoda kapal.
"Kalian siapa?" tanya Jimmi takut takut. Ternyata, Amar bin Ama benar perkataannya, kalau kapal akan dibajak. Apa jangan jangan, anak buahnya yang baru itu adalah sekutu orang jahat tersebut? barin Jimmi mencurigai Ama dan Lautan.
"Jangan banyak tanya! Atau kepala kalian bolong!" bentaknya ke Jimmi. Anak buah Guntur itu, langsung jiper karena senjata tertodong ke arah mereka.
Di tempat tersembunyi, Ama diam diam mengamati. Beberapa pria dari kapal pembajak mulai bergerak, berpindah ke kapal yang ia tumpangi dengan bantuan tali.
"Mereka banyak sekali," gumamnya. Berpikir keras mencari trik untuk bisa melumpuhkan lawan dengan cara elegan.
Aduh kekuatan? Ide yang sangat buruk karena sehebat hebatnya ia berkelahi, tetap saja ia kalah yang cuma punya rekan Lautan dan Jimmi cs yang sudah jadi kutu tak berdaya di sana.
"Semua kapal sudah dalam kendali, Bos. Termasuk awak kapal," lapor si botak ke komandannya yang gondrong lepek.
"Bagus, bagus. Kita bisa berlayar ke pelabuhan tujuan membawa barang barang pesanan ketua."
"Siapa ketua mereka?" Ama bertanya tanya lirih. Tapi, mendengar laporan si botak, Ama pun ingin memastikan keadaan Lautan bersama para awak kapal.
"Utan, nahkoda Aman?"
"Eum, aman sentosa. Dua kutu sudah berdarah darah di depan ku dan saya pun mengirim laporan palsu ke rekannya."
Lega Ama mendengar Lautan baik baik saja dan pantas saja si botak ngasih laporan kendali sudah diambil penuh.
Waktunya bereaksi. Ama memakai masker. Keluar dari persembunyiannya dengan dua tangan memegang senjata api. Lautan yang sudah mengunci aman nahkoda pun keluar untuk membantu Ama.
Dor ... Dor ...
__ADS_1